ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Berita Tahu Aku, Jun


__ADS_3

Pihak maskapai menolak surat pengunduran diri dari Adras. Mereka meminta Adras untuk memikirkan kembali keputusannya untuk resign. Dan mereka memberikan Adras waktu selama 2 minggu.


Maskapai tempat Adras bekerja memang salah satu maskapai yang sangat diminati oleh semua pilot yang ada. Bukan hanya gajinya yang tinggi, melainkan juga pesawat-pesawat nya adalah yang paling canggih.


Selama 5 tahun terakhir ini, maskapai tempat Adras menjadi maskapai yang paling diminati oleh para pengguna pesawat karena memang pelayannya yang bagus.


Namun tekad Adras sudah bulat. Ia ingin memperbaiki semuanya dengan Jelena. Ia akan terus mengejar istrinya itu. Ia memang sengaja membiarkan Jelena pergi. Ia tahu Jelena memang orangnya keras kepala. Makanya Adras tak mau menekannya untuk terus bersama Adras saat ini. Tunggulah sampai amarah Jelena reda sehingga bisa bicara lagi dengan kepala dingin.


Di kantornya, mata Adras menatap berkas laporan yang Jelena tinggalkan. Ia pun mengambil berkas itu dan mencoba membacanya lagi.


*********


Jun terkejut melihat Santi yang datang ke cafenya hari ini. Sebenarnya sudah beberapa bulan Santi tak pernah lagi ke sini. Melihat penampilan Santi saat ini, membuat Jun melihat kalau Santi semakin dewasa. Tak ada lagi wajah imutnya. Ia menggunakan celana hitam berbahan kain dengan kemeja biru. Rambutnya digulung ke atas. Menggunakan make up natural. Jun baru menyadari kecantikan Santi.


"Hallo Santi!" sapa Jun.


"Hallo kak!" Santi menjabat tangan Jun. Ia tersenyum manis.


"Mari silahkan duduk. Sudah lama juga kamu tak ke sini ya?"


"Aku sibuk, kak. Ternyata menjadi mahasiswa kedokteran itu nggak sesantai mahasiswa fakultas lain."


"Waw, kau calon dokter?"


Santi mengangguk.


"Kak, aku ingin bertanya di mana aunty Nana berada?"


Jun diam sesaat lalu akhirnya ia bicara. "Dia nggak sama aku."


"Tapi aku yakin kalau kakak pasti tahu di mana dia berada."


Jun menarik napas panjang. Sebenarnya ia sudah berjanji pada Jelena untuk tak mengatakan apapun.


"Kak, aku tahu kalau kakak menyukai aunty Nana. Namun aunty Nana menyukai uncle Adras."


"Jelena tak mencintai Adras. Kalau dia mencintainya maka dia tak akan pergi."


"Tidak. Dia mencintainya. Aunty Nana hanya bingung saja karena ia belum percaya pada uncle Adras."


"Mengapa kamu begitu yakin kalau Nana mencintai Adras?"


"Karena aku melihat mata aunty Nana yang terluka saat meninggalkan rumah."


"Tahu apa kamu tentang luka?"


Santi menatap Jun tanpa berkedip membuat lelaki itu justru salah tingkah. "Karena aku juga merasakan hal yang sama saat cintaku bertepuk sebelah tangan. Hanya bedanya, aku mau membuka hati untuk menerima bahwa semuanya memang tak akan sama dengan yang kita harapkan. Sedangkan aunty Nana pergi karena ia takut membuka hati untuk uncle Adras."

__ADS_1


Jun menatap Santi dengan rasa kagum karena kedewasaan gadis itu.


"Aku yakin, kalaupun saat ini aunty Nana mendapatkan perlindungan dari kak Jun namun hatinya masih milik uncle Adras." lanjut Santi membuat Jun semakin tersadar akan sesuatu yang selama ini diam-diam masih ia harapkan saat bersama Jelena.


"Hari ini, Jelena akan pergi ke Seoul. Pesawatnya akan berangkat satu jam lagi."


Santi terkejut. Ia langsung berdiri dan melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah ia kembali dan berdiri di dekat Jun.


"Terima kasih oppa Jun." ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu ia menunduk dan mencium dahi Jun. "Bye ....!"


Jun terkejut saat menerima ciuman Santi. Ia memegang dahinya dan entah mengapa ada sesuatu yang bergetar di hatinya. Nggak mungkin! Kata hati Jun lalu segera menoleh ke arah para karyawan yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


********


Adras bergegas melajukan mobilnya ke bandara ketika Santi meneleponnya dan mengatakan bahwa Jelena akan berangkat ke Seoul. Santi sendiri juga sedang ke bandara dengan menggunakan taxi.


Ada rasa kesal dalam hatinya karena orang suruhannya ternyata tak mengetahui kalau Jelena akan pergi.


Begitu tiba di bandara, Adras segera berlari ke arah pintu masuk. Matanya langsung tertuju di papan informasi.


Adras menelepon temannya yang bekerja di bagian informasi untuk menanyakan mana pesawat yang akan menuju ke Seoul karena Adras tahu tak ada pesawat yang langsung ke Seoul. Hanya ada pesawat transit.


Setelah mendapatkan informasi itu, Adras pun bergegas berlari ke arah gate. Dengan menunjukan identitasnya sebagai pilot, Adras bisa masuk dari pintu masuk khusus kru pesawat karena beberapa penjaga pintu memang sudah mengenalnya.


Langkahnya tertuju ke gate A3.


"Jelena.....!" panggil Adras saat melihat istrinya itu yang baru saja akan melangkah memasuki gerbang keberangkatan. Jelena terkejut melihat Adras yang berdiri di sana. Wajah lelaki itu terlihat lelah dan kurang tidur.


"Jadi begini akhirnya? Kamu akan pergi tanpa mengatakan apapun? Aku masih suamimu.' Kata Adras sambil menahan perasaannya yang begitu hancur saat ini.


"Aku harus pergi, Adras."


"Kenapa harus begitu jauh? Apakah kamu sama sekali tak ingin melihat aku lagi?"


"Aku mengejar mimpiku."


Adras tersenyum kecut. "Apakah tak ada aku dalam mimpimu?"


Jelena menggeleng.


Adras mengangguk dengan wajah yang sangat kecewa. "Aku tak akan menahan langkahmu. Pergilah!"


Jelena menahan air matanya agar tak keluar dari sudut matanya. Ia tadi berpikir kalau Adras akan menahan langkahnya. Entah mengapa ia menjadi kecewa.


"Pergilah, kejar apa yang kau inginkan. Semoga suatu saat nanti ketika kau menyadari perasaanmu padaku, kan akan tahu apa arti mengakui perasaan itu." ujar Adras.


Jelena masih terpaku menatap Adras. Justru sekarang ia merasa ragu untuk pergi. Tatapan Adras yang terluka membuat hatinya juga ikut terluka.

__ADS_1


"Pergilah! Aku tak akan menahan mu."


Tangan Jelena bergetar saat memegang tali tas punggungnya.


"Semoga ketika kau menyadarinya, itu belum terlambat diantara kita berdua. Karena aku adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan. Aku tak tahu apakah aku sanggup menunggumu tanpa ada kepastian. Pergilah! Aku pasti akan menandatangani berkas perceraian itu sehingga statusmu menjadi jelas jika memang kamu ingin membuka hati untuk seseorang."


Air mata itu akhirnya jatuh. Jelena tak bisa menahannya lagi. Terdengar panggilan kedua bagi para penumpang yang akan pergi. Jelena langsung membalikan badannya dan sedikit berlari memasuki gerbang A3.


Adras pun tak bisa menahan air bening itu jatuh ke pipinya. Ia menghapusnya dengan kasar. Pergilah, Na. Satu hal yang aku tahu, kamu mencintai aku.


Ketika pesawat akhirnya take off, tangis Jelena semakin tak bisa ditahannya lagi. Namun ia tak mungkin kembali. Ia harus kuat untuk mengejar apa yang menjadi mimpinya.


Di depan pintu masuk, Santi akhirnya menemukan Adras.


"Uncle, mana aunty Nana."


"Sudah pergi."


"Apakah uncle tak sempat menemuinya?"


"Sempat."


"Kenapa uncle tak mencegahnya?"


"Biarkan saja Nana pergi."


"Uncle...!" Santi terlihat kesal.


Adras memeluk ponakannya itu. "Ayo kita pulang."


"Tapi uncle....!"


"Ayolah!" Adras menarik tangan Santi untuk segera menuju ke tempat parkir.


**********


Jeff menatap laporan keuangan yang ditinggalkan Jelena di mejanya. Ia membukanya dan membacanya lagi. Mengapa Jelena menuduh kalau uang 7 M itu masuk ke rekeningnya?


Jeff memiliki 4 rekening bank di Indonesia dan 2 rekening bank di Amerika. Semua aliran dana yang masuk ke rekeningnya pastilah ia tahu melalui mobile banking yang ada. Tiba-tiba Jeff ingat sesuatu. Dulu, saat menikah dengan Marlisa, ia pernah membuka rekening atas namanya. Tapi bukankah menurut Marlisa, rekening bank itu sudah berbalik nama atas nama Marlisa?


Jeff segera meminta asistennya untuk mengecek rekening itu bersama dengan aliran dana yang keluar dan masuk.


**********


Pasti ada yang bertanya, kenapa sih Adras membuatkan Jelena pergi?


Kenapa sih Adras nggak berjuang?

__ADS_1


Mengapa sih Jelena kayaknya egois banget?


Emak berpikir kalau Jelena harus dihajar sedikit kayaknya he....he.....


__ADS_2