ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Tetap Pada Pendirian


__ADS_3

"Sepanjang hari ini, saya perhatikan kapten Adras nampaknya sangat senang." ujar Kapten Joddy. Salah satu kapten pilot senior di maskapai ini.


"Ya. Saya bahagia karena akhirnya bisa menemukan istri saya, kap."


"Oh ya? Aku memang mendengar kalau jasad itu ternyata bukan istri anda."


"Istri saya terlempar saat bis itu ditabrak. Dia mengalami amnesia." Demikianlah Adras mengatakan pada orang-orang.


"Kasihan ya...."


"Syukurlah sekarang ia sudah menemukan ingatannya. Walaupun aku sedih karena istriku mengalami keguguran."


Kapten Joddy menepuk bahu Adras. "Ikhlaskan kepergian anakmu. Nanti Tuhan akan memberikan anak-anak yang lain. Kamu masih muda, istrimu masih muda. Kalian pasti akan diberikan lagi. Aku saja harus menunggu 12 tahun sampai akhirnya istriku hamil. Sekali diberi langsung kembar 3."


"Iya, Kap. Kini anak-anak kap sudah tumbuh remaja ya."


"Ya. Mereka adalah 3 bidadari kecilku yang kini berusia 12 tahun. Namun di atas semuanya, aku sangat menyayangi istriku. Dia wanita hebat yang tak pernah mengeluh saat mengurus ketiga putri kami. Dia bahkan tak mau menggunakan jasa pengasuh bayi."


Adras mengangguk. Ia memang mengenal istri kapten Joddy itu.


"Adras, kita semua punya masa lalu. Kadang masa lalu itu kurang baik. Namun saat Tuhan sudah memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri, sayangilah dia yang kini bersamamu. Aku tahu kamu bukan gay karena walaupun tersembunyi, namun aku dapat melihat bagaimana caramu memandang Anita dan bagaimana Anita memandang mu."


Adras terkejut saat kapten Joddy mengungkapkan hubungannya dengan Anita.


"Tenanglah. Rahasia mu aman bersamaku. Aku hanya berharap kalau kamu akan menjaga Jelena dengan baik. Ayah Jelena sahabat baik kakakku. Aku mengenal Jelena semenjak ia kecil. Aku yakin, hatinya, secantik wajahnya."


Adras merasa senang karena kapten Joddy ternyata mengenal orang tua Jelena.


Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, Adras singgah di sebuah toko bunga. Ia membelikan bunga untuk Jelena. Baru kali ini ia pulang kerja dan merasakan hatinya berdebar-debar.


Saat ia sampai di rumah, ia langsung mencari Jelena di kamar. Jelena ternyata baru keluar dari kamar mandi. Dan ia berteriak kaget saat melihat Adras sedang duduk di sofa sambil membuka sepatunya.


"Kenapa?" tanya Adras bingung dengan reaksi Jelena.


"Nggak." Jelena memegang handuk yang melilit tubuhnya. Ia melangkah ke arah tempat tidur di mana bajunya sudah ia siapkan di sana. Lalu ia kembali ke kamar mandi untuk ganti baju di sana.


Adras hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kayak aku belum pernah melihatnya saja.


Jelena kembali keluar dari kamar mandi. Ia sudah menggunakan piyama.


"Na, ini sudah jam 9 malam. Kenapa baru Mandi?" tanya Adras.


"Baru pulang dari tempat kost untuk membereskan barang."


"Sendiri?"


"Di temani Santi dan Sofia."


Adras bernapas lega. Bagaimana pun, ia tak mau kejadian yang lalu terulang kembali.


"Baguslah. Pokoknya kalau mau pergi keluar rumah, jangan naik bis lagi."


Jelena yang baru selesai menggunakan handbody, menatap Adras yang masih menatapnya.


"Adras, aku di kamar sini aja ya. Kamu di kamar kamu aja."


Adras. "Nggak mau. Aku ingin di sini juga. Kamarnya kan luas. Ranjangnya juga besar. Aku janji nggak akan menganggu kamu. Lagi pula bagaimana aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku kalau kita tidur di kamar yang berbeda?"


Jelena mendengus kesal. Adras mendekatinya dengan bunga yang tadi dibelinya. "Happy anniversary yang pertama untuk kita, sayang."

__ADS_1


Jelena terkejut. "Anniversary?"


"Ya. Kamu lupa ya kalau ini adalah tanggal pernikahan kita."


"Oh....."


"Kita makan malam di luar, yuk! Kebetulan aku belum makan."


"Aku capek." Jelena membawa bunga itu keluar. Ia mencari vas bunga, mengisinya dengan air lalu meletakan bunga itu di dalam vas.


"Pergi makan kan nggak melelahkan." ujar Adras yang mengikuti Jelena keluar kamar.


"Tapi, aku sudah kenyang. Tadi aku masak."


"Kamu masak?" tanya Adras senang. Ia segera ke ruang makan. Saat ia membuka penutup makanan, perutnya langsung berbunyi. Ia pun segera membuka piring yang masih tertutup di atas meja.


"Temani aku makan, dong."


"Aku ngantuk."


"Ya, sudah. Tidurlah."


Jelena pun segera ke kamar sedangkan Adras menikmati makanan buatan Jelena dengan lahap walaupun sedikit kecewa karena Jelena tak mau menemaninya.


Selesai makan, Adras kembali ke kamar. Ia melihat lampu kamar yang sudah dimatikan. Jelena nampak lelap. Sepertinya ia memang kelelahan karena baru saja selesai membereskan tempat kostnya. Adras melihat ada beberapa barang di kamar ini.


Mata Adras menatap foto kedua orang tuanya yang ada di dinding kamar itu.


"Mommy, daddy, aku ingin bahagia seperti pernikahan kalian yang bahagia. Tolong bantu aku ya?" ucap Adras lirih. Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


**********


"Mulai hari ini, Jelena akan bekerja di perusahaan." ujar Adras saat mereka sarapan bersama.


"Ia akan menggantikan posisi aku sebagai wakil direktur."


Marlisa terkejut. "Tapi kan tugas itu aku yang jalani selama ini."


Jeff menatap istrinya. "Aku minta bantuan kamu karena memang aku nggak punya orang yang bisa kupercayai untuk melakukan tugas ini. Sekarang Adras ingin istrinya kerja di sana, ya nggak masalah sayang. Kamu kan dapat kembali ke pekerjaan kamu sebagai model."


"Tapi Jelena tahu apa? Dia juga baru lulus kuliah kok. Seharusnya ia belajar jadi karyawan biasa dulu." Marlisa jelas tak suka dengan kehadiran Jelena di kantor.


"Marlisa!" Jeff menegur istrinya yang menurut dia sudah kelewatan.


"Karena uncle sibuk dengan tugasnya sebagai pilot, apa salahnya jika istri uncle yang menggantikannya?" Sofia terlihat jengkel dengan Marlisa yang nampak sok berkuasa. Ia lupa kalau perusahaan itu adalah milik orang tua Adras.


"Aku magang dulu deh. Belajar dulu situasi perusahaan bagaimana. Aku kan belum tahu perusahaannya bergerak di bidang apa. Siapa tahu setelah melihat, aku justru nggak tertarik kerja di sana." Jelena berkata dengan santainya. Ia malas berdebat dengan Marlisa yang memang selalu ingin nampak berkuasa.


"Aku akan mengantar kamu ke perusahaan, sebelum akhirnya ke maskapai." ujar Adras lalu menyudahi sarapannya.


"Aunty, ayo ikut kami ke kamar." Sofia langsung menarik tangan Jelena menuju ke kamarnya. Ia ingin Jelena nampak anggun di hari pertama ia masuk ke kantor.


Adras sendiri terkejut melihat dandanan Jelena yang nampak tak biasa. Apalagi Marlisa yang harus jujur mengakui bahwa Jelena terlihat menarik. Jeff bahkan memuji Jelena.


Setelah memperkenalkan Jelena pada staf yang lain, Adras segera ke kantor maskapai.


*********


"Perubahan jadwal?" tanya Adras pada Sherli. Ia adalah manager baru yang menggantikan Mike semenjak Anita bercerai dengan Mike.

__ADS_1


"Iya. Mulai besok, kapten tidak lagi melakukan perjalanan dalam negeri melainkan ke luar negeri. Jadwalnya Jakarta-Sidney, Sidney-Beijing, Beijing-Jakarta."


"Jadi aku akan menginap?"


"Ya."


Adras nampak tak suka. Rute perjalanan itu memang sangat bergengsi namun Adras akan sering meninggalkan Jelena. Bisa jadi 2 atau 3 hari. "Apakah tidak bisa dirubah?" tanya Adras.


"Hanya pilot pilihan yang diberikan jalur penerbangan ini, Kep."


"Terima kasih." Adras meninggalkan ruangan Sherly dengan perasaan yang galau.


Ia kembali ke perusahaan. Di lihatnya Jelena nampak sedang sibuk membaca saat ia masuk ke ruangannya.


Kenapa?" tanya Jelena.


"Nggak."


"Oh...." Jelena kembali membaca.


"Kita pergi ke villa, yuk!"


Jelena kembali menatap Adras. "Aku kan harus kerja."


"Inikan baru pengenalan. Nanti aku berikan akses agar kamu bisa membuka semua data perusahaan dari tablet yang biasa aku pakai. Sekarang temani aku aja. Besok kita pulang."


"Memangnya kamu nggak terbang hari ini?"


"Ada perubahan jadwal dan aku terbang besok jam 4 sore."


"Tapi aku nggak enak."


"Ayolah! Aku ingin menenangkan pikiran ku yang sedang suntuk."


"Pergi aja sendiri."


"Hanya kamu obatnya."


"Obat apa?"


"Menghilangkan gundah hatiku."


Jelena tertawa. "Kamu bisa lebay juga ya?"


"Aku nggak lebay. Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Aku hanya temani ya? Nggak ada macam-macam kan di sana?"


"Aku nggak janji"


"Kalau begitu aku nggak pergi."


"Baiklah aku janji."


"Pergi sekarang?" tanya Jelena.


"Iya. Perjalananya kan memakan waktu 2 jam."


Jelena akhirnya mengikuti keinginan Adras.

__ADS_1


Ada sesuatu yang akan terjadi di sana. Mau tahu apa?


Jangan lupa dukung emak terus ya guys


__ADS_2