ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Hanya Beberapa Hari


__ADS_3

"Aku baik-baik saja. Hanya kakiku yang terjepit." ujar Adras lalu melepaskan pelukannya. Ia memegang pipi Jelena dan menghapus air mata perempuan itu.


Jelena seperti tersadar akan sesuatu. Ia mundur selangkah dan membiarkan Sofia dan Santi memeluk paman mereka. Jeff dan Marlisa pun ikut memeluk Adras dengan perasaan haru.


"Oma Marlisa memeluk uncle sangat kencang." bisik Santi tak suka. Sofia mengangguk. "Dasar penggoda." kata Sofia.


Adras kemudian di bawah ke rumah sakit untuk diperiksa kakinya. Agung membantu Adras selama di rumah sakit. Kedua pria itu saling bertatapan. Adras sebenarnya ingin bertanya namun ia ingin mencari waktu yang tepat.


Dokter mengijinkan Adras untuk pulang setelah memberikan pengobatan pada kakinya. Adras harus kembali 2 hari lagi untuk melihat hasil pemeriksaan lanjutan pada kakinya.


"Uncle di mobil aku saja." kata Sofia.


Di bantu oleh Agung dan Jeff, Adras pun naik ke mobil Sofia.


"Aunty, ayo naik !"Ajak Santi melihat Jelena hanya berdiri saja di dekat mobil.


"Aunty akan pulang ke cafe." ujar Jelena. Ia menatap Agung. "Agung, boleh mengantar aku ke sana kan?"


"Eh....." Agung nampak bingung saat ia menatap Sofia dan gadis itu melotot ke arahnya.


"Ya, sudah, aku pesan taxi saja."


"Nana, please ....!" Terdengar suara Adras yang memohon padanya. Sofia dan Santi tersenyum senang saat Adras menyebut nama panggilan Jelena dengan panggilan sayang mereka.


"Aku....." Jelena menjadi bingung.


"Please....!" Adras kembali bermohon.


"Hanya 2 hari." kata Jelena lalu segera masuk ke dalam mobil. Marlisa nampak kesal melihat Jelena akhirnya ikut.


Sepanjang perjalanan, mereka saling diam. Tak ada yang bicara sampai akhirnya mereka tiba di rumah.


Bibi Suni langsung menyambut mereka dengan air mata keharuan saat melihat Adras baik-baik saja.


"Tuan, syukurlah kalau tuan baik-baik saja. Dari tadi bibi melihat TV. Katanya ada 7 orang yang meninggal."


Adras hanya mengangguk. Keputusan nya untuk mendaratkan pesawat itu ke persawahan merupakan keputusan akhir yang ia pertimbangkan untuk mengurangi resiko berat yang akan mereka terima jika pesawat jatuh karena kehabisan bahan bakar. Jujur saja, Adras merasa sedih saat mendengar kalau ada 7 orang yang meninggal.


Mereka langsung menuju ke meja makan. Sejak tadi mereka tak makan dan saat ini mereka memang merasa lapar.


Agung tak ikut bersama mereka. Ia pulang ke apartemennya.


Di meja makan, Marlisa nampak sibuk menanyakan kalau Adras ingin makan apa. Ia juga yang sibuk menyiapkan minuman hangat untuk Adras.


Santi dan Sofia nampak kesal melihat gaya Marlisa yang kecentilan namun Jeff terlihat biasa-biasa saja.


Jelena hanya makan sup dan nasi sedikit. Adras yang duduk di sampingnya pun menatap perempuan itu. "Kenapa makannya hanya sedikit?"


"Hanya ini yang bisa masuk ke perutku." jawab Jelena.


"Nggak ingin minum teh manis?" tanya Adras.


Jelena menggeleng.


Santi dan Sofia senang melihat Adras yang perhatian pada Jelena.


Selesai makan, dibantu oleh Jeff dan Sofia, mereka membawa Adras ke kamarnya.

__ADS_1


Hati Jelena bergetar saat ia ikut masuk ke dalam kamar itu. Apalagi saat mereka kini ditinggalkan berdua saja.


"Gantilah pakaianmu. Semuanya masih ada di lemarimu." ujar Adras. Ia sendiri baru saja ganti pakaian.


Perlahan Jelena melangkah ke walk in closet. Semuanya memang masih ada di sana. Ia mengambil sebuah piyama dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Saat keluar dari kamar mandi, Jelena melihat Adras sedang duduk di sofa sambil melihat berita tentang kecelakaan pesawat yang terjadi. Ia nampak serius mengikuti berita itu. Jelena pun duduk di tepi ranjang sambil ikut melihat berita itu.


Beberapa kali Jelena menguap membuat Adras menoleh ke arahnya. "Kamu sudah mengantuk?" pria itu pun mematikan TV nya.


"Iya."


"Tidurlah."


"Aku mau tidur di sofa."


"Jangan tidur di sofa. Kamu sedang hamil. Tidurlah di ranjang. Biar nanti aku yang tidur di sofa." kata Adras lalu segera mengambil bantal dan membaringkan tubuhnya di sofa.


Jelena menatap Adras. Sofanya cukup besar. Namun tetap saja tak nyaman bagi Adras yang bertubuh besar dan tinggi.


"Tidurlah di sini. Kakimu sedang sakit." kata Jelena.


Adras membuka matanya. "Tapi kamu tak boleh juga tidur di sofa."


Jelena hanya mengangguk. Adras pun mengambil kembali bantalnya dan berpindah ke atas ranjang. Keduanya tidur bersebelahan. Jelena langsung memunggungi Adras sementara Adras tidur sambil menatap punggung Jelena. Entah kenapa, ada perasaan lega dalam dirinya saat melihat Jelena ada di sini. Adras pun segera memejamkan matanya dan tidur.


*********


"Good morning, uncle!" sapa Sofia saat melihat Adras yang datang ke meja makan.


"Good morning. Mana Santi?" tanya Adras.


"Ini kan hari Sabtu?"


"Dia ada kegiatan les tambahan menjelang ujian nasional. Pulangnya sekitar jam 1 siang."


Adras mengangguk. Ia menarik kursi dan duduk di kepala meja. Jelena keluar dari dapur dan membawakan kopi untuk Adras. Ia sudah pun sudah mandi.


"Aku pergi kerja dulu." pamit Jelena.


"Pulangnya jam berapa? Biar nanti paman Sule yang jemput." kata Adras. Sofia pun nampak bahagia karena Adras kini semakin terbuka dalam berkomunikasi dengan Jelena.


"Aku selesainya jam 2 siang. Biar saja aku pulang sendiri."


"Jangan! Kamu sedang hamil. Biar saja dijemput oleh paman Sule. Kebetulan paman kan akan menjemput Santi. Arahnya sama. Sekalian saja."


Jelena tak mau membantah. Ia hanya mengangguk dan langsung pergi.


"Uncle, aku mohon, jangan lepaskan aunty Nana. Anak dalam kandungannya adalah pemersatu antara uncle dan aunty. Kenapa sih uncle harus meragukan kalau itu bukan anak uncle? Aunty Nana orang yang baik." Kata Sofia setelah Jelena pergi.


"Uncle akan berusaha memperbaiki hubungan diantara kami." .


Sofia bernapas lega. Ia langsung berdiri dan memeluk pamannya. "Aku tahu uncle pasti akan menyukai aunty Nana."


Adras hanya bisa menepuk tangan Sofia yang memeluknya. Ia sendiri tak tahu dari segi mana ia akan membuka hati untuk gadis itu sementara selama bertahun-tahun ia terus berjuang untuk melupakan perasaan terlarangnya ini. Sesuatu yang sebenarnya tak mungkin namun tak bisa disingkirkannya begitu saja.


"Sofia, panggil Agung ke sini. Uncle perlu bicara padanya."

__ADS_1


Sofia terkejut. "Uncle tahu kalau...."


"Panggil saja. Uncle mau bicara dengannya."


"Baik."


*******


Santi turun dari mobil dan segera masuk ke dalam cafe. Ia akan menjemput Jelena. Tadi ia sudah menelepon dan Jelena mengatakan kalau ia baru saja akan mandi. Gadis itu pun ikut pintu samping. Ia berbicara dengan sahabat Jelena yang mengantarnya sampai ke tangga menuju ke lantai dua. Namun sebelum ia menaiki tangga, pandangan matanya tertuju pada sosok tampan yang sedang duduk di dalam ruangan manager.


Kok kayak oppa Korea ya?


Santi bergumam dalam hati. Tepat disaat itu, Jun menoleh ke arahnya. Lelaki itu tersenyum karena ia tahu itu adalah ponakannya Adras. Hati Santi langsung bergetar menatap senyum manis sang Oppa Korea. Ia membalas senyuman Jun dan langsung menaiki tangga.


"Ada apa?" tanya Jelena yang baru selesai ganti pakaian.


"Ada oppa Korea di bawa. Sangat tampan. Ia duduk di ruangan manager."


Jelena tersenyum. "Namanya Jun. Pemilik cafe ini. Hati-hati lho. usianya sudah kayak uncle Adras. 28 tahun."


"Masa sih? Kok dia terlihat masih kayak ABG gitu."


"Ya. Dia memang kelihatan kayak ABG namun usianya sudah matang."


Santi nampak sedikit kecewa. Namun saat mereka melewati ruangan manager itu, kepalanya masih menengok ke sana. Tapi Jun sudah tak ada.


"Dia tak setiap hari ada di sini. Karena dia punya juga bisnis yang lain. Biasanya hanya satu atau dua jam lalu pergi. Akan kembali 2 atau 3 hari lagi." kata Jelena seolah tahu kalau Santi mencari Jun.


"Oh....." Santi sebenarnya kecewa karena Jun sudah tak ada. Namun saat mereka tiba di tempat parkir, ia justru melihat Jun yang baru saja masuk ke dalam mobilnya. Pria itu kembali tersenyum ke arah mereka. Ia bahkan melambaikan tangannya sebelum pergi.


"Aunty, kok aku merasa jatuh cinta pada pandangan pertama ya?" bisik Santi membuat Jelena melotot ke arahnya.


"Hei anak kecil, sebaiknya langsung saja kau buang perasaanmu itu. Usia kalian beda 11 tahun. Jun pasti sudah punya kekasih."


Santi agak cemberut namun ia kembali hanya diam saja.


Saat tiba di rumah, ruangan tamu sepi. Jelena segera menuju ke kamar. Di sana ia melihat Adras yang sedang duduk sambil membersihkan lukanya.


"Biar aku saja." Jelena langsung mengambil kapas dan alkohol dari tangan Adras dan mulai membersihkan luka Adras.


Adras memperhatikan wajah Jelena yang sedang duduk di hadapannya. Wajah yang polos tanpa make up. Jelena bahkan tak menggunakan lipstik. Wajah yang sederhana itu justru saat ini terlihat menarik di mata Adras. Ia memperhatikan bibir gadis itu. Bibir yang dulu pernah diciumnya.


"Na, tinggallah di sini kembali."


Jelena menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Adras. "Aku hanya akan tinggal selama beberapa hari. Setelah kamu sembuh, aku akan pergi."


Adras memegang tangan Jelena. "Aku mohon."


Jelena merasakan tubuhnya bergetar saat Adras memegang tangannya. Ia benci dengan perasaan ini. Tepat di saat itu, ponsel Adras berbunyi. Jelena dapat melihat ada nama Mike di sana.


"Angkatlah! Kekasihmu pasti ingin menanyakan kabarmu." kata Jelena ketus lalu berdiri hendak meninggalkan Adras. Tapi Adras kembali menahan tangannya.


"Aku mohon, kau yang menjawabnya!" ujar Adras sambil menyodorkan ponselnya di hadapan Jelena.


*********


Bagaimana kisah ini berlanjut?

__ADS_1


Tolong dukung emak terus ya guys


__ADS_2