ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Usaha Keras


__ADS_3

Rencana untuk membuat maskapai penerbangan sendiri benar-benar diwujudkan oleh para pria-pria tampan ini.


Hari ini, bertemu di ruangan Adras untuk membicarakan hal itu. Arley, Arkley, Jun dan paman Jeff.


Kebetulan Sofia juga sedang magang di kantor ini, jadi dia juga sekalian ingin mendengar percakapan mereka.


"Permisi.....!" Sarah masuk ke dalam ruangan dan menemukan para pria tampan berkumpul di tempat ini.


"Hai aunty Sarah." Sofia senang karena Sarah masuk ke ruangan itu. Ia melirik sekilas ke arah Arkley. Nampak cowok itu juga melirik ke arah kedatangan Sarah.


"Aku menganggu ya?" tanya Sarah tak enak hati.


"Nggak sayang. Kami akan membicarakan masalah pendirian maskapai yang pernah daddy ceritakan padamu." ujar Jeff.


Sarah mendekat. Ia nampak cantik dengan dress hitam yang dipadu dengan blezer berwarna biru.


"Aku mau minta tanda tangan Adras untuk persetujuan dana sumbangan untuk panti asuhan yang ada di yayasan kita." Kata Sarah sambil menyodorkan sebuah file.


Adras menerimanya dan membacanya sekilas, ia langsung memberikan persetujuannya.


"Aunty, jangan pergi. Di sini saja. Kita akan mendengar apa yang akan mereka bicarakan."ajak Sofia.


"Memangnya boleh?"


"Boleh dong. Ayo duduk, sayang." Ujar Jeff kepada putrinya.


Sarah pun duduk. Ia berhadapan dengan Arkley. Ia menatap pria itu sambil tersenyum. Ia sudah mengenal Arkley. Si pria dingin yang banyak membuat para gadis menginginkan dia.


"Arkley tampan kan, aunty?" bisik Sofia.


"Tampan sih tapi dingin orangnya."


"Aunty nggak tertarik untuk menaklukkannya?"bisik Sofia lagi.


"Aku punya pacar."


Sofia langsung ciut saat mendengarnya.


"Pacarnya di mana?"


"Singapura."


"Kalian kenapa sih saling bisik?" tanya Adras heran melihat tingkah laku sepupu dan ponakannya itu.


Selesai pembicaraan, mereka pun makan siang bersama di sebuah restoran. Sofia mendapatkan kesempatan duduk di samping Arkley.


"Menurut kamu, aunty Sarah gimana?" tanya Sofia sambil berbisik.


"Cantik walaupun agak tomboy."


"Kamu yang tertarik padanya?"


Arkley menatap Sofia. "Kamu tahu tipe wanitaku seperti apa."


Sofia terdiam. Ia ingat mamanya. Lembut, sangat anggun saat berpakaian dan tak pernah kasar pada siapapun. Sangat berbeda dengan Sarah yang akan tomboy. Walaupun ia sering memakai gaun, namun tak menghilangkan tampilan tomboinya yang adalah pemegang sabuk hitam taekwondo. Sarah juga kalau bicara nggak ada lembutnya. Ia suka ceplas ceplos dan apa adanya.


**********


"Ada apa, sayang?" tanya Adras saat melihat istrinya yang nampak duduk melamun di dekat jendela kamar mereka.


Jelena menatap suaminya. Ia tersenyum. Tadi Adras baru saja pulang dan suaminya itu telah membuatnya lelah dalam percintaan mereka.


"Mas sudah mandi?" tanya Jelena tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Iya. Aku baru dari kamar anak-anak. Mereka bertiga sudah terlelap. Memandang wajah ketiganya membuat rasa lelah ku langsung hilang." Adras mendekat dan langsung memeluk istrinya.


Jelena melingkarkan tangannya di pinggang Adras. "Mas, aku kayaknya sudah terlambat datang bulan."


Adras melepaskan pelukannya. "Serius? Sudah terlambat berapa hari?"


"Seminggu kayaknya."


'Sudah di tes?"

__ADS_1


"Aku takut mas."


"Kok takut sih?"


"Si kembar masih kecil. Baru juga 2 tahun." Wajah Jelena terlihat khawatir.


"Memangnya kenapa jika mereka masih kecil? Kamu takut mereka akan kehilangan kasih sayang dan perhatian? Kan aku 4 bulan lagi akan resign dari tempat kerja. Tapi kok bisa hamil sayang, kamu kan sangat ketat masalah kontrasepsi."


"Waktu kita ke Bali bulan yang lalu, kan aku sudah bilang sama mas kalau aku lupa bawa pil KB ku, jadi jangan buang di dalam. Namun di permainan pertama kan mas nya langsung buang aja ke dalam." Jelena terlihat kesal.


"Tapi kan setelah itu, kita main aman, sayang."


"Tetap saja yang pertama sudah masuk."


"Wah, hebat banget ya benihku ini."


"Ih mas ini ..., kok malah senang sih?"


Adras memegang wajah istrinya. "Memangnya harus sedih? Senanglah itu berarti rumah ini akan bertambah ramai aja. Apalagi Sofia dan Arley makin lengket aja. Aku takut justru dia tak akan sampai selesai kuliah sudah minta dikawinkan sama si bule itu."


"Aku percaya kalau Sofia pasti akan menyelesaikan kuliahnya. Tinggal skripsi doang kan?"


Adras mengusap perut Jelena. "Jangan takut hamil lagi ya sayang? Kali ini aku akan menemanimu terus. Pokoknya kita akan menikmati saat-saat indah untuk membesarkan anak kita berdua."


Jelena memeluk Adras lagi. Kalau ada suami sebaik Adras, apalagi yang harus ia takutkan?


********


Setiap hari, Sofia berusaha untuk membuat Sarah melihat Arkley sebagai lelaki yang baik. Sofia juga selalu menggoda Arkley untuk mau melihat Sarah sebagai wanita yang baik. Apalagi Sofia tahu kalau Sarah dan pacarnya kini hubungannya sedang tak baik. Sofia ingin Arkley membuka hatinya untuk Sarah.


Setiap ada kesempatan keluarga mereka bertemu, Sofia selalu membuat Sarah dan Arkley ngobrol berdua.


Opa Jeff sendiri mengatakan kalau ia tak keberatan misalkan Sarah suka dengan Arkley. Namun kedua orang itu terlihat biasa saja.


"Sial....!" Sarah memegang kakinya saat sepatu hak tinggi yang dipakainya patah dan membuat kakinya terkilir.


Gadis itu duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di koridor kantor ini. Kantor sudah sepi karena sekarang sudah jam 7 malam. Sarah memang sedikit lembur malam ini karena ia merasa tanggung membawa pekerjaannya ke apartemennya.


Gadis itu mengambil ponselnya untuk menghubungi papanya namun saat ia menekan ponsel itu ternyata tak menyala.


"Sarah?"


Sarah yang sedang mengurut kakinya, terkejut mendengar suara itu. Ia mengangkat wajahnya. "Arkley? Kok kamu ada di sini?"


"Eh aku diminta tolong oleh Arley untuk mengambil berkas permohonan ijin usaha yang tertinggal di ruangan Jeff karena besok pagi Arley akan mengurusnya. Kebetulan karena aku ada di sekitar sini jadi sekalian saja aku yang ambil."


"Arley ke mana?"


"Biasalah, bersama Sofia. Sehari saja tak melihat pacar nya itu, Arley bisa gila kayaknya. Dasar bucin."


Sarah hanya tertawa. Sungguh, ia sering iri melihat kemesraan Arley dan Sofia. Sungguh jauh berbeda dengan pacarnya yang jarang sekali mengirim pesan apalagi teleponan.


"Kaki kamu kenapa?"


Sarah menunjukan hak sepatunya yang patah.


"Ayo, aku antar ke rumahmu Seperti kamu agak susah jalan."


"Iya sih. Aku baru mau telepon papa tapi baterei hp ku habis."


Arkley memasukan file yang diambilnya dalam tas milik Sarah. Lalu ia dengan cepat memeluk Sofia ala bridal style.


"Eh, Arkley, aku bisa jalan. Kamu cukup memapah aku aja. Aku berat."


"Kamu ringan kok."


Sarah langsung melingkarkan tangannya di leher pria itu. Ia suka dengan parfum Arkley yang maskulin banget. Ia juga baru menyadari bahwa pria ini memiliki wajah yang tampan.


"Arkley, tunggu sebentar!"


Arkley menghentikan mobilnya. "Ada apa?"


Sarah mengeluarkan sebuah kotak makanan dari dalam tasnya. "Tolong berikan kepada anak jalanan itu. Setiap hari aku selalu membagikan makanan untuk mereka."

__ADS_1


Arkley pun turun dan memberikan kotak makanan itu pada 3 orang anak jalanan yang nampak kumuh dengan penampilan mereka.


"Kak Sarah, terima kasih." Mereka melambaikan tangannya ke arah Sarah.


Arkley merasa kagum dengan Sarah. Di balik penampilannya yang cuek dan apa adanya, ternyata ia memiliki hati malaikat. Arkley memang sudah mendengar dari Jeff yang pernah bercerita tentang jiwa sosial yang dimiliki anaknya ini.


Mobil yang dibawa Arkley memasuki halaman apartemen Sarah. Ia kemudian menggendong Sarah seperti tadi lalu segera membawa gadis itu ke lantai 7 untuk menuju ke unitnya.


Sesampai di sana, Arkley justru mengambil minyak dan mencoba memijat kaki Sarah.


"Memangnya kamu bisa?" tanya Sarah agak ragu.


"Serahkan semua padaku." kata Arkley lalu ia mulai memijat kaki Sarah. Tak lama kemudian, terdengar bunyi Klik! Dan Sarah merasa kakinya tak sakit lagi.


"Astaga Arkley, kamu tuh hebat banget ya." ujar Sarah lalu ia bermaksud akan turun dari Sofa untuk berjalan.


"Sarah, tunggu dulu...." Arkley terlambat memperingati Sarah yang terlanjur berjalan. Akhirnya, Sarah jatuh, tepat di atas tubuh Arkley yang masih duduk di atas lantai.


Jantung Sarah berdetak tak karuan saat ia menyadari kalau wajahnya kini tepat berada di atas wajah Arkey. Hidung mereka bahkan bersentuhan.


"Sarah, jangan dulu jalan."Kata Arkley pelan dengan suara yang murai serak. Arkley tak menyangka setelah 12 tahun berlalu setelah kecelakaan itu, ia bisa merasakan lagi gairah pada seorang perempuan. Arkley masih lelaki normal. Namun ia tak pernah main perempuan lain selain dengan Selena.


"Maaf ...!" Kata Sarah tanpa menjauhkan wajah mereka. Sarah juga wanita dewasa yang hormon nya sedang berkembang. Ia memang sudah sangat bebas dengan kekasihnya namun hanya satu yang tak pernah Sarah serahkan, yaitu kesucian dirinya. Pacarnya bisa melakukan apa saja padanya, kecuali yang satu itu.


"Sarah, aku ingin menciummu." kata Arkley tanpa bisa menahan lagi dirinya.


Tanpa menunggu persetujuan Sarah, Arkley langsung menyatukan bibir mereka. Awalnya Sarah diam. Namun tak lama kemudian ia membalas ciuman itu. Kedua insan berbeda jenis itu akhirnya berbagi ciuman panas yang tak bisa mereka tahan.


Sarah, yang sudah setahun lebih Ldr-an sama pacarnya dan Arkley yang sudah 12 tahun tak pernah menyentuh wanita dalam hidupnya sungguh membuat mereka lupa diri.


Sarah yang selalu bisa menjaga dirinya dengan baik pun seakan tak mampu menahan efek dari sentuhan Arkley yang kini melumpuhkan akal sehatnya.


**********


1 jam kemudian......


"Sarah, aku pikir karena kamu dibesarkan di Singapura sehingga kamu sudah terbiasa dengan hubungan intim tanpa ikatan pernikahan. Maafkan aku yang telah merusak kesucianmu. Aku sungguh bodoh karena tak bisa menahan diriku." Arkley duduk membelakangi Sarah. Ia bahkan belum mengenakan pakaiannya lagi. Hanya boxernya yang sudah ia kenakan lagi.


Sarah masih berbaring. Masih ada rasa perih di inti tubuhnya setelah ia dengan sukarela menyerahkan dirinya pada Arkley.


Perlahan Sarah bangun dan duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Aku juga tak tahu mengapa bisa terbuai seperti ini. Entahlah, apakah mungkin aku selalu dicekokin dengan kata-kata Sofia yang selalu mengatakan kalau kamu adalah pria yang baik?"


Arkley memutar tubuhnya sehingga ia bisa menatap wajah Sarah. "Sofia dan Santi juga sering mengatakan hal yang sama padaku. Kamu adalah wanita yang baik dan cocok untukku."


"Mereka sepertinya sedang menjodohkan kita." ujar Sarah sambil tersenyum.


"Mungkin mereka hampir berhasil."


"Kok hampir sih?" tanya Sarah sambil mengerutkan dahinya.


"Ya tergantung kalau kamu mau sama aku."


Wajah Sarah menjadi panas. "Kamu...mau sama aku? Aku kan nggak selembut mba Selena walaupun wajah kami hampir mirip."


"Awalnya aku memang selalu membandingkan kamu dengan Selena. Namun semakin aku melihat perbedaan kalian, aku justru semakin penasaran ingin tahu tentang kamu."


Sarah mendekat dan langsung memeluk Arkley.


"Kita menikah minggu depan yuk!" ajak Sarah.


"Kok cepat banget?"


"Kamu mau aku hamil duluan baru menikah? Kamu mau menunggu selama berbulan-bulan baru boleh menyentuh aku lagi?"


Arkley mencium dahi Sarah. "Aku mencintaimu." kata Arkley dengan penuh ketulusan. Sarah memejamkan matanya. Sampai ia ingat sesuatu. "Arkley, aku punya pacar di Singapura."


"What???"


************


Duh emak lagi badmood sebenarnya hari ini.

__ADS_1


Maaf ya kalau bab2 akhir ini kurang nyaman.


Semoga tetap suka


__ADS_2