ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Marlisa yang Gelisah


__ADS_3

Sudah satu jam lebih Marlisa ada di kamar mandi namun belum ada tanda-tanda ia akan keluar.


"Baby, kok mandinya lama sekali? Kamu kan ada pemotretan jam 9?" tanya Jeff sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya, sayang, sebentar." Marlisa sementara berendam di bathtub. Entah sudah berapa banyak sabun yang ia gosokan ke badannya. Rasanya, bau badan Anton seakan tak mau hilang pada hal semalam ia sudah mandi juga setelah mereka bercinta dengan dua ronde yang begitu panjang.


Marlisa ingin membuang pikirannya yang terus memikirkan keberuntungan satpam itu karena bisa merasakan tubuhnya. Bagaimana jika ada yang tahu? Apalagi Jeff? Bisa jatuh harga dirinya sebagai salah satu model ternama ibu kota.


Setelah membasuh tubuhnya di shower, Marlisa pun bergegas keluar kamar.


Jeff nampak sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Pria itu terlihat tampan dengan rambut pirangnya. Marlisa sungguh menyesal. Dan ia mengutuk Jelena karena perempuan itu ternyata tak pergi ke acara itu.


"Kamu kenapa sih?" tanya Jeff sambil memeluk Marlisa dari belakang. Ia mencium tengkuk istrinya. "Sayang, kok baunya lain sih?"


Deg!


Jantung Marlisa bagaikan berhenti berdetak.


"Maksudnya?" Marlisa ingat kalau Anto mencium lehernya semalam begitu lama.


"Kamu ganti sabun ya?"


"Eh....ya ...!" Marlisa sedikit lega.


"Aku lebih suka sabunmu yang kemarin."


Marlisa berbalik dan menatap suaminya. "Tenang saja, sayang. Aku akan kembali memakai sabunku yang lama kalau itu yang lebih kamu sukai." ujar Marlisa lalu mencium bibir suaminya.


"Cepat ganti pakaian ya? Aku tunggu di bawah." Jeff meninggalkan kamar. Marlisa menarik napas lega.


"Sial....! Sial....! Sial....!" Marlisa melemparkan handuk yang membungkus tubuhnya. Saat ia menoleh ke cermin, matanya terbelalak. Di salah satu gunung kembarnya ada sebuah tanda merah. Ia tak menyangka kalau di Anto membuatnya tadi malam. "Dasar satpam sialan! Beruntung sekali dia menikmati gunungku ini. Duh, ingin ku cabik-cabik si Jelena itu."


Sementara itu, Jeff yang baru saja menuruni tangga, mendengar ada bel pintu yang berbunyi. Ia tahu kalau para pelayan sedang ada di belakang. Jeff pun membukanya.


Seraut wajah cantik nampak terpana saat melihat Jeff.


"Hallo.....!" Jeff menggoyangkan tangannya di depan wajah gadis itu.


"Eh....maaf. Aku mencari Santi."


"Temannya Santi ya? Mari masuk!" Jeff melebarkan daun pintu. Ia langsung memanggil Santi.


"Eh, dokter Elina!"


Jeff terkejut saat mendengar Santi memanggil gadis itu dengan sebutan dokter. Ia pun segera ke ruang makan.


"Ada apa dokter ke sini?" Santi senang karena dokter Elina, salah satu asisten dosen datang ke rumahnya.


"Aku kebetulan sedang memeriksa pasien yang ada di sekitar sini. Aku teringat dengan tablet mu yang tertinggal di mobilku dua hari yang lalu. Jadi aku mampir saja sekalian mengembalikannya."


"Wah, terima kasih ya, dok. Dokter sungguh baik."


"Eh, yang tadi itu siapa?" tanya Elina.


"Opa ku. Namanya Opa Jeff. Adik dari almarhumah omaku."


"Ganteng banget."

__ADS_1


"Ih dokter, opa Jeff usianya sudah 52 tahun."


"Memangnya kenapa kalau dia berusia 52 tahun? Aku suka bule. Apalagi bule tampan dan macho seperti dia."


"Opa Jeff memang rajin olahraga. Apalagi istrinya masih muda."


"Oh..., sudah menikah?"


Santi tertawa. "Iya. Dokter nggak cocok ah, naksir opa Jeff."


Elina tersenyum. Entah mengapa pertama kali melihat Jeff, hatinya bergetar. Sesuatu yang belum pernah Elina rasakan sebelumnya.


"Dokter, kami sedang sarapan. Ayo kita sarapan."


"Nggak usah. Aku harus ke kampus. Salam untuk opa Jeff mu ya?" Elina segera meninggalkan Santi yang terkejut.


Dokter naksir opa Jeff? Waw, bisa kebakaran jenggot sih Oma Marlisa.


Santi segera ke ruang makan. Di sana sudah ada Jeff dan Sofia.


"Kemana Adras dan Nana?" tanya Jeff.


"Biasalah opa, uncle Adras kan 5 hari baru pulang jadi mereka berdua mungkin masih kangen-kangenan." ujar Sofia.


Marlisa memasuki ruang makan. Ia duduk di samping Jeff.


"Semoga saja Adras dan Nana hubungannya semakin baik dan Nana bisa hamil lagi." kata Jeff.


"Semalam kami melihat mereka berdua berciuman di dapur. Mesra banget." Santi berujar dengan sengaja karena ia sangat yakin kalau Marlisa sebenarnya naksir Adras.


"Oh ya? Tumben Adras berciuman di dapur. Ia kan sangat menjaga privasinya." Jeff menggelengkan kepalanya.


"Nggak baik di meja makan terlalu banyak bicara. Makanlah cepat, memangnya kalian nggak kuliah?" bentak Marlisa.


Tepat di saat itu, Anto masuk dari pintu samping.


"Maaf menganggu. Di luar ada tamu yang katanya teman nyonya Marlisa."


"Sayang, kayaknya teman-teman mu sudah menunggumu." Kata Jeff.


"Iya." Marlisa berusaha tak melihat Anto.


"Anto, tolong bawakan tas istri saya ya?" ujar Jeff sambil menunjukan tas kerja Marlisa yang ada di dekat tangga.


"Baik, tuan." Anto nampak sumringah.


"Anto, kamu sedang jatuh cinta ya? Kong senyum-senyum sendiri?" tanya Sofia.


"Iya nona. Semalam saya dapat rejeki nomplok." ujar Anto sambil melirik ke arah Marlisa sekilas.


"Dapat cewek cantik ya? Wah Anto, kamu tuh belum lama kerja di sini tapi sudah dapat pacar. Sukses ya ..." goda Sofia membuat Anto semakin sumringah.


Marlisa merasakan kalau jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Ia berdiri dan langsung mencium pipi Jeff. "Sayang, aku berangkat ya?" pamit Marlisa lalu segera meninggalkan ruang makan. Anto mengikuti langkahnya dari belakang.


"Anto, kamu jangan pernah mengatakan pada siapapun tentang peristiwa semalam ya? Semalam itu aku mabuk." kata Marlisa pelan.


"Iya nyonya. Tenang saja. Saya hanya tak bisa tidur semalaman. Selalu terbayang tubuh Nyonya yang indah, mulus dan menggiurkan."

__ADS_1


"Hilangkan semua pikiran itu, Anto. Semalam itu hanya mimpi. Tak pernah terjadi apapun."


"Baik nyonya." Walaupun kecewa namun Anto tak berani membantah.


Marlisa segera naik ke mobil yang menjemput mereka. Moodnya sungguh tak baik.


********


Di kamar, Adras sedang memandang istrinya yang nampak terlelap dalam dekapannya. Hatinya sungguh bahagia karena semalam mereka kembali bercinta dengan sangat manis dan hangat. Dan tadi subuh juga mereka mengulanginya. Adras dibuat gila atas rasa yang sama-sama mereka nikmati. Seolah tak pernah puas walaupun sudah berulang kali mereka mencapai puncak bersama.


Jelena menggeliat. Perlahan ia membuka matanya. Menyadari kalau ia ada dalam dekapan sang suami, Jelena langsung berusaha bangun.


"Tidur lagi jika masih capek, sayang."


"Aku harus ke kantor."


"Nggak masalah jika hari ini kamu libur."


Jelena bangun sambil menahan selimut di dadanya. " Aku harus ke kantor. Aku harap juga kalau kamu mau ke kantor. Ada sesuatu yang akan aku tunjukan."


"Baiklah. Kalau begitu kita akan pergi bersama." Adras segera turun dari ranjang. Tak peduli dengan tubuhnya yang polos, ia melangkah dan mencari pakaiannya yang semalam. Memakainya lagi secara cepat sedangkan Jelena mengenakan juga pakaiannya yang semalam.


Ponsel Adras tiba-tiba saja berdering. Ia mengerutkan dahinya saat melihat kalau itu nomor dari maskapai.


"Hallo.....! Apa? Tapi kan saya baru pulang semalam. Saya masih capek. Baiklah !" Adras terlihat kesal. Ia melihat Jelena yang sedang merapikan tempat tidur.


"Sayang, aku harus terbang hari ini. Salah satu pilot sedang sakit dan mereka tak bisa mempercayakan pilot lain untuk jadwal penerbangan ini. Namun malam nanti aku sudah balik."


"Ok." hanya itu yang Jelena katakan sambil terus merapikan tempat tidur. Adras mendekati istrinya dan memeluk Jelena dari belakang.


"Berhentilah dulu dan lihat aku!"


Jelena membalikan badannya. "Ada apa?"


Adras membelai pipi Jelena. "Aku harap kamu nggak kesal karena aku tak bisa pergi denganmu. Rutenya hanya Jakarta Singapura dan kembali lagi ke Jakarta."


"Ok."


"Hanya ok?"


"Aku harus bilang apa? Itu kan sudah tanggungjawab mu."


Adras memeluk Jelena. "Maafkan aku ya ..."


"Mandilah!"


Adras mengangguk. Ia bergegas ke kamar mandi.


Jelena kembali membereskan tempat tidur yang memang sangat berantakan. Ponsel Adras berbunyi. Tanda ada pesan yang masuk. Jelena melihat kalau itu dari nomor maskapai. Tangannya terulur dan meraih ponsel itu. Ia membukanya. Daftar kru yang akan berangkat dengan Adras. Jelena langsung kesal saat melihat nama Anita sebagai kepala kru kabin penumpang. Ia melepaskan ponsel Adras lalu berusaha menenangkan hatinya.


Saat Adras selesai mandi, Jelena pun gantian mandi. Namun ia tak mengatakan apapun tentang pesan itu.


Adras naik mobil jemputan dari maskapai sedangkan Jelena naik mobilnya sendiri menuju ke kantor. Dalam perjalanan ke kantor, ponsel Jelena berbunyi. Ia membukanya dan matanya langsung terbelalak melihat pesan itu.


*********


Apakah pesan yang Jelena terima?

__ADS_1


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2