
"Elina?" Jeff terkejut saat asistennya memberitahukan kalau ada dokter yang mencarinya.
"Uncle Jeff nggak datang untuk kontrol makanya aku saja yang datang." kata Elina. Ia berdiri di dekat meja kerja Jeff sambil menenteng tas dokternya.
Entah mengapa, hari Jeff merasa senang dengan kunjungan Elina.
"Aku sebenarnya sudah merasa sehat. Namun karena kamu sudah datang, maka aku siap di periksa. Ayo ke sana!" ajak Jeff ke sofa yang ada di ruangannya. Ia menelepon asistennya dan meminta supaya menahan semua telepon dan tamu yang akan berjumpa dengannya sampai dokter Elina selesai memeriksanya.
Elina melangkah lebih dulu sedangkan Jeff mengikutinya dari belakang. Saat melewati pintu, Jeff dengan cepat menekan tombol sehingga pintu itu secara otomatis terkunci dari dalam.
Keduanya duduk di sofa panjang. Elina terlihat cantik dengan rok hitam ketat selutut, kemeja pink dan jaket putih khas seorang dokter. Ia juga terlihat dewasa dengan rambut yang digulung ke atas dan sebuah kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
"Aku suka penampilanmu hari ini, Elina. Terlihat lebih dewasa dan matang." puji Jeff membuat pipi Elena menjadi sedikit merona.
"Uncle membuat aku gugup saja." tawa Elina sambil mengeluarkan semua peralatan kedokterannya.
"Itu memang benar."
Elina semakin bergetar. Tangannya menjadi dingin saat memasangkan alat pengukur darah di tangan Jeff.
"Hei...., kenapa tanganmu menjadi dingin?" tanya Jeff lalu memegang tangan Elina.
"Uncle sih membuat aku gugup."
Jeff tertawa. Sudah seminggu ini ia agak stres karena laporan tentang keuangan perusahaan yang menghubungkan namanya. Hari ini, ia merasa bebannya sedikit rileks karena bisa bertemu dengan dokter muda ini.
Elina pun memeriksa dengan seksama tubuh Jeff. "Semuanya baik, uncle. Kalau begitu aku pulang ya ..." pamit Elina setelah menutup tas dokternya. Namun, ketika gadis itu akan berdiri, Jeff justru menarik tangannya sehingga gadis itu jatuh ke atas pangkuan Jeff. Dan sebelum Elina mengatakan apapun, bibir Jeff sudah mendarat di atas bibir Elina.
*********
Adras menatap pria di depannya. Pria yang berusia sekitar 40 tahun dan memakai kemeja putih dengan sebuah logo maskapai milik pemerintah.
"Pak Adras, perkenalkan aku Petra. Manager PT. Maskapai XXX."
"Apa kabar pak Petra. Silahkan duduk."
Petra duduk di depan meja kerja Adras. "Kami dengar kalau pak Adras mengajukan resign dari maskapai pak Adras bekerja."
"Iya. Memang sih mereka belum memberikan tanggapan apa-apa. Namun tekadku sudah bulat untuk berhenti."
"Apakah anda akan berhenti menjadi pilot?"
"Entahlah. Aku hanya ingin resign saja dari sana. Ada persoalan pribadi."
Petra tersenyum senang. "Apakah pak Adras mau bekerja di maskapai kami?"
"Apa?" Adras terkejut. Pilot mana yang tak ingin bekerja di maskapai milik pemerintah?
"Tentu saja." Adras sangat senang.
"Kami tunggu pak Adras besok di kantor ya?" pamit Petra sambil menjabat tangan Adras.
__ADS_1
Lelaki tampan itu menjadi senang. Ia tak menyangka kalau keputusannya untuk resign dari maskapai yang dulu justru mendatangkan berkat baginya. Makanya dengan cepat, Adras pun ingin memberitahukan hal ini pada pamannya. Ia bergegas ke ruangan Adras.
"Eh...tuan, tuan Jeff tak ingin diganggu." ujar Leila, sekretaris Jeff.
"Memangnya kenapa?"
"Ada tamu."
"Tamu? Siapa?"
"Kayaknya seorang dokter."
"Dokter?"
"Iya. Dokter perempuan yang sangat cantik. Dokter itu sudah hampir satu jam ada di dalam."
Adras mengerutkan dahinya. Apakah uncle Jeff sedang sakit? Mengapa dokter harus begitu lama memeriksanya?
Adras ingat, kalau di ruangannya, ada pintu rahasia yang akan menembus di ruangan uncle Jeff. Itu mereka lakukan agar punya ruang rahasia untuk menyembunyikan diri atau pun ingin melarikan diri dari seseorang. Adars segera masuk kembali ke ruangannya. Ia menekan tombol tersembunyi yang ada di belakang lemari. salah satu bagian lemari itu terbuka. Adras masuk ke dalamnya dan lemari itu langsung tertutup sendiri. Ia melewati suatu ruangan di mana ada tempat tidur di sana. Adras kemudian melewati ruangan itu dan menekan salah satu tombol. lemari di ruangan Jeff pun bergeser sehingga Adras bisa tiba di ruangan pamannya itu. Namun apa yang dilihatnya membuat Adras tanpa sadar menjerit.
Ia melihat ada seorang perempuan di pangkuan pamannya. Perempuan itu sedang duduk membelakanginya. Roknya sudah tersingkap ke atas dan menampilkan paha putih polosnya. Kemeja yang dipakai perempuan itu sudah sedikit melorot dari pundaknya karena saat Adras masuk, paman Jeff sedang mencium pundak perempuan itu.
Karena teriakan Adras membuat kegiatan dua orang itu langsung terhenti. Secara cepat Elina turun pangkuan Jeff dan memperbaiki letak rok dan kemejanya.
"Maaf.....!" Adras terlihat sangat menyesal.
Jeff tersenyum. "Jangan takut. Itu Adras, keponakanku."
"Dokter Elina...!" panggil Jeff. Ia melangkah mendekati Elina. Tangan Jeff memperbaiki rambut Elina yang sedikit acak-acakan. "Nanti aku telepon."
Elina hanya mengangguk. Ia kemudian membuka pintu namun tak bisa dibuka. Jeff mendekat, menekan tombol dan akhirnya pintu terbuka.
"Apakah pintu ini tertutup dari dalam?" tanya Elina.
"Ya."
Elina menatap Adras dengan bingung. Ia langsung keluar sambil menahan rasa penasarannya. Apakah Adras memiliki ilmu menghilang?
"Uncle?" Adras mengangkat tangannya seolah meminta penjelasan. Ia tahu kalau pamannya pernah berjanji kalau Marlisa adalah perempuan yang terakhir.
Jeff mendekat. Ia mengajak Adras duduk.
"Uncle tadi sebenarnya ingin ke ruanganmu. Namun dokter Elina keburu datang. Dia adalah dosen Santi, orang yang merawat uncle saat kecelakaan."
"So?"
"Uncle tak tahu mengapa uncle terpesona dengannya."
"Dia masih muda, uncle."
"Ya. Usianya lebih muda setahun dari Marlisa. Uncle nggak tahu kenapa dia terpesona dengan uncle."
__ADS_1
Adras terkekeh. "Uncle....!"
"Uncle akan menceraikan Marlisa."
"Karena dokter itu?"
"Bukan. Karena apa yang Jelena katakan tentang penyimpangan keuangan itu benar. Uang itu memang masuk ke rekening atas nama uncle. Rekening itu sendiri hampir uncle lupakan. Marlisa dan adiknya, sudah menipu kita berdua."
"Astaga ....!" Wajah Jelena kini terpampang di pelupuk mata Adras.
"Maaf, Adras. Uncle sempat marah bahkan jengkel pada Jelena. Tadi pagi juga Anto membuat pengakuan pada uncle. Katanya ia merasa berdosa setiap kali melihat uncle."
"Anto?"
"Ya. Satpam baru di rumah kita."
"Oh...satpam yang menjadi idola para art di rumah kita?"
Jeff mengangguk. Sialnya, ia harus mengakui kalau Anto memang tampan. "Marlisa dan Anto pernah tidur bersama. Mereka melakukannya di kamar ganti dekat kolam."
Adras semakin sok mendengarnya. "Astaga....astaga..., Marlisa sama Anto? Beruntung banget si Anto. Ups...., maaf ya uncle."
Jeff tersenyum. "Sebenarnya aku tak pernah mencintai Marlisa. Aku hanya terpesona pada tubuhnya. Aku begitu dibutakan oleh kemolekan tubuhnya dan menyia-nyiakan istriku. Sayangnya, istriku sudah menikah kembali. Aku tak bisa lagi meminta kesempatan kedua padanya. Dokter Elina justru datang di saat yang tepat."
Adras tak mau mencampuri urusan pribadi pamannya. Fokusnya hanya satu, menemui Jelena di Seoul.
*********
"Ada apa ini?" tanya Marlisa saat ia pulang dan melihat semua barang-barang nya sudah ada di ruang tamu.
"Kita bercerai Marlisa." kata Jeff dengan tenang. Santi dan Sinta langsung bersorak gembira.
"Tapi kenapa?"
"Aku tak akan menuntut uang 7 miliar yang kau curi dari perusahaan. Anggaplah itu uang tunjangan untukmu setelah kita bercerai."
"Sayang....aku mencintaimu." Marlisa mendekat dan hendak memeluk Jeff namun lelaki itu mundur.
"Aku tak bisa memaafkan apa yang kau lakukan dengan Anto si satpam itu."
Marlisa terkejut. "Sayang, itu terjadi karena obat yang aku ambil di lemari Santi. Itu semacam obat perangsang. Aku mencobanya dan karena kamu lama pulangnya, aku sudah seperti orang kesetanan yang akhirnya harus mencari pemapiasan. Obat itu yang Santi berikan pada Jelena dan Adras saat Jelena menjemput Adras di bandara." ujar Marlisa sambil menunjuk Santi.
Gadis itu mendadak pucat. Adras menatapnya tajam sambil meminta penjelasan.
"Ampun uncle.....!" kata Santi sambil mengangkat tangannya ke atas. Mati aku!
********
Duh, terbongkar juga kan???
Gimana selanjutnya....
__ADS_1
Terus dukung emak ya guys