
Saat mobil berhenti di depan villa, Jelena sejenak terdiam. Dia ingat, di tempat inilah sandiwara itu dimulai.
"Kenapa belum turun?" tanya Adras yang sudah berdiri di samping pintu tempat Jelena duduk. Pintu mobil bahkan sudah dibuka oleh Adras.
"Penjaga villa nya kemana?"
"Pasti sudah pergi. Ia datang hanya menyiapkan villa dan akan datang lagi jika kita sudah pergi. Kenapa memangnya?"
Jelena menelan salivanya. "Jadi, kita tinggal berdua di sini?"
Adras tertawa. "Memangnya kenapa? Ayo turun!" Adras menarik tangan Jelena. Sebenarnya ia tahu mengapa Jelena enggan untuk turun. Tempat ini punya sejarah khusus dalam kehidupan mereka. Namun Adras sekarang menyukai tempat ini. Karena di sinilah ia bertemu dengan Jelena untuk yang pertama kali.
Keduanya pun masuk ke dalam villa. Jelena memandang seluruh isi ruang tamu lalu pandangannya beralih ke lantai dua. "Adras, aku tidur di kamar bawa saja ya?"
"Kenapa? Kamu trauma ingat kamar yang di atas? Di atas kan kamarnya ada dua, jadi kita bisa tidur di kamar yang satu."
Jelena menggeleng. "Kamu saja yang di atas. Aku nggak mau di sana." Jelena kemudian melangkah ke salah satu kamar yang ada di bawah. Ia langsung membaringkan tubuhnya lalu tidur. Ia merasa lelah.
Perempuan itu terbangun saat merasakan ada tepukan lembut di pipinya.
"Adras?"
Adras tersenyum. Jelena mengerutkan dahinya. Ia ingat kalau tadi ia mengunci pintunya.
"Kamu ikut dari mana? Pintunya aku kunci dari dalam." tanya Jelena sambil perlahan bangun.
"Memangnya pemilik villa ini siapa?" tanya Adras sedikit sombong membuat Jelena mendengus kesal.
"Ayo makan! Ini sudah jam 7 malam." ajak Adras.
"Aku mau cuci muka dulu." ujar Jelena. Ia memang merasa lapar. Mungkin karena tadi siang ia hanya makan sedikit karena terlalu asyik membaca profil perusahaan.
Saat ia keluar kamar dan menuju ke ruang makan, Adras tak ada di sana. Rupanya, makan malam di atur di sebuah gasebo yang ada di halaman belakang. Jelena pun melangkah ke sana sambil memeluk dirinya karena udara agak dingin.
"Kok makan di sini sih? Udaranya dingin."
"Supaya kita bisa saling menghangatkan." ujar Adras membuat Jelena hanya mencibir.
Di atas meja sudah ada berbagai macam masakan. Jelena pun duduk di atas karpet dengan perut yang sudah keroncongan.
"Siapa yang memasak?" tanya Jelena saat mulai menikmati makanan yang ada.
"Sebelum kita ke sini, aku sudah pesan makanan. Istri paman Raka, namanya bibi Mutia, ia punya warung makan di dekat jalan masuk ke kompleks villa ini. Warung makannya sangat laku. Biasanya kalau malam sudah habis. Makanya aku pesan saja sejak siang. Paman Raka baru saja pergi setelah mengatur makanan ini."
"Enak." ujar Jelena saat satu suapan masuk ke dalam mulutnya.
"Kalau kamu mau, setiap off kerja, kita dapat ke sini."
Jelena menggeleng. "Kalau kamu off hari kerja, nanti aku keseringan bolos kerja."
"Nggak masalah. Kamu kan istri pemilik perusahaan."
__ADS_1
"Aku nggak mau ada sistem KKN walaupun ini perusahaan milik keluarga."
Adras menatap kagum pada Jelena. Ia semakin yakin dengan keinginannya untuk terus menjaga Jelena agar tetap ada bersamanya.
"Aku semakin cinta padamu, Na." ujar Adras dengan suara lirih.
"Villa yang di sebelah kok gelap ya? Nggak ada yang jaga ya?" tanya Jelena untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku juga tadi bertanya pada paman Raka. Ia mengatakan kalau villa itu sebenarnya sudah dijual semenjak peristiwa pembunuhan itu. Namun pemilik yang baru kayaknya nggak betah karena sering diganggu arwah orang yang sudah meninggal itu."
"Peristiwa pembunuhan?" Jelena terkejut. Bulu kuduknya langsung berdiri.
"Iya. Setahun yang lalu, villa yang di sebelah dihuni oleh keluarga yang nampaknya bahagia. Suaminya orang Korea. Aku pernah sekali melihat mereka saat sedang bersepeda. Lalu di suatu pagi, sang suami berteriak kaget karena istri dan anak bungsu mereka meninggal dengan cara leher mereka digorok dengan benda tajam sampai hampir putus. Kata polisi sih pembunuhan karena pencurian. Namun banyak yang mengatakan kalau si suamilah yang membunuh sang istri karena sebenarnya istrinya itu selingkuh dengan sopir mereka."
"Masa sih suaminya tega juga membunuh anaknya."
"Katanya, anak yang bungsu itu adalah anak dari si sopir. Yang pasti, arwah si perempuan sering gentayangan bahkan mengetuk pintu beberapa villa yang ada di sekitar sini."
"Kok kamu mau beli villa yang ada di sini sih?" tanya Jelena sambil melirik ke arah villa yang ada di sebelah.
"Harganya murah. Anggaplah investasi."
Selesai makan, Jelena membantu Adras membereskan meja makan. Setelah mencuci beberapa peralatan makan yang mereka gunakan, Jelena pun duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Ia berusaha membuang perasaan takut karena cerita Adras tentang villa yang ada di sebelah. Jelena pun memilih siaran cerita komedi agar ia bisa larut di dalamnya.
Adras ikut menonton bersama Jelena sambil menikmati cemilan berupa keripik singkong.
"Aku sudah mengantuk." ujar Adras saat jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam.
"Ya. Aku sudah mengantuk. Capek bawa mobil sendiri." Adras berdiri sambil merentangkan tangannya.
"Ya sudah. Tidur sana!" Jelena mengibaskan tangannya seakan mengusir Adras.
"Kamu baik-baik saja kan tidur sendiri?" tanya Adras.
"Memangnya siapa yang takut?" Jelena sok memberanikan dirinya.
"Aku bobo dulu ya...." ujar Adras lalu segera menuju ke lantai dua. Jelena meneruskan untuk menonton TV. Namun tak lama kemudian, ia pun segera ke kamarnya. Udara semakin dingin dan entah mengapa ia merasa kalau bulu kuduknya berdiri.
Namun, sudah hampir satu jam Jelena ada di atas ranjang, rasa kantuk tak juga datang menghampirinya.
Apa mungkin karena tadi sore aku tidur lumayan lama ya??
Jelena meraih ponselnya dan mencoba membaca beberapa artikel tentang perusahaan. Namun ia semakin jauh dari rasa mengantuk.
Tiba-tiba lampu padam. Jelena tersentak bangun dan duduk sambil memeluk lututnya.
"Kok lampunya padam sih?" Jelena bergumam sendiri. Cerita Adras tentang villa di sebelah, mulai membuat ia gelisah. Apalagi dari kejauhan Jelena mendengar ada suara lolongan anjing.
Dengan cepat Jelena menyalahkan senter yang ada di ponselnya. Ia berusaha bernapas secara normal walaupun sebenarnya ia mulai merasakan ada keringat dingin yang membasahi wajah, tangan dan kakinya.
Tak sadar, ia justru menghubungi ponsel Adras. Namun bunyi dering ponsel Adras justru terdengar di ruang tamu. Jelena baru ingat, tadi Adras naik ke atas dan melupakan ponselnya.
__ADS_1
"Aduh...gimana nih? Aliran listriknya kapan jadi sih?" Jelena mulai berbicara sendiri. Sampai akhirnya ia mendengar ada sesuatu yang mengetuk jendela kamarnya.
"Eh....hantu...., aku nggak takut sama kamu!" Jelena berusaha memberanikan dirinya. "Kalau mau jadi arwah penasaran, pergi sana ke Korea. Cari suamimu."
Namun ketukan di kaca jendela kamarnya tak mau berhenti. Jelena pun segera turun dari ranjang. Ia sudah berada diambang batas keberaniannya. Ia segera membuka pintu kamarnya dan dengan cahaya senter, ia berlari menaiki tangga.
"Adras......!" Jelena mengetuk pintu kamar Adras dengan keras. Karena tak ada sahutan, ia pun bergegas membuka pintu kamar. Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat kalau kamar itu kosong. Jelena segera berlari menuju ke kamar yang satunya lagi. "Adras.......!" Jelena langsung melompat naik ke atas tempat tidur. Namun tak sampai 5 detik, ia langsung berteriak histeris saat menyadari kalau di ranjang hanya ada bantal guling. Adras tak ada.
"Ah.......!" Jelena dengan cepat turun dari ranjang dan saat ia berlari, ia justru bertabrakan dengan seseorang.
"Adras tolong.....!" teriak Jelena yang jatuh. Ia langsung menundukkan kepalanya karena tak berani melihat apa yang baru saja ditabraknya.
"Na.....Nana....!" Adras mengguncangkan pundak Jelena.
Jelena membuka matanya. Ia langsung menabrak Adras dan memeluknya. "Adras...., ada orang.....ada orang.....!" Jelena menjadi terbata-bata dalam bicara.
"Orang dimana?" Adras berusaha melepaskan diri dari pelukan Jelena namun perempuan itu begitu erat memeluknya.
"Menge.... tuk...jendela ka....marku."
"Nggak sayang, itu angin yang meniup ranting bunga yang memang jaraknya ada di dekat jendela."
"Nggak ada angin."
"Ayo aku antar ke bawa!"
"Nggak mau!" Jelena menggeleng. "Kamu dari mana saja?"
"Aku tadi keluar untuk menyalahkan genset. Tapi ternyata bensinnya habis. Ayo bangun!" Adras mengajak Jelena untuk berdiri. "Di sini memang aliran listriknya suka padam jika ada angin dan hujan."
Jelena yang masih memeluk tubuh Adras nampak belum bisa menenangkan dirinya sendiri.
"Aku takut."
Adras membantu Jelena duduk lalu meletakan senter yang dipegangnya di atas nakas.
"Kamu mau tidur di mana?" tanya Adras.
"Aku mau tidur di sini!" Kata Jelena lalu segera naik ke atas ranjang. "Adras, ayo ke sini!" ajak Jelena.
Adras pun ikut naik ke atas ranjang dan Jelena langsung memeluk Adras seperti ia memeluk guling. Adras yang tidur terlentang menjadi tak berdaya saat tangan dan kaki Jelena dinaikan ke atas tubuhnya.
"Na, kamu membuatku tersiksa." ujar Adras. Ia berusaha melepaskan dirinya.
"Aku mau kayak gini." Jelena memejamkan matanya. Ia tak menyadari kalau kakinya berada tepat di atas junior Adras.
"Na......!" Adras mendesah frustasi. Ia rasanya tak sanggup lagi menahan dirinya karena Jelena masih saja menggerakan tubuhnya tanpa menyadari kalau hal itu membuat Adras menjadi panas oleh sesuatu yang sudah lama tak dilakukannya.
**********
Bagaimana malam itu berlanjut?
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys