ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Akhir Bahagia


__ADS_3

Tepuk tangan langsung terdengar saat Adras menggunting pita di depan kantor maskapai terbaru miliknya yang bernama Mikhaela Air Lines.


Setelah 3 tahun menanti dengan penuh kesabaran akhirnya Perusahaan yang dibangun bersama Jun, Arkley, Arley dan opa Jeff pun resmi beroperasi dengan 10 pesawat terbaru. Adras mencurahkan semua keuangan yang ia miliki untuk bisa membangun maskapai ini.


Jelena tersenyum bangga pada suaminya. Adras memang sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai pilot namun pria itu pun tak mau jauh-jauh dari dunia penerbangan.


Maskapai itu sepakat diberi nama Mikhaela karena Mika adalah satu-satunya anak perempuan di tengah keluarga Adras setelah Sofia juga melahirkan seorang anak laki-laki. Memang, anak opa Jeff dan Elina juga perempuan. Namun tak bisa dikatakan sebagai garis keturunan Permana karena opa Jeff adalah adik mamanya Adras.


Ketiga anak kembar Adras sudah berusia 6 tahun. Mereka sudah duduk di kelas satu SD sedang kan si bungsu Marvelino masih berusia 4 tahun.


"Kak, tahu gosip terbaru nggak?" tanya Santi sambil mengelus perutnya yang kini sudah memasuki 6 bulan. Santi memang tengah hamil anak kedua setelah ia berhasil meraih gelarnya sebagai dokter spesialis beda.


"Apa sih?" tanya Sofia sambil sesekali melirik putranya yang kini berusia 2,5 tahun.


"Marlisa."


"Marlisa?"


"Ya. Oma Marlisa, mantannya opa Jeff."


"Kenapa memangnya dengan dia?"


"Aku melihatnya di sebuah desa tempat di mana aku melakukan kunjungan kerja beberapa waktu lalu."


"Ngapain dia di sana? Pemotretan lagi? Setahu aku, dia nggak pernah muncul lagi di dunia modeling."


Sofia tertawa. "Dia hamil."


"Lho, memangnya dia sudah menikah?"


"Iya. Badannya sekarang lebih gemuk."


"Pengusaha siapa lagi ia bodohi?"


Sofia kembali tertawa. "Anto."


"Anto? Anto sih....mantan satpam itu?" Santi pun ikut tertawa. "Anto ganteng sih. Tapi kok selera Marlisa sudah beda ya?"


"Itulah hebatnya Anto. Ia berhasil membuat Marlisa hamil dan mau menikah dengannya. Mereka sudah jadi juragan empang di desa itu. Walaupun Anto seorang berondong, namun aku melihat kalau ia lelaki yang bertanggungjawab. Marlisa tugasnya setiap hari selalu memberikan makan ikan-ikan dan udang-udang peliharaan mereka. Anto katanya juga membeli beberapa ladang padi. Marlisa nampak semakin cantik di mataku tanpa make up dan buku mata palsunya."


Santi menggelengkan kepalanya. "Begitulah nasib orang. Siapa yang sangka ya? Marlisa yang glamor itu mau diajak Anto tinggal di desa terpencil. Apa mungkin dia cinta sama Anto?"


"Mungkin. Kalau nggak, mengapa juga dia mau hamil anaknya si Anto. Semoga saja mereka berdua bahagia ya?" ujar Sofia diikuti anggukan kepala Santi.


Tak jauh dari sana, Jelena sedang berbincang dengan beberapa tamu yang datang. Sampai akhirnya ia melihat Adam yang datang bersama dengan seorang perempuan.


"Adam?"


"Nyonya." Adam langsung menjabat tangan Jelena. "Perkenalkan ini istriku, Lesti."

__ADS_1


Jelena menjabat tangan Lesti. "Duh, cantiknya istrimu ini. Nikahnya kapan? Kok kita nggak di undang sih?"


"Hanya pesta keluarga saja, nyonya. Yang penting sudah sah. Kami menikah 3 bulan yang lalu dan sekarang istriku sedang hamil." kata Adam sambil memegang perut istrinya yang masih rata.


"Wah, selamat sekali lagi ya? Semoga bayinya sehat dan lahir dengan baik pada waktunya."


Adras mendekati mereka. Ia langsung melingkarkan tangannya di bahu Jelena. "Sayang, Adam akan bekerja di maskapai kita. Aku sengaja memanggilnya karena ia adalah pilot yang handal."


"Aku tahu." kata Jelena sambil tersenyum.


Mereka pun mengajak para tamu untuk menikmati makanan yang ada.


"Agung juga melamar di maskapai ini ya?" tanya Sofia pada suaminya yang sedang memeluk putra mereka. Ia melihat Agung ada diantara para pilot yang akan bekerja di maskapai ini.


Arley menatap istrinya. "Uncle Adras yang menerimanya, sayang. Semua pilot dan pramugari serta pramugara diseleksi langsung oleh uncle. Aku hanya mengurus keuangannya saja karena aku juga sibuk dengan perusahaan ku sendiri."Arley mengambil tissue dan membersihkan mulut putranya yang agak kotor setelah selesai makan. "Kenapa, kamu masih menyimpan hati untuknya?"


Sofia menepuk bahu suaminya. "Enak aja. Aku tuh sudah cinta mati sama kamu, sayang. Aku hanya kaget aja melihat dia ada di sini."


"Katanya sih Agung itu seorang duda."


"Dia sudah bercerai?"


"Ya. istrinya kedapatan selingkuh dan Agung mendapatkan hak asuh anak tunggal mereka. Mungkin istrinya nggak tahan karena selalu ditinggalkan oleh Agung apalagi Agung tak mencintainya kan."


"Kok kamu tahu, sayang?"


"Pengacara Agung kan adalah sahabat aku. Aku tahu sih secara tak sengaja."


"Sayang, kamu nggak tertarik dengan kehidupan Agung lagi kan?" tanya Arley dengan perasaan was-was.


"Aku hanya prihatin saja sebagai teman, mas bule. Nggak lebih. Karena setiap sudut hatiku ini, hanya diisi oleh namamu."


Arley tersenyum bangga. "Pulang yuk!"


"Kok pulang sih?"


"Nggak sabar ingin buat baby lagi." Sofia melotot ke arah suaminya. Arley hanya terkekeh lalu mencium pipi putranya yang kini sudah tertidur dalam dekapannya.


*********


"Papa, Mika ingin melihat papa pakai seragam pilot lagi."


Adras yang sedang membaca di kamarnya, tersenyum melihat putri kesayangannya itu. "Kalau Papa pakai seragam pilot lagi, papa akan sering meninggalkan kalian. Papa nggak mau. Karena sehari saja papa nggak lihat anak-anak papa, pasti papa sakit karena rindu."


Mika duduk di samping papanya. "Sesekali kita pergi dan papa yang bawa pesawatnya. Boleh kan?"


Adras menarik hidung mancung putrinya. "Nanti kalau pesawat yang papa pesan sudah ada, itu akan menjadi jet pribadi kita yang dapat kita gunakan untuk jakan-jalan kemana saja yang Mika mau."


"Wah, asyik dong."

__ADS_1


"Tentu sayang. Papa ingin punya banyak waktu dengan kalian semua akhirnya kalian akan pergi dari kehidupan papa dan mama."


"Mika nggak akan meninggalkan papa dan mama."


"Suatu saat nanti Mika pasti akan pergi meninggalkan papa dan mama. Ketika Mika akan kuliah di luar negeri atau akhirnya Mika akan menikah dan ikut dengan suami Mika."


Mika menggeleng. Ia langsung memeluk Adras. "Mika mau sekolah di Jakarta. Nggak akan sekolah di mana-mana. Mika juga nggak mau menikah supaya nggak akan meninggalkan papa dan mama."


Adras terkekeh mendengar perkataan putri tunggalnya ini. Kamu belum tahu saja, nak. Bagaimana hebatnya jatuh cinta itu. Dunia mu bisa terbalik 180,%. Batin Adras lalu mengecup dahi putri nya itu.


Jelena tersenyum melihat suaminya yang memasuki kamar. "Semuanya sudah tidur?"


"Semuanya nyenyak."


Jelena mengulurkan tangannya dan mengajak suaminya itu untuk duduk di sampingnya. Adras pun menurut. Ia duduk di samping istrinya dan langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. "Aku mencintai mu, sayang."


"Sehari ini kau sudah 12 kali mengatakannya, mas."


"Nggak masalah. Karena aku tak pernah bosan untuk mengatakan kalau aku mencintaimu."


Jelena mengusap dada suaminya. "Aku merasa hidupku sempurna, mas."


"Aku juga, sayang."


"Semoga maskapai kita bisa berjalan dengan baik ya?"


"Amin." Adras mengecup pipi Jelena lalu kini beralih ke bibirnya.


"Mas...."Jelena memejamkan matanya saat merasakan ciuman suaminya kini turun ke lehernya.


"Kau selalu membuat aku tergila-gila, sayang."


"Dan aku tak bisa menolak saat kau mengatakan itu."


Adras terkekeh. Ia mendorong tubuh istrinya perlahan ke atas ranjang. Ia kemudian membuka pakaiannya sendiri dan ia tersenyum melihat Jelena yang sudah membuka pakaiannya juga.


"3 ronde?" goda Adras sambil mengedipkan sebelah matanya. Perlahan ia mulai naik ke atas tubuh istrinya.


"Satu saja, mas. Aku harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan anak-anak."


"Bi Suni akan maklum jika Nyonya Nana bangun terlambat." Kata Adras lalu memukai aksinya untuk membawa mereka berdua dipuncak kenikmatan raga.


Indahnya yang saling mencintai.


"Dua ronde saja ya, mas." masih terdengar permintaan Jelena.


"Diam....!" kata Adras lalu mulai menyatukan dirinya dengan sang istri.


***********

__ADS_1


Kok emak nggak rela ya kisah ini berakhir 😅😅😅


__ADS_2