ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Hari Bahagia Elina dan Santi


__ADS_3

Elina bangun pagi hari dengan tubuh yang terasa lemah. Sejak kemarin memang ia sudah merasakan kalau ada yang aneh dengan tubuhnya. Bahkan kalau ia mau mengingat hari-hari kemarin, Elina sedikit malu saat membayangkan betapa manjanya ia pada suaminya sehingga selalu meminta jatah pada Jeff. Tentu saja si mas bule yang selalu rajin berolahraga itu tak menolak keinginan istri mudanya itu.


"Good morning baby!" Jeff keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat istrinya yang masih terbaring di atas ranjang. Ia baru saja selesai mandi setelah menghabiskan 30 menitnya berolahraga dengan Adras di halaman belakang.


Sudah hampir 2 bulan mereka menikah dan Jeff merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat dari pernikahannya yang sebelumnya.


"Mas, aku kok merasa ada yang aneh dengan tubuhku ya?" ujar Elina sambil perlahan turun dari ranjang.


"Aneh bagaimana sayang? Menurutku tubuhmu semakin seksi saja setelah menikah. Bagaimana pijatanku di sini?" tanya Jeff sambil menyentuh gunung kembar Elina. "Semakin besar saja kan?"


"Ih..., mas bule, pagi-pagi sudah bicara mesum." Elina menepis tangan suaminya. Namun saat ia melewati kaca, ia melihat sebentar dadanya dan merasakan kalau dadanya memang semakin besar.


"Aku kok semenjak menikah belum datang bulan ya?" kata Elina pada dirinya sendiri. Ia ingat kalau sudah 6 minggu ia menjadi istri Jeff dan saat menikah, ia baru saja selesai datang bulan.


Perempuan itu langsung membuka laci yang ada di atas wastafel, tempat ia menyimpan pembalutnya juga testpack yang iseng-iseng sempat dibelinya setelah seminggu menikah. Dengan cepat ia melakukan tes.


"Oh my God!" Elina tak percaya menatap dua garis yang ada di testpack itu. Ia segera ke kamar mandi.


"Honey....!" panggilnya. Jeff yang baru selesai berpakaian menatap istrinya.


"Ada apa, sayang? Kenapa matamu berkaca-kaca?" tanya Jeff sambil mendekati istrinya. Air bening itu bahkan terlanjur jatuh dan membasahi pipi Elina. "Adakah sesuatu yang membuatmu sedih?" tanya Jeff.


Elina menggeleng. "Aku sangat bahagia, mas bule."


"Kenapa memangnya?"


Elina menunjukan testpack yang tadi sempat disembunyikannya di tangannya.


"Kamu hamil?" Tanya Jeff sambil terbelalak.


"Iya."


"Oh istriku....!" Jeff langsung memeluk Elina dan memutar tubuh istrinya itu. "Aku akan menjadi seorang daddy. Aku bahagia sayang."


"Aku juga bahagia."


Jeff langsung menarik tangan Elina menuju ke ruang makan. Di sana sudah berkumpul semua keluarganya.


"Ada apa?" tanya Adras sambil menatap pamannya.


"Elina hamil." kata Jeff dengan suara yang sangat nyaring.


Semua langsung gembira. Mereka satu persatu memeluk Elina dan memberikan selamat.


"Akan ada dua ibu hamil di rumah ini." kata Jelena sambil menunduk dan mencium perut Elina.


"Siapa tahu kembar kayak kamu ya Adras." kata Jeff.


"Amin....amin...." ujar Santi dan Sofia barengan.


"Kalau begitu, mari kita rayakan dengan makan malam bersama. Santi, ajak Jun ya?" ujar Jelena.


"Nggak boleh. Mereka kan sedang dalam masa pingitan." kata Adras.


"Sayang, kalian kan setengah bule, Jun Korea, memangnya masih berlaku masa pingitan? Kasihan lho mereka 2 minggu nggak ketemu." protes Jelena.


"Pokoknya nggak boleh aja. Kita kan tinggal di Indonesia makanya harus ikut semua aturan yang ada." kata Adras tegas.

__ADS_1


Santi cemberut. "Waktu uncle nikah sama aunty Nana nggak ada pingitan. Opa Jeff nikah sama dokter Elina nggak pakai pingitan. Kenapa dengan aku harus pakai pingitan segala?"


Adras seakan tak memperdulikan protes Santi. Dan Jeff hanya bisa tersenyum saat Santi menatapnya. Jujur saja, ia rindu pada Jun. 10 hari lagi mereka akan menikah dan entah mengapa uncle Adras membuat acara pingitan segala.


**********


"Kamu cantik!" kata Arley dari seberang sana. Sofia tersipu.


"Aku sedih kamu nggak ada di pernikahan adikku."


"Pekerjaan ku masih banyak di sini, sayang. Aku juga sangat merindukanmu. Sekarang saja ingin langsung terbang ke Jakarta saat melihat kamu dandan cantik seperti itu. Aku takut nanti banyak cowok yang menggoda kamu."


Sofia terkekeh. "Nggak bakalan tertarik."


"Benar nih?"


"Aku masih tunggu kamu pulang."


"Langsung bawa cincin boleh nggak?"


"Kalau yang itu langsung berurusan dengan uncle Adras."


Arley tertawa.


"Sudah dulu, ya? Acaranya sudah mau dimulai."


"Bye cantik." Arley mengedipkan sebelah matanya sebelum Sofia menutup percakapan diantara mereka. Gadis itu pun segera masuk ke dalam. Ia bangga melihat adiknya yang nampak cantik dengan balutan gaun putih yang menjadikan dia ratu malam ini.


Opa Jeff dan Elina yang duduk menjadi wali bagi Santi di pelaminan. Sofia ingat bagaimana tadi siang sebelum acara pemberkatan, Santi menangis saat sungkeman di depan Adras. Ia minta maaf karena gak bisa memenuhi keinginan pamannya agar ia menjadi dokter. Tapi dia juga berjanji akan meneruskan sekolahnya apapun yang terjadi.


"Sayang, kita sudah resmi menjadi suami dan istri." kata Jun saat ia berdansa dengan Santi.


"Aku juga oppa."


"Jangan panggil oppa dong. Panggil yeobo."


"Karena?"


" Yeobo adalah panggilan sayang yang biasanya diucapkan oleh dua orang yang sudah menikah."


"Oh gitu ya. Baiklah. Yeobo."


Jun tersenyum. Ingin rasanya ia mencium Santi saat ini juga namun masih banyak orang di sini apalagi ada uncle Adras.


"Sayang, aku nggak mau dansa lagi ah. Kakiku sakit." kata Jelena lalu segera duduk sambil mengusap perutnya yang kini sudah memasuki bulan ke-8. Ia dan Adras sepakat tak ingin tahu jenis kelamin anak mereka supaya menjadi kejutan bagi mereka. Makanya, kamar bayi didesain dengan dominan warna putih dan kuning. Demikian juga dengan semua pakaian bayinya.


Adras ikut duduk di samping istrinya. Perut Jelena memang terlihat lebih besar dari wanita yang hamil dengan satu bayi saja. "Kakimu agak bengkak, sayang?"


Jelena mengangguk. "Iya. Kata dokter sih ini hal yang biasa. Apalagi aku hamilnya anak kembar 3 kan?"


"Aku kadang sedih lihat kamu tidurnya kurang nyaman."


Jelena tersenyum. Ia memegang pipi Adras. "Aku menjalani semua ini dengan senang hati, sayang. Dulu kita pernah kehilangan anak kita. Dan Tuhan menggantikannya dengan memberikan 3 sekaligus. Bukankah Tuhan itu sangat baik? Jadi mengapa kita harus mengeluh menerima kebaikanNya?"


"Inilah yang membuat aku semakin jatuh cinta padamu. Keikhlasan mu dalam menerima segala suatu dan kekuatanmu menjalani semuanya."


Keduanya saling bertatapan mesra dan akhirnya mereka berciuman di tengah kerumunan banyak orang.

__ADS_1


"Tuh kan, kita yang menikah namun mereka yang menjadi pusat perhatian." ujar Santi saat melihat uncle Adras yang mencium Nana.


Jun hanya tersenyum. "Nanti bagianmu sebentar sayang. Saat kita tinggal berdua." bisik Jun membuat Santi jadi melayang.


********


Kini mereka sudah tiba di villa yang mereka sewa untuk menjadi tempat bulan madu mereka selama 1 Minggu. Santi dan Jun memang memutuskan tak bulan madu di luar negeri karena kesibukan kuliah dari Santi.


Mereka sudah berganti pakaian di hotel tempat pelaksanaan pernikahan dan helikopter mengantar mereka di pulau ini.


"Akhirnya kita tinggal berdua." Jun langsung memeluk Santi dari belakang.


"Yeobo....!" Santi yang sedang mengatur pakaiannya di lemari merasa geli karena Jun mencium lehernya.


Jun membalikan tubuh istrinya sehingga mereka kini berhadapan. "Aku sangat mencintai kamu." kata Jun.


"Aku juga."


Jun menunduk lalu menyatukan dahi mereka berdua. Ia memejamkan matanya. "Aku janji akan selalu membahagiakan mu, sayang."


"Aku juga akan menjadi istri yang terbaik untukmu." Santi pun memejamkan matanya. Keduanya menikmati momen kedekatan ini selama beberapa saat.


"Apakah aku sudah bisa mendapatkan hakku sebagai suamimu malam ini?" bisik Jun lalu ia mulai mencium dahi Santi, turun ke mata gadis itu yang terpejam.


"Aku sebenarnya sedikit takut dan gugup, sayang."


"Aku juga. Karena ini juga yang pertama untukku."


Santi membuka matanya. "Ka...kamu masih perjaka?"


Jun tersenyum. "Jangan bilang siapa-siapa ya?"


Lalu keduanya tertawa bersama. Jun memeluk istrinya dengan erat. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan secara perlahan mendorong Santi untuk terbaring di ranjang.


"Yeobo, apakah kita akan melakukan ini setiap malam?" tanya Santi saat Jun mulai mengatakan dirinya di atas sang istri.


"Aku tak akan berhenti sebelum kamu hamil." kata Jun lalu mulai mencium bibir Santi dengan penuh gairah yang mendalam.


***********


Di rumah Adras......


"Mas, kok perutku rasanya nggak enak ya?" ujar Jelena.


"Kenapa sayang?"


"Aku merasakan sakit di bagian perut bawah dan kadang naik ke pinggang."


"Memangnya kamu akan melahirkan sekarang? Kamu kan belum cukup bulan." Adras terlihat panik. Ia ada penerbangan besok pagi.


"Mas ...kita ke rumah sakit aja yuk!" ajak Jelena saat ia merasakan ada air yang keluar dari inti tubuhnya.


************


Hallo semua......


Tinggal sesaat lagi guys dan kisah ini akan berakhir.

__ADS_1


__ADS_2