
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Adras dengan wajah yang tak ramah.
Surya mendekat lalu meletakan buket bunga yang di bawahnya di atas makam.
"Aku hanya ingin mengunjungi Jelena karena aku akan ke Amerika untuk melanjutkan studiku." Surya ikut berjongkok di depan Adras. Matanya menatap batu nisan yang bertuliskan nama Jelena. Ada foto Jelena juga di batu nisan itu. "Aku pasti akan merindukan sosoknya yang selalu riang gembira."
"Memangnya kau pernah menyukai perempuan lain selain Anita?" tanya Adras sinis.
Surya tersenyum. "Ya. Dalam pandangan pertama pun aku sudah jatuh cinta padanya dan berniat merebut dia dari tanganmu. Sayangnya, dia terlanjur jatuh cinta padamu, walaupun setiap kali aku menanyainya, ia selalu menyangkalnya."
"Kau pun jatuh cinta pada Jelena?"
"Apakah kau cemburu mendengarnya?"
"Tentu saja. Dia istriku."
"Secepat itukah kau jatuh cinta padanya?"
"Sayangnya, aku baru menyadarinya setelah dia pergi."
Surya mengusap permukaan nisan itu dengan lembut. "Dia memang pantas dicintai. Jujur saja, aku patah hati saat dia harus pergi selamanya. Akan lebih baik bagiku melihatnya hidup walaupun bersama dirimu, dari pada melihatnya pergi dan tak akan pernah kembali. Kematian yang datang menjemputnya pun begitu sadis."
Adras menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia hanya bisa menatap nisan Jelena dan berusaha menahan tangisnya.
Surya pun berdiri. "Anita sudah 2 minggu dirawat di ruang insentif. Ia mengalami depresi berat dan berusaha menyakiti dirinya lagi. Aku mohon, jika kamu masih memiliki belas kasihan padanya, jenguklah dia. Paman Ruben sudah membuangnya karena Mike melaporkan kalau Anita berselingkuh. Sekalipun ia tak mengatakan siapa selingkuhan Anita namun bagi paman Ruben itu sesuatu yang memalukan. Aku berusaha membela Anita dengan mengatakan kalau Mike yang salah namun paman lebih percaya dengan Mike karena Mike juga mengatakan pada paman bahwa aku pernah tidur dengan Anita."
Adras diam. Surya pun segera melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia membalikan tubuhnya. "Adras....!"
Adras menoleh. "Ada apa?"
"Apakah kamu yakin kalau yang dibaringkan di dalam situ adalah benar Jelena?"
"Apa maksudmu?" Adras berdiri dan mendekati Surya.
Surya kembali tersenyum. "Entahlah. Mungkin karena semalam aku bermimpi. Aku melihat Jelena yang sedang terbaring di sebuah ruangan rumah sakit. Dan dia menatapku sambil meminta tolong. Seolah dia masih ada di suatu tempat."
"Kalau memang di dalam situ bukan Jelena? Tubuh siapa lagi? Polisi sudah memberikan penyampaian namun tak ada seorang pun yang melaporkan tentang orang hilang. Kalau memang Jelena masih hidup, mengapa dia tak pernah muncul? Mengapa dia tak pernah kembali? Dia tak punya siapapun kecuali aku."
Surya mengangguk. "Aku hanya mengkhayal saja seandainya itu benar."
"Jangan buat aku memiliki harapan. Walaupun berat, aku memang sudah menerima kematian Jelena."
Surya kembali melangkah. Namun baru beberapa langkah, ia berbalik. "Aku mohon, jangan lupa kunjungi Anita." Lalu ia pun benar-benar pergi.
Adras kembali menatap kuburan Jelena. Hatinya kembali merasa galau.
**********
Setelah melalui pertimbangan yang dipikirkan baik-baik, Adras pun hari ini mengunjungi Anita di rumah sakit. Adras terkejut saat melihat Anita yang sudah kurus dan nampak tak bersinar seperti dulu.
"Adras.....!" Anita menangis saat melihat Adras. Ia bahkan langsung bangun dan memeluk Adras dengan erat.
Melihat kondisi Anita yang sangat menyedihkan, Adras pun merasakan hatinya hancur. Bagaimana pun, Anita adalah cinta pertamanya. Wanita itu pernah mengisi hari-hari Adras selama hampir 10 tahun. Mereka punya kenangan manis yang tak bisa dilupakan begitu saja.
__ADS_1
Karena hari ini off, Adras memutuskan untuk menemani Anita di rumah sakit. Ia menyuapi Anita dan terus memberikan nasihat baginya untuk cepat bangkit.
"Anita, hargailah hidupmu sebagai anugerah dari yang Maha Kuasa. Jangan seperti ini."
Anita yang baru saja bangun tidur, merasa kalau tubuhnya semakin fit karena Adras menemaninya. Tidurnya pun sangat nyenyak sehingga ia bisa menghabiskan waktu selama 3 jam untuk tidur siang.
"Adras, mari kita membangun hubungan kita kembali. Aku akan mengurus perceraian ku dengan Mike. Aku nggak peduli lagi walaupun papa sudah membuang ku. Aku hanya ingin meneruskan sisa hidupku bersamamu."
Adras menggeleng. "Jelena benar, kita tak boleh lagi hidup dalam dosa. Sudah saatnya kita memperbaiki diri."
"Aku tak akan menganggu mu sebelum status perceraian ku dengan Mike selesai. Namun setelah aku bebas, aku akan kembali mengejar mu, Adras. Kau pun sudah menjadi pria bebas saat ini."
"Aku tak mau memberikan kamu harapan, An. Jujur, hatiku saat ini hanya ada nama Jelena. Aku hancur dan seakan tak punya kekuatan apa-apa lagi saat Jelena harus pergi dengan cara yang sangat menyedihkan. Aku bukan hanya kehilangan dia, tapi juga kehilangan anakku."
Walaupun terlihat kecewa, Anita pun tersenyum. "Aku tahu. Namun aku akan berjuang kembali untuk menyatukan harapan kita yang dulu pernah kita bangun bersama."
Adras menepuk punggung tangan Anita yang digenggamnya. "Aku pulang dulu ya? Besok aku ada penerbangan pagi jadi jam 5 aku harus berada di bandara."
Anita mengangguk. "Semangat Adras. Aku selalu berdoa untukmu."
Adras mengangguk. Ia pun segera meninggalkan kamar perawatan Anita.
*******
Santi memperhatikan Jun yang nampak sedang berbicara dengan karyawan nya. Pria itu terlihat semakin tampan di mata Santi.
Hari ini adalah hari kelulusan mereka dan Santi bersama teman-temannya merayakannya di cafe ini.
"Oppa Jun!" Santi pun memberanikan diri mendekati Jun saat dilihatnya pria itu sedang sendiri.
"Ada apa?" tanya Jun dengan senyum manisnya yang membuat Santi jadi panas dingin.
"Boleh kita bicara?"
"Boleh!" Jun mempersilahkan Santi duduk di depannya.
Santi pun menarik kursi yang ada di depan Jun dan duduk di sana. Ia sempat menoleh ke arah 4 teman ceweknya dan semua mengangkat jempol seolah memberi semangat kepada gadis itu.
"Nggak apa-apa kan aku panggil oppa Jun?"
Jun tersenyum. "Aku suka. Karena semua keluargaku baik yang ada di sini maupun yang ada di Seoul memanggil ku seperti itu."
"Hari ini aku ulang tahun yang ke-18."
"Oh ya? Selamat ulang tahun ya?" ujar Jun sambil mengulurkan tangannya.
Santi senang bisa menggenggam tangan Jun.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Santi menarik napas panjang. "Karena aku sudah 18 tahun, aku pikir, aku harus berani mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku."
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Jun sambil menatap Santi dengan serius.
"Aku jatuh cinta padamu, oppa Jun."
Jun terkejut. Ia tak menyangka kalau gadis yang baru berusia 18 tahun ini berani menyatakan cinta padanya.
"Oh...begitu ya...." Jun tak tahu harus bicara apa. Jujur, ia merasa sok.
"Ya. Kata teman-teman ku...." Santi sempat menoleh ke arah teman-temannya. "Aku harus berani mengungkapkan perasaan ini. Karena rasa cinta tak boleh dipendam. Bukan persoalan apakah cinta kita akan dibalas atau tidak, namun kita harus berani jujur untuk mengakui perasaan kita."
Jun hanya bisa mengangguk. "Terima kasih karena kau sudah mencintai aku. Namun aku mencintai orang lain. Aku pun ingin jujur padamu."
Santi mengangguk. Walaupun pancaran matanya terlihat kecewa, namun dia tetap memberikan senyum terbaiknya.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke teman-teman ku dulu ya?"
Jun mengangguk. "Oh ya, karena hari ini kamu ulang tahun, semua pesanan kalian gratis. Makanlah apa saja yang kalian mau."
"Terima kasih oppa Jun!" Tanpa diduga, Santi mencium pipi Jun lalu sedikit berlari, ia kembali ke meja sahabat-sahabatnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Wulan.
Santi mengangguk. "Dia mencintai orang lain. Tak apalah, selama dia belum menikah. Kita masih punya harapan kan?"
"Yes ....! Semangat.....!"
Santi menahan air matanya agar tak jatuh. Ia berusaha menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Sebentar malam, uncle nya berjanji akan makan malam di restoran. Dan Santi juga bisa memanggil sahabat-sahabatnya.
**********
5 bulan setelah kecelakaan itu....
Adras baru saja pulang. Saat ia turun dari mobilnya, ia terkejut melihat ada sebuah mobil yang tak dikenalnya dan mobil polisi terparkir di halaman rumahnya.
"Selamat siang kapten Adras. Saya Letnan Ginting yang menangani kasus kecelakaan bis yang terbakar itu."
"Oh iya. Saya ingat." Adras pun duduk di hadapan mereka. Di samping Letnan Ginting, ada seorang lelaki yang berusia sekitar 50 tahun.
"Namanya tuan Darmo. Beliau dari Lombok. Ia mencari anak perempuannya yang merantau ke Jakarta. Sudah 5 bulan anaknya itu tak memberi kabar. Usia anaknya 23 tahun dan berambut panjang. Menurut rekan-rekan tempat kos anaknya, pagi itu, anaknya yang bernama Miana, pamit pergi bekerja. Sehari-hari ia akan naik bis dengan jurusan yang sama seperti bis yang mengalami kecelakaan itu. Makanya, jika kapten Adras mengijinkan, maka kami akan menggali makam istri kapten, untuk memastikan kalau itu memang bukan Miana."
Adras terkejut. "Tapi, kalau memang terbukti jenasah itu bukan istri saya, lalu kemana istri saya? Tak mungkin kan ia menghilang begitu saja."
"Kami akan menyelidikinya melalui rekaman CCTV di tempat kejadian." ujar Letnan Ginting.
Adras bingung. Haruskah ia membiarkan makan Jelena dibongkar?
**********
Hallo guys.....
Semoga tetap suka cerita ini ya...
love you all : A
__ADS_1