ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Pertemuan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Jun menginjak rem mobilnya secara mendadak karena ia hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya. Kecelakaan itu begitu cepat dan bis sempat menyambar beberapa kendaraan sebelum akhirnya terbalik dan berguling-guling kemudian terbakar.


Suara ledakan dan diikuti dengan kebakaran yang terjadi di bis itu membuat orang-orang menjauhi bis.


Hampir saja Jun melewati sesosok tubuh yang tak terlihat karena terlempar di antara tong sampah yang besar. Di tempat itu agak jauh dari lokasi bis yang terbakar sehingga memang orang-orang tak fokus melihat ke sana.


"To.....long....!"


"Jelena.....?"


Tanpa berpikir dua kali, Jun langsung mengangkat tubuh Jelena dan membawanya ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari situ.


"Bertahan Jelena, aku akan membawamu ke rumah sakit." ujar Jun.


Jelena masih sadar saat para petugas rumah sakit mendorongnya ke UGD.


"Tolong...., jangan katakan pada Adras kalau aku di sini." bisik Jelena sebelum akhirnya ia pingsan.


Jun tertegun. Ia baru saja akan mengambil ponselnya dan menghubungi Tari namun ia menyimpan kembali ponselnya itu. Ada apa sampai Jelena tak ingin Adras tahu tentang kecelakaan ini?


Seorang perawat mendekati Jun. "Maaf pak, anda adalah keluarga dari pasien itu? Kami mau menanyakan identitasnya. Namanya siapa?"


Jun menjadi ragu namun ia akhirnya menyebutkannya. "Jesika Tan. Dia istriku."


"Usianya?"


"21 tahun."


"Kecelakaannya terjadi di mana?"


"Di dekat kampusnya. Ia korban tabrak lari."


"Apakah anda ingin kami menghubungi pihak polisi?"


"Sudah. Ada pengacara saya yang mengurusnya."


"Baiklah."


Jun tersenyum ke arah perawat. Ia sengaja menyebut kalau Jelena adalah istrinya karena Jelena sedang hamil.

__ADS_1


5 jam setelah kecelakaan.....


Rumah sakit tempat Jun membawa Jelena adalah salah satu rumah sakit swasta yang mewah dan terlengkap alat-alat medisnya. Makanya Jun langsung setuju saat Jelena diminta segera di operasi.


Dokter akhirnya keluar.


"Ada benturan yang sangat keras di dadanya membuat beberapa tulang rusuknya patah. Kami sarankan setelah ia sembuh, dibawah ke Singapura untuk pengobatan lanjut karena di sana ada alat khusus untuk kasus seperti ini dan dokternya juga ahli di bidang tulang. kepalanya mengalami benturan yang sangat keras namun untungnya tak ada pendarahan di otak. Namun sangat menyesal kami harus sampaikan kalau istri anda mengalami keguguran karena memang usia kandungannya baru memasuki minggu ke-14. Masih sangat lemah."


"Terima kasih dokter."


"Pasien akan tidur sekitar 10 jam karena pengaruh obat. Kami harus membuatnya tertidur supaya ia tak mengalami rasa sakit karena tulangnya yang patah. Kakinya juga sedikit memar dan bengkak namun tidak patah."


"Iya, dok. Terima kasih."


Jun menunggu dengan setia di depan ruangan intensif sambil memantau berita kecelakaan bis yang viral itu.


Sampai akhirnya Jelena membuka matanya lebih cepat dari yang dokter ungkapkan. Dokter sendiri juga terkejut saat diberi tahu kalau Jelena sadar 2 jam lebih cepat dari yang seharusnya. Menurut dokter itu terjadi karena dorongan dari pasien sendiri yang ingin segera sadar karena ada sesuatu yang mendesaknya untuk bangun.


Tak lama kemudian, dokter mengijinkan Jun masuk. Dengan sangat pelan dan agak terbata-bata, Jelena menceritakan apa yang terjadi. Jun pun berjanji, tak akan pernah mengatakan pada siapapun tentang keberadaan Jelena. Ia juga menjadi marah pada Adras.


*********


"Mereka semua terlihat sedih karena mengira mayat itu adalah kamu, Na. Apalagi Sofia dan Santi. Aku kasihan melihat mereka." ujar Jun yang baru pulang dari acara pemakaman itu.


"Biar saja. Lebih baik mereka menganggap aku mati dari pada Santi dan Sofia akan tahu kelakukan paman mereka. Ia hanya menjadikan aku sebagai budaknya untuk melahirkan anak. Dia sungguh pandai bersandiwara. Semua kata-katanya sangat manis namun ternyata dia pemain sandiwara yang sangat pintar memainkan perannya. Dan Tuhan juga tahu sampai akhirnya anak ini tak diijinkan untuk lahir." Tangis Jelena pecah sambil ia memegang perutnya.


Jun segera memeluk Jelena. "Jangan menangis, Na. Dokter mengatakan kalau kamu jangan merasa tertekan. Kepalamu kan sering sakit. Kamu harus belajar mengikhlaskan segalanya. Walaupun sebenarnya aku kurang setuju dengan keinginanmu untuk menganggap bahwa dirimu sudah mati."


"Jelena memang sudah mati, kak. Aku ingin menjadi Jelena yang baru, yang tak pernah mengenal Adras dalam hidupnya. Walaupun aku sebenarnya menyayangi Sofia dan Santi. Namun aku membenci Adras sampai di kedalaman hatiku. Tolong jauhkan aku dari mereka, kak."


Jun mengangguk. Ia menghapus air mata Jelena dan meminta agar gadis itu segera tidur.


Akhirnya, Jelena pun keluar dari rumah sakit setelah 6 minggu mengalami perawatan di sana.


Ia tak tahu bagaimana harus membayar semua biaya rumah sakit itu yang ia tahu sangat mahal. Jun menyewakan sebuah rumah kecil yang ada di pinggiran kota. Menempatkan satu orang perawat dan satu orang pembantu untuk menolong Jelena yang memang belum bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda.


Keinginan Jelena yang kuat, akhirnya membuat ia bisa berjalan. Dan secara diam-diam Jelena mengikuti ujian di kampusnya. Ia memang tak mengubah namanya di kampus saat menikahi Adras. Banyak juga yang tak tahu tentang pernikahan itu karena penampilan Jelena saat bersama keluarga Permana sangat jauh berbeda dengan dirinya yang berada di kampus. Ia berhasil ujian tanpa diketahui oleh banyak orang. Jun mengatur semuanya dengan lancar, termasuk meniadakan nama Jelena di jadwal peserta ujian sehingga saat ia ujian, tak ada orang yang menonton, hanya Jun dan beberapa orang bodyguard nya.


Selesai ujian, Jelena pun bertekad mencari kerja dan ia bisa mendapatkan kerja di salah satu minimarket yang letaknya di pinggiran kota. Jelena memutuskan untuk mencari tempat kost dan keluar dari rumah kecil itu. Walaupun Jun sudah membujuknya namun ia bertekad tak ingin lagi menyusahkan Jun. Jelena tahu Jun menyukainya. Sesuatu yang tak bisa Jelena balas karena hatinya kini sudah tertutup untuk itu.

__ADS_1


Namun, karena Jun terus mendesaknya, Jelena pun setuju pergi ke Singapura untuk pemeriksaan lanjutan mengenai benturan yang dialami di dadanya karena Jelena masih sering merasa sakit saat harus mengangkat sesuatu yang berat.


Pengobatannya berjalan dengan lancar dan Jelena diminta balik lagi bulan depan.


*********


Penampilan Jelena sudah berubah. Tak ada lagi rambut panjangnya yang indah. Kini, ia telah memotong rambut itu sampai di atas bahu.


Di mata Adras saat ini, Jelena justru terlihat lebih muda. Seperti anak ABG saja. Namun yang paling menyakitkan bagi Adras, adalah tatapan mata dingin dan sorot penuh kebencian yang diberikan Jelena padanya.


"Na..., kamu masih hidup?" Adras mendekat dengan mata yang berkaca-kaca namun Jelena justru mundur dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.


"Jelena Permana sudah mati. Kita tak saling kenal dan tak ada hubungannya sama sekali. Lagi pula, aku sudah mengalami keguguran. Apa lagi yang kau harapkan dariku? Carilah perempuan lain yang bisa memberikan kamu anak."


Adras sedih mendengar kalau anaknya ternyata sudah tak ada. "Bukan masalah anak, Na. Tapi kita. Hubungan kita. Aku berpikir kalau kamu sudah meninggal dan aku sangat terpukul dengan semua itu."


"Oh ya?" Jelena tertawa mengejek. "Aku tak akan termakan omongan manismu lagi. Aku sudah membuang semua masa laluku. Jangan ganggu aku lagi, Adras."


"Tapi, Na. Mengapa? Ada apa? Bukankah semua baik-baik saja malam itu?"


Jelena menggeleng. "Semua gak baik-baik saja, Adras. Menjauh dari kehidupan ku. Aku sudah tahu siapa kamu yang sebenarnya. Aku justru menjaga wibawa mu di hadaka. kedua ponakanmu itu."


"Tapi apa salahku?" tanya Adras bingung.


"Jangan sok suci, Adras. Kamu sudah tahu perjanjian apa yang kamu buat dengan mereka untuk mendapatkan anak yang tak bisa Anita berikan padamu. Pergi kamu.....pergi.....!" Jelena langsung berlari masuk ke dalam kost nya dan meminta satpam untuk tak mengijinkan Adras masuk.


Adras terkejut. Perjanjian ??


**********


Video dan foto apa yang Jelena terima dalam bis?


Jangan dulu menganggap Jelena egois ya. Jelena itu orang baik kok.


Adras kini terpuruk. Seburuk itukah Adras di mata Jelena?


Makin penasaran nggak?


Dukung terus cerita ini ya, komen yang banyak.

__ADS_1


Salam manis, emak dan Amanda


__ADS_2