
Kedua insan yang berlawanan jenis itu seakan terbakar dengan panasnya gairah yang tak bisa lagi mereka tahan. Jelena benar-benar dibuat kehilangan kontrol atas dirinya. Adras kali ini bersikap manis dan sangat lembut. Merayu Jelena sedikit demi sedikit dan belum masuk pada permainan intinya.
"Jelena.....! Jelena.....!"
Adras tak ingin menanggapi panggilan itu namun Jelena justru menggunakan kesempatan itu untuk lepas dari Adras.
"Aunty Marlisa." kata Jelena.
"Biarkan saja." Kata Adras lalu kembali mencium leher istrinya.
"Jelena....! Jelena.....! Ada tamu di bawah. Katanya ia adalah sepupumu." terdengar sekali lagi suara Marlisa.
Jelena langsung mendorong tubuh Adras dan ia duduk.
"Na, pelan sedikit. Kamu kan sedang hamil." Adras terlihat sedikit jengkel.
Jelena menatap jam dinding yang menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Ada apa sampai Bardi ke sini? Bukankah mereka sudah menandatangani surat pernyataan untuk tak menganggu Jelena?
"Sepupumu? Kamu punya sepupu?" tanya Adras.
Jelena turun dari ranjang tanpa menjawab pertanyaan Adras. "Aku akan keluar. Sebentar." ujar Jelena sambil memakai lagi pakaiannya. Ia menyisir rambutnya sebentar dan mengikatnya lalu menengok ke arah Adras yang masih duduk di atas ranjang sambil menatap nya. Tubuh pria itu hanya menggunakan boxer nya.
Jelena pun membuka pintu kamar. Untungnya kamar Adras ini ketika pintu di buka, pandangan mata tak akan langsung tertuju ke ranjang. Ada lorong tempat lemari walk in closet berada.
Marlisa memperhatikan Jelena dengan seksama. "Lama sekali bukanya." ketus Marlisa.
Jelena hanya tersenyum. "Namanya juga pasangan yang masih muda. Panas membara." ujar Jelena lalu segera menuju ke lantai bawa sambil menahan tawanya melihat wajah Marlisa yang kesal.
Bardi sedang duduk di kursi ruang tamu saat Jelena datang menemuinya.
"Mengapa kamu datang ke sini?" tanya Jelena.
"Wah, kamu sudah sombong semenjak menikah dengan orang kaya."
"Mereka sudah buat perjanjian dengan paman dan bibi untuk tak menganggu aku. Lalu mengapa sekarang kamu ke sini?"
"Aku butuh uang Jelena. Ayah sedang sakit. Kami membawanya ke rumah sakit. karena dokter yang ada di desa mengatakan bahwa fasilitas puskesmas tak akan bisa menolong ayah."
"Paman sakit?" Jelena heran. Setahunya pamannya itu adalah orang yang tak pernah sakit.
"Iya. Sakitnya parah Jelena. Apakah kamu tega membiarkan ayahku meninggal?"
"Uang yang diberikan pada kalian sangat banyak, Bardi. Memangnya itu telah habis hanya dalam beberapa bulan?"
"Ah....dasar kamu, pelit. Memangnya kamu lupa siapa yang membiayai kehidupan kamu setelah kedua orang tuamu meninggal?"
"Kamu pikir aku tak bekerja untuk membiayai hidupku? Sejak usia 12 tahun aku sudah bekerja, menjadi penjual koran, mengamen, bahkan menjadi tukang bersih-bersih di rumah orang. Aku tahu pernah mengambil upahku sedikitpun. Semuanya ku berikan pada bibi."
Adras tiba-tiba muncul di belakang Jelena. Ia menatap Bardi dengan tatapan tak suka. "Di rumah sakit mana ayahmu di rawat?" tanya Adras sambil melingkarkan tangannya di pundak Jelena. Ia mau menunjukan perlindungannya pada istrinya itu.
Bardi menyebutkan salah satu rumah sakit pemerintah.
__ADS_1
"Pergilah. Besok pagi salah satu karyawan ku akan ke rumah sakit itu. Semua biaya pengobatan rumah sakit ayahmu akan kami tanggung."
"Baiklah. Tapi bagaimana dengan biaya hidup kami selama di Jakarta?" tanya Bardi.
"Bardi! Kamu sungguh keterlaluan." Jelena nampak emosi.
"Tunggu sebentar." Adras menuju ke ruang kerjanya. Sedangkan Marlisa yang sejak tadi mengintip dari ruang keluarga segera mengejar langkah Adras.
"Adras...., mengapa kamu membiarkan keluarga Jelena memeras mu?" tanya Marlisa.
"Keluarga Jelena sudah menjadi keluargaku juga." Jawab Adras lalu segera masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu kembali sebelum Marlisa mengikutinya terus.
"Bardi, memangnya kamu tak punya pekerjaan sampai harus datang padaku?" tanya Jelena saat Adras telah pergi.
"Apa gunanya punya sepupu yang kaya?"
"Bardi!"
Adras kembali dengan sebuah amplop berwarna coklat. "Ini. Pergunakan dengan bijak. Karena aku tak akan memberikannya lagi. Ingat surat perjanjian yang dibuat oleh orang tuamu. Kalian tak akan pernah menganggu kehidupan Jelena lagi." kata Adras tegas dengan sikap dinginnya.
Bardi langsung menyambar amplop itu dan membukanya. Ia kemudian tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu ya." Lelaki itu pun pergi dengan tidak tahu malu.
"Kamu memberikan uang berapa?" tanya Jelena. Ia merasa tak enak.
"5 juta."
"Jangan diberi lagi."
"Aku melakukannya supaya kamu tak dianggap sombong."
"Sudahlah. Jangan kesal karena mereka. Itu tak bagus untuk kehamilanmu. Sebaiknya sekarang kita istirahat saja." Adras langsung melangkah dan Jelena mengikutinya dari belakang.
Saat mereka tiba di kamar, Jelena pun menatap Adras. "Kamu tahu uang yang diberikan pada paman dan bibiku?" tanya Jelena.
Adras mengangguk. "Setelah terbongkar skenario yang Sofia susun, paman Rian menceritakan padaku. Termasuk uang yang diberikan pada paman dan bibimu."
"Sofia dan Santi telah mengorbankan uang warisan mereka agar aku bisa bebas dari kekejaman paman dan bibiku." Jelena duduk di tepi ranjang dengan wajah sedih. "Aku nggak mau mereka menganggu keluarga kalian. Besok aku akan ke rumah sakit dan memperingati paman dan bibiku."
Adras ikut duduk di samping Jelena. Ia tahu kalau Jelena sangat baik hati. Makanya ia tulus membantu Santi dan Sofia untuk bisa menaklukan Adras.
"Aku mau tidur." Jelena segera naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya. Hamil memang membuat ia mudah merasa lelah dan mengantuk akhir-akhir ini.
Adras pun ikut berbaring di sampingnya. Keduanya saling diam sambil menatap langit-langit kamar.
"Na, kamu sudah mengantuk?" tanya Adras.
Jelena melirik ke arah Adras. "Memangnya kenapa kalau aku sudah mengantuk dan mengapa juga kalau belum mengantuk?"
Adras tersenyum. "Boleh kita lanjutkan yang tadi?"
Jelena menelan salivanya. "A...aku sudah mengantuk."
__ADS_1
"Baiklah." Adras menekan tombol lampu yang ada di atas nakas. Lampu baca dan lampu utama pun mati, meninggalkan sebuah lampu kecil yang ada di sudut kamar.
Jelena memejamkan matanya. Entah mengapa ia merasa kasihan dengan Adras. Kok aku merasa kasihan dengan Adras ya? Apakah dia tersiksa? Apakah dia sungguh menginginkan aku? Mengapa juga aku peduli?
Jelena menarik napas panjang. Ia membalikan badannya. Ia kembali terkejut melihat Adras sedang tidur miring menghadap ke arahnya. Walaupun suasana dalam kamar lampunya temaram, namun pandangan mata Adras bagaikan menusuk hatinya dan membuat Jelena kembali merasakan meriang.
Tangan Adras terulur. Ia membelai wajah Jelena. Tangan Adras terasa sangat dingin di wajah Jelena.
"Kamu mau?" tanya Jelena. Entah mengapa pertanyaan itu meluncur satu mulut Jelena. Namun sedetik kemudian, dia merasa menyesal telah bertanya karena Adras sudah menciumnya dengan keras dan penuh tuntutan.
********
Jelena bangun pagi dan segera mengeluarkan lagi isi perutnya. Adras yang juga masih tertidur di sampingnya ikut bangun mendengar Jelena yang muntah terus.
Ia meraih celananya dan mengenakannya lagi. Baru saja ia akan pergi ke kamar mandi, dilihatnya kalau ponselnya menyala. Ada panggilan dari Adam. Adras sebenarnya ingin mengabaikannya namun panggilan itu terus berbunyi sehingga Adras pun menerimanya.
"Ada apa?" tanya Adras.
"Sebaiknya kalian bertemu. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi."
"Kakiku masih sakit."
"Hanya sebentar saja, Kap. Aku mohon."
Adras menarik napas panjang. "Baiklah."
Jelena keluar dari kamar mandi sambil memegang perutnya. Ia nampak sangat lesu. Adras meletakan ponselnya dan langsung mendekati Jelena.
"Kamu merasa pusing?" tanya Adras.
"Tidak. Aku hanya merasa sedikit lelah."
"Tidur saja."
"Aku harus kerja."
"Minta ijin saja."
Jelena duduk di atas sofa. "Aku mau istirahat sebentar."
Adras menatap Jelena yang duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Lelaki itu tersenyum melihat ada tanda merah di leher Jelena.
Semalam, mereka melaluinya dengan manis. 2 ronde yang sangat panjang Wajarlah kalau pagi ini Jelena merasa lelah.
********
"Tugasmu adalah melenyapkan Jelena. Ingat, bukan hanya melukainya namun melenyapkannya. Harus MATI!"
"Baik tuan!"
********
__ADS_1
Hallo semua....
semangat terus bacanya.....