ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Yang Tak Terduga


__ADS_3

Santi dan Sofia langsung mendekati Jelena. Yang satu ada di sisi kanan kursi dan yang satu ada di sisi kiri. Keduanya langsung memeluk Jelena dengan mata berkaca-kaca.


"Akhirnya...., aku akan menjadi opa lagi setelah dua cucu perempuan ini sudah gede." Kata Jeff. Ia menepuk pundak Adras dengan lembut. "Kau membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang padamu selama ini adalah salah."


Adras masih diam. Entah apa yang dia pikirkan. Ia masih menatap Jelena yang duduk di kursi kolam sambil berselojor kaki dan memejamkan matanya.


Bi Suni kembali sambil membawa minyak kayu putih. Ia langsung menuangkannya ke tangan Jelena dan meminta Perempuan itu untuk menciumnya. Ia juga menggosok nya di pelipis Jelena.


Sofia dan Santi pun nampak bahagia. Mereka memijat tangan Jelena.


"Aku berharap agar dia laki-laki." kata Sofia sambil melirik ke arah pamannya yang nampak masih diam.


"Kalau aku ingin perempuan." ujar Santi. "Supaya aku bisa mengepang rambutnya, membelikan dia bandow dan jepit rambut yang berwarna-warni."


"Harus laki-laki agar keluarga Permana ada penerusnya."


"Belum tahu juga apakah Jelena hamil atau tidak, kalian sudah bertengkar. Kan belum di tes, belum juga diperiksa ke dokter." ujar Marlisa memarahi kedua gadis itu.


"Ih, kok sirik sih." ujar Santi.


"Santi!" Adras menegur ponakannya.


"Uncle...., Oma Marlisa nih. Kayaknya nggak mau kalau aunty Nana akan hamil." Santi nampak cemberut.


"Marlisa benar. Kan belum juga di tes." Adras mendekati Jelena. "Masih pusing?" tanyanya.


"Iya." Jawab Jelena tanpa membuka matanya.


Adras tanpa diduga mengangkat tubuh Jelena ala bridal style. "Aku akan membawa Jelena ke kamar. Kalian teriakan saja menikmati rujaknya." Kata Adras lalu segera melangkah. Tubuh Jelena yang kecil bukanlah masalah baginya. Ia dengan mudah melangkah memasuki rumah.


Perasaan Jelena merasa senang saat Adras menggendongnya. Harum tubuh pria itu membuat perasaan Jelena merasa tenang dan damai. Ia bahkan melingkarkan tangannya di leher Adras agar tak jatuh.


Begitu sampai di kamar, Adras meletakan tubuh Jelena di atas kasur, ia kemudian duduk di dekat Jelena.


"Apakah kau yakin kalau kamu hamil?" tanya Adras.


"Nggak tahu. Aku saja kaget saat bibi Suni mengungkapkan hal tersebut." jawab Jelena masih dengan mata terpejam.


"Kapan terakhir kau turun haid?"


"Entahlah. Aku juga lupa."


Adras menarik napas panjang. Ia terlihat bingung. "Bagaimana kamu bisa hamil kalau aku membuang benihku di luar rahimmu setiap kali kita berhubungan?"


Jelena yang masih pusing tiba-tiba membuka matanya. "Jadi mas pikir kalau aku selingkuh? Kalau ini bukan anak mas? Lalu saat pertama kita berhubungan, memangnya mas lupa kalau mas membuangnya di dalam?"

__ADS_1


"Kamu dekat dengan Surya dan Surya adalah lelaki yang sangat gampang merayu wanita."


Jelena memukul lengan Adras dengan sangat marah. "Baguslah kalau mas berpikir demikian tentang aku, sehingga aku dengan mudah akan keluar dari rumah ini. Besok aku akan membeli testpack dan sebagainya aku positif hamil, biarkan aku pergi. Mas katakan saja pada Sofia dan Santi kalau aku selingkuh dengan Surya. Dan saat anak ini lahir dan terbukti kalau ini memang adalah anak mas, jangan pernah berharap kalau aku akan mengijinkan mas melihatnya." Air mata Jelena jatuh. Namun ia dengan cepat menghapusnya. Ia langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Adras, lalu ia memejamkan matanya. Rasa pusing masih mendera tubuhnya dan Jelena merasa kalau ia sangat lelah.


Adras langsung keluar kamar. Ia mengambil kunci mobilnya dan keluar rumah. Kepalanya langsung terasa berat.


Setelah Adras pergi, Jelena pun dengan leluasa menumpahkan segala kegundahan hatinya dengan menangis. Ia merasa kalau Adras sudah keterlaluan. Hati Jelena sakit karena Adras secara tak langsung menuduhnya selingkuh dengan Surya.


Tak lama kemudian, Jelena mendengar bunyi ponsel Adras. Lelaki itu lupa membawa ponselnya. Saat Jelena melihat kalau itu merupakan panggilan dari Adam, Jelena langsung naik pitam. Walaupun masih dalam keadaan pusing, ia mengangkatnya.


"Bang Adras.....!" terdengar suara Adam.


"Hei Adam, aku mau bilang ke kamu, ya! Jangan tutup teleponnya. Mulai sekarang, jangan menganggu mas Adras lagi. Kalian itu sama-sama lelaki. Jangan suka dengan sesama lelaki. Apakah kalian nggak takut dosa? Mas Adras itu lelaki tulen. Dia hampir tiap malam meniduri aku. Dan kabar baik yang harus kau tahu, aku sekarang hamil. Aku hamil anaknya mas Adras. Jadi jangan ganggu kami lagi. Carilah perempuan!" teriak Jelena lalu memutuskan sambungan telepon. Ia merasa lega sudah mengatakan itu pada Adam.


Ia coba mengingat kapan terakhir ia datang bukan. Dan ternyata ia memang sudah terlambat 2 minggu. Jelena memegang perutnya. Mas Adras meragukan kalau aku hamil karena memang ia selalu membuang benihnya di luar. Namun saat pertama ia menyentuhku, aku sangat yakin kalau Mas Adras membuangnya di dalam. Ia bahkan agak lama melepaskan penyatuan kami.


Jelena mencoba untuk tidur. Ia memang merasa lelah, kesal, marah, semuanya bercampur menjadi satu.


**********


Adras kembali ke rumah saat waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Lelaki itu memang sangat profesional dengan tugasnya sebagai pilot. Besok ia akan ke bandara pukul 4 subuh karena penerbangannya pukul 5.30 pagi.


Saat ia menaiki tangga, Sofia dan Santi langsung memarahinya.


"Uncle dari mana saja sih? Aunty kan sedang nggak enak badan. Uncle baru pulang jam segini." Kata Sofia dengan wajah yang marah.


"Kok opa Jeff nggak bilang sih? Pada hal opa dan Oma Marlisa baru saja keluar tadi."


"Sudahlah, jangan cerewet. Uncle capek." Ujar Adras lalu segera menuju ke kamarnya. Saat ia memasuki kamar, nampak Jelena sudah tidur di atas ranjang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


Ia meletakan testpack yang dibelinya di atas nakas, tepat di sisi Jelena tidur. Adras melihat ponselnya yang tertinggal. Ia terkejut melihat ada 5 panggilan dari Mike, 3 panggilan dari Adam, dan 1 panggilan dari Sofia.


Ia mengabaikan semua panggilan itu. Ia menuju ke kamar mandi untuk segera mandi dan tidur.


********


Saat Adras bangun, Jelena sudah tak ada di sampingnya. Dan Adras melihat kalau testpack yang diletakkannya di atas nakas sudah tak ada.


Adras menuju ke kamar mandi dan Jelena tak ada. Ia pun segera mandi dan bersiap untuk ke bandara.


Koper Adras sudah siap dengan pakaiannya. Jadwal penerbangan hari ini membuat Adras akan pulang esok sore.


Selesai ganti pakaian, ia segera menuju ke bawa. Kopi dan roti sudah tersedia seperti biasanya. Namun Jelena tak ada di dapur.


"Bi, Jelena kemana?" tanya Adras.

__ADS_1


Suni yang sedang membersihkan dapur menatap Adras. "Tadi nyonya ada di sini. Tapi katanya ia mau belajar. Mungkin di ruang kerja."


Adras menghabiskan kopi dan rotinya. Saat ia akan pergi, Jelena seperti biasa sudah menunggu Adras. Ia meraih tangan Adras, lalu mendoakan Adras seperti biasa.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Adras penasaran.


"Kau akan tahu saat kau pulang nanti, mas."


Adras berpikir kalau Jelena belum melakukan tes. Ia pun segera pergi karena tak ingin terlambat. Jelena menarik napas panjang. Aku harap kau tak akan terkejut, mas Adras.


**********


Adras pulang keesokan harinya dengan rasa penasaran. Ia tiba di rumah pukul 6 sore. Di lihatnya Santi dan Sofia sedang duduk di ruang tamu dengan mata yang sembab.


"Kalian kenapa?" tanya Adras.


Santi hanya menatap Adras dengan mata yang merah. Ia segera berdiri meninggalkan Adras sendiri.


"Sofia?" tanya Adras bingung.


Sofia pun menatap Adras dengan mata yang basah. "Aunty Nana sudah meninggalkan rumah ini. Dia mengatakan kalau ini atas keinginannya sendiri. Dan dia mengatakan kalau anak yang ada dalam kandungannya adalah miliknya sendiri. Kenapa uncle? Apa yang membuat aunty pergi? Apakah uncle tak menginginkan anak itu? Mengapa sampai aunty bilang kalau anak yang dikandungnya tak ada hubungan dengan uncle? Nggak mungkin kan aunty Nana berkhianat dengan orang lain?"


Adras terkejut dengan perkataan Sofia. Jadi Jelena pergi? Ia membuktikan semua kata-katanya?


Tepat di saat itu ponsel Adras berbunyi. Ada nama Mike di sana. Adras menerimanya setelah ia menjauh dari Sofia.


"Ada apa?" tanya Adras.


"Jadi Perempuan itu hamil? Bagaimana dia bisa hamil? Bukankah kau mengatakan kalau kau tak pernah menyentuhnya? Kau tak ada gairah untuknya?"


Adras diam.


"Aku tak akan pernah membiarkan kau bersama Jelena."


"Jelena sudah pergi dari rumah ini."


"Aku tak percaya."


"Terserah. Aku pusing dan capek. Besok aku ada jadwal penerbangan." Adras langsung memutuskan sambungan telepon. Ia menuju ke kamarnya. Begitu ia memasuki kamar, ia merasa ada sesuatu yang berbeda.


***********


Bagaimana kisah ini berlanjut?


tolong dukung terus novel ini ya.

__ADS_1


karena novel ini sedang dipromosikan


__ADS_2