
"Ada apa uncle?" tanya Sofia saat melihat Adras yang menuruni tangga dengan cepat.
"Mana Nana?"
"Sudah pergi. Mungkin sekitar 2 jam yang lalu."
"Siapa yang mengantar?"
"Paman Sule."
"Kamu nggak kuliah?"
"Baru saja mau pergi."
Adras mengangguk dan segera keluar mencari Sule sementara Sofia ikut di belakangnya.
"Paman, tadi antar Jelena ke mana?" tanya Adras.
"Ke cafe." jawab Sule.
"Berikan kunci mobil. Aku akan ke sana." ujar Adras.
Sule memberikan kunci mobilnya pada Adras. Ia memang sementara membersihkan mobil majikannya itu.
"Uncle, ikut!" ujar Sofia.
"Kamu kan mau ke kampus?"
"Kuliahnya nanti dimulai jam 1. Aku nggak bawa mobil karena sebentar akan di jemput kak Agung."
Adras mengangguk. Keduanya pun langsung pergi.
Begitu sampai di cafe, Tari mengatakan kalau ia sudah mengantar Jelena naik bis karena ia akan ke kampus semenjak satu jam yang lalu. Saat itu di TV besar yang ada di ruang cafe sementara menayangkan sebuah kejadian kecelakaan. Saat melihat bis itu, Tari langsung berteriak histeris.
"Ah....nggak mungkin! Itu bis yang ditumpangi Jelena tadi." Tari menjadi histeris sehingga semua karyawan ikut berkerumun di depan TV.
"Maksud kamu apa?" Adras mengguncang bahu Tari yang sudah menangis.
"Bis......., bis itu....., aku hafal benar dengan plat nomornya karena mudah diingat 1221. Ya Tuhan, Jelena ada di dalam bis itu."
"Uncle.....!" Sofia jadi tegang. Air matanya juga ikut mengalir.
"Ayo kita cek di lokasi kejadian."
"Boleh aku ikut?" tanya Tari.
Adras mengangguk.
Mereka bertiga pun langsung pergi.
Jalanan tempat kejadian sudah ditutup. Adras harus memarkir mobilnya agak jauh dan segera berlari menuju ke lokasi kejadian.
Di sana, tim evakuasi sudah berhasil mematikan api yang membakar bis itu.
"Tolong, pak, aku ingin tahu bagaimana korban-korbannya. Istriku ada di dalam." ujar Adras saat petugas kepolisian menghalanginya untuk mendekat.
__ADS_1
Polisi itu menatap Adras. "Maaf, tak ada korban yang selamat. Mereka baru saja dibawa pergi dengan kantong-kantong mayat. Semua korban hangus terbakar sehingga kami sulit untuk mengenali mereka."
Adras merasakan kalau lututnya langsung goyah. Ia bahkan berpegang pada Sofia yang berdiri di sampingnya. Tari dan Sofia pun langsung menangis histeris.
"Mungkin, Jelena sudah turun dari bis." ujar Adras berusaha menguatkan hatinya.
"Uncle, ayo kita ke rumah sakit." ajak Sofia.
Mereka pun langsung ke rumah sakit yang polisi sebutkan tadi.
"Maaf, untuk sementara jenasah para korban belum bisa diindentifikasi karena memang keadaannya hangus terbakar. Kami akan membersihkan jenasah yang berjumlah 16 orang itu dan akan segera menghubungi keluarganya. Namun ada beberapa barang penumpang yang tak terbakar secara habis. Boleh melihatnya di loket sebelah." kata petugas rumah sakit itu.
Mereka pun segera ke loket sebelah. Barang-barang penumpang yang tak ikut terbakar, diletakan di atas sebuah meja yang besar. Ada petugas kepolisian yang berjaga.
"Itu adalah tasnya aunty Nana. Tuh kan ada ponselnya." Sofia langsung terduduk lemas di atas lantai saat melihat kalau barang-barang Jelena ada di sana.
Adras mendekat dan meminta ijin melihat tas dan ponsel itu. Memang benar, itu adalah tas punggung yang biasa digunakan oleh Jelena. Tas itu nampak setengah terbakar.
Tangan Adras langsung bergetar saat ia membuka tas itu dan menemukan dompet Jelena. Ada kartu identitasnya di sana.
Bumi yang dipijak oleh Adras seakan runtuh menimpa dirinya. Ia merasakan seperti ada sebongkah batu yang sangat besar menghantam dadanya.
"Tidak mungkin...!" Adras menggelengkan kepalanya.
"Uncle.....!" Sofia memanggil pamannya. Adras membantu Sofia untuk berdiri.
Tari sendiri sudah duduk dengan tubuh yang gemetar. Ia menangis. Tak bisa ia membayangkan bagaimana sasisnya kematian sahabat baiknya.
"Tuan, silahkan memberikan contoh DNA dari keluarga terdekat." ujar salah satu petugas.
Adras memandang Sofia. "Kamu tahu alamat paman dan bibi Jelena?" tanya Adras.
Adras segera menghubungi pengacara keluarganya itu. Pikirannya masih kacau. Ia tak tahu harus bagaimana. Membayangkan Jelena yang sedang hamil membuat hati Adras seperti di cabik-cabik.
3 jam menunggu di rumah sakit, ketiga orang itu nampak sangat tegang. Beberapa keluarga korban yang lain juga sudah ada.
Rian datang ke rumah sakit. "Adras, paman dan bibi Jelena ternyata tak punya hubungan darah dengan Jelena. Paman Jelena itu hanyalah anak angkat."
Adras semakin terpuruk mendengar perkataan itu. Tadi, pihak rumah sakit sudah mengajak Adras untuk bisa melihat beberapa jenasah yang kondisi kebakarannya tak bagitu parah. Namun Adras tak mengenali 5 jenasah itu.
"Uncle, aunty Nana menggunakan cincin pernikahan kalian kan? Ia juga memakai kalung yang uncle berikan padanya. Apakah barang-barang itu akan menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak?" tanya Sofia.
Adras menarik napas panjang. "Dia sudah membuka kalung dan cincinnya. Ada di kamar uncle."
Sofia kembali menjadi down. Ia bahkan memeluk Tari walaupun sebenarnya ia tak begitu kenal dekat dengan Tari.
Saat hari menjelang malam, mereka pun pulang karena belum juga mendapatkan titik terang dari jenasah yang ada.
Bibi Suni memberi tahu kalau Anita sudah pergi. Adras pun merasa kalau hal itu lebih baik. Ia duduk di dalam kamarnya sambil menatap cincin pernikahan mereka yang ada di jari manis Adras.
Jelena memang baru beberapa bulan hadir dalam kehidupannya, namun entah kenapa hal itu sangat mempengaruhi semangat Adras.
Kenangan manis yang mereka lalui semalam saat bercinta kini kembali menganggu pikiran Adras. Membayangkan tubuh Jelena yang terbakar dalam keadaan hamil sungguh membuat Adras semakin hancur.
Saat makan malam, suasana di meja makan pun nampak suram. Santi tak henti-hentinya menangis. Demikian juga dengan Sofia.
__ADS_1
Bi Suni pun tak kuasa menahan air matanya ketika ia membersihkan dapur dan teringat dengan semua keceriaan Jelena.
***********
2 minggu setelah peristiwa kecelakaan itu.
"Hanya satu jenasah yang tidak teridentifikasi. Jenasah perempuan berusia sekitar 20-25 tahun. Rambutnya panjang."
Keluarga Permana membawa pulang jenasah itu karena memang hanya Jelena yang tidak bisa diberikan contoh DNA nya karena kedua kedua orang tuanya sudah meninggal. Menurut paman dan bibinya, adik dari papanya Jelena masih hidup namun mereka tak tahu dimana ia berada karena sudah lama merantau dan tak ada kabarnya.
Acara pemakaman Jelena pun di laksanakan secara tertutup di kediaman Permana.
Surya juga hadir namun tidak dengan Anita. Surya terlihat sangat sedih. Ia merasa terpukul atas kepergian Jelena. Karena sesungguhnya ia memiliki perasaan untuk gadis itu.
Adras menguburkan Jelena di sebuah kompleks pemakaman mewah, di dekat makam kedua orang tuanya. Setelah itu ia pergi ke cafe untuk mengambil semua semua barang-barang Jelena dan memindahkannya ke rumahnya.
**********
Sebulan setelah peristiwa kecelakaan itu.....
"Uncle, sudah mau masuk kerja?" tanya Santi saat melihat Adras turun dengan seragam pilotnya.
Adras mengangguk. "Iya. Kemarin uncle sudah dinyatakan sehat oleh pihak kesehatan maskapai. Hari ini uncle akan terbang namun sebentar malam sudah kembali."
"Semangat ya uncle." ujar Santi lalu mencium tangan Adras sebelum ia berangkat ke sekolah. Sebentar lagi ia akan ujian akhir.
Adras pun berangkat ke bandara setelah ia dijemput oleh kendaraan maskapai.
"Good morning, kap!" sapa beberapa pramugari yang sudah dalam kendaraan.
"Good morning !" sapa Adras. Kali ini Adras berusaha bersikap ramah dan tidak cool lagi karena ia ingat suatu ketika Jelena pernah mengatakan kalau tersenyum itu mendatangkan berkat bagi banyak orang.
Saat Adras memasuki ruang kokpit, ia memejamkan matanya sebentar. Lalu ia berdoa. Membayangkan Jelena yang selalu berdoa untuknya, hati Adras kembali menjadi sakit.
"Good morning kapten!"
Adras membuka matanya. "Agung?"
"Iya. Saya akan menjadi co-pilot hari ini." ujar Agung.
"Baiklah. Mari kita bekerja sama." Adras pun duduk di kursi pilot lalu memukai pekerjaannya.
********
Adras membawakan bunga ke kuburan Jelena. Hampir setiap hari, Adras akan datang ke kuburan ini. Ia baru menyadari kalau kepergian Jelena membuatnya merasa sangat kehilangan.
"Na, aku sangat merindukanmu. Kepergianmu membuat aku sadar bahwa aku mencintaimu." ucap Adras sambil tangannya mengusap batu nisan Jelena.
"Adras.....!"
Deg!
Adras menoleh. Dan ia sangat terkejut melihat siapa yang berdiri di sana.
*******
__ADS_1
Hallo semua....
semangat terus ya guys....