
Santi sebenarnya masih sangat mengantuk. Apalagi semalam Jun dan dia bercinta sampai 3 ronde. Mereka berdua seperti dua orang yang benar-benar ketagihan dalam hubungan manis sorga dunia itu. Bunyi ponselnya yang tak mau berhenti membuat ia membuka matanya. Ia terkejut melihat ada panggilan dari Sofia.
"Kak, ada apa?" tanya Santi sambil menguap beberapa kali.
"De, maaf ya kakak menganggu. Namun kakak harus kasih tahu kamu kalau aunty Nana masuk rumah sakit dan sekarang akan di operasi."
"Ha? kok bisa?" teriak Santi kaget dan membangunkan Jun yang ada di sampingnya.
"Iya. Kata dokter aunty harus segera di operasi. Kami semua ada di rumah sakit. Kamu doakan saja ya agar aunty Nana bisa melahirkan dengan selamat. Tidur lagi. Pasti capek kan?"
"Ih kakak ini....."
"Bye....."
Santi meletakan lagi ponselnya. Ia terkejut saat menyadari bahwa mata suaminya begitu bersinar menatap tubuh polosnya. Santi langsung menarik selimut dan melotot ke arah Jun yang tertawa.
"Siapa sayang?" tanya Jun.
"Kakak. Dia memberitahukan kalau aunty Nana mau persiapan operasi."
"Kan belum genap bulan?"
"Iya. Mungkin ada sesuatu sampai kelahirannya harus dipercepat."
Jun mendekat dan menarik Santi lagi ke dalam pelukannya. "Kamu ingin pergi?" tanya Jun.
Santi mendongak dan menatap suaminya. "Boleh?"
"Aku tahu kalau kamu sangat menyayangi Nana. Nanti kita bisa balik lagi ke sini."
Santi langsung mencium pipi Jun. "Terima kasih yeobo."
"Kita mandi, sarapan lalu pergi. Aku akan menelepon helikopternya untuk datang menjemput kita."
"Ok." Santi pun bangun. Ia menurunkan kakinya ke lantai namun saat ia mencoba berdiri, perempuan itu meringis.
"Ada apa sayang?"
"Sakit."
"Di situ?" tanya Jun sambil menunjuk ke bawa.
"Iya." Santi mengangguk malu.
Jun turun dari ranjang lalu ia mengangkat tubuh Santi. "Ayo kita mandi bareng."
"Hanya mandi kan?"
"Yes yeobo. Aku tahu kamu masih sakit."
Santi tersenyum bahagia. Ah, menikah itu ternyata sangat menyenangkan.
**********
Adras sudah menggunakan pakaian khusus berwarna hijau. Dokter mengijinkan dia untuk menemani Jelena saat dioperasi sekaligus juga Adras akan merekam detik-detik kelahiran ketiga anaknya di dunia.
Persiapan operasi sudah selesai. Di luar ruang operasi, ada Sofia, Elina dan Jeff. Untungnya hari ini hari minggu jadi tak ada satu pun yang masuk kerja. Sedangkan Santi dan Jun sudah mengabari kalau mereka sedikit lagi akan tiba.
"Sayang, jangan tegang ya. Aku ada di sini, menemani kamu untuk melihat ketiga buah hati kita yang akan lahir ke dunia ini." bisik Adras sambil mencium dahi Jelena. Ia berdiri di atas kepala istrinya.
"Aku tenang kok, mas." kata Jelena. Ia justru merasa kalau Adrasl ah yang tegang.
Dokter pun memulai pekerjaannya.
"Yang pertama laki-laki." ujar sang dokter dan terdengarlah suara tangis seorang bayi.
__ADS_1
Adras tak bisa menahan air matanya saat ia merekam anaknya itu.
"Yang kedua juga laki-laki."
Jelena pun ikut tersenyum tanpa bisa menahan air matanya. Ia sungguh senang saat mendengar suara tangis itu.
"Yang ketiga perempuan."
"Oh ada baby girl nya juga." Adras semakin girang rasanya. Ia langsung mencium dahi Jelena. "Terima kasih karena sudah melahirkan mereka bertiga sayang."
Akhirnya ketiga bayi itu pun dimasukan ke dalam inkubator karena tubuh mereka yang masih kecil.
Tak ada yang dapat melukiskan kebahagiaan Adras saat dengan bangganya ia menggendong ketiga anaknya sebelum di masukan ke dalam inkubator.
"Ada cowok dan ada cewek juga. Duh senangnya." Sofia ingin segera menggendong mereka namun ia tahu bahwa itu belum bisa karena bayi-bayi itu masih terlalu kecil.
Jelena pun langsung dipindahkan ke ruangan perawatan setelah ia selesai dibersihkan. Adras tak henti-henti nya mencium wajah istrinya itu.
"kita sungguh diberkati. Sebentar lagi mba Elina akan melahirkan juga. Semoga Santi cepat menyusul ya?" Kata Jelena membuat Santi tersipu malu sambil melirik suaminya yang nampak sedang asyik berbincang dengan Adras dan Jeff di balkon.
"Eh, bagaimana unboxing semalam? Berhasil atau gagal nih?" tanya Elina.
"Berhasil dong, nggak lihat apa, aku sampai lemas begini." kata Santi membuat kaum hawa di kamar itu tertawa. Namun mereka juga sadar, ada Sofia yang belum menikah.
"Eh, Sofia, jangan berpikiran yang aneh-aneh ya?" ujar Elina.
"Iyalah...aku kan mau menjadi wanita karir dulu. Nggak mau nikah muda. Tahan lah. Kalau nggak bisa, nggak dibagikan warisannya dari uncle Adras."
Mereka kembali tertawa bersama membuat para pria masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa nih, rame banget?" tanya Adras lalu duduk di tepi ranjang istrinya.
"Ada deh sayang, rahasia para wanita." kata Jelena membuat Adras sedikit cemberut.
"Mas, nama anak-anak kita sudah mas putuskan?" tanya Jelena setelah selesai makan malam.
"Sudah. Tapi aku mau tanya sama kamu dulu saya. Yang tertua ku beri nama Matthew karena dia yang tertua jadi harus besar dan melindungi adik-adiknya. Yang kedua ku beri nama Macriko karena dia yang ditengah jadi sifatnya harus jadi penengah. Yang ketiga si baby girl kuberi nama Mikaela.Dia harus jadi malaikat yang penuh cinta kasih."
"Aku setuju, mas. Akan ku panggil mereka Mat, Mac dan Mika."
Adras mengangguk. Di mengusap pipi istrinya. "Mereka pasti akan memiliki sifatmu yang kuat dan tegar. Walaupun mungkin sedikit keras untuk mengungkapkan isi hati."
Jelena tertawa. "Aku mau salah satu diantara mereka ada yang menjadi pilot, sayang."
"Aku akan membiarkan mereka memilih. Aku hanya akan terus mendampingi mereka sampai akhirnya aku bisa melepaskan mereka berjalan sendiri."
"Kamu pasti akan menjadi papa yang hebat untuk mereka."
"Aku akan hebat, jika ada kamu, sayang."
Jelena meraih tangan Adras dan mendekapnya di dadanya. "Tak sabar ingin segera memeluk mereka."
"Kata dokter mereka harus berada di inkubator selama 2 minggu. Jadi kita harus sabar menunggunya."
"Baiklah. Mas, tidur sini yuk!" ajak Jelena.
"Nanti kamu nggak nyaman tidurnya, sayang."
"Aku lebih nggak nyaman kalau nggak ada kamu dekat aku."
Adras pun naik ke atas ranjang. Sayangnya, ia belum bisa memeluk Jelena karena luka yang ada di perutnya. Jelena hanya melingkarkan tangannya di lengan Adras lalu memejamkan matanya.
**********
Anita, tersenyum membaca berita sang kapten Adras yang sudah menjadi seorang ayah. Apalagi Adras langsung mendapatkannya 3 sekaligus.
__ADS_1
Sudah 4 bulan Anita berhenti dari maskapai. Ia fokus untuk menyembunyikan luka hatinya karena ia memang sangat mencintai Adras tapi juga fokus menjadi ibu dari seorang bayi mungil yang didapatkannya dari sebuah panti asuhan. Bayi yang kini sudah berusia 1 tahun lebih.
Pintu ruang tamu terbuka.
"Kamu sudah pulang, sayang?" tanya Anita sambil berdiri. Pria tampan setengah bule itu tersenyum. Ya, dia adalah Mike. Anita dan Mike memutuskan untuk bersama setelah semua kejadian yang sudah terjadi. Mike berjanji akan bersikap baik pada Anita. Ia bahkan sudah menyelesaikan terapinya dengan psikolog untuk menyembuhkan kelainan yang ia miliki. Sebulan setelah mereka bersama, mereka pun memutuskan untuk mengadopsi seorang anak lelaki berusia 8 bulan yang mereka beri nama Keiro.
"Iya. Tadi ada rapat bersama papa." Mike mendekat dan langsung memeluk Anita. "Anak kita mana, sayang?"
"Baru saja tidur."
"Wah, aku nggak sempat memeluk dia dong."
"Besok kan kamu nggak masuk, Keiro adalah milikmu seutuhnya. Dia bahkan sudah pintar menyebutkan kata papa dari pada mama."
"Dia memang anak yang pintar. Makanya gimana?"
"Dia makan banyak tadi."
"Kamu pasti capek ya mengurus Keiro sendirian?"
"Nggak, kok. Aku menikmati tugasku sebagai seorang ibu. Lagi pula Keiro nggak cengeng."
Mike mengecup dahi Anita. "Aku bangga memilikimu, sayang."
Anita tersenyum. Walaupun ia belum bisa membuka hatinya secara utuh pada Mike namun ia bahagia menjalani hari-hari nya bersama sang suami. Belum ada kata terlambat bagi mereka berdua untuk bertobat dan membaharui diri. Mike bahkan sangat rajin ke gereja. Anita yakin, Mike telah berusaha untuk sembuh dan Anita tahu Mike pasti akan berhasil.
(Gimana ya kalau emak buat cerita Mikhaela dan Keiro?)
********
Hari ini Sofia sangat senang. Akhirnya, setelah 4 bulan lebih berpisah, Arley akan kembali ke Indonesia.
Sejak pagi Sofia sudah luluran, ke salon untuk pedi-medi bahkan ke mall untuk membeli gaun yang baru.
"Hari ini Arley kembali?" tanya Jelena.
"Iya, aunty. Jam 4 sore pesawatnya tiba. Aku akan menjemputnya ke bandara." jawab Sofia dengan wajah sumringah.
"Duh yang sedang kangen." goda Jelena.
Adras yang sedang menemani ketiga anaknya yang diletakan di kereta mereka pun menatap Sofia. Ia baru saja tiba dari penerbangannya ke luar negeri. 2 minggu Adras berpisah dengan mereka dan akhirnya bisa ketemu lagi. Bayi kembarnya kini berusia 2 bulan.
"Aku merasa pernah mengenal Arley sebelumnya. Tapi di mana ya? Wajahnya kayak nggak asing gitu. Nama lengkapnya siapa sih?" tanya Adras.
"Arley Tedrik Davidson."
"Dia anak dari Sam Davidson?"
"Aku nggak tahu, uncle."
"Dia kerja apa?"
"Dia memiliki beberapa perusahaan di bawah naungan Davidson TBk. Mereka yang punya semua hotel Davidson di seluruh dunia kayaknya."
Deg! Jantung Adras seperti berhenti berdetak. "Sofia sebaiknya kamu nggak melanjutkan hubunganmu dengan Arley."
"Kenapa uncle?'
"Akan uncle ceritakan." ujar Adras sambil berusaha menguatkan hatinya untuk mengingat kisah kelam itu.
***********
Apa ya?
Dukung emak terus ya guys
__ADS_1