ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Restu


__ADS_3

Kepergian Jelena ke kamar Santi membuat Adras merasa kesal. Dia memang tak ingin bercinta malam ini karena tadi siang, dia sudah cukup membuat istrinya lelah dengan 2 ronde yang lumayan panjang. Bagaimana pun Jelena sedang hamil dan Adras tak mau kalau sesuatu menganggu kandungan istrinya.


Tidur sendiri tentulah gak menyenangkan bagi Adras. Ia sering meninggalkan rumah selama seminggu. Tentu saja saat pulang dan memeluk istrinya adalah hal yang paling menyenangkan.


Adras tahu Jelena kesal masalah Santi. Jujur saja Adras masih cemburu dengan Jun. Ia bahkan belum percaya Jun mencintai Santi.


Dengan perasaan kesal, Adras membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia meraih bantal yang biasa dipakai Jelena. Harum tubuh istrinya ada di sana. Di pelukannya bantal itu dan akhirnya memejamkan matanya untuk tidur.


**********


Saat bangun pagi, ia mendengar kalau di kamar mandi ada orang. Adras tahu kalau itu adalah Jelena. Dengan cepat Adras bangun dan langsung membuka pakaiannya, menyisahkan boxer nya. Ia segera membuka pintu kamar mandi dan melihat kalau istrinya itu sedang menguyur tubuhnya dengan air di bawah shower.


"Baby.....!" Adras langsung memeluk istrinya dari belakang. Ia langsung mengusap perut istrinya yang semakin membesar saja.


"Mas, aku nanti terlambat ke kantor." kata Jelena sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Kamu istri dari pemilik perusahaan. Datang jam berapapun tak akan ada masalah." kata Adras lalu semakin erat memeluk istrinya. Ia mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di bahu istrinya.


"Mas.....!" Jelena mulai gelisah. Ia benci pada dirinya sendiri karena Adras memang tahu bagaimana bisa menguasai dirinya.


"Kamu tega sekali karena membiarkan aku tidur sendiri." bisik Adras sambil tangannya mulai bergerilya.


"Mas, aku masih capek."


"Sayang......!" Adras tak menginginkan penolakan Jelena. Ia terus merayu, menggoda dan memainkan jurus-jurus mematikan dan akhirnya sang istri pun takluk dalam balutan gairah yang sama dengannya.


************


Selesai mandi Jelena nampak marah-marah karena Adras meninggalkan tanda merah di lehernya. Ia yang terbiasa menggulung rambutnya ke kantor, kali ini pun belum bisa karena ia harus keramas. Jelena sebenarnya paling tak suka menggunakan kemeja dengan kerak yang tinggi namun kali ini ia terpaksa menggunakan kemeja model baju Cina sehingga bisa menutupi lehernya.


"Kok ditutupi sayang?" tanya Adras menggoda sambil berdiri di belakang istrinya.


"Mas, lain kali jangan tinggalkan tanda merah kayak gini." kesal Jelena.


"Lho, tadi saat aku cium di tempat itu, kamu nggak protes."


"Mas genit ah ...."


"Habis, kamu tuh terlihat lebih menarik dan lebih menggoda dengan perut yang mulai membesar seperti ini."


Jelena membalikan badannya dan menatap suaminya. "Tapi aku masih marah padamu, mas. Semalam Santi menangis terus. Ia sayang banget sama Jun. Aku tahu dari segi usia Santi masih muda. Namun aku tak akan membiarkan ia melangkah sendiri."


"Jangan bahas itu lagi ya?"


Jelena dengan kesal segera mengambil tas nya dan meninggalkan kamar. Adras pun mengikutinya.


Di ruang makan sudah ada Santi dan Sofia juga Jeff.


Adras melihat mata Santi yang sedikit bengkak. Sebenarnya ia kasihan juga. Tapi mau bagaimana lagi? Adras belum rela ponakannya itu menikah.


Selesai sarapan, Adras dan Jelena langsung ke kantor. Hari ini ada rapat pemegang saham dan Adras memang wajib hadir.


Sesampai di kantor, semua pegawai langsung memberikan hormat dan selalu tersenyum saat sang bos datang bersama istrinya. Adras menunjukan rasa kepemilikannya pada Jelena dengan terus memeluk pinggang istrinya itu. Kadang Jelena sebenarnya merasa risi. Namun begitulah Adras. Pria yang dulunya begitu cuek dan terkesan dingin, justru takluk dan menjadi lebay saat bersama istrinya.


Saat rapat pemegang saham, Jelena diminta Adras untuk masuk. Istrinya itu mendapatkan 10% saham dari 57% saham yang Adras miliki. Jelena sendiri cukup terkejut dengan pemindahan saham itu. Uncle Jeff saja yang sudah lama mengelola perusahaan ini hanya memiliki 10 persen saham.


"Sayang, kita makan siang di luar yuk!" ajak Adras setelah rapat selesai.


"Aku kok malas untuk keluar ya? Kita makan di ruangan mu saja ya, mas?"

__ADS_1


Adras mengangguk. Ia tahu Jelena sedang hamil dan tubuhnya akan menjadi lebih cepat lelah. Apalagi tadi pagi Adras sudah memaksakan diri untuk mengajak istrinya itu bercinta.


"Tuan, ada tamu untuk anda." kata Lina, sekertaris Adras yang baru.


"Tamu?" Adras bingung karena setahu dia jika ada tamu yang berhubungan dengan perusahaan maka itu pasti langsung mencari uncle Jeff.


"Hallo tuan Adras Permana. Perkenalkan aku Anggi, maminya Jun."


Adras menatap wanita berwajah oriental yang ada di depannya.


"Anda mau apa?" tanya berusaha bersikap sopan pada wanita parubaya di depannya yang masih terlihat cantik itu.


"Boleh bicara dengan anda, tuan?"


"Silahkan!" Adras menunjuk ruangannya yang memang sedang terbuka. Ia masuk bersama Jelena diikuti oleh Anggi.


Sesampai di ruangan, Anggi langsung duduk di sofa, berhadapan dengan pasangan suami istri itu.


"Istri anda sangat cantik." Pantas saja Jun sempat tertarik pada wanita ini. Tapi Santi juga cantik.


"Ya. Dan saya sangat menyayanginya." kata Adras sambil mengusap perut Jelena.


"Sedang hamil?" hanya Anggi.


"Ya. Kembar 3." Adras nampak bangga mengatakannya.


"Wah, senangnya langsung dianugerahkan anak 3 sekaligus. Orang tua kalian pasti sangat senang karena bisa memiliki cucu."


"Sayangnya, kami berdua sudah yatim piatu." kata Adras.


"Oh, maafkan aku. Aku sendiri juga sudah sangat merindukan seorang cucu. Entahlah apakah aku bisa mendapatkannya dalam waktu dekat ini ataukah tidak. Adik Jun sudah meninggal. Jun anak tunggal. Namun semenjak dia patah hati 5 tahun yang lalu, dia tak pernah dekat dengan gadis manapun. Aku sudah berusaha menjodohkan dia dengan banyak gadis namun tak ada satu pun yang dia sukai." wajah Anggi terlihat sedih. "Saat Jun menyukai seorang perempuan, usianya justru baru 19 tahun. Dan paman gadis itu menyuruh Jun menunggu 5 tahun lagi. Ya ampun...., haruskah selama itu aku menunggu untuk memeluk cucu ku? Bagaimana jika Tuhan sudah memanggilku sebelum 5 tahun itu? Kita semua kan nggak akan tahu kapan kita akan mati." Anggi mulai menangis.


"Nyonya, ponakanku masih terlalu muda. Aku berjanji pada kakakku untuk menjaga Santi sampai ia menjadi dokter. Aku takut pernikahan itu justru akan membuat cita-citanya terhambat." ujar Adras.


Anggi tiba-tiba saja berlutut di hadapan Adras. "Nak Adras, tolong restui Jun dan Santi. Aku yang akan menjamin dengan tanganku sendiri kalau Santi pasti akan menjadi seorang dokter. Sudah cukup anakku menderita selama 5 tahun ini. Nanti mantan kekasihnya mengira kalau Jun nggak bisa move on. Jun sangat mencintai Santi. Dia pasti tak akan mempermainkan Santi."


"Nyonya, jangan kayak gini dong. Masa sih nyonya berlutut di hadapan saya?" Adras jadi tak enak.


"Tolong nak Adras. Tolong restui anakku dengan ponakanmu." Anggi bahkan mencium tangan Adras.


"Astaga....nyonya.....!" Adras terlihat bingung. Ia menatap istrinya. Jelena mengangguk sebagai tanda meminta Adras agar setuju.


"Tapi....!"


"Aku mohon....!" Anggi tak mau bangun. Ia tetap berlutut.


"Baiklah."


Anggi langsung memeluk Adras. "Di berkatikah engkau dan istrimu serta calon buah hati kalian."


Jelena menahan senyum. The power of emak-emak sepertinya mengalahkan kamu, mas.


**********


Santi terkejut saat ia harus berdandan dan mengenakan sebuah gaun yang tak biasa. Gaun bak putri raja.


"Ada apa sih, aunty?" tanya Santi.


"Uncle akan menjodohkanmu dengan pria pilihannya." Jelena bohong. Sofia juga sudah tahu kalau Jun dan keluarganya akan datang malam ini. Mereka sudah meminta Jun untuk tak mengatakan pada Santi.

__ADS_1


"Aku nggak mau!" Santi rasanya ingin menangis.


"Tenang Santi! Pokonya jika keluarga itu datang, kamu langsung berteriak dengan lantang, aku nggak mau. Biar uncle mu itu malu. Aunty juga nggak setuju dengan perjodohan ini." Ujar Jelena diikuti dengan anggukan Sofia.


"Kakak juga nggak setuju. Pokoknya saat turun, kamu jangan menghadap mereka. Kamu kan orangnya muda iba. Hadap ke lain tempat dan langsung mengatakan penolakanmu." Kata Sofia berapi-api.


"Baiklah. Kali ini meman uncle sudah keterlaluan!" Ujar Sant Ia bersemangat karena bibi dan kakaknya mendukung dia.


Bi Suni mengatakan kalau tamunya sudah datang dan Santi diminta untuk turun.


Dengan dada yang bergemuruh dengan rasa marah yang memenuhi rongga dadanya, Santi pun langsung turun di temani oleh Jelena dan Sofia. Santi sengaja menunduk, tak mau melihat tamu yang datang itu.


"Santi....!" Adras mulai berbicara.


"Nggak uncle! Santi nggak mau dengan perjodohan ini. Santi belum mau menikah. Santi masih kecil. Santi menolak." kata Santi memotong ucapan Adras dan ia langsung membalikan badannya untuk pergi. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara yang memanggilnya.


"Sayang .....!"


Langkah Santi terhenti. Ia mengerutkan dahinya. "Oppa?" Ia pun membalikan badannya. Ia terkejut melihat Jun ada di sana dengan keluarganya. Santi menengok ke arah Jelena dan Sofia yang nampak cekikikan.


"Kalau yang ini, Santi siap nikah, uncle. Malah nggak mau lama nikahnya." ujar Santi sambil menetap kedua perempuan yang sudah mengerjainya dengan mata melotot. Awas kalian....!


*********


Jelena akan masuk ke kamar, namun langkahnya terhenti melihat Santi yang sedang duduk sambil menyandarkan bahunya di bahu pamannya.


"Makasih banyak, uncle. Santi janji, pernikahan ini tak akan membuat Santi berhenti mewujudkan harapan mendiang mami Santi dan juga harapan uncle agar Santi jadi dokter." Mata Santi sudah berkaca-kaca.


"Sebenarnya hati uncle masih berat. Namun uncle juga tak mau membuat mu kecewa terus."


Santi menghapus air matanya yang sudah terlanjur jatuh. "Santi akan bahagia. Jika sesuatu terjadi, Santi pasti tak akan pernah down apalagi putus asa. Karena Santi tahu, rumah ini akan selalu terbuka jika Santi ingin pulang."


Adras menarik napas lega. "Kamu yakin Jun mencintaimu?"


"Yakin uncle."


"Nikmatilah kebahagiaanmu. Katakan pada Jun, sedikit saja ia melukai hatimu, maka uncle bukan hanya akan mematahkan tangannya. Uncle juga akan mematahkan kedua kakinya agar ia tak bisa merangkak untuk menemui mu lagi."


Santi memeluk pamannya dan mencium kedua tangan Adras. "Mami di sorga pasti bahagia karena tahu kalau uncle menyayangi aku dan kakak. Good night uncle."


"Good night sayang." Santi langsung keluar kamar. Ia berpapasan dengan Jelena. Santi pun memeluk Jelena. "Jika aunty tak kembali pada uncle, pasti hari ini tak akan ada lamaran oppa Jun untukku." Lalu ia pun meninggalkan Jelena sambil berlari-lari kecil.


Jelena masuk ke kamar. Ia langsung membuka piyama gaun tidurnya dan menyisahkan gaun tidur berwarna hitam yang membuat Adras menelan salivanya saat melihat istrinya itu.


Besok Adras akan terbang kembali. Semalam ia tak berani meminta karena paginya sudah mendapatkan jatah dari istrinya itu.


"Kok gerah ya?" ujar Jelena sambil pura-pura mengibaskan tangannya di hadapan wajahnya. Ia bahkan menurunkan tali gaun tidurnya.


"Sayang...., jangan goda aku." Mohon Adras.


Jelena tersenyum sambil menatap nakal ke arah suaminya. Ia sengaja memasukan jari telunjuknya ke dalam mulutnya seolah sedang mengisap permen lollipop.


"Sayang ......!" Adras berdiri dan mendekati istrinya.


"Malam ini, aku mau memberikan hadiah manis bagi seorang lelaki baik hati yang begitu menyayangi ponakannya." kata Jelena lalu melingkarkan tangannya di leher sang suami. "Mas tahu siapa lelaki beruntung itu?"


Adras terkekeh. "I love you sayang." katanya lalu mencium leher istrinya membuat Jelena tertawa manja. Ah, sungguh indahnya jika istri kapten nggak ngambek ya ...


***********

__ADS_1


2 episode lagi boleh tamat nggak?


__ADS_2