
Surya tersenyum saat Jelena keluar dari ruangan pemeriksaan. Hari ini Surya menolongnya untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan sahabat Surya.
"Bagaimana?" tanya Surya.
"Usia janinnya 5 minggu. Masih kecil sekali. Hanya setitik ini." ujar Jelena sambil menunjukan foto USG pertamanya.
"Wah....kamu beneran hamil. Selamat ya? Adras pasti senang."
Jelena hanya tersenyum. Ia tak mau menceritakan apa yang terjadi di rumah Adras karena ia tahu kalau Surya dan Adras saling bermusuhan.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku ke teman dokternya. Terima kasih juga karena aku tak dipungut biaya apapun. Bahkan Obat dan vitaminnya pun gratis."
Surya mengangkat kedua tangannya. "Mungkin karena kamu orang baik, makanya banyak mendapatkan berkah."
"Mungkin." Ujar Jelena lalu melangkah bersama Surya meninggalkan rumah sakit.
"Kamu mau ku antar kemana?" tanya Surya.
"Aku akan pergi sendiri. Kamu kan ada pasien yang sedang menunggu."
"Tapi, Na."
"Aku baik-baik saja dokter Surya. Lagi pula pagi ini aku tak merasa pusing dan mual."
"Kalau kamu butuh bantuan apapun, telepon aku ya?"
Jelena mengangguk. Ia pun segera menuju ke halte yang ada di depan rumah sakit. Ia akan ke cafe tempatnya bekerja.
Semalam, Jelena tidur di rumah Tari. Hari ini ia bertekad untuk mencari tempat tinggal. Kebetulan ia masuk pagi dan setelah selesai jam kerjanya, Jelena bermaksud akan mencari tempat kost.
Tak ada yang tahu tentang kehamilan Jelena. Bahkan Tari sekalipun. Jelena berusaha untuk menyembunyikannya sampai ia merasa kuat untuk menceritakannya.
"Jadi kamu mau mencari tempat kos? Tapi dimana?" ujar Tari saat mereka istirahat makan siang.
"Aku nggak tahu. Sebaiknya mungkin di sekitar sini. Supaya kalau ke kampus dekat. Datang ke cafe hanya jalan kaki. Tapi apakah ada kos yang murah ya?"
"Kamu mencari tempat tinggal?"
Jelena dan Tari langsung membalikan badannya. Mereka terkejut melihat Jun.
"Pak Jun!" sapa keduanya bersama.
"Kamu mencari tempat tinggal? Tak usah mencari tempat kos. Di bagian atas cafe ini ada kamar. Dulu waktu aku belum memiliki apartemen, aku sering tidur di sana. Kau dapat menggunakannya."
__ADS_1
"Tapi pak, itu kan kamar pak Jun."
"Pakai sajalah. Dari pada tak digunakannya."
Jelena nampak senang. "Terima kasih, pak Jun."
"kamu tak takut kan tinggal sendiri?"
"Nggak. Lagi pula kompleks di sini sangat ramai sampai subuh." Jelena menatap Tari. Temannya itu pun nampak ikut senang.
Selesai jam kerjanya, Jelena ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Setelah itu ia ke rumah Tari untuk mengambil pakaiannya.
Kamar itu letaknya di lantai sebelum balkon atas. Kamar yang sangat besar, lengkap dengan kulkas dan sofa. Sepertinya kamar ini selalu dibersihkan. Seprei nya saja baru diganti. Jelena sungguh merasa beruntung.
"Bagaimana?" tanya Jun yang sudah berdiri di depan pintu.
"kamar ini terlalu mewah kak Jun."
"Tak ada yang terlalu mewah. Aku sudah meminta pelayan dari apartemenku untuk membersihkan kamar ini dan mengganti seprei nya. Alat masaknya lengkap. Tabung gas nya juga sudah diganti dengan yang baru. AC nya sudah dibersihkan. Aku harap kau dapat tidur di sini dengan nyaman. Kalau ada sesuatu kau dapat menelepon pihak keamanan atau juga menelepon aku. Apartemenku tak jauh dari sini."
"Sekali lagi terima kasih, kak Jun." mata Jelena sampai berkaca-kaca.
Jun hanya tersenyum. Ia pun pergi meninggalkan Jelena agar gadis itu bisa beristirahat.
*********
Bayangan wajah Jelena kini menganggu Adras. Ia ingat pertikaian mereka siang itu. Adras merasa kalau kepalanya tiba-tiba saja merasa pusing.
Ia pun segera memasukan kembali testpack itu ke dalam tempat sampah dan lupa membuang barang-barang milik Jelena. Dengan cepat Adras mengambil kunci mobilnya.
"Uncle, mau kemana?" tanya Santi saat melihat Adras mau pergi. Ia tahu kalau pamannya itu baru saja tiba 2 jam yang lalu. Adras biasanya menggunakan kesempatan itu untuk tidur. Namun kini ia akan pergi lagi.
Lelaki itu memacu mobilnya meninggalkan halaman rumah. Entah apa yang ia pikirkan, namaun saat ini Adras sudah ada di depan cafe tempat jelena bekerja.
Dari seberang jalan, ia dapat melihat Jelena yang sedang melayani tamu yang sedang duduk di luar. Gadis itu terlihat tersenyum ramah pada semua pelanggan yang ada.
Sampai akhirnya Adras melihat seorang lelaki tampan yang mendekati Jelena. Kalau dilihat dari penampilannya, ia nampak sepeti pengusaha mudah. Ia terlihat begitu akrab berbicara dengan Jelena. Mereka bahkan terlihat tertawa bersama.
Mata Adras kini ia arahkan ke bagian perut Jelena. Jantungnya bagaikan diremas saat membayangkan ada sesuatu yang sedang tumbuh di sana. Bagaimana kalau itu adalah anaknya? Bagaimana kalau Jelena memang tak pernah mengkhianatinya? Di mana sekarang Jelena tinggal? Bagaimana dengan kehidupannya? Bagaimana biaya hidupnya?
Semua pertanyaan itu membuat Adras semakin gelisah. Tak lama kemudian Adras melihat mobil Sofia yang memasuki halaman cafe itu. Dan Adras sangat terkejut melihat siapa yang trun bersama Sofia. Agung?
Sangat Jelas terlihat kalau Agung yang membawa mobil sofia. Dan saat turun, nampak Agung memegang tangan Sofia.
__ADS_1
Adras bertambah marah melihat kalau pilot yang sementara dibimbingnya mempunyai hubungan dengan ponakannya.
Adras pun meninggalkan tempat itu.
***********
Selesai dengan jam kerjanya, Jelena punya janji dengan salah satu dosennya. Karena dosennya itu baru saja melahirkan, jadi Jelena yang akan pergi ke apartemennya.
Saat ia tiba di lobby hotel, Jelena pun segera menelepon dosennya itu dan ibu Wanda mempersilahkan Jelena masuk setelah pintu dibuka secra otomatis dari unit milik sang dosen.
Jelena akan menuju ke lantai 7 tempat sang dosen berada.
Mereka pun berkonsultasi bersama sekitar setengah jam, setelah itu Jelena pamit pulang.
Saat ia keluar dari apartemen sang dosen, ia mendengar ada pertengkaran antara dua orang. Awalnya Jelena cuek. Namun ia mengenal suara dari salah satu diantara mereka.
Perlahan jelena mendekati sumber suara itu.
"Ceraikan segera perempuan itu, Adras!"
"Aku tak bisa!"
"Apakah karena dia hamil? Bisa saja itu bukan anakmu. Mari kita pergi ke luar negeri. Aku yakin dengan pengalaman kerjamu, kau akan menjadi pilot yang hebat di sana."
"Aku tak bisa! Belum bisa!"
"Apakah karena kau sudah jatuh cinta padanya? Kau sudah tergila-gila pada tubuhnya? Bukankah Kau mengatakan kalau aku adalah hidupmu? Kalau aku adalah cinta sejatimu?"
Prang...!
Jelena terkejut saat ia tak sengaja menjatuhkan guci berisi bunga yang menjadi hiasan di koridor apartemen mewah ini.
Kedua orang yang bertengkar itu membalikan badan mereka. Adras terkejut melihat siapa yang berdiri di sana.
"Jelena......!"
Seketika Jelena merasakan kalau hatinya hancur. Ia hanya menatap Adras dengan pandangan jijik. Kedua tangannya secara refleks memegang perutnya. Seakan ingin mengatakan kepada anaknya bahwa mereka akan baik-baik saja.
Adras melangkah ke arah Jelena. Namun gadis itu dengan cepat masuk ke dalam lift yang terbuka saat ada orang yang keluar dari sana. Ia masih sempat melihat Adras yang berdiri di depan pintu lift yang perlahan tertutup. Ia juga melihat orang yang bertengkar dengan Adras berdiri di samping Adras sambil tersenyum mengejek ke arah Jelena.
********
Siapakah yang dilihat Jelena bersama Adras?
__ADS_1
Komen ya guys......
Dukung terus novel ini karena sedang dipromosikan