ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Tuduhan


__ADS_3

Malam bantu aku tuk luluhkan dia


bintang bantu aku tuk tenangkan dia


dari rasa cemburu dari rasa curiga


karena hati ini kusimpan hanya untukmu


Adras menarik napas panjang beberapa kali. Kepalanya pusing karena Jelena memilih tidur di kamar tamu. Berulang kali Adras mengetuk pintunya namun Jelena tak mau membukanya.


"Uncle, ada apa?" tanya Sofia yang keluar dari kamarnya saat mendengar suara pamannya. Kamar tamu itu memang bersebelahan dengan kamar Sofia.


"Aunty Nana marah."


"Sabar ya, uncle." Sofia langsung mendekat dan memeluk pamannya. Ia tak mau menanyakan apa sebabnya Nana marah. Ia merasa kalau itu akan menganggu privasi sang paman.


"Terima kasih, sayang. Sekarang tidurlah. Kamu harus kuliah kan besok?"


Sofia mengangguk. Ia kemudian melangkah ke kamarnya lagi. Namun di depan kamar ia berbalik. "Uncle, apakah Agung baik-baik saja?"


"Iya. Dia sangat baik menjadi co-pilot hari ini. Memangnya ada apa?"


Sofia tertunduk. "Aku merasa ada yang aneh dengan Agung hari-hari terakhir ini. Dia ingin mengajak aku menikah."


"Memangnya kamu sudah siap menikah?"


Sofia menggeleng. "Belum. Aku masih mau mengejar cita-cita ku. Aku ingin menjadi wanita karir seperti mamaku."


"Jangan menikah kalau memang kamu belum siap. Karena pernikahan bukan hanya tentang cinta."


"Aku tahu. Selamat malam uncle."


Adras mengangguk. Setelah Sofia kembali menutup pintu kamarnya, ia pun mengetuk pintu kamar tamu kembali.


"Na, buka dong. Kita tuh harus bicara. Kamu itu terlalu curiga padaku." Adras terus mengetuk. Tak ada sahutan apapun di dalam. Adras kemudian duduk di depan pintu. Ia mengirim pesan pada Jelena dan mengatakan kalau ia ada di depan pintu.


Lelah menunggu, waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Adras menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua ini. Ia pun tidur di sana.


***********


Adras bangun saat jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Ia bergegas mandi dan segera ke kamar tamu. Kamar tamu itu sudah kosong. Ia pun turun ke bawa.


"Bi Suni, mana istriku?" tanya Adras.


"Sudah ke kantor, tuan. Jam 7 tadi nyonya sudah pergi. Bahkan nggak sempat sarapan."


Adras kesal karena ia bangun terlambat. Ia kemudian meraih ponselnya. Mengecek jadwal penerbangannya. Hari ini Adras free dan nanti akan terbang besok pagi. Namun Adras segera menelepon maskapai untuk meminta ijin besok karena ia kurang sehat.


"Sofia, tolong dapatkan surat keterangan sakit buat uncle supaya hari ini dan besok uncle nggak masuk kerja." Kata Adras dari sambungan telepon.


Sofia tak banyak bertanya. Ia langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh pamannya. Tak sampai satu jam surat keterangan sakit itu sudah di kirim ke wa pamannya dan Adras meneruskannya ke bagian administrasi kantor setelah itu ia langsung ke kantor.


"Selamat pagi, tuan!" Satpam penjaga pintu masuk menyapa Adras dan langsung membukakan pintu baginya. Adras turun dan menyerahkan kunci mobilnya kepada sang satpam.


"Apakah istriku sudah datang?" tanya Adras saat tak melihat mobil Jelena terparkir di tempat parkir khusus yang memang ada di depan pintu masuk kantor.

__ADS_1


"Nyonya belum datang, tuan. Mungkin karena semalam Nyonya pulangnya sudah jam 10. Hampir setiap malam nyonya pulang larut malam."


Adras hanya tersenyum. Di satu sisi ia lega karena Jelena semalam memang dari kantor. Namun di sisi lain Adras kesal karena Jelena tak ada di kantor.


Sambil berjalan menuju ke lift, Adras pun menghubungi Jelena. Ponsel istrinya aktif. Namun tak diangkatnya. Adras kembali menghubunginya dan akhirnya diangkat bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


"Kamu di mana?" tanya Adras.


"Sedang dalam perjalanan ke kantor."


"Aku sudah di kantor. Aku tunggu di ruanganku, ya?"


"Baik."


Adras pun sampai di lantai 4. Ia keluar dan langsung disambut oleh sekretaris baru di perusahaan ini. Adik dari Marlisa.


"Selamat pagi tuan!" Monica memberikan senyum manisnya.


Adras menatap baju Monica yang menurutnya sudah kelewat batas. Rok hitam mini yang Ketat, kemeja berwarna merah yang ketat juga. 2 kancing paling atas di buka.


"Kalau istriku datang, segera minta ia ke ruanganku. Paman Jeff di mana?"


"Tuan Jeff bersama istrinya di ruangan tuan Jeff."


Adras pun masuk ke dalam ruangannya. Ia duduk di depan meja kerjanya. Ia mulai tak sabar menunggu istrinya. Akhirnya, Jelena datang. Namun yang membuat Adras meradang adalah, Jelena datang bersama Jun.


"Apa maksudnya kamu datang bersama Jun?" tanya Adras sedikit berbisik melihat Jun yang diminta oleh Jelena untuk duduk di depan meja yang biasa Adras gunakan untuk rapat khusus. Ada 6 kursi yang tersedia di sana.


"Jun akan membantu aku untuk menjelaskan kerugian yang kamu alami, Adras."


"Tunggulah sedikit lagi. Aku sudah meminta agar uncle Jeff dan Marlisa datang ke ruangan mu."


Jeff dan Marlisa masuk ke ruangan Adras sambil bergandengan tangan.


"Ada apa?" tanya Jeff bingung saat ia dan Marlisa dipanggil ke ruangan Adras.


"Jelena!" Adras langsung menunjuk Jelena.


"Ada apa Jelena? Siapa lelaki itu?" tanya Marlisa.


"Duduklah Marlisa sebelum kamu pusing saat aku membeberkan kecurangan yang terjadi di perusahaan ini."


Marlisa duduk di samping Jeff. Adras pun duduk di kepala meja.


"Aku sudah memeriksa sistem keuangan perusahaan." kata Jelena membuka percakapannya.


"Kenapa kamu memeriksa sistem keuangan. Itu kan tugasku." ujar Marlisa kurang suka.


"Ya. Tapi apa kau lupa, kalau sebagai calon wakil direktur perusahaan ini, aku berhak juga tahu sistem keuangan. Untung saja Adras memberikan aku akses yang memang hanya bisa dibuka olehmu, uncle Jeff dan Adras sendiri." Jelena menyalahkan laptop yang langsung terhubung dengan LCD sehingga bisa dilihat dari layar yang ada.


"Keuangan perusahaan ini sudah dicuri sekitar 7 miliard sepanjang 2 tahun ini."


"Apa?" Adras dan Jeff sama-sama terkejut.


Jelena lalu memaparkan fakta yang ia temui. "Jun sebagai ahli analisis keuangan membantu saya dalam mengungkapkan fakta ini. Uncle Jeff yang menandatangani laporan keuangan bulanan. Marlisa yang mengatur sistem keuangan dibantu oleh adiknya. Aliran keuangan itu masuk ke rekening atas uncle Jeff."

__ADS_1


"Tidak mungkin! Kau jangan asal menuduh Jelena." kata Jeff sambil berdiri. "Bagaimana mungkin aku akan menipu keponakan ku sendiri sementara aku memang mendapatkan keuntungan sebanyak 20% dari perusahaan ini?"


Adras menatap Jelena. "Nana, kamu jangan sembarangan bucara. Bagaimana mungkin uncle Jeff akan menipu aku?"


Jelena meminta Jun untuk menjelaskan segalanya. Jun pun langsung menjelaskan berdasarkan fakta-fakta yang ada.


"Aliran dana itu memang masuk ke rekening atas nama uncle Jeff. Selebihnya bagaimana aliran dana itu bergulir, aku nggak tahu." kata Jun mengahiri penjelasannya.


"Sayang, aku nggak terima mereka menuduh kita melakukan kecurangan. Aku nggak mau! Kita sudah berjuang keras untuk perusahaan ini, namun semenjak Jelena ada di sini, dia ingin menyingkirkan kita karena sesungguhnya ia ingin menguasai perusaan ini sendiri." Marlisa menatap Jelena dengan tajam.


Adras nampak bingung. Entah siapa yang harus ia percayai. Selama ini, ia hanya hadir jika ada rapat pemegang saham dan pembagian keuntungan perusahaan setiap akhir tahun. Ia juga membaca laporan yang diberikan oleh pamannya. Adras tahu pamannya tulus membantu Adras. Ia rela meninggalkan Amerika dan semua bisnisnya di sana hanya untuk membantu Adras mengurus perusahaan milik orang tuanya.


"Terserah kamu mau percaya yang mana Adras. Aku meras kalau tugasku di perusahaan ini sudah selesai." Jelena membereskan laptop nya.


"Apa maksud kamu, Nana?" tanya Adras.


"Aku berhenti."


Marlisa menahan senyumnya mendengar kalau Jelena akan berhenti.


Adras akan bicara namun terdengar ketukan pintu ruangannya. Monica masuk dan mengatakan kalau seorang pengacara ingin menemuinya.


"Jun, ayo kita pergi!" ajak Jelena.


"Nana, tunggu di ruanganmu. Aku ingin bicara." kata Adras.


"Ok." Jelena segera keluar bersama Jun diikuti oleh Marlisa dan Jeff.


"Selamat siang pak Adras. Saya pengacara nyonya Jelena. Perkenalkan nama saya David Sudrajat." David bersalaman dengan Adras.


"Duduklah!"


"Saya ke sini untuk mengajukan berkas perceraian. Istri anda ingin bercerai!"


"Aku tidak akan menceraikan dia. Keluar!" usir Adras dengan emosi yang sudah menyala. Ia segera ke ruangan Jelena. Nampak istrinya itu sedang membereskan beberapa barangnya namun Jun tak ada.


"Apa maksud kamu dengan mengirim pengacara ke sini?" tanya Adras sambil membanting pintu yang ada di belakangnya.


"Kamu sudah tahu kan alasannya. Kenapa bertanya lagi?"


"Jangan harap kalau aku akan menceraikan kamu, Jelena!"


Jelena menatap Adras dengan jengkel. "Kamu sendiri mengatakan akan membebaskan aku jika ternyata aku tak bisa jatuh cinta padamu."


"Kau mencintai aku!"


"Aku tidak mencintai kamu!"


"Mari kita buktikan!"


Adras langsung mendorong tubuh Jelena sehingga punggung istrinya itu membentur dinding dan dia langsung mencium bibir Jelena dengan keras.


**********


Ada yang bilang, kalau kata-kata tak bisa menjelaskan dengan benar, maka sentuhan fisik akan membuat semuanya lebih jelas. Bagaimana menurut para pembaca?

__ADS_1


__ADS_2