ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Pulang Ke Indonesia


__ADS_3

"Kenapa tertawa?" tanya Fuji, teman sekelas Sofia.


"Nggak. Pingin aja." kata Sofia sambil menyimpan kembali ponselnya. Ia sebenarnya baru saja membaca pesan lucu yang dikirimkan Arley padanya. Dalam sehari, Arley bisa mengirimnya pesan selama beberapa kali dan kadang ketika malam mereka akan saling teleponan atau Videocall sampai larut malam.


"Sof, lu kok akhir-akhir ini terlihat bahagia. Pada hal lu baru aja ditinggal kawin oleh si pilot."


"Oh ya?"


Fuji mengangguk. "Gue pikir kalau lu akan nangis-nangis atau menjadi kurus karena terus memikirkan si ganteng Agung, eh malah ketawa melulu. Sudah move on ya?"


"Ngapain juga harus nggak move on? Agung kan sudah menjadi milik sah istrinya. Mengingat Agung hanya akan membuat gue berdosa. Kami memang nggak jodoh ya sudah..."


Fuji tersenyum senang. "Gue bangga sama lu karena akhirnya bisa kuat. Kalau gue jadi lu, pasti gue nangis-nangis selama berbulan-bulan."


Sofia terkekeh. Fuji tak tahu saja kalau ada Arley yang selalu menemaninya.


Selesai kuliah, Sofia dikejutkan oleh Arley yang datang menjemputnya. Satu kampus langsung heboh melihat ada cowok bule berbadan atletis datang mencari Sofia.


"Kok aku merasa dia adalah Chris Evans ya?" ujar Fuji.


"Iya. Dia sepertinya Chris Evans. Sofia, itu adalah aktor idola kamu kan?" tanya Boni, teman Sofia yang agak kemayu.


"Dia pacar baru kamu, Sof?" tanya Joe.


Sofia tak menjawab semua rasa penasaran teman-temannya. "Aku pergi dulu ya guys." pamit Sofia dan segera mendekati Arley.


"Pantas saja dia tak terlihat patah hati berlama-lama saat ditinggalkan si pilot tampan itu. Rupanya sudah ada di Chris Evans yang luar biasa itu." kata Fuji sambil menggelengkan kepalanya karena merasa bahwa Sofia sungguh beruntung ketemu bule tampan itu.


"Kok mau jemput nggak bilang-bilang sih?" tanya Sofia.


Arley tersenyum. Ia hanya menarik hidung mancung Sofia dengan gemas. "Kejutan. Kamu suka kan?"


"Suka sih. Teman-teman ku saja sampai heboh semuanya."


Arley langsung meraih tangan Sofia dan menggenggamnya. "Pacaran pura-pura boleh bergandengan tangan kan?" tanya Arley membuat Sofia jadi tertawa.


"Boleh."


Keduanya melangkah bersama menuju ke tempat parkir sambil terus bergandengan tangan. Arley kemudian membukakan pintu mobil bagi Sofia dan membuatkan gadis itu masuk.


"Semalam kan kamu bilang, hari ini mobilmu di service sekalian mau ganti bannya. Jadi aku pikir kamu pasti nggak bawa mobil ke kampus. Kebetulan aku ada urusan di dekat sini, sekalian aja jemput." kata Arley sambil menjalankan mobilnya meninggalkan kampus.


"Kok waktunya bisa tepat sih dengan berakhirnya jam kuliahku?" tanya Sofia sambil menatap Arley curiga.


"Kamu pikir aku mengawasi kamu atau mencari tahu jam kuliah mu segala? Nggaklah, cantik. Aku tadi menunggumu sekitar satu jam lebih."


"Apa? Kenapa nggak menelepon sih? Sebenarnya aku selesai kuliah sekitar sejak yang lalu namun kami santai-santai aja di kantin."


"Nggak masalah. Sekalian aja cuci mata lihat cewek-cewek cantik di kampus mu."


"Kampusku memang gudangnya cewek cantik kan?"


Arley mengangguk. "Namun nggak secantik kamu."


"Eh....beneran nih?"


"Seorang lelaki sejati kan harus selalu memandang pacaranya lebih dari segalanya."


"Walaupun aku hanya pacar pura-pura?" tanya Sofia. Sebenarnya hati gadis itu agak berdesir aneh mendengar pujian Arley.

__ADS_1


"Tentu dong."


"Wah, bangganya aku di puji sama bule tampan kayak kamu."


"Menurut mu aku memang tampan? Atau karena aku pacar pura-pura mu?"


"Kamu beneran tampan, Arley. Seperti Chris Evans. Aktor idolaku. Aku bahkan waktu SMA pernah mengkhayal apakah aku bisa kencan sehari saja dengan aktor idolaku itu? Eh, sekarang bisa terwujud walaupun hanya Chris Evans KW."


Keduanya tertawa bersama dan Arley merasakan ada getar aneh di hatinya. Apakah aku sungguh tertarik padanya?


**********


Malam ini di rumah keluarga Permana nampak sangat ramai. Adras mengundang beberapa tetangga dan semua kru penerbangannya untuk boleh mengadakan syukuran di rumahnya atas apa yang boleh mereka alami dan juga atas kehamilan Jelena.


Mereka baru saja tiba kemarin malam dan Adras memang sudah merencanakan acara ini semenjak mereka masih ada di Davao.


"Kapten, hebat lho bisa hamil kembar tiga. Rahasia apa sih? Apakah ada keluarga yang turunnya kembar?' tanya Gerald sang co-pilot.


"Kami nggak punya turunan kembar. Istriku juga mengatakan kalau di silsilah keluarganya mereka juga nggak ada yang kembar."


"Terus rahasianya apa?"


"Bercinta tanpa henti."


"Maksudnya?" Gerald jadi penasaran.


"Mas ....!" Panggil Jelena membuat Adras harus meninggalkan Gerald dengan rasa penasaran pilot muda itu.


"Ya, sayang. Ada apa?" tanya Adras.


"Itu Adam kan?" tanya Jelena sambil menunjuk seorang cowok yang nampak sedang berbicara dengan dengan seorang pramugari.


"Mas menolongnya untuk masuk?"


"Iya sayang. Aku tak sengaja bertemu Adam yang sudah 2 bulan menganggur semenjak ia keluar dari maskapai yang lama. Aku menggunakan pengaruhku untuk menolong Adam. Kamu kan tahu kalau Adam adalah tulang punggung keluarga. Dan pramugari itu adalah gadis yang dekat dengan Adam."


"Oh ya? Akhirnya Adam sadar dan kembali ke jalan yang benar. Terima kasih, mas. Kamu sudah menolong Adam untuk bisa berani keluar dari sana."


"Rahasia Adam, aman kan bersama kita?" ujar Adras.


"Aman dong sayang."


Jeff mendekat dengan Elina. "Selamat ya Nana. Uncle sudah nggak sabar memeluk ponakan baru. Hebat kamu Adras, langsung tokcer sekali dapat 3. Semoga juga kita segera dapat ya sayang?" ujar Jeff sambil mengedipkan selebekah matanya pada Elina.


"Ih....mas bule ini, genit ah...." Elina mencubit pinggang Jeff.


Mereka pun tertawa bersama.


Acara berlangsung sampai dengan jam 11 malam. Setelah semua tamu pulang, mereka duduk di salah satu gasebo sambil menikmati teh hangat. Adras duduk sambil memeluk Jelena yang ada di depannya, Jeff pun duduk sambil memeluk Elina yang ada di sampingnya sementara Santi dan Sofia ada juga diantara mereka.


"Uncle, rumah ini sebentar lagi akan ramai. Opa Jeff akan menikah dan kami akan segera mendapatkan 3 sepupu sekaligus." ujar Santi.


"Opa, kalau menikah masih akan tinggal di sini kan?" tanya Sofia.


Jeff menatap Elina lalu kemudian menatap semua yang ada di sana. "Opa sementara membangun rumah. Mungkin rumah itu akan selesai 5 bulan lagi. Opa pikir sebelum rumah itu selesai, maka opa akan tinggal di apartemen saja."


"Opa, janganlah pergi. Nanti rumah ini sepi." Sofia jadi sedih.


"Sayang, opa Jeff kan akan menikah dengan Elina. Mereka tentu ingin punya kehidupan sendiri." ujar Adras.

__ADS_1


"Dokter Elina, jangan langsung bawa opa kami dong..." mohon Santi.


"Baiklah sayang. kami akan tinggal di sini sampai rumah yang dibangun mas bule ini selesai." ujar Elina.


"Asyik.....!" ujar kedua gadis itu dengan wajah gembira. Jeff pun menatap wajah Elina dengan perasaan bahagia. Ia sebenarnya masih berat juga akan meninggalkan rumah ini karena mereka sebenarnya saling menyayangi di sini.


"Uncle, ada teman aku yang akan menikah. Usianya masih 19 tahun. Namun setelah menikah ia akan tetap kuliah. Menurut uncle gimana?" tanya Santi.


"Biar saja temanmu itu. Kamu jangan ikut-ikutan dengan dia ya? Kamu kan masih muda. Jangan dulu memikirkan untuk memiliki suami. Jadilah dokter baru memikirkan pernikahan. Sama kayak dokter Elina. Kakakmu saja rela putus dari Agung hanya karena tak mau menikah muda." ujar Adras tegas.


Santi menelan salivanya yang terasa pahit. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan tentang dirinya yang terlanjur berjanji dengan Jun.


"Tapi kemarin opa lihat kalau Sofia diantar cowok bule. Ganteng pula. Ternyata kamu selera juga sama bule." kata Jeff sambil menatap Sofia.


Jelena yang ada dalam pelukan Adras mengangkat tubuhnya sedikit lalu menatap Sofia. "Benarkah Sofia?"


"Eh..., itu hanya teman." ujar Sofia dengan pipi yang memerah.


"Teman? Kok opa lihat kalian saling berpegangan tangan. Ia bahkan mencium dahimu sebelum masuk lagi ke dalam mobilnya." kata Jeff lagi membuat Elina melotot ke arah tunangannya itu.


"Baby, kamu ngintip mereka?"


"Nggak ngintip, sayang. Hanya kebetulan aku baru saja selesai olahraga sore, lihat mereka." Jeff berusaha menjelaskan karena memang ia tak mengintip.


Santi menatap kakaknya. "Si Chris Evans?"


Sofia memgangguk.


"Wajahnya mirip Chris Evans?" Jelena yang memang suka sama Chris Evans juga langsung merasa tertarik.


"Sayang, apaan sih begitu tertariknya dengan Chris Evans?" tanya Adras terlihat cemburu.


"Uncle, posesif banget ya sekarang?" Kata Santi sedikit heran dengan perubahan sikap pamannya.


"Bukan hanya yang muda, yang tua pun sama posesifnya." kata Elina sambil melirik Jeff. Para perempuan yang ada di sana pun tertawa.


Jeff akhirnya mengantarkan Elina pulang. Sebenarnya Jeff tak balik lagi ke rumahnya. Ia menginap di apartemen Elina namun hanya menginap saja tanpa berbuat hal-hal yang di luar batas. Jeff tetap sabar menunggu sampai hari pernikahan mereka.


"Mas, kok aku merasa kalau apa yang diungkapkan Santi tadi bukan tentang temannya ya?" ujar Jelena saat keduanya sudah berada di dalam kamar. Posisi Jelena tidur sambil berhadapan dengan Adras. Mereka baru saja selesai bercinta dan belum menggunakan pakaian mereka.


"Maksudnya?" tanya Adras sambil mengusap perut Jelena yang kini sudah mulai kelihatan membuncit.


"Bagaimana kalau itu adalah keinginan Santi? Bagaimana kalau sebenarnya ia sudah memiliki hubungan yang serius dengan seseorang?"


Adras menggeleng. "Aku nggak akan mengijinkan, sayang. Santi baru berusia 19 tahun. Bagaimana jika pacaranya juga masih muda? Atau, jangan-janhan Santi sudah hamil?" tanya Adras dengan jantung yang berdetak cepat.


"Apa iya Santi bisa lepas kontrol seperti itu?"


"Obat perangsang yang diberikan kepadamu itu juga dari dia dan Sofia. Aku takut mereka salah menggunakan obat itu."


"Obat perangsang? Diberikan kepadaku?" tanya Jelena heran.


Adras menepuk jidatnya. Habislah aku dan kedua ponakanku.


***********


Mas Adras salah bicara cuy ....


Gimana nanti lamaran Jun?

__ADS_1


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2