ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Perjanjian


__ADS_3

Ruben Suez tersenyum saat Adras memasuki ruangannya.


"Mari, silahkan duduk, Adras."


Adras mengangguk sopan dan segera menarik kursi yang ada di depan meja kerja sang direktur maskapai tempatnya bekerja.


"Apa kabarmu, Adras? Aku dengar kalau istrimu mengandung?"


"Iya, pak."


"Akhirnya kamu akan memiliki keturunan mu sendiri. Menjadi ayah adalah suatu perasaan yang tak dapat di bandingkan dengan apapun. Seorang ayah akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya."


"Aku tahu. Kedua orang tuaku, sudah menunjukan itu waktu aku masih kecil sampai usia ku 18 tahun."


Ruben Suez mengangguk. "Aku menyayangi Anita, seperti aku juga menyayangi almarhumah ibunya Anita. Sayangnya, keputusan aku untuk menikah 6 bulan setelah kematian istriku membuat Anita menganggap kalau ibu sambungnya itu adalah seorang pelakor matre yang hanya menginginkan harta kekayaanku. Pada hal, Anita tak tahu, sebelum menikah, ia telah bersedia menandatangani surat perjanjian yang isinya kalau aku meninggal Anita akan menerima 35% saham perusahaan karena 50% sahamku di perusahaan ini memang dari ibunya Anita."


"Mungkin pak Ruben harus mengatakan nya pada Anita."


"Anita sudah tahu namun ia tak percaya."


Adras hanya bisa menarik nafas panjang.


"Aku tahu hubunganmu selama 9 tahun dengan Anita. Serapat apapun kalian menyembunyikan, aku tahu Anita sudah jatuh hati padamu."


Adras terkejut. Namun ia berusaha tenang.


"Kau adalah kapten termuda di maskapai ini. Kau begitu cepat naik pangkat, aku juga tahu, ada andil besar dari Anita di belakangmu walaupun harus juga diakui kalau kamu adalah pilot yang luar biasa. Aku tidak akan menghalangi lagi hubunganmu dengan Anita, hanya saja, aku harus mendapatkan bukti tentang kejahatan yang Mike lakukan baik pada anakku maupun pada Anita. Aku berharap agar kamu pura-pura baik dulu pada Jelena. Biarkan anak kalian lahir. Aku akan menyewa pengacara terbaik agar hak asuh akan jatuh padamu saat kau dan Jelena bercerai. Anita pasti akan menyayangi anakmu."


"Tapi.....!" Adras menjadi bingung.


"Adras, kamu mencintai Anita kan? Tolong bahagiakan anakku itu. Hanya saja, aku harus pura-pura mendukung Mike sampai akhirnya semua kejahatan Mike akan terbongkar dan aku akan segera memasukan dia ke penjara karena semua kejahatannya itu. Kamu akan bebas berhubungan dengan Anita. Aku bahkan akan memberikan 5% saham di maskapai ini kepadamu jika semuanya selesai. Hanya saja, jangan dulu mengatakan pada Anita. Biar dia merasa tersakiti saat melihat dirimu sudah berbaikan dengan istrimu. Itu akan membuat Mike lebih mudah menyakiti Anita dan aku akan mendapatkan bukti yang banyak untuk menyeretnya ke penjara."


"Tapi, pak, aku tak ingin menyakiti Jelena maupun Anita. Bukankah dengan melakukan hal tersebut, aku akan menyakiti mereka berdua?"


"Kau ingin bahagia dengan Anita kan?"


"Tentu saja."


"Maka kau harus berani mengorbankan yang lain. Jelena miskin. Bagaimana ia bisa membesarkan anak kalian dengan baik? Setelah bercerai, berikan Jelena fasilitas berupa rumah dan uang. Ia pasti tak akan menuntut anaknya lagi. Ingat Adras, karirmu sebagai seorang pilot masih sangat panjang. Di usia yang masih muda ini, kau juga sudah menjadi pilot handal dan berbakat. Aku tahu kau pintar dan seorang pria yang tak pernah menyerah apapun yang terjadi. Itu yang membuat aku yakin kalau kamu bisa membahagiakan Anita."


Adras diam sejenak. "Baiklah, pak."

__ADS_1


Ruben tersenyum senang. "Aku tahu kalau aku bisa mengandalkan kamu, nak. Pergilah, jemput istrimu kembali. Mari kita kita buat strategi untuk kebahagiaanmu dan juga Anita."


Adras menjabat tangan Ruben Suez tanpa Adras sadari kalau sebenarnya percakapan mereka direkam dengan sangat baik oleh kamera yang dengan sengaja di taruh seseorang dia sebuah sudut yang memang pas menangkap gambar Adras dan Ruben Suez.


**********


Saat pagi hari Jelena akan pergi bekerja, ia langsung kesal melihat Adras sudah menunggu di depan pagar tempat kosnya. Lelaki itu sudah menggunakan seragam pilotnya.


"Na, kita harus bicara!" Adras segera menghalangi langkah Jelena saat perempuan itu berusaha menghindar dari Adras.


"Kamu mau apa sih?" tanya Jelena kesal.


"Aku ingin mengajak kamu pulang ke rumah, Na. Santi dan Sofia pasti akan senang."


Jelena tersenyum sinis. "Jangan selalu memakai alasan Santi dan Sofia. Mereka berdua itu adalah gadis baik yang ingin membahagiakan paman mereka. Namun ternyata paman mereka orang yang tak pantas untuk disayangi. Ia adalah lelaki yang tak bermoral."


"Ya. Aku tahu kalau aku adalah lelaki tak bermoral karena mau menjalin hubungan selama bertahun-tahun dengan wanita bersuami. Aku terlalu dibutakan oleh rasa cintaku yang dalam tanpa memikirkan masa depanku sendiri. Namun aku bersyukur karena kedua ponakan ku itu mempertemukan kita, Na."


"Jangan mulai lagi dengan kata-katamu yang berusaha untuk memanipulasi aku. Bukankah Anita sudah bercerai? Bukankah dia sudah mendapatkan kebebasannya? Pergi sana! Kejar Anita! Mulailah membangun hubungan dengannya dengan cara yang benar. Aku yakin kalau Anita bersikap baik, Sofia dan Santi akan menerima Anita. Aku pikir perjanjian itu sekarang tak diperlukan lagi."


"Na, aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan. Perjanjian apa? Dengan siapa?"


"Jangan sok berpura-pura, Adras. Aku menerima video percakapan kalian sesaat sebelum mengalami kecelakaan itu. Aku juga menerima foto yang menunjukkan bahwa kamu masih berhubungan dengan Anita bahkan di saat kita baru saja selesai bercinta."


Aku tak menginginkan Anita. Aku menginginkan kamu!"


Plak!


Secara cepat dan tak terduga, Jelena menampar Adras. "Kamu mau merayu aku lagi? Ingin membuat aku hamil lalu kemudian merebut anak itu dariku sisiku? Maaf Adras, aku tak mau terjebak lagi. Lagi pula, aku tak mencintaimu. Dan aku sedang membuka hati bagi seseorang saat ini. Karena itu, aku sama sekali tak menginginkan kamu lagi. Permisi!"


Jelena langsung melambaikan tangannya pada sebuah angkot yang lewat.


**********


"Kap, anda baik-baik saja?" tanya Agung setelah pendaratan mereka selesai.


Adras mengangguk. Seberat apapun masalah yang ia hadapi, ia akan berusaha fokus dengan pekerjaannya karena ini menyangkut nyawa banyak orang.


"Aku baik-baik saja."


Agung sebenarnya agak heran karena sepanjang perjalanan, Adras lebih banyak diam.

__ADS_1


Pintu kokpit di ketuk dan seorang pramugari masuk. "Kap, semua penumpang sudah turun dengan selamat."


"Ok." jawab Adras lalu menandatangani laporan penerbangan dan keluar dari pesawat.


Ponsel Adras berbunyi. Ternyata Anita yang menghubunginya.


"Ada apa Anita?" tanya Adras.


"Kamu belum baca pesan aku ya?"


"Ponselku baru saja ku aktifkan. Jadi belum lihat semua pesan. Kenapa memangnya?"


"Memangnya kamu lupa kalau besok aku ulang tahun? Aku sudah mengatur jadwal penerbangan mu sehingga besok kamu off. Temui aku di apartemen ya?"


"Akan ku usahakan."


"Adras, aku ingin kamu datang malam ini. Seperti biasa, kita akan menunggu jam 12 tengah malam."


"An, anak paman Sule menikah hari ini. Aku harus bergegas pulang untuk menghadiri pernikahan itu. Pernikahannya dirayakan di rumah aku. Masa sih aku harus tinggalkan acaranya begitu saja."


"Kalau begitu besok ya? Aku tunggu kamu, Adras. I love you. Bye..."


Adras menyimpan ponselnya kembali lalu bergegas ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.


Sesampainya di rumah, Adras segera mandi dan bergabung dengan paman Sule dan keluarganya.


Acaranya dibuat di halaman belakang. Tepatnya di depan rumah tempat para asisten rumah tangga tinggal.


Jeff ada di sana namun tidak dengan Marlisa. Marlisa memang tak terlalu akrab dengan para pembantu yang ada.


Tak banyak tamu yang datang. Hanya beberapa kerabat pak Sule dan besannya kemudian para pelayan dari rumah tetangga.


Jam 11 malam, pesta pun berakhir dan Adras kembali ke kamarnya karena ia memang merasa sangat mengantuk.


Ia ingat kembali percakapannya dengan Jelena tadi pagi. Dan Adras segera ke ruangan kerjanya. Ia membuka salah satu laci yang ada dan mengeluarkan tas, dompet dan ponsel Jelena yang ada dalam bis itu. Ia kemudian menyelidiki ponsel yang ada. Ternyata bagian tempat penyimpanan kartu memorinya tak rusak. Adras mencoba mengeluarkan kartu memori itu dan memindahkannya ke ponselnya sendiri. Adras sangat terkejut ketika melihat foto dan video itu.


**********


Selamat pagi semuanya


semangat weekend ya...

__ADS_1


Jangan lupa dukung emak terus ya guys


__ADS_2