
Adras menatap Jun tanpa berkedip dengan tatapan yang tak bersahabat. Namun Jun tak gentar. Demi Santi, apapun yang terjadi akan dia hadapi. Jun memang sudah nekat untuk menikahi gadis berusia 19 tahun itu.
"Santi, masuk!" Kata Adras saat melihat ponakannya itu berdiri di dekat Jun.
"Tapi uncle....!" Santi terlihat gelisah. Ia takut pamannya akan berkata kasar pada Jun. Ia tak rela. Ia menggengam tangan Jun dengan erat.
"Santi, biarkan uncle berbicara dengan lelaki yang sudah lancang mau melamar kamu yang masih kecil ini."
"Uncle, aku sudah dewasa. Sudah 19 tahun." Santi ingin tetap ada di sini.
"Santi ....!" Adras terlihat marah.
"Sayang, masuklah. Biarkan aku berbicara dengan pamanmu." Kata Jun lembut sambil melepaskan tangan Santi yang memegang pergelangan tangannya.
Santi terlihat kesal karena Adras mengusirnya dari ruangan itu. Ia ke bagian ruang keluarga di mana ada Sofia dan bi Suni di sana. Sofia langsung memeluk adiknya. "Tenanglah, ada aunty Nana di sana."
Adras menoleh ke arah istrinya yang duduk di sampingnya. "Sayang, kamu juga masuk ke dalam ya? Biarkan aku berbicara dengan Jun." Kata Adras lembut sambil mengusap perut Jelena. Ia seakan ingin pamer di depan Jun tentang kemesraannya dengan istrinya.
"Mas, biar saja aku di sini. Kenapa harus ke dalam segala sih?" Jelena sudah bertekad untuk membela Santi.
"Sayang, biarkan ini menjadi pembicaraan antar lelaki. Kamu di dalam saja. Lagian ini sudah malam. Nggak baik ibu hamil tidur terlalu larut."
Jelena cemberut. "Larut apaan sih? Ini juga baru jam setengah sepuluh. Biasa juga kamu membuat aku tidur hampir subuh." keluh Jelena namun dengan suara yang pelan tapi terdengar rupanya oleh Jun sehingga cowok itu sedikit menahan senyumnya.
"Sayang ....." Adras berusaha tak kasar pada istrinya. Jelena berdesis kesal namun ia menurut juga dan segera meninggalkan Adras dan Jun sendiri.
Adras menatap Jun yang masih berdiri. Ia tak ada niat untuk menyuruh pria itu duduk karena dia tak ingin lama-lama dengan Jun. Pria itu masih membuat Adras cemburu karena pernah menyembunyikan Jelena darinya.
"Aku tahu maksud kedatangan mu ke sini. Aku tak setuju Santi menikah denganmu. Ia masih 19 tahun. Ia masih sekolah. Santi harus menjadi dokter seperti keinginan mendiang kedua orang tuanya." kata Adras tegas.
"Aku tahu. Aku tak akan melarang Santi mewujudkan cita-citanya. Aku bahkan akan terus mendukungnya setelah kami menikah."
"Kalau begitu, tunggu saja sampai Santi selesai kuliah. 5 tahun lagi barulah kau kembali. Itu berarti usia Santi sudah 24 tahun dan aku tak akan melarang kalian untuk bersama."'
"Aku ingin menikahi dia sekarang. Aku ingin bersamanya lebih cepat. Usiaku sudah 28 tahun. Aku sudah cukup dewasa untuk bertanggungjawab dalam hidup Santi."
Adras tersenyum sinis. "Kenapa kamu mau bersama Santi? Bukankah kamu dulu mencintai istriku? Aku tak percaya kalau secepat itu kamu sudah menyukai Santi. Jangan-jangan, kamu mendekati Santi karena ingin dekat dengan istriku."
Jun yang masih tetap berdiri langsung tersenyum. "Aku memang dulu sempat kagum pada Jelena. Karena keteguhannya, karena kemauannya yang keras dan tidak mau tergantung pada siapapun. Jujur, aku memang mencoba mencuri hatinya namun aku sadar kalau ternyata hatinya bukan untukku. Perasaanku pada Nana akhirnya berubah seperti seorang kakak pada adiknya. Dan mengapa sekarang aku akhirnya menyukai Santi, itu karena dia gadis yang tulus mencintaiku. Aku dulu tak peduli padanya, namun ia dengan setia selalu menunjukan rasa cintanya padaku. Hatiku luluh karena kebaikan hatinya. Makanya aku ingin cepat menikah dengannya karena orang tuaku juga sudah mendesak aku untuk segera menikah. Aku tak mau gadis lain. Aku mau Santi karena hanya dia yang mampu membuat aku yakin untuk segera menikah."
__ADS_1
Adras menggeleng. "Pokoknya aku tak setuju. Jika kamu mau, tunggulah sampai Santi selesai kuliah. Silahkan pergi. Ini sudah malam."
"Tapi Adras, aku mencintai Santi."
Adras berdiri dari tempat duduknya."Perasaan cinta yang mendalam akan membuat seseorang itu rela menunggu berapa pun waktu yang harus ia korbankan." Lalu Adras segera meninggalkan ruang tamu. "Bi Suni, tolong antarkan tuan Jun ke pintu depan." Kata Adras saat ia tiba di ruang keluarga dan melihat para wanita sedang berkumpul di sana termasuk juga bi Suni.
"Baik tuan." Suni segera ke depan.
Adras menatap Santi yang terlihat sangat kecewa. Adras yakin kalau apa yang dikatakannya pada Jun, didengar juga oleh mereka.
"Kakakku menitipkan kamu di tanganku. Jadi aku sebagai pengganti orang tuamu. Menikahkan kamu adalah tanggungjawab ku. Namun aku tak akan menyerahkan kamu pada lelaki yang tidak kupercayai." kata Adras tegas lalu segera menuju ke kamarnya.
Tangis Santi langsung pecah. Ia memeluk kakaknya dengan hati yang sedih.
"Kasihan oppa Jun. Jika kami tak menikah, ia pasti akan segera dinikahkan dengan gadis yang menjadi pilihan orang tuanya. Aku tak mau kalau itu sampai terjadi. Aku mencintai oppa Jun." kata Santi diantara Isak tangisnya.
Jelena berdiri. "Tenang saja. Anuty akan lakukan apa saja untuk membuat unclemu itu mengerti." Lalu Jelena segera menyusul Adras ke kamar.
Ponsel Santi berbunyi. Ada notif masuk. Pesan dari Jun.
Sayang, jangan menangis ya. Aku tak sakit hati saat pamanmu menolak aku. Kita akan terus berjuang sampai akhirnya restu itu kita dapatkan. Aku mencintaimu.
Santi menghapus air matanya. Ia membalas pesan Jun itu.
Balasan Jun :
Jangan sayang ...., aku tetap aku memintamu secara baik-baik pada pamanmu. Bobo yang nyenyak ya. Tuhan pasti kasih jalan terbaik untuk kita berdua.
Santi bernapas lega. Ia menatap kakaknya. "Kak, ayo kita tidur."
Sofia mengangguk. Ia senang melihat adiknya tersenyum. Ia juga sebenarnya ingin segera ke kamar untuk Videocall dengan Arley. Ia sudah tak sabar untuk melihat wajah tampan sang Chris Evans itu.
**********
"Mas, kok kamu kejam seperti itu sih?" tanya Jelena saat membuka pintu kamar dan melihat Adras sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
"Sudahlah sayang, aku tak mau bertengkar denganmu karena Jun. Kita kan sedang bahagia sekarang ini."
"Kamu semalam baru mengatakan padaku kalau Santi dan Sofia pernah memberikan obat perangsang padaku sampai aku dengan tidak tahu malunya menjemput kamu ke bandara untuk bercinta. Bagaimana jika obat itu Santi pakai dan dia akhirnya bercinta dengan Jun?"
__ADS_1
Adras menatap istrinya. "Bukankah kamu memberikan jaminan kalau Jun lelaki yang baik?"
"Cinta, kalau dihalang, akan semakin tumbuh. Jangan kau lupa kalau Jun lelaki dewasa sedangkan Santi gadis polos yang sedang bucin. Mereka bisa saja lupa daratan dan akhirnya tidur bersama."
"Nggak mungkin."
"Mas, maaf jika aku mengungkit masa lalu. Kamu sendiri pernah mengalaminya. Di usia 19 tahun, ketemu Anita. Jatuh cinta setengah mati sampai tak peduli orang akan berkata apa. Bagaimana jika Santi mengalami itu? Masa sih kamu harus meminta Jun menunggu sampai 5 tahun lagi?"
Adras sebenarnya membenarkan apa yang Jelena katakan. Namun ia tak mau mengakuinya. "Pokoknya aku tak akan berubah. Bagiku, Santi masih terlalu kecil." Adras kembali menatap ke layar kaca.
"Ya sudah. Kalau kamu memang tak setuju, aku juga akan menolak semua permintaanmu." Jelena segera naik ke atas tempat tidur."
"Sayang, kok gitu sih? Maksud kamu apa menolak semua permintaanku? Apakah termasuk juga untuk bercinta?" Adras langsung mematikan TV dan menyusul Jelena ke ranjang mereka.
"Kamu nggak mengerti aku. Nggak mengerti dengan keinginan ibu hamil." Jelena langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang, jangan kayak gini dong. Lusa aku sudah berangkat. Masa sih kamu mau cuekin aku." Adras menarik selimut yang menutupi tubuh Jelena. Ia ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk istrinya itu.
"Jangan ganggu aku. Aku capek." Jelena menepis tangan Adras yang mengusap perutnya. Ia juga menjauhkan kepalanya karena Adras sudah mulai mencium leher Jelena. Ia tahu dimana titik kelemahan istrinya itu.
"Sayang....." Adras tak peduli dengan penolakan Jelena. Ia kembali memeluk istrinya itu.
"Ingat kata dokter."
"Tadi kan juga aku pelan-pelan masuknya." Adras kembali menggoda Jelena dengan menggelitik pusar istrinya itu.
Ponsel Jelena berbunyi. Ia bangun dan mengambilnya.
"Dari siapa sayang?" tanya Adras penasaran.
"Dari Jun. Ia meminta aku untuk menemani Santi malam ini." Jelena turun dari ranjang.
Adras langsung cemburu. "Kamu kok langsung pergi saat menerima perintah dari Jun?"
Jelena memakai sandal nya dan menatap Adras. "Ada juga pesan dari Santi yang meminta aku untuk menemaninya. Jadi aku nggak tidur di sini ya. Selamat malam tuan pilot." Jelena langsung meninggalkan kamar Adras membuat suaminya itu mengepalkan tangannya dengan kesal. Awas kau, Jun! Aku membencimu!
*********
Uncle Jun sendirian euy.....
__ADS_1
Selamat siang semuanya.....
Happy Weekend sama keluarga