ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Jun


__ADS_3

Air mata Jelena jatuh membasahi pipinya, ketika Adras mencabut penyatuan mereka.


Ada rasa perih di inti tubuhnya karena penyatuan itu terjadi tanpa ada pemanasan sama sekali. Tak ada ciuman, tak ada belaian dan sentuhan yang memabukkan seperti penyatuan mereka yang pertama. Kali ini Adras melakukannya secara cepat.


Sakit yang Jelena rasakan lebih dalam dari penyatuan pertama mereka. Bahkan kali ini hatinya juga ikut sakit.


Adras segera turun dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya dengan cepat.


"Kamu ingin menyembuhkan aku kan? Begitulah sebenarnya caraku bercinta dengan perempuan. Aku malas untuk bersikap lembut. Sofia dan Santi ingin kamu ada di sini agar mereka bisa pulang. Ok. Aku akan menyetujuinya. Namun yang akan kamu terima adalah perlakuan aku yang seperti ini." kata Adras dengan tatapan dingin. Jelena menarik selimut yang ada di kakinya untuk menutupi tubuhnya yang mulai terasa dingin. Ia kemudian menghapus air matanya. Aku tak boleh terlihat lemah. Tidak!


Adras lalu menelepon Sofia.


"Hallo....!" sapa Sofia.


"Pulanglah ke rumah. Aunty Nana kalian sudah ada di sini."


"Kami tak percaya."


Adras menyerahkan ponselnya kepada Jelena yang masih terbaring sambil menahan sakit. Jelena menerima ponsel itu. "Sofia, aunty sudah di sini. Pulanglah. Aunty tak mengatakan pada uncle Adras kalau kalian ada di mana. Pesan taxi saja."


"Baik aunty."


Jelena menyerahkan kembali ponsel Adras. Lalu ia pun turun dari ranjang. Dalam keadaan tertatih, ia berjalan dan meraih pakaiannya. Jelena berjalan ke kamar mandi. Di sanalah ia mengguyur tubuhnya dengan air sambil menangis sekeras-kerasnya.


Selesai mandi dan memakai pakaiannya kembali, Jelena langsung mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Saat ia keluar dari kamar mandi, Adras sudah tak ada. Jelena pun duduk di depan meja rias. Ia menyisir rambutnya dan memberikan sedikit bedak di wajahnya. Untung saja ia memakai kaos berlengan panjang sehingga pergelangan tangannya yang merah karena cengkraman tangan Adras tadi tak terlihat.


Ponsel Jelena berbunyi. Ternyata itu panggilan dari Surya. "Hallo dokter."


"Kamu nggak apa-apa kan? Kamu baik-baik saja kan?" terdengar Surya yang khawatir.


"Iya. Aku baik-baik, saja. Aku sudah berada di rumah. Sofia dan Santi juga dalam perjalanan ke sini."


"Jangan biarkan Adras menyakiti kamu, Na."


"Tidak akan."


"Baguslah. Kalau kamu butuh sesuatu, tolong hubungi aku ya?"


"Terima kasih sudah memperhatikan aku."


"Aku memang ingin selalu memperhatikan kamu. Segera tidur ya?"

__ADS_1


"Ok." Jelena pun memutuskan sambungan telepon. Ia keluar dari kamar lalu turun ke bawa. Nampak Sofia dan Santi baru saja tiba. Mereka tersenyum saat melihat Jelena.


"Sekarang istirahatlah. Kalian pasti sudah capek." Kata Adras setelah kedua ponakannya memeluk dia.


Sofia dan Santi pun menaiki tangga menuju ke kamar mereka. Jelena mengikuti mereka dari belakang.


"Aunty kenapa? Kok jalannya seperti itu?" tanya Santi saat mereka sudah berada di kamar.


"Aku sedikit capek. Tadi di cafe banyak sekali pengunjung. Selama beberapa jam aku tak bisa duduk karena melayani mereka. Ini kan hari pertama ku kerja, jadi wajarlah jika merasa capek."


"Jangan kerja lagi, aunty. Kan sekarang kita sudah berada di rumah."Ujar Sofia.


"Aunty menandatangani kontrak. Nggak akan resign sebelum 3 bulan kerja. Soalnya banyak karyawan cafe yang keluar dari pekerjaan mereka seenaknya saja." Jelena tersenyum. "Istirahatlah. Aunty juga capek. Selamat malam." Jelena mencium pipi kedua gadis cantik itu. "Eh, tadi datangnya gimana?"


"Kami naik taxi tapi Agung tetap mengikuti dengan mobilnya dari belakang." jawab Sofia.


"Dia lelaki baik dan bertanggungjawab. Ya sudah, kita tak melibatkan namanya. Kalau uncle kalian tanya, katakan saja kita kos di dekat sekolah Santi."


Kedua gadis itu mengangguk. Jelena pun meninggalkan kamar. Saat ia masuk ke kamarnya, nampak Adras sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper. Jelena tahu kalau Adras pasti akan berangkat pagi-pagi sekali. Ia pun mengambil bantal dan selimut, lalu memilih tidur di sofa. Jelena masih takut berdekatan dengan Adras.


*********


Jam setengah lima subuh, Jelena pun bangun. Setelah mencuci wajahnya, ia segera dapur untuk menyiapkan sarapan. Nampak bibi Suni juga sudah bangun.


"Iya nyonya. Katanya jam setengah enam pagi."


Jelena mengangguk. Ia segera membuat sarapan tercepat untuk Adras. Saat ia ia sudah selesai, nampak Adras pun sudah memasuki ruang makan dengan seragam pilotnya. Jelena pun meletakan kopi dan roti yang baru saja dibakarnya. Adras menikmatinya tanpa bersuara. Ia kembali dapat menikmati kopi buatan Jelena yang memang enak di lidahnya.


Selesai sarapan, Adras segera berdiri dan menuju ke luar rumah. Jelena menyusulnya. Ia meraih tangan Adras dan mendoakan pria itu seperti biasa di dalam hatinya. "Selamat sampai tujuan, mas." kata Jelena.


Adras tak menanggapi. Ia langsung pergi dengan mobilnya. Jelena tahu, jika Adras membawa mobilnya sendiri, maka sebentar malam, ia sudah kembali ke rumah.


********


Ada senyum kebahagiaan di wajah gadis itu saat dosen pembimbingnya sudah menyetujui pengajuan proposal skripsinya. Itu berarti tak akan lama ia bisa menyelesaikan kuliahnya. Jelena ingin segera memiliki pekerjaan yang baik. Dan ia pun akan memberikan pengertian kepada Sofia dan Santi agar bisa keluar dari rumah itu.


Selesai dari kampus, Jelena pun masuk kerja. Ia akan bekerja dari jam 1 siang sampai jam 7 malam.


"Bos besar ada." bisik Tari, sahabatnya.


"Pemilik cafe ini?"

__ADS_1


"Iya. Dan dia galak, tanpa senyum tapi ganteng. Seperti oppa Korea."


"Oh ya? Terus di mana dia?"


"Di ruangan manager. Ia mengawasi karyawan dari kamera CCTV. Dan siapa yang melakukan kesalahan, langsung dipecat."


Jelena terkejut mendengarnya. "Sadis amat." Perempuan itu langsung ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan seragam cafe. Memar di tangan Jelena masih ada walaupun sudah 3 hari berlalu.


Setelah memakai celemak, mengikat rambutnya, Jelena pun menuju ke ruangan cafe. Tanpa diperintah, ia langsung membersihkan meja yang kosong lalu membawanya ke dapur. Siang seperti ini, cafe biasanya agak sepi. Nanti menjelang pukul 3 sore, barulah cafe ini ramai.


Selesai membersihkan meja, Jelena mengambil alat pel untuk membersihkan lantai.


"Siapa dia?" tanya Jun, pemilik cafe kepada managernya.


Felix menatap gadis yang ditunjuk oleh Jun. "Namanya Jelena. Dia baru seminggu bekerja di sini namun aku sangat puas dengan dirinya. Ia jarang terlihat duduk santai, jarang menyentuh ponselnya, pokoknya dia bekerja dengan baik."


Jun menatap kembali gadis itu dari layar kaca. Ia tersenyum. Gadis yang sangat menarik.


Di luar, Jelena masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia tahu hari ini Adras kembali ke rumah jam 5 sore. Ia sudah memasak tadi pagi. Malam ini pasti Marlisa yang akan memasak. Jelena sudah tak mau ambil pusing dengan semua yang perempuan itu lakukan. Ia bertekad akan terus bekerja karena tak ingin mengambil apapun dari Adras lagi. Apa yang Adras pernah katakan padanya sangat menyakitkan hati gadis itu. Jelena tak mencari keuntungan apapun dengan menikahi Adras. Dia hanya ingin menolong kedua ponakan Adras yang menginginkan paman mereka untuk sembuh. Karena itulah, jelena tak pernah mengambil kartu yang diberikan Sofia padanya. Mungkin Sofia meminta kembali kartu itu dari Adras.


selesai dengan jam kerjanya, Jelena kembali mengganti pakaiannya. Ia bergegas akan pulang kerena akan belajar untuk ujian proposal minggu depan.


Saat akan keluar dari pintu belakang, Jelena tak sengaja menabrak seorang lelaki.


"Maaf....maafkan aku!" Jelena pikir itu adalah salah satu pelanggan cafe dan ia harus menjaga kenyamanan mereka di sini.


Pria itu tersenyum. "Aku tidak apa-apa."


"Ponsel anda, apakah tidak rusak?" Jelena nampak pucat. Ia dapat melihat kalau ponsel pria itu mahal.


"Tidak." jawab pria itu lagi dengan senyum manisnya. Ia menunjukan ponselnya.


"Syukurlah. Semoga harimu menyenangkan, tuan." ujar Jelena. Ia membungkuk hormat lalu segera meninggalkan pria itu. Ia harus cepat untuk mengejar bis yang lewat.


Pria itu menatap Jelena yang telah pergi. Kau sopan, manis, dan menarik. Sungguh aku tertarik padamu.


"Tuan Jun, apakah kita akan pergi sekarang?" tanya seorang pria yang adalah sopirnya.


"Iya." Jun segera masuk ke dalam mobilnya. Wajahnya tersenyum. Pria berusia 32 tahun itu merasa jantungnya berdebar. Dan ia sudah lama tak merasakan hal seperti ini.


***********

__ADS_1


Tuh kan.....


Banyak pria yang tertarik pada sosok manis Jelena. Biarkan saja si Adras dengan para pria pemujanya he....he......


__ADS_2