
"Ada apa sayang?" tanya Jeff melihat wajah Elina yang terlihat tegang.
"Itu anu....!" Elina terlihat gugup.
"Apa sih sayang? Apakah kamu gugup karena aku sudah buka semua bajunya? Maaf ya, aku terlalu bersemangat." ujar Jeff sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Bu...bukan...anu...."
"Apa sayang?"
"Itu mu mas bule."
"Oh....ini?" Jeff menunjukan juniornya. "Tenang saja sayang. Ini baru ukuran standar ya. Sebentar, pasti akan lebih big lagi."
"Maksudnya?" Elina terbelalak.
Jeff tersenyum. Ia mendekati istrinya dan membelai wajah Elina. "Aku tahu kalau kamu masih perawan. Makanya aku akan melakukan dengan sangat pelan dan sangat hati-hati agar kamu nggak membutuhkan obat penghilang rasa sakit." kata Jeff sambil membelai wajah istrinya.
Elina terkekeh. Ia pun membaringkan tubuhnya secara perlahan, menunggu sentuhan sang suami di malam pengantin mereka.
Di tempat lain.......
Marlisa menatap Anto yang sudah tertidur di sampingnya. Jangan ditanya berapa kali Anto membuatnya menjerit malam ini, yang pasti Marlisa sangat menikmatinya.
Perlahan Marlisa turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari kemudian mengambil gaun tidurnya dan mengenakannya. Ia berjalan keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk mengambil air putih dan meminumnya.
Air mata Marlisa jatuh. Sesungguhnya ia menyesali semua yang terjadi. Keserakahan dan ketamakannya, membuat ia justru jauh dari kehidupan yang dia inginkan. Pada hal Jeff sudah memberikan semua yang dia impikan selama ini. Namun entah kenapa ia justru terpesona dan berhasrat menaklukan Adras. Akhirnya, ia justru kehilangan semuanya.
"Nyonya.....!"
Marlisa menoleh ke arah pintu. Nampak Anto sudah bangun dan mengenakan pakaiannya kembali. "Tidur lagi, To. Ini baru jam 1 tengah malam."
"Saya malu karena ketiduran di ranjang nyonya. Sebaiknya saya kembali ke hotel saja."
"Anto....sini!"
Anto mendekat. Ia berdiri di dekat sofa tempat Marlisa duduk.
"Aku sudah membuat kamu capek ya?"
Anto tersenyum. Manis sekali di pandangan Marlisa. "Maukah kamu menemani aku malam ini?"
"Nyonya sedih karena tuan Jeff menikah lagi ya?" Anto pun duduk di dekat Marlisa. Tanpa malu, Marlisa langsung membaringkan kepalanya di bahu Anto.
"Kamu punya pacar ya, Anto?"
"Nggak, nyonya. Entah kenapa semenjak malam itu, saya selalu ingat nyonya."
"Kamu mau nggak kerja sama saya?"
"Kerja apa nyonya?"
"Jadi bodyguard saya. Mau kan Anto?"
__ADS_1
"Terus saya akan tinggal di mana, nyonya?"
"Di apartemen saya. Apartemen saya kamarnya ada 3. Kebetulan saya nggak punya pembantu."
"Gimana ya, nyonya. Nggak enak sama tuan Adras."
"Kamu pikir-pikir aja dulu. Nanti saya juga akan minta nomor telepon kamu ya?"
"Kenapa harus saya sih, nyonya?"
"Karena hanya kamu yang mampu membuat aku merasa tenang." kata Marlisa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Anto.
"Duh nyonya, jangan kayak gini dong. Nanti saya jadi kegeeran."
Marlisa terkekeh mendengar perkataan Anto. Ia pun memejamkan matanya dan merasa mengantuk.
**********
Arley mengantarkan Sofia sampai di depan kamarnya. Mereka berdua baru saja dari diskotik bersama Jun dan Santi. Namun Jun dan Santi sudah pamit lebih dulu karena Jun harus kembali ke kota.
"Kamu nggak capek?" tanya Arley sambil menepuk puncak kepala Sofia dengan lembut. Ia tahu Sofia tadi bergoyang terus.
"Sedikit. Tapi aku sangat menikmatinya. Sudah lama sekali aku tak ke diskotik karena memang nggak pernah diijinkan oleh uncle."
"Hidungmu berkeringat." Arley mengusap ujung hidung Sofia dengan jari telunjuknya.
Sentuhan telunjuk Arley di hidungnya membuat wajah Sofia jadi merona. Untung saja lampu di koridor hotel ini tak begitu terang.
"Aku memang suka gitu jika kepanasan." Sofia sudah bersandar di pintu kamar. Ia merasakan kalau jaraknya dengan Arley begitu dekat.
"Memangnya orang yang pacaran pura-pura boleh berciuman?"
"Ya, ciuman pura-pura saja."
"Ciuman pura-pura itu kayak apa?" Sofia memberanikan diri menatap mata biru Arley.
"Kayak apa ya? Mungkin nggak melibatkan perasaan." Arley kini menyentuh pipi Sofia.
"Bagaimana kalau perasaan akhirnya terlibat?" tanya Sofia sambil menelan salivanya karena wajah Arley sudah semakin dekat.
"Kita pacaran sungguhan artinya."
Sofia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Ia merasakan kalau hangatnya nafas Arley kini menyentuh kulit wajahnya.
"Boleh?" tanya Arley. Hidungnya kini hampir menyentuh hidung Sofia.
Sofia mengangguk dan Arley pun memiringkan kepalanya sedikit dan langsung mencium bibir Sofia dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
Sofia memejamkan matanya. Kedua tangannya memegang pinggiran kemeja Arley. Ia menikmati ciuman itu. Mereka hanya berhenti sejenak untuk menarik nafas, setelah itu entah siapa yang memulai, mereka berciuman kembali.
"Arley....., sudah...., aku takut kita akan lupa diri." Kata Sofia dengan napasnya yang agak tersengal. Kedua tangannya ia letakan di depan dadanya.
Arley tersenyum. Ia belum menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sofia. Ibu jarinya mengusap bibir Sofia yang nampak membengkak karena begitu lamanya mereka berciuman.
__ADS_1
"Besok, aku akan pergi ke Amerika. Mungkin sekitar 2 atau 3 bulan aku ada di sana."
"Oh ya?" Sofia terlihat sedih.
Arley tersenyum. "Aku akan selalu mengirim pesan padamu. Aku akan selalu Videocall dengan kamu setiap malam. Perhatianku padamu nggak akan berkurang sekalipun kita terpisah jauh." Arley mengecup sudut bibir Sofia lalu memeluk gadis itu dengan erat.
"Aku jatuh cinta padamu, Sofia. Semenjak pertama melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku tak mau menjadi pacar pura-pura mu lagi. Aku justru ingin mengajak kamu menikah sekarang juga. Namun aku tahu, kamu punya cita-cita yang harus kamu wujudkan. Aku akan siap menunggumu." Arley melepaskan pelukannya. Ia menatap Sofia dengan tatapan penuh cinta. "Ada satu rahasia yang harus kamu tahu tentang aku. Bukan tentang aku yang memiliki wanita lain. Namun aku ingin kamu tahu sebelum kamu setuju untuk pacaran denganku. Tapi, nanti aku kembali dari Amerika dan aku akan mengatakannya padamu." Arley kembali mengecup bibir Sofia. "Masuklah. Tidur yang nyenyak malam ini. Pesawatku akan berangkat besok pagi jam 7. Jadi aku harus kembali sekarang ke Jakarta." Arley kembali memeluk Sofia. "Rasanya tak ingin melepaskan mu malam ini."
"Telepon aku sebelum pesawatnya take off ya?"
Arley mengangguk. Ia pun melepaskan pelukannya. "I love you." bisik nya lalu mengecup dahi Sofia dan segera pergi.
Sofia menatap kepergian Arley dengan jantung yang berdebar. Entah mengapa seperti ada seribu kupu-kupu beterbangan di perutnya. Ia pun masuk ke kamar dan melihat Santi yang sudah tertidur nyenyak.
**********
"Mas....., sudah ya?" kata Jelena dengan tubuh yang bermandikan keringat.
Adras meraih istrinya agak tidur dalam pelukannya. "Iya."
"Uncle Jeff yang menikah, kok sepertinya kita yang bukan madu ya?"
Adras terkekeh. "Papinya rindu menjenguk 3 buah hatinya."
"Papinya genit."
Adras kembali terkekeh. "Jika perut kamu semakin membesar, akan semakin sulit bagi kita untuk berhubungan. Jadi sekarang ini nikmati saja sepuasnya."
Jelena memegang wajah Adras. "Aku kok merasa semakin mencintai kamu setiap hari ya?"
"Dan itu yang membuat aku tak sabar ingin selalu pulang setelah selesai bekerja."
"Mas, jika anak kita sudah dekat tanggal lahirnya, mas harus cuti ya?"
"Aku justru ingin berhenti jadi pilot, sayang."
"Lho, mas, itukan cita-citamu sejak lama."
"Aku nggak mau melewatkan momen-momen penting pertumbuhan ketiga anak kita. Uncle kali ini kayaknya juga serius dengan Elina. Mereka bahkan berencana untuk punya anak. Aku nggak mau uncle terlalu sibuk di kantor dan mengabaikan Elina. Aku memang terikat kontrak selama 3 tahun. Jadi, selesai kontrak, aku tak akan memperpanjang lagi. Aku berencana akan membeli pesawat kecil yang siap membawa keluarga kecil kita jika ingin jalan-jalan."
"Mas, aku tak meminta kamu untuk berhenti. Aku justru sudah terbiasa ditinggalkan olehmu. Aku nggak akan mengeluh."
Adras mengecup puncak kepala Jelena. "Aku justru yang ingin dekat terus denganmu. Aku akan profesional dengan maskapai ku yang sekarang. Mereka sudah memilih aku secara khusus. Akan ku habiskan kontrak bersama mereka dan setelah itu aku berhenti. Aku ingin setiap hari selalu bersama-sama kalian." Adras mengusap perut Jelena.
Jelena bahagia. Ia sedikit mendongak dan mencium wajah Adras secara bertubi-tubi. "Aku tak pernah menyesal dipaksa oleh Sofia dan Santi untuk menipumu agar menikah denganku."
"Demikian juga aku, sayang. Kau dan anak-anak kita segalanya bagiku."
Jelena memejamkan matanya. Pelukan Adras selalu menghangatkan baginya. Ia yakin masa depan mereka akan bahagia.
***********
Duh segitu dulu ya pembacaku sayang.....
__ADS_1
Dikit lagi mau end