
Anita sudah menggunakan gaun putih yang cukup seksi. Ia tahu kalau Adras memang senang dengan sesuatu yang berwarna putih.
Ia sudah menyiapkan makan malam yang enak. Hasil masakannya sendiri. Anita memang punya keahlian memasak semenjak ia dekat dengan Adras.
Adras adalah tipe lelaki yang paling suka makanan rumahan.
Dua bua lilin berwarna merah sudah diatur di atas meja makan. Lilin aroma terapi yang Anita tahu akan membuat suasana makan malamnya dengan Adras menjadi romantis.
Mulai malam ini, Anita akan berterus terang tentang hubungannya dengan Adras. Ia bahkan akan segera meresmikan hubungan mereka ke pernikahan. Jika sudah menikah, Anita memutuskan akan berhenti bekerja sebagai pramugari. Ia akan banyak beristirahat dan melakukan terapi apapun agar bisa hamil.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 7 lewat 15 menit. Adras orangnya selalu tepat waktu. Tadi siang, Anita mengirimnya pesan dan meminta pria itu datang pukul 7.30 malam. Berarti tak lama lagi, Adras akan segera tiba.
Namun sampai jarum jam menunjukan pukul 8 malam, Adras belum juga datang. Anita mulai gelisah. Ia menelepon Adras namun ponsel pria itu tak diangkatnya. Ia juga mengirim pesan namun pesanannya itu belum dibaca.
Adras, kamu dimana?
**********
Adras ternyata sedang berdiri di dekat mobilnya, menunggu Jelena yang masih nampak sibuk melayani para pengunjung mini market itu yang cukup ramai malam ini.
Sudah satu jam Adras menunggu di sini. Dan ia sama sekali tak peduli walaupun kakinya mulai sakit. Sesekali Adras duduk di dalam mobilnya, lalu keluar lagi.
Pukul setengah sepuluh malam, mini market itu mulai sepi. Terlihat kalau rolling door nya sebagian sudah ditarik dan menyisahkan sebuah pintu kecil yang menjadi akses masuk dan keluar.
Tak lama kemudian, terlihat Jelena dan 2 orang temannya keluar dari sana. Mereka sama-sama menutup pintu yang terakhir. kedua teman Jelena yang berjenis kelamin laki-laki itu segera naik motor berboncengan sedangkan Jelena nampak menunggu angkot di depan toko.
"Na.....!"
Jelena langsung terlihat kesal melihat Adras yang datang mendekatinya. "Mau kamu apa sih? Apakah penjelasan aku kemarin kurang kamu mengerti? Aku nggak mau berhubungan lagi dengan kamu!"
"Tapi kamu perlu tahu apa yang terjadi sebenarnya. Video yang dikirimkan padamu, telah diedit. Foto itu memang benar. Setelah kamu pergi, Anita masuk ke kamarku. Aku yang tertidur mengira bahwa itu kamu, hanya membiarkan saja saat Anita memelukku dari belakang. Aku tak menyangka kalau Anita menggunakan kesempatan itu untuk mengambil gambar dan mengirimkannya padamu."
"Penjelasanmu tak ada manfaatnya saat ini buatku, Adras. Aku pikir Tuhan sangat menyayangi aku. Ia mengambil anakku sebelum akhirnya aku akan menderita karena dengan uang dan kekuasaan yang kau milikku, kau bisa memenangkan hal asuh atas dirinya. Aku ingin jauh dari kehidupanmu."
Adras menahan tangan Jelena yang akan pergi. Ia memegang tangan Jelena dengan sangat kuat sampai Jelena tak bisa melepaskannya.
__ADS_1
"Ikut dengan aku sebentar, baru setelah itu kau boleh pergi jika memang tak ingin bersamaku." Adras sedikit menyeret Jelena untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Adras ..., buka....! Adras....!" Jelena membuka pintu mobil tapi tak bisa.
Adras langsung menjalankan mobilnya dengan sangat kencang sehingga Jelena akhirnya memilih untuk diam karena ia takut. Perempuan itu memejamkan matanya dan memegang seatbelt nya dengan kuat.
Ia membuka matanya saat mobil sudah berhenti. "Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Jelena saat menyadari kalau mereka ada di lobby apartemen Adras.
Adras tak menjawab pertanyaan Jelena. Ia hanya menarik tangan Jelena sampai akhirnya mereka tiba di depan unit milik Adras. Namun Adras tak membuka pintu. Ia hanya membunyikan bel dan saat pintu terbuka.
Anita langsung menghapus air matanya dan memperbaiki rambutnya. "Adras.....!" ia tersenyum dan hampir memeluk Adras namun langkahnya terhenti melihat tangan Adras sedang memegang seseorang. Dan ia terkejut saat tahu kalau itu adalah Jelena.
"Apa maksud kamu dengan membawa Jelena di sini?" tanya Anita dengan nada tak suka.
"Anita, pagi itu, sewaktu kamu masuk ke kamarku setelah Jelena pergi, kamu sengaja mengambil gambar saat memeluk aku kan? Dan apa maksudmu mengirim gambar itu pada Jelena?" tanya Adras sambil menatap Anita dengan tajam.
"Mengirim gambar pada Anita? Kapan itu?"
"Di hari Jelena mengalami kecelakaan. Jangan mungkin, An. Aku lihat sendiri kalau gambar itu dikirim langsung dari nomormu."
Wajah Anita langsung pucat. "Tapi....kita memang bercinta pagi itu."
Jelena tersenyum kecut. "Apakah seorang Anita harus merendahkan dirinya seperti itu untuk mendapatkan dirimu? Nggak kan? Sudahlah Adras, aku kan sudah bilang kalau nggak ada pengaruhnya sekarang ini saat." Jelena terus menarik tangannya dari genggaman Adras namun Adras sama sekali tak mau melepaskannya.
"Tentu saja sekarang itu sangat berarti bagiku. Karena di hadapan Anita, wanita yang semua anggap tak mampu aku lupakan, aku ingin menyatakan isi hatiku padamu. Aku mencintaimu Jelena. Aku berani sumpah atas nama Tuhan, aku sungguh mencintai kamu. Ada atau tidak adanya anak kita, aku tetap mencintai dirimu."
Anita tak percaya dengan apa yang Adras katakan. "Adras, jangan berikan aku hadiah ulang tahun yang paling buruk dalam sejarah hidupku. Aku mohon, Adras. Kamu mencintai aku."
Jelena masih diam. Ia tak percaya dengan apa yang Adras katakan. Jantungnya berdebar sangat kencang. Namun ia buru-buru menggeleng. "Tidak! Kau tidak mencintai aku, Adras. Kau mengatakan semua ini hanya karena ingin menahan aku di sisimu. Kamu terlalu takut reputasi mu menjadi tak baik di hadapan Sofia dan Santi."
"Aku mencintai kamu, Nana. Kamu tak tahu, betapa hancurnya aku saat tahu kalau kamu meninggal? Saat aku mengira mengubur jasadmu di dekat makam kedua orang tuaku, aku bahkan merasa sebagian hidupku ikut terkubur bersama jasad itu. Bagaimana aku bisa menyakinkan kamu kalau aku mencintaimu?" Adras terlihat frustasi karena Jelena tak percaya padanya.
"Lepaskan tanganku, Adras!" Jelena berhasil menarik tangannya dari genggaman Adras. Ia segera berlari meninggalkan apartemen itu.
"Tidak Adras! Jangan tinggalkan aku!" Anita menahan tangan Adras namun Adras melepaskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Maaf Anita! Mungkin cinta ku padamu sudah lama hilang semenjak kamu begitu takut meninggalkan Mike. Dan aku baru menyadarinya saat Jelena hadir dalam hidupku. Makanya, dengan cepat aku bisa jatuh cinta padanya." Lalu Adras segera mengejar Jelena yang sudah menghilang di balik pintu lift.
Aku tak akan pernah melepaskan kamu pergi, Jelena! Masih ada satu penjelasan yang harus kamu dengar!
********
Anita menghancurkan semua barang yang ada dalam apartemennya. Ia tak peduli dengan tangannya yang berdarah.
"Anita....!"
Anita menoleh ke arah pintu. Nampak Mike berdiri di sana sambil membawakan kue ulang tahun.
"Waw...., ada apa ini?"
"Keluar kamu, Mike! Siapa yang mengijinkan kamu masuk?"
"Pintunya nggak dikunci."
Anita menghapus air matanya dengan kasar. "Pergi! Jangan ganggu aku."
"Apakah sebagai mantan suami, aku tak boleh datang memberikan ucapan selamat ulang tahun padamu? Kebetulan pintunya tak dikunci dan akses masuk tadi terbuka karena aku melihat Adras yang mengejar Jelena si mayat hidup."
Tangis Anita pecah. "Aku tak mau kehilangan Adras. Aku mencintainya.Hanya Adras yang mengerti aku. Hanya Adras yang mengerti diriku!"
Mike meletakan kue ulang tahun itu di atas meja. Ia kemudian mendekati Anita. "Anita, jangan seperti ini."
Anita tiba-tiba memeluk Mike. "Aku benci kamu, Mike! Aku benci kamu!"
"Bencilah aku sesukamu!" ujar Mike lalu memeluk Anita.
************
Berhasilkah Adras meyakinkan Jelena?
Dengarkan lagu Mario Klau yang berjudul : Semata Karena Kamu
__ADS_1
Berikan komentarnya ya....
yang panjang, nggak apa-apa. Emak akan setia membacanya.