ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Nagih Janji


__ADS_3

Tak bisa dilukiskan bagaimana bahagianya Adras malam ini. Jelena yang minta duluan, Jelena yang mendominasi permainan dan Jelena yang merayunya habis-habisan. Apakah mungkin karena Jelena sedang hamil sampai akhirnya ia menjadi agresif? Entahlah. Yang pasti Adras justru yang ketakutan saat melihat bagaimana istrinya itu bergerak bebas di atasnya dengan suara-suara yang menggoda.


"Sayang, ingat baby-nya." bisik Adras sambil berusaha menahan dirinya untuk bisa bertahan.


"Aku tahu mas. Diam saja. Jangan cerewet!"


Keduanya pun semakin larut dalam gairah yang sudah tak terbendung lagi karena beberapa bulan ini tak bersama.


Sampai akhirnya Adras tak tahan lagi dan ia pun mencapai puncak kenikmatannya bersamaan dengan Jelena yang mendapatkan juga pelepasannya.


Jelena melepaskan penyatuan mereka lalu berbaring di samping suaminya. "Aku capek, mas!"


"Ayo ke sini!" Adras meminta istrinya untuk tidur di lengannya. Jelena pun merapatkan tubuhnya pada Adras dan memeluk suaminya itu.


"Tidurlah sayang. Kamu itu sungguh luar biasa malam ini. Aku sampai takut dengan baby kita." ujar Adras sambil mengusap punggung istrinya.


"Apaan sih, mas." Jelena mencubit perut Adras. "Memangnya mas nggak menikmati?"


"Menikmati sekali dong sayang. Kalau nggak mengingat kamu yang sedang hamil, mana mau mas hanya dua ronde saja."


"Ih...., mas genit."


"Hanya sama kamu kok mas kayak gini."


"Nanti besok lagi ya?"


"Besok?"


"Iya. Besok lagi kita bercintanya."


"Ah, kamu ini. Mana mungkin mas menolak?"


Keduanya tertawa bersama.


"Mas, aku mulai kedinginan."


Adras bangun dan menarik selimut lalu memeluk istrinya lagi di bawa selimut. Tangannya mengusap perut Jelena. "Anak daddy, bobo ya, supaya mommy juga bisa bobo dengan nyenyak."


Jelena memejamkan matanya. "I love you kapten Adras."


"I love you too Nyonya Adras." bisik Adras lalu ia pun mulai jatuh ke alam mimpi.


***********


Santi dan Sinta pun sarapan bersama di pagi ini dengan perasaan lega. Kemarin mereka begitu tegang dengan apa yang terjadi dan semuanya bisa terlewati.


"Kamu tahu nggak, pengikut uncle Adras di akun IG dan Chanel YouTube nya bertambah. Pada hal kita sudah lama kan nggak mengunggah video baru. Apalagi setelah uncle Adras kayak nggak ada semangat semenjak ditinggalkan oleh aunty Nana. Sekarang mereka akhirnya bersama. Nggak sabar sebenarnya mau menunggu mereka pulang." ujar Sofia.


"Iya. Aku juga nggak sabar ingin ketemu dengan mereka. Oh ya, opa Jeff kemana ya?"

__ADS_1


"Semalam sih opa pulang. Namun kayaknya pergi lagi. Tadi saat aku selesai lari pagi, aku nggak melihat mobilnya di garasi."


"apa opa bersama dokter Elina ya?" tanya Santi.


"Jadi beneran dokter sama opa Jeff? Wah, beruntung banget dong opa. Dokter Elina itu cantik, masih muda dan anak orang kaya pula. Kok dia mau sih sama opa."


"Opa kan ganteng. Badannya kekar. Rajin olahraga dan pola makannya terjaga. Opa nggak merokok. Ada teman SMA aku yang menjadikan opa sebagai fantasinya saat ia main solo."


Sofia terkejut. "Oh ya? Teman kuliah aku juga memang ada yang naksir opa."


"Semoga aja kali ini opa nggak akan berpaling pada yang lain ya?"


Kedua gadis itu pun mengangguk. Ponsel Santi berbunyi. Ada sebuah pesan masuk. Ternyata dari Jun.


Sayang, jika paman Adras mu sudah kembali ke Jakarta, tolong kasih tahu aku ya? Karena orang tuaku akan segera melamar kamu.


Deg! Santi menelan salivanya. Ya Tuhan, bagaimana ini?


*********


Di apartemen Elina, Jeff baru saja selesai mencuci peralatan makan. Elina semalam demam dan ia menelepon Jeff untuk menemaninya.


Jeff merawat Elina dengan penuh kasih. Ia sungguh senang karena gadis itu begitu manja dan tak mau melepaskan tangan Jeff sepanjang malam.


"Hei baby....!" Elina keluar kamar.


"Beb,memangnya kamu sudah merasa baik? Kok keluar kamar sih?" Jeff langsung mendekat dan ia dengan segera mengangkat tubuh Elina lalu membawanya ke sofa. Jeff duduk dan membiarkan Elina ada di pangkuannya.


Jeff membelai rambut Elina. "Baby, kamu serius nggak dengan perasaanmu padaku?"


"Kenapa tanyakan itu?" tanya Elina sambil memegang wajah Jeff.


"Aku sudah tua, sayang. Usia kita bedanya 24 tahun."


"Memangnya kenapa kalau beda 24 tahun?"


"Sebagai dokter kamu pasti tahu sayang. Di saat kamu sedang hot-hot nya sebagai wanita di usia 30 atau 40 nanti, aku sudah memasuki usia 70 tahun."


Elina tersenyum. Ia mengecup bibir Jeff dengan sangat lembut. "Sebuah pernikahan kan nggak melulu hanya tentang ***. Tapi bagaimana menjalin hubungan yang akrab, penuh cinta kasih dan saling menopang dalam segala hal. Aku sudah tahu konsekuensi apa yang akan ku hadapi saat menikah dengan pria yang usianya jauh di atasku." Elina menatap mata bule di hadapannya itu. "Banyak pria muda yang mendekati aku. Namun tak ada satu pun yang mampu menggentarkan hatiku selain kamu. Aku yakin, jika kamu memang benar-benar mencintai aku, kita pasti akan bahagia, sayang."


Jeff tersenyum. Hatinya sangat bahagia. "Sudah bolehkah aku melamar kamu, baby? Rasanya tak sabar untuk memulai hari-hari indah bersamamu."


"Temuilah orang tuaku. Jangan takut, walaupun papi ku sedikit galak namun ia tahu kalau aku memang lebih suka dengan pria yang usianya lebih tua dariku."


"Berapa usia papi kamu?"


"59 tahun. Dan dia masih terlihat hot."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Mami sudah meninggal 9 tahun yang lalu. Dan papi menikah lagi dengan adik bungsu mami 3 tahun kemudian. Adik mami itu Usianya masih muda. Sekarang masih 36 tahun. Dan dia terlihat sangat bucin pada papi. Makanya kamu harus belajar resep nya dari papi aku."


Keduanya tertawa bersama.


"Boleh aku menciummu?" tanya Jeff. Elina mengangguk. Keduanya pun langsung berciuman dengan sangat mesra.


**********


Jelena menggeliat dengan sambil menguap beberapa kali lalu ia membuka matanya. Adras tak ada lagi di sampingnya. Ia pun perlahan bangun sambil menahan selimut di dadanya. Jelena melihat di atas bantal Adras ada setangkai mawar dan sebuah kertas.


Istriku tersayang, aku sudah pesankan sarapan untukmu, ada di meja makan. Aku dan para kru sedang memberi keterangan di kantor polisi. Setelah itu kami akan diwawancarai oleh salah satu TV swasta di sini. Jangan lupa makan ya sayang? Sebelum makan siang, aku sudah ada di hotel.


Jelena mencium kertas itu dengan hati yang berbunga. Ia kemudian bangun dan segera ke kamar mandi untuk mandi sekaligus juga keramas lagi. Setelah mandi dan ganti pakaian, Jelena menikmati makan pagi. Hatinya berbunga, menanti Adras yang akan datang kembali.


Setelah makan, Jelena kembali ke tempat tidur dan menyalahkan TV. Ia mencari informasi tentang TV yang akan mewawancarai Adras dan kru nya. Dan untunglah itu disajikan secara live.


Ada rasa bangga melihat Adras dan teman-temannya menceritakan semua yang terjadi di dalam pesawat. Pujian juga dilontarkan oleh banyak orang atas keberanian Adras mendaratkan pesawat tanpa roda pendaratan depan.


Saat Adras kembali, Jelena sudah tertidur. Pria itu mencium pipi Jelena dan membangunkan istrinya itu.


"Sayang, besok kita sudah bisa kembali ke Jakarta. Semua yang polisi butuhkan sudah didapatkan dari kami. Para mafia itu akan mendapatkan hukuman yang berat."


Jelena tersenyum. "Mas, kita liburan dulu yuk!"


"Kamu ingin liburan kemana, sayang?"


"Aku ingin liburan ke tempat yang sepi, adem dan hanya kita berdua saja."


"Kita ke Philippines yuk...!"


"Ok."


"Namun sebelumnya, daddy mau jenguk dedenya dulu."


Jelena tertawa. "Mommy ijinkan."


Duh...Abang pilot, belum makan siang, sudah makan yang lain.


********


Sofia menggandeng tangan Arley saat mereka memasuki gedung tempat acara resepsi pernikahan dari Agung.


Arley tersenyum sambil mengusap tangan Sofia. "Aku tahu. Aku tak akan membiarkanmu menangis."


Sofia tersenyum senang. "Terima kasih, Arley." Lalu keduanya pun masuk.


**********


Bagaimana perjalanan bulan madu Jelena dan Adras?

__ADS_1


Terus bagaimana Agung saat melihat Jelena datang dengan cowok bule yang mirip Chris Evans?


__ADS_2