
Ada senyum di wajah Adras saat melihat bagaimana lahapnya Jelena menikmati makan pagi mereka di pukul setengah tujuh ini. Karena mereka adalah tamu di kamar istimewa maka sarapan pagi bisa diminta untuk diantar ke kamar.
Saking laparnya, Jelena menikmati makan paginya ini hanya dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.
Sedangkan Adras hanya menggunakan boxer.
Tadi subuh, saat Jelena terbangun mereka justru main lagi. Walaupun hanya satu ronde namun memang menguras tenaga keduanya. Selesai bercinta, Jelena mengeluh lapar dan Adras segera menelepon pihak restoran yang memang sudah menyiapkan sarapan di hotel ini sejak pukul 5 subuh karena mengingat tamu hotel yang akan berangkat dengan pesawat pagi.
"Sudah kenyang?" tanya Adras.
Jelena mengangguk. Ia memegang perutnya. Lalu ia berdiri sambil menahan handuk yang melilit tubuhnya. Setelah itu ia melangka menuju ke ranjang. Jelena melemparkan handuk itu begitu saja, dan dalam keadaan polos, ia tidur lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Adras membereskan meja makan yang ada. Ia mengambil tanda jangan di ganggu dan meletakkannya di depan pintu. Kamar ini memang memiliki ruang makan sendiri. Setelah itu Adras menelepon pihak hotel dan mengatakan kalau mereka akan cek out nanti sore sehingga ada tambahan pembayaran yang harus Adras berikan.
Ia lalu berbaring di samping Jelena dan memeluk istrinya itu sambil memejamkan matanya.
***********
"Nih obatnya." Sofia memberikan botol yang berisi obat khusus untuk membuat Jelena melayang.
"Aku harus menyimpannya dengan sangat baik." Santi membuka lemari pakaiannya lalu ia menyimpan botol kecil itu di dalam laci tersembunyi yang ada di sana.
"Sekecil itu harganya sangat mahal ya?" tanya Sofia.
"Iya. khasiatnya kan sangat dahsyat. 1 tetes saja efeknya bisa sampai sepuluh jam."
"Satu tetes?" Sofia nampak tegang.
"Kenapa?"
"Aku memberikan 2 tetes di minuman aunty Nana."
"Ya ampun kakak, itu reaksinya bisa 24 jam. Bisa keok nanti aunty Nana."
"Aduh gimana dong. Ada penangkalnya nggak?"
"Ya aunty harus berjauhan dari uncle. Kalau nggak, bersentuhan sedikit saja, pasti akan cepat napsunya."
"Kalau begitu kita harus segera memisahkan mereka. Terlalu sering begituan juga nggak baik kan?" ujar Sofia. Santi mengangguk. Keduanya pun segera bersiap menuju ke hotel.
**********
Kedua pasangan suami istri itu kembali basah dengan keringat saat mereka menyelesaikan penyatuan siang ini. Tadi selesai sarapan, keduanya langsung tertidur. Namun, saat bangun jam setengah dua belas siang tadi, bukannya mandi atau makan, keduanya kembali dalam pergulatan panas. Jelena yang merayu Adras lebih dulu saat ia bangun.
"Sayang, kau tidak lapar?" tanya Adras.
"Lapar. Tapi aku mau mandi dulu."
"Mandilah, dan aku akan memesan makan siang dulu."
__ADS_1
Jelena turun dari tempat tidur. Ia meraih handuk yang sudah tergelatak di atas lantai, membungkus tumbuhnya dengan handuk itu lalu sedikit tertatih berjalan menuju ke kamar mandi. Adras menarik napas lega. Sungguh, ia memang sangat menginginkan saat manis ketika berhubungan dengan Jelena. Namun jika terus seperti ini, Adras takut jika Jelena justru tak akan bisa berjalan.
Ia pun turun dari tempat tidur dan mengenakan celananya lalu segera meraih daftar menu yang ada di restoran hotel. Namun baru saja ia akan meraih gagang telepon, ia mendengar ada suara bel pintu.
Adras bergegas melangkah ke arah pintu dan membukanya. Ia terkejut.
"Sofia, Santi?"
"Hallo uncle!" kedua gadis itu memasang wajah lucu mereka sambil tersenyum. Mereka saling berpandangan saat melihat beberapa tanda pertarungan paman dan bibi mereka yang tercetak jelas di dada dan leher Adras.
"Kok bisa tahu uncle ada di sini?" .
"Eh, kami khawatir, kok uncle sama aunty nggak pulang-pulang, nggak ada kabar. Makanya kami mencari lewat GPS mobil baru aunty. Ternyata ada di sini. Jadi kami datang membawakan baju sambil membawakan makan siang." kata Sofia sambil mengangkat paper bag yang ada di tangannya.
"Ayo masuk!" Adras akhirnya mempersilahkan kedua ponakannya itu untuk masuk.
"Aunty mana, uncle?" tanya Santi lalu duduk di atas sofa. Ia sempat mengintip ke arah tempat tidur yang terlihat sangat berantakan.
"Aunty lagi mandi."
"Ini bajunya." Santi menyerahkan paper bag yang berisi baju Adras dan Jelena. Adras segera menerimanya lalu membawanya ke kamar mandi.
"Nana....!" Adras mengetuk pintu lalu membukanya. Nampak Jelena sedang berendam di dalam bathtub.
"Ada apa?" tanya Jelena.
"Sofia dan Santi datang membawakan pakaian."
"Adras, kenapa kamu tidak pakai kaos?"
"Memangnya kenapa?" tanya Adras.
"Itu.....!" Jelena menunjuk dada Adras.
Adras menatap tubuhnya pada kaca besar yang ada di kamar mandi itu. Pria itu langsung tersentak kaget. "Kok bisa ada tanda ini sih? Berarti Sofia dan Santi ...." Adras menepuk jidatnya.
"Kok kamu nggak sadar sih jika ada tanda itu?" tanya Jelena kesal. Ia bisa tambah malu saat bertemu dengan kedua gadis itu.
"Biasanya juga nggak ada tanda ini kan?" Adras tak mau Jelena menyalahkan dia. Wajah Jelena langsung memerah.
"Kalau begitu aku mau mandi juga." Adras segera membuka celananya.
Jelena memalingkan wajahnya saat melihat tubuh polos suaminya. Bukannya karena ia malu melainkan ia tak mengerti dengan reaksi tubuhnya. Saat ini saja jantungnya sudah berdetak cepat.
Ya Tuhan, ada apa dengan diriku? Mengapa aku begitu ingin memeluk Adras lagi?
"Aku mau berendam juga." ujar Adras.
"Eh....jangan.....!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Adras, menjauhlah dariku!"
"Jelena, jangan katakan kalau kamu ingin......"
tok.....tok.....tok...
"Uncle, aunty, cepatlah. Makanannya keburu dingin." Terdengar suara Santi di luar.
"Iya." Adras segera melangkah ke arah shower dan mandi di sana.
Di luar kamar, Santi dan Sofia saling berpandangan.
"Bahaya jika mereka terlalu lama ada di sana. Kakak sih, aku bilang satu tetes, eh kakak beri 2 tetes." Santi nampak khawatir.
"Maaf. Aku pikir satu tetes nggak akan hot makanya ku tambah. Untung saja aku nggak memberikan 3 tetes."
"Jika itu terjadi maka uncle dan aunt pasti akan langsung masuk rumah sakit setelah itu."
Keduanya kembali duduk di sofa.
Adras yang lebih dulu keluar dari kamar mandi. Ia sudah memakai baju yang dibawakan oleh kedua ponakannya. Adras berusaha bersikap wajar walaupun ia tahu kalau tadi Santi dan Sofia sudah melihat tanda merah di tubuhnya. Ia sungguh melupakan apa yang sudah Jelena buat ditubuhnya.
Jelena akhirnya keluar juga. Santi dan Sofia menahan tawa melihat bagaimana cara jalan bibi mereka itu. Seperti gadis yang baru saja melewati malam pengantin.
"Selesai makan kita jalan-jalan yuk!" ajak Santi.
"Aku mau pulang dan tidur saja." kata Jelena.
"Uncle juga mau pulang dan tidur."
"Jangan.....!" Kompak Santi dan Sofia menggoyangkan tangan mereka.
"Kenapa?" tanya Adras heran.
"Kita sudah lama nggak jalan bareng. Eh aunty, biar saja uncle bobo karena besok uncle kan jadwal penerbangannya pagi. Bagaimana kalau kita pergi ke salon untuk mempercantik diri?" tanya Sofia.
"Selesai dari salon, kita ke Spa. Pasti enak badan kita dipijat. Malamnya kita tidur bertiga yuk! Sudah lama kita tidak ngerumpi sambil tidur bertiga." kata Santi.
Adras menatap kedua ponakannya. "Kalian sepertinya ingin memisahkan uncle dengan Nana?"
"Ini untuk kebaikan uncle dan aunt agar tak masuk rumah sakit." ujar Santi.
"Maksudnya?" Adras menatap Santi tajam.
Oh em Ji, habis gue salah bicara. Santi menepuk jidatnya.
***********
__ADS_1
Duh.....gimana Santi bisa menjelaskan?
Komen yang banyak ya