
"Kapten....!"
Adras membuka matanya perlahan saat mendengar suara itu. Ia mendapati Gerald ada di sampingnya
"Kau ada di sini?"
"Iya."
"Kita ada dimana?" tanya Adras.
"Ada di pusat layanan kesehatan bandara. Tadi kapten pingsan namun kata dokter tak ada sesuatu yang serius. Mungkin kapten hanya sock saja. Para penumpang juga ada beberapa yang dirawat di sini. Bahkan banyak penumpang yang belum pergi. Mereka ingin berterima kasih secara langsung kepada kapten."
"Astaga, sebaiknya mereka pulang saja." Adras turun dari tempat tidur. Langkahnya sedikit tertatih dan ia keluar dari kamar perawatannya. Ia terkejut melihat banyak orang yang ada di ruang tunggu pusat kesehatan bandara. Para penumpang dan keluarganya. Saat melihat Adras, mereka semua langsung bertepuk tangan. Bahkan ada yang menangis karena merasa bangga karena Adras telah menyelamatkan mereka.
"Terima kasih semuanya." hanya itu yang bisa Adras ucapkan saat para penumpang datang dan menyalami dia. Bahkan ada yang mencium tangan Adras sambil mengucapkan terima kasih kepadanya dan Gerald. Mereka juga mendoakan kapten Ben yang kini sementara di operasi.
"Berapa jumlah penumpang yang meninggal?" tanya Adras.
"Yang ku dengar dua. Yaitu para mafia tersebut."
"Istriku?"
"Istri kapten?"
"Di mana istriku? Mereka mengatakan bahwa istriku meninggal." Adras langsung ingat dengan Jelena. Ia mencari petugas yang menangani para penumpang.
"Di mana mayat istriku?" tanya Adras.
"Mayat istri kapten?" petugas itu bingung.
"Kapten Adras .....!" panggil Mutia.
"Mutia, dimana mereka membawa istriku?"
"Istri anda sedang dirawat di ruangan sana, kep. Maaf tadi saya salah melihat. Istri anda ternyata pingsan."
Adras langsung berlari ke arah ruangan yang ditunjuk oleh Mutia. Ia segera membuka pintu.
"Dokter, bagaimana istri saya?" tanya Adras pada seorang dokter yang dilihatnya baru selesai memeriksa Jelena. Jelena sendiri sudah duduk di atas ranjang sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Adras sangat senang melihat Jelena yang selamat.
"Istri anda baik-baik saja, tuan. Demikian juga dengan kandungannya." kata dokter itu.
"Kandungannya?" Adras mengulang kembali kalimat sang dokter.
"Iya. Apakah anda lupa kalau istri anda sedang hamil 9 minggu?" tanya dokter itu heran. Ia kemudian meninggalkan Adras untuk memeriksa pasien yang lain.
Adras mendekati Jelena. "Sayang, kamu beneran hamil?" tanya Adras.
"Aku juga baru tahu saat dokter mengatakan tadi." kata Jelena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya Tuhan, ini sungguh berita yang sangat membuatku bahagia." Adras memegang perut Jelena. "Ini anak aku kan?"
Jelena memukul lengan Adras dengan kesal. "Bukan. Ini anak orang Korea."
"Enak saja bilang anak orang Korea. Maaf ya, tadi aku hanya asal bicara karena terlalu bahagia." Adras tersenyum bahagia. Ia mencium perut Jelena. "Astaga...., ini pasti karena efek obat yang diberikan oleh Sofia dan Santi."
__ADS_1
"Obat apa?"
Adras cengengesan. "Nanti saja aku ceritakan. Oh ya bagaimana lehermu?"
"Hanya goresan kecil. Dokter Sudah mengobatinya." Jelena menunjukan perban di lehernya.
Adras memeluk Jelena. "Ah sayang, kenapa nggak bilang sih kalau kamu sudah memutuskan untuk pulang?"
"Sebenarnya aku mau kasih kejutan sama kamu. Aku juga nggak menyangka kalau akan ada di pesawat yang sama dengan kamu. Aku baru menyadari kalau sebenarnya aku mencintai kamu, Adras. Sebenarnya semenjak aku tiba di Korea, setiap malam aku selalu menangis memikirkan kamu."
"Sayang, pasti karena ada sesuatu yang sudah tumbuh di perut kamu sampai kamu terus memikirkan aku. Dia menjadi penghubung diantara kita berdua." kata Adras lalu kembali mengusap perut Jelena.
"Mungkin. Namun setidaknya aku akhirnya sadar kalau aku mencintai kamu, Adras."
Adras memegang pipi Jelena. "Aku juga mencintai kamu. Sangat mencintai kamu. Ah, sayang, Tuhan sangat baik pada kita. Di balik semua kejadian menegangkan yang kita alami tadi, akhirnya kita bisa bersama."
Jelena mengangguk. Hatinya juga ikut bahagia. Keduanya kembali berpelukan dengan sangat bahagia.
**********
Setelah Jelena dinyatakan sehat begitu juga dengan kandungannya, keduanya langsung pergi ke hotel yang disiapkan oleh pihak maskapai. Adras dan semua kru memang diminta untuk tetap berada di Singapura sampai proses menyelidikan oleh pihak kepolisian selesai.
Pihak maskapai juga sudah membawa koper Adras dan Jelena ke kamar hotel.
Sesampai di hotel, Jelena dan Adras langsung disajikan makan malam. Di sana juga berkumpul semua kru penerbangan. Semua mengucapkan selamat pada Adras dan Jelena saat tahu kalau istri sang kapten ternyata sedang hamil. Mereka juga bersyukur karena operasi kapten Ben berhasil dan ia dinyatakan baik-baik saja.
Selesai makan malam, Jelena dan Adras menuju ke kamar mereka. Mereka juga video call dengan keluarga yang ada di Jakarta. Santi dan Sofia merasa bahagia melihat kalau Jelena ada di sana bersama Adras dan juga ikut senang saat Adras mengatakan kalau Jelena sedang hamil.
"Aku mau mandi dulu ya?" Ujar Jelena setelah mengeluarkan sepasang piyama dari dalam kopernya.
Jelena menggeleng. "Nggak, ah. Aku malu."
"Mengapa malu, sayang? Kita kan masih suami istri?"
"Tapi aku sudah melayangkan gugatan cerai padamu."
"Dan aku tak menerima gugatan itu. Apakah pengacaramu tak mengatakannya?" tanya Adras. Jelena menggeleng.
"Sayang, kita ini masih sah sebagai suami istri. Ayo mandi, aku janji tak akan melakukan apa-apa padamu."
Jelena sebenarnya masih malu namun Adras sudah menarik tangannya ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Adras sudah membuka semua pakaiannya. Jelena nampak masih malu. "Sayang, ayolah kita mandi. Ini sudah malam. Nanti kedinginan."
Jelena pun membuka gaun yang dipakainya. Adras membantu istrinya itu dengan membuka resleting gaunnya.
Adras menelan salivanya saat melihat tubuh polos istrinya. Selama berbulan-bulan mereka tak bersama tentu saja ada keinginan dari Adras untuk menyentuh istrinya itu. Namun ia juga tahu kalau mereka sama-sama masih trauma atas kejadian yang dialami tadi.
Selesai mandi, keduanya pun keluar dari kamar mandi. Adras membantu Jelena untuk mengeringkan rambutnya dan Jelena bersikeras ingin keramas karena tadi tubuhnya semua penuh dengan keringat karena ketakutan karena perilaku sang mafia dan juga saat pesawat akan mendarat tadi.
"Ayo kita tidur!" ajak Adras. Ia sudah lebih dulu membaringkan tubuhnya. Adras membuka tangannya dan meminta Jelena untuk berbaring di lengannya. Jelena langsung memeluk Adras. Ada rasa damai dalam hatinya.
"Sayang ......!" Adras mengecup puncak kepala Jelena sambil mengusap lengan istrinya.
"Mas.....!"
__ADS_1
"Ya, sayang. Aku suka panggilan itu walaupun katamu nggak cocok karena wajahku mirip orang bule."
Jelena terkekeh. Malam ini ia merasakan semakin mencintai suaminya ini.
"Sayang, tidurlah. Semua hal yang menakutkan sudah selesai. Tuhan sangat baik memberikan kita kesempatan untuk bersama lagi. Aku mohon, jangan pernah lari dari ku lagi. Jangan pernah meragukan aku lagi. Tak ada lagi rasa untuk Anita. Masa laluku semuanya sudah ku kubur dan tak mungkin bisa membuat aku mengkhianati kamu. Kamu lah hidup ku sayang. Apalagi akan ada anak kita beberapa bulan lagi."
"Iya. Aku kok nggak sadar ya kalau selama di Korea, aku nggak pernah datang bulan. Mungkin karena aku terlalu merindukanmu dan menyibukkan diriku dengan pekerjaan yang ada."
Adras mengangkat tubuhnya sedikit. Ia mengangkat piyama yang Jelena pakai. "Kata dokter sudah 9 minggu. Tapi kok belum kentara sih?" tanya Adras sambil mengusap perut Jelena.
"Mungkin nanti, mas."
"Aku akan terus mendampingi mu sayang. Pokoknya kalau kamu sudah dekat melahirkan aku akan ambil cuti yang panjang."
"Mas .....!" Jelena menahan tangan Adras yang masih memegang perutnya.
"Kenapa?"
"Geli ...."
"Maaf...." Adras menarik tangannya. Ia pun berbaring dan kembali meminta Jelena untuk tidur di atas lengannya.
5 menit kemudian.....
"Mas ....!" panggil Jelena. Ia terlihat gelisah.
"Ada apa sayang?" tanya Adras yang sudah menutup matanya.
"Mas ....."
"Iya. Kenapa?" Adras membuka matanya.
"Mas, aku.....aku....." Jelena merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Namun ia sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Rasa itu begitu kuat mendorongnya untuk merasakan lagi belaian suaminya.
"Kamu mau minum sayang? Sebentar aku ambilkan." Adras bangun dan bermaksud akan turun dari ranjang namun Jelena menahan tangannya.
"Kenapa sayang?" tanya Adras merasa heran dengan sikap istrinya.
"Kok mas nggak ngerti sih?" Jelena terlihat malu sekaligus juga kesal.
"Sayang, mas tuh memang nggak ngerti dengan apa yang kamu inginkan."
"Aku mau....mau....."
"Mau apa sayang?"
"Ih...mas kok nggak peka, kita kan sudah lama nggak begituan." Jelena langsung membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Adras.
"Kita sudah lama nggak....." Kalimat Adras terhenti. Jantungnya langsung berdetak dengan cepat. "Sayang...." Adras menyentuh pundak Jelena. "Aku tuh dari tadi sudah berusaha menahan diriku. Aku pikir kamu capek." Adras memeluk Jelena dari belakang. "Berarti daddy boleh menengok baby nya kan malam ini?" tanya Adras lalu tanpa menunggu lama langsung membuka bajunya sendiri.
**********
Sorry ya emak skip...
nanti lanjut di grup aja.....
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys