
Bab ini ku awali dengan lirik lagu Mario Klau yang lagi viral saat ini karena sesuai dengan keadaan diantara Adras dan Jelena.
Apalah arti cinta yang indah
Apalah arti cinta dan sayang
Slalu terhalang masalah lama
Tentang rasa percaya
Hati yang kujaga slalu
Untuk dirimu yang mengeluh
Tentang pribadi yang slalu salah
Di pandanganmu sayang
Tapi ku tetap trus melangkah
Karna ku tak mau berpisah
Hilangkan semua
Curiga yang membuat kita trus berjarak
Percayalah pada diriku
Ku kan slalu menjagamu
Hingga akhir hidupku
Malam bantu aku tuk luluhkan dia
Bintang bantu aku tuk tenangkan dia
Dari rasa cemburu dari rasa curiga
Karna hati ini kusimpan hanya untukmu
Tenangkan dirimu kau terlalu jauh
Sebenarnya aku tak seburuk itu
Semua perjuanganku di belakang dirimu
Semata karna ku tak mampu hidup tanpamu
__ADS_1
Adras tak menemukan Jelena ada di halaman apartemen. Makanya ia segera masuk ke dalam mobilnya dan berusaha mengejar Jelena karena hari sudah cukup larut malam dan Adras tahu di sekitar apartemen ini tak ada bis yang lewat. Taxi pun jarang.
Dan Jelena pun terlihat berjalan dengan langkahnya yang cepat. Adras segera menghentikan mobilnya lalu mengejar perempuan yang masih menjadi istrinya itu.
"Na.....Nana....!" Panggil Adras lalu menghadang langkah Jelena.
"Mau kamu apa, Adras? Aku mau pulang. Aku capek. Besok aku masuk pagi. Aku nggak mau terlambat." ujar Jelena setengah berteriak karena ia memang kesal dengan Adras.
Adras memegang kedua sisi bahu Jelena dan mengguncangnya sedikit. "Aku juga capek, Na. Penerbangan ku besok jam 7 pagi. Itu berarti jam setengah enam aku harus berada di bandara. Namun aku tak bisa tenang bekerja sebelum menjelaskan semua yang terjadi."
"Penjelasan apa lagi? Kamu mengatakan tidak terjadi apa-apa lagi itu. Namun Anita mengatakan ada. Aku harus percaya pada siapa?"
"Padaku, Na. Karena aku masih suamimu. Dan aku bersumpah demi apapun yang ada di dunia ini, kalau aku tak bersalah. Aku tak menyentuh Anita. Aku memang dulu lelaki bejad yang tak takut dosa karena dibutakan oleh cintaku pada Anita. Namun aku sadar betul saat kita bercinta malam itu, aku bukan hanya menginginkan tubuhmu namun aku ingin hatimu juga."
Jelena membuang pandangan ke lain arah. Entah mengapa ia tak sanggup menatap mata Adras. Ia takut jika hatinya akan jatuh pada lelaki ini.
"Soal perjanjian ku dengan pak Ruben, ada beberapa bagian yang dipotong. Aku berulang kali menolaknya. Namun pak Ruben justru berlutut di hadapanku dan meminta aku untuk membahagiakan Anita. Bagaimana aku bisa menolaknya? Aku setuju namun sejujurnya hati nurani ku menolak itu. Apalagi saat kita semakin dekat, saat kita pergi berkencan, aku bersumpah, Na. Itu bukanlah sandiwara. Makanya seminggu setelah itu, aku pergi ke pak Ruben. Aku mengatakan bahwa aku tak bisa melakukan keinginannya karena aku memang ingin menjalani pernikahanku secara benar denganmu."
"Aku tak percaya!" Ujar Jelena.
"Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tulus padamu. Bahwa aku ingin bersamamu." Tangan Adras yang ada di bahu Jelena, kini berpindah ke pipi perempuan itu. "Selama 9 tahun lebih aku tersesat bersama Anita. Tolong, pegang tanganku agar aku bisa kembali ke jalan yang benar."
"Tapi aku tak mencintaimu, Adras. Aku ingin hidup berdua dengan lelaki yang aku cintai. Aku......." Kalimat Jelena terhenti karena Adras sudah mencium bibirnya. Jelena yang tak siap menerima ciuman itu menjadi sok dan berusaha mendorong dada Adras. Namun Adras sama sekali tak mau melepaskan ciumannya. Ia justru melepaskan ciuman itu disaat Jelena hampir kehabisan nafas.
"Tetaplah di sampingku. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan membuatmu menginginkan aku seperti aku menginginkan dirimu." ujar Adras pelan di ujung bibir Jelena. Lalu ibu jari Adras mengusap bibir Jelena yang baru saja diciumnya.
"Bagaimana kalau aku tak bisa mencintaimu?" tanya Jelena setelah berhasil menenangkan hatinya.
"Baiklah. Sekarang aku ingin pulang."
Adras mengangguk. Ia segera mengajak Jelena untuk masuk ke dalam mobilnya.
Keduanya saling diam saat Adras mulai mengendarai mobilnya. Namun ketika ia memperhatikan jalan yang ada.
"Adras, kita mau kemana?"
"Bukankah kau sudah setuju untuk ada di sampingku? Jadi kita akan pulang ke rumah kita, Jelena Permana." ujar Adras sambil menahan senyum.
"Adras, aku nggak mau. Tempat kerjaku sangat jauh dari rumahmu. Adras, aku mau turun!"
"Siapa bilang kalau kamu masih akan kerja di sana?"
"Adras, aku nggak mau hanya diam saja di rumah itu."
"Kamu akan kerja sayang. Tapi di perusahaan milikku. Kamu kan lulusan terbaik, nggak cocok kerja di mini market kecil."
"Tapi Adras.....!"
__ADS_1
"Na, diamlah. Aku kurang konsentrasi jika kamu terus berbicara. Nanti kita bisa kecelakaan."
Jelena diam. Mendengar kata 'kecelakaan', dia sebenarnya agak trauma.
Mobil Adras pun memasuki halaman rumahnya. Satpam yang membukakan pintu sangat kaget saat melihat Jelena ada di samping Adras.
"Ini istriku. Bukan hantu." ujar Adras saat dilihatnya wajah satpam itu menjadi pucat.
Jelena menahan senyum. Ia menghilang selama 6 bulan. Wajarlah kalau orang menyangka kalau ia sudah mati.
"Aku nggak mau tidur di kamarmu."
"Baiklah. Kita akan tidur di kamar bawah. Kamar dari kedua orang tuaku."
"Aku nggak mau tidur sekamar denganmu."
Adras menarik napas panjang. "Na, ini sudah jam 12 lewat. Aku harus bangun jam 5 subuh. Please, besok saja saat aku kembali, lalu kita putuskan bagaimana kita harus tidur."
Adras menarik tangan Jelena menuju ke sebuah kamar yang berdekatan dengan kamar Jeff dan Marlisa. Saat Adras membuka pintu kamar itu, Jelena terkejut karena kamar itu bersih dan harum
Semuanya tertata rapih dan bersih.
"Kamar ini selalu dibersihkan. Seprei dan tirai jendelanya selalu diganti. Aku sesekali suka tidur di sini. Apalagi saat jasad yang kami pikir itu adalah dirimu baru saja dikuburkan. Aku tidur di sini bersama Santi dan Sofia."
Jelena melihat kalau ranjang itu memang besar. Ranjang dengan model kuno karena ada kelambu yang menutupi bagian atas ranjang itu sampai ke bawa. Sayangnya, di kamar ini tak ada sofa panjang seperti di kamar Adras.
"Aku mau tidur!" ujar Jelena lalu segera naik ke atas ranjang. Ia mengambil guling dan menaruhnya di tengah-tengah ranjang. "Ini batas diantara kita Adras. Jika kamu melanggarnya, aku bersumpah akan kembali ke tempat kost ku."
Adras mengangguk sambil menahan senyum. Syarat apapun yang Jelena berikan akan Adras setujui asalkan istrinya itu sudah berada di rumah ini.
"Kamu nggak ingin ganti baju? Gaun tidur mu masih ada di kamar atas."
"Nggak." jawab Jelena ketus lalu segera tidur membelakangi Adras.
"Tidurlah." Adras pun ikut berbaring di samping Jelena setelah sebelumnya ia menekan tombol lampu utama dan membiarkan cahaya di kamar hanya dari pantulan lampu luar saja. Ia tahu kalau Jelena suka tidur dengan suasana kamar yang gelap.
************
Jelena terbangun saat mendengar suara Santi dan Sofia di luar kamar. Ia menatap jam tangannya dan terkejut saat melihat kalau sekarang sudah jam 7 pagi.
Jelena membuka pintu dan kedua gadis cantik itu langsung memeluknya sambil menangis. Mereka bahagia Jelena ada di rumah ini lagi.
"Jangan tanyakan pada aunty kenapa aunty memilih menjauh. Sekarang pun aunty ada di sini, bukan berarti aunty dan Uncle kalian sedang baik-baik saja. Aunty tak ingin memberi janji kalau pada akhirnya kami akan berpisah lagi." ujar Jelena setelah tangis haru itu selesai.
"Setidaknya kami tahu kalau aunty masih hidup. Tentang bagaimana nanti nasib aunty dan Uncle, kami nggak akan ikut campur lagi." ujar Sofia diikuti anggukan kepala Santi. Jelena pun bernapas lega. Ia memang tak ingin membuat janji apapun. Sebagaimana hatinya yang masih bimbang. Jelena tak ingin terluka karena itu ia tak mau membuka hati.
**********
__ADS_1
Menurut kalian, bagaimana sifat Jelena ini?
Komen yang banyak ya guys