ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Pemeriksaan


__ADS_3

Yang mau visual Adras dan Jelena, ada di bab 34 dan 35 ya ...


********


Surya memeriksa luka di tangan Anita. "Jangan banyak bergerak. Nanti jahitannya terbuka lagi." ujar Surya.


"Terima kasih."


"Kenapa tak pulang ke rumahmu? Mengapa harus berdiam di apartemen ini? Mana suamimu?"


Anita menjadi sedih. "Mike sibuk dengan dunianya sendiri."


"Ini bukan pernikahan Anita. Ini adalah neraka." ujar Surya sambil membereskan peralatan dokternya.


"Aku sebenarnya ingin bercerai. Namun bercerai dengan Mike berarti kehilangan semua warisanku. Aku harus bagaimana?"


Surya berdiri. Ia tak lagi bagaimana harus menasehati sepupunya ini. Sepupu yang juga ia cintai. Sepupu yang seharusnya boleh ia miliki karena memang mereka tak memiliki ikatan darah karena mama Surya yang adalah adik dari papanya Anita hanyalah anak angkat dari keluarga itu.


"Kau akan pergi?" tanya Anita sedih.


"Iya. Aku ada jadwal operasi jam 11."


"Kau akan kembali ke sini lagi kan?"


"Akan ku usahakan." Surya akan melangkah namun Anita menahan tangannya.


"Surya, tolong bantu aku."


"Apalagi yang harus ku bantu? Kau tak mau menolong dirimu sendiri."


"Aku mencintainya."


"Tapi apakah dia mencintaimu? Berapa banyak waktu yang telah kamu sia-siakan? Kamu masih muda, An. Belum terlambat untuk memperbaikinya."


"Kamu sendiri, apakah kamu sudah bisa melupakan aku?"


"Ya."


"Bagaimana caranya?"


"Dengan menyadari kalau di dunia ini, masih ada gadis lain selain dirimu."


"Benarkah? Siapa gadis itu?"


"Kau tak perlu tahu. Karena aku memang tak berniat untuk memilikinya. Namun hatiku hanya ingin melindunginya. Karena dia gadis yang baik."


Anita nampak cemberut. Surya mengecup dahinya. "Aku pergi dulu ya?"


Anita menatap kepergian Surya dengan hati yang sedih. Ia langsung meraih ponselnya untuk menelepon seseorang.


********


Pagi ini Jelena akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya karena kemarin ia hampir di serempet oleh sebuah motor. Kemarin lukanya itu tak terlihat karena ia mengenakan celana jeans dan kemeja lengan panjang. Namun pagi ini, luka ini sudah terasa agak sakit sehingga Jelena memilih mengenakan dress Jeans yang agak longgar di tubuhnya.


Jelena keluar sebelum cafe di buka pada pukul 8 pagi. Ia tahu kalau pasien dokter Filly sangat banyak tapi semalam ia sudah menelepon asisten dokter dan ia mendapatkan nomor urut 5 karena ia menyampaikan keadaannya yang jatuh.


Dengan naik taxi online, Jelena pun pergi ke rumah sakit. Ia tiba lebih awal. Jam buka praktek masih 40 menit lagi. Jelena langsung mengkonfirmasi kembali pendaftarannya pada asisten dokter dan duduk di ruang tunggu. Sudah banyak pasien yang juga hadir di sini untuk ke dokter ahli masing-masing sesuai dengan kebutuhan mereka.


Saat sedang menunggu itulah Jelena melihat Sofia yang sedang berjalan dengan tergesa. Gadis itu juga melihat ke arah Jelena.


"Aunty kamu ada di sini? Astaga, ada apa dengan tangan dan kakimu?" tanya Sofia khawatir.

__ADS_1


"Kemarin aunty jatuh. Hampir diserempet oleh sebuah motor."


"Terus, aunty nggak apa-apakan?"


"Hanya sedikit lecet. Ini juga mau periksa ke dokter."


"Uncle Adras masuk rumah sakit pagi ini."


"Kenapa?" Jelena terkejut.


"Uncle demam sejak tadi malam. Entah uncle dari mana sampai ia bisa basah kuyup. Panasnya sampai 40. Kak Agung sedang menebus obatnya di apotik."


Pasti karena semalam ia kehujanan. Dasar bodoh! Kenapa juga dia mau kehujanan begitu lama? Umpat Jelena dalam hati.


"Aku mau beli minuman dulu ya? Sekalian mau kembali ke kamar. Oma Marlisa yang menjaga Uncle."


Jelena mengangguk.


"Aunty Nana nggak akan melihat uncle?"


Jelena bingung. "Aku nggak tahu."


Sofia memeluk Jelena lalu mengusap perut Jelena dengan lembut. "Kita akan bicara lagi ya?" Sofia pun meninggalkan Jelena dan segera ke minimarket yang ada di rumah sakit ini untuk membeli minuman.


Begitu ia kembali ke ruangan perawatan Adras, Santi sudah ada di sana dan Marlisa sedang ke kantin untuk sarapan.


"Uncle bagaimana?" tanya Sofia.


"Panasnya sudah turun. Baru saja diperiksa oleh dokter. Sudah 38. Uncle kayaknya tidur Hasil pemeriksaan darahnya juga normal. Jadi uncle hanya kelelahan, stres dan kena demam. Itu saha." jawab Santi.


"Aku ketemu aunty Nana di poli. Ia mau memeriksakan kandungannya. Tangan dan kakinya luka. Katanya kemarin yang motor yang hampir menyerempet aunty Nana."


"Apa?" mata Adras langsung terbuka saat mendengar itu. Ia bahkan duduk.


"Ada apa dengan Jelena? Motor siapa yang menyerempetnya? Sekarang ia ada di mana?" Adras terlihat khawatir.


"Aunty Nana ada di poli untuk diperiksa." ujar Sofia.


"Aku mau ke sana." Adras melemparkan selimut yang menutupi tubuhnya dan bermaksud akan turun dari ranjang.


"Eh, uncle. Uncle kan sedang sakit?" ujar Sofia dan Santi jadi panik.


"Aku harus pergi melihatnya." Adras nampak keras kepala dan tak mau mendengarkan kedua ponakannya.


"Uncle, jangan seperti itu!" Santi berusaha membujuknya.


"Aku harus ke sana karena aku sangat yakin, Jelena tak akan ke sini."


"Poli nya cukup jauh uncle." Sofia mulai gelisah dengan sikap Adras.


"Aku tak peduli! Aku harus pergi! Ambilkan kursi roda!"


Santi keluar dari kamar dan mencari kursi roda di ruang perawat. Setelah itu, ia dan Sofia membantu Adras turun dari tempat tidur, menggantungkan selang ingusnya pada tiang yang memang tersedia di kursi roda itu lalu mendorong Adras keluar dari sana menuju ke poli.


**********


Surya tiba di rumah sakit. Ia menuju ke ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan dokter kandungan. Ia pun melihat Jelena.


"Jelena? Astaga, kamu kenapa?" tanya Surya. Ia pun kaget layaknya Sofia.


"Aku jatuh kemarin. Ada apa?" tanya Jelena dingin.

__ADS_1


Surya duduk di samping Jelena. "Aku tahu kalau kamu marah padaku. Anita itu adalah sepupuku. Ia kemarin mengiris nadinya. Suaminya memanggilku karena tak ingin menimbulkan skandal. Makanya aku pergi."


"Kau tahu hubungan Adras dengan mereka kan? Itulah mengapa kau mengatakan kalau Adras bukan lelaki yang baik?"


Surya menarik napas panjang. "Ya. Aku tak mau kamu terluka saat tahu kebenaran tentang Adras."


"Sayangnya aku terlanjur terluka." ujar Jelena sedikit bercanda sambil menunjukan luka di kaki dan tangannya. Keduanya pun tertawa bersama.


Tepat di saat itu, Adras datang dengan kursi roda yang di dorong oleh Sofia.


Entah mengapa, ada rasa tak nyaman di hari Adras saat melihat Jelena yang tertawa bersama Surya.


"Adras kenapa?" Surya langsung berdiri dari tempat duduknya saat melihat Adras.


"Uncle demam." Sofia yang menjawab karena ia melihat mata Adras hanya tertuju pada Jelena.


Surya hanya mengangguk. Ia pun pamit untuk masuk ke ruang prakteknya.


Jelena memalingkan wajahnya. Ia tak mau bertatapan dengan Adras. Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ia kasihan melihat keadaan Adras yang nampak pucat dan lemah.


"Bagaimana kamu bisa jatuh?" tanya Adras.


"Aku menyeberang jalan dan ada sebuah motor yang hampir menabrak ku saat aku ke rumah sakit menjenguk pamanku." Jawab Jelena tanpa mau menoleh ke arah Adras.


"Kita harus bicara, Na. Kau salah mengerti dengan aku kemarin." ujar Adras.


Jelena menatap pada Sofia dan Santi sambil tersenyum. "Aku nggak mau bicara apapun dengan kamu."


"Nyonya Jelena Permana!' panggil asisten dokter. Jelena langsung berdiri dan bermaksud akan masuk ke dalam ruangan namun Adras menahan tangannya. "Aku ikut."


Sofia dan Santi terpaksa ikut juga masuk. Dokter Finly sedikit bingung melihat ada pasien lain yang sedang sakit.


"Aku suaminya Jelena yang sedang dirawat di rumah sakit ini. Aku ingin tahu perkembangan istriku karena kemarin ia jatuh." ujar Adras.


Dokter Finly tersenyum. Ia meminta Jelena naik ke atas tempat tidur. Sebelum memeriksa kandungan Jelena, dokter Finly juga melihat luka di tangan dan kaki Jelena. "Apakah nyonya meminum obat penghilang rasa nyeri?" tanya Dokter.


"Tidak. Semalam luka ini memang agak sakit. Namun aku masih bisa menahannya. Hanya saja, tadi pagi saat aku bangun, ada sedikit bercak darah di baju dalamku."


"Nanti aku resepkan obat yang aman. Sekarang kita lihat dulu kandungannya ya?" Finly mengangkat dress yang dipakai Jelena lalu memberikan gel di atas perutnya dan mulai memeriksanya.


"Semuanya nampak normal. Pertumbuhan janinnya baik. Begitu juga detak jantungnya baik."


Adras tersenyum mendengar detak jantung itu. "Itu detak jantung anakku?" tanya Adras dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya tuan. Detak jantungnya sehat. Hanya saja, Nyonya Jelena sebaiknya jangan stres dan jangan terlalu banyak bergerak. Kehamilan di trimester pertama sangat beresiko. Apa lagi ini kehamilan anak pertama."


"Jenis kelaminnya sudah bisa diketahui belum?" tanya Santi tak sabar.


Dokter Finly tertawa. "Kehamilannya baru memasuki Minggu ke-9. Sedikit lagi baru kita akan mengetahuinya."


Adras menatap Jelena yang sudah selesai diperiksa. Saat istrinya itu turun dari ranjang, Adras memegang tangannya.


"Ada apa?" tanya Jelena. Adras tak langsung menjawab. Ia pingsan.


*********


hallo....


Bagaimana menurut kalian episode ini?


Sebentar lagi masa lalu Adras akan diceritakannya.

__ADS_1


Semangat ya dukung emak


__ADS_2