
Sofia dan Arley tertawa bersama saat keluar dari gedung bioskop yang ada di salah satu mall.
"Ceritanya lucu ya?" ujar Arley.
"Iya. Kapan-kapan kita nonton lagi ya kalau ada film komedinya."
"Ok."
Seorang lelaki tiba-tiba menabrak Sofia saat keduanya akan keluar dari pintu bioskop.
"Aow.....!" Sofia terjatuh dengan sangat keras.
"Hei .....!" Arley dengan cepat menangkap cowok itu yang akan segera pergi.
"Maaf.....maaf, aku tak sengaja. Aku harus cepat, adikku kecelakaan....aku harus ke rumah sakit." Pemuda itu nampak ketakutan apalagi saat melihat badan Arley yang tinggi besar dan siap memukulnya.
"Arley .....sudah....." Sofia berdiri dibantu oleh beberapa orang yang memang berjalan di belakang mereka.
Arley langsung melepaskan pemuda itu dan memegang lengan Sofia. "Kamu nggak apa-apakan sayang?" tanya Arley lembut. Panggilan sayang memang biasa diantara mereka.
"Iya." kata Sofia sambil memegang pinggangnya.
"Sakit?" tanya Arley dengan wajah khawatir.
"Sedikit. Tapi masih bisa jalan."
"Aku gendong saja ya?" tawar Arley dan bersiap mengangkat tubuh Sofia.
"Ih....Arley. Memalukan saja." Sofia tertawa sambil mencubit lengan Arley. "Aku bisa jalan."
Arley menautkan jari-jari mereka. "Ayo kita pergi ....!"
Keduanya pun pergi sambil bergandengan tangan. "Cari makan?" tanya Arley.
"Aku mau kita makan di sate ayam dekat apartemen kamu itu."
"Boleh."
Langkah Sofia terhenti saat matanya justru menatap seorang lelaki yang pernah mengisi isi hatinya.
"Kak Agung!" kata Sofia pelan. Ini adalah kali pertama mereka berjumpa setelah Agung menikah 2 bulan yang lalu.
Langkah Agung pun terhenti saat melihat Sofia. Matanya langsung tertuju pada tangan Sofia dan Arley yang saling berpegangan. Agung masih menggunakan seragam pilotnya.
"Mas ......!" Momen saling tatap itu terhenti saat istri Agung muncul dari belakang. Ia melihat ke arah tatapan Agung dan perempuan itu langsung melingkarkan tangannya di lengan Agung.
"Ayo kita pergi!" kata Agung sambil melangkah meninggalkan Sofia dan Arley yang masih diam di tempat mereka berdiri.
Arley meremas tangan Sofia yang ada di genggamannya. "Ayo ....!"
Sofia mengangguk. Ia berusaha menarik napas panjang dan segera melangkah bersama keluar dari mall.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arley ketika mereka ada di dalam mobil.
"Iya." jawab Sofia lalu mengenakkan sabuk pengamannya.
Arley meraih tangan kanan Sofia. "Jika kamu ingin menangis, menangis saja."
"Menangis untuk apa?"
"Untuk sih Agung." kata Arley sambil mengusap tangan Sofia yang digenggamnya.
__ADS_1
"Nggak." Sofia menggeleng. Namun air bening itu jatuh juga.
"Kata orang, semakin sering menangis, akan semakin cepat sembuh luka hatinya." kata Arley. Tangannya yang satu menghapus air mata Sofia.
"Aku nggak mau menangis lagi untuk dia. Dia kelihatan bahagia dengan istrinya. Kenapa juga aku harus bersedih. Aku kan punya kamu." Sofia tersenyum. Arley merasa gemas dengan gadis yang ada di hadapannya itu.
Tatapan mereka bertemu. Tangan Arley masih mengusap pipi Sofia. Dan entah siapa yang memulai, perlahan wajah mereka menjadi semakin dekat dan ciuman manis itu pun terjadi.
Sofia sedikit terkejut saat bibir Arley sudah mendarat ke atas bibirnya. Menyesapnya perlahan dan tangan Arley kini berada di leher gadis itu. Sofia tak bisa menolak. Ciuman ini terlalu manis. Cara Arley menciumnya sangat berbeda dengan cara Angga menciumnya.
Ciuman yang begitu membuat Sofia melambung, membuat hatinya merasa tenang namun menghadirkan senyar aneh di kulit tubuhnya.
Nafas keduanya saling memburu saat ciuman itu akhirnya terlepas. Mereka masih saling bertatapan dan akhirnya entah siapa juga yang memulai, keduanya kembali berciuman lagi. Masih dengan sama lembutnya namun kali ini membakar sesuatu di dalam diri Keduanya.
"Arley .....!" Sofia akhirnya melepaskan ciuman itu saat ia sadar akan status mereka. "Kita nggak boleh kayak gini. Kita hanya pacaran pura-pura."
Arley mengusap wajahnya kasar. Entah iblis apa yang merasuki dirinya. Ia merasa tak mau mengahiri ciuman ini. "Aku...., aku...., aku minta maaf, Sof. Aku bukannya tak bermaksud kurang ajar padamu. Hasrat ini datang begitu saja untuk menciummu."
Sofia tersenyum. Ia juga tak mau menyalahkan Arley karena ia sendiri menikmati ciuman itu. "Kita pulang saja, yuk!" ajak Sofia.
"Nggak jadi makan?"
"Nanti aja deh."
Arley mengangguk. Keduanya langsung diam saat mobil Arley mulai berjalan.
Sesampai di depan rumah, Sofia pun menatap Arley. "Terima kasih sudah traktir aku nonton. Selamat malam."
Arley menahan tangan Sofia yang akan turun. "Acara pernikahan opa Jeff lusa, aku masih boleh datang kan?"
"Tentu saja."
"Sebentar sebelum tidur masih boleh Videocall kan?"
Arley tersenyum lega. Ia pun segera menjalankan mobilnya saat Sofia sudah masuk ke dalam rumah.
**********
Semua orang tak percaya jika mereka mengatakan usia sang pengantin pria 53 tahun. Hari ini, sang bule asal Amerika itu tampil dengan sangat tampan, potongan rambut yang baru dan tentu saja pesona lelaki tampan yang baik hati.
Semua teman dokter Elina memuji suaminya itu dan membuat Elina menjadi bangga sekaligus posesif menjaga sang suami.
"Semoga ini pernikahan uncle yang terakhir. Aku sebenarnya sudah bosan karena menghadiri pernikahannya terus." ujar Adras disambut tawa Jelena yang berdiri di sampingnya.
"Uncle Jeff memang penuh pesona. Sangat tampan dan mampu menghipnotis para gadis."
"Tampan mana sama aku?" tanya Adras sambil menepuk dadanya. Jujur saja ia agak cemburu saat istrinya memuji pria lain. Sekalipun itu adalah pamannya.
"Tampan kamulah, sayang. Jujur saja aku sebenarnya nggak suka bule. Untung saja rambutmu agak hitam, kalau rambutmu pirang, aku mungkin nggak akan melirik mu sedikit pun."
"Masa sih sayang?"
"Iya. Aku lebih suka cowok lokal. Aku cinta sebenarnya produk dalam negeri."
"Ah sayang kamu membuat aku patah hati."
Jelena melingkarkan tangannya di lengan sang suami. "Aku cinta kamu sayang. Bukan karena kamu bule atau bukan. Namun karena aku sangat yakin kalau kamu lelaki terbaik dalam hidupku."
Adras mengecup puncak kepala Jelena. "Aku akan selalu menjadi yang terbaik untukmu dan kelima anak kita."
"Kenapa lima?"
__ADS_1
"Aku mau kamu hamil lagi setelah ketiga kembar lahir sayang. Aku takut rumah kita kan sepi. Uncle Jeff akan pergi dengan Elina. Sebentar lagi Santi juga akan menikah dengan Jun. Dan pasti Sofia juga akan menyusul."
"Aku akan membuat rumah jadi ramai dengan semua kehebohan diriku. Tenang saja."
"Aku percaya."
Keduanya pun tertawa bersama.
Tak jauh dari sana, ada sepasang mata yang menatap ke arah Jeff dengan hati yang sedih. Dialah Marlisa. Model itu pun perlahan meninggalkan halaman belakang hotel yang dijadikan tempat pelaksanaan pesta taman ini. Ternyata ia baru sadar bahwa ia mencintai Jeff.
"Nyonya?"
Marlisa terkejut melihat Anto yang terlihat tampan dengan kemeja biru dan celana kain hitam.
"Anto, kamu ngapain di sini?"
"Kami semua diundang oleh tuan Jeff untuk datang."
"Kalian menginap juga?" tanya Marlisa karena hotel ini letaknya di pinggiran kota.
"Iya Nyonya."
"Oh...." Marlisa melangkah lagi.
"Nyonya....!" panggil Anto.
"Ya, ada apa?"
"Saya kangen dengan nyonya. Selalu terbayang-bayang wajah nyonya setiap malam. Saya takut kalau nyonya kesepian."
Marlisa memang kesepian. Ia banyak uang namun entah mengapa hatinya nelangsa. Ia mencari beberapa pria namun tak ada satu pun yang sanggup mengalahkan pesona Jeff.
"Saya juga menginap di sini. Namun saya menyewa villa di dalam sana. Selamat malam." Marlisa melangkah. Namun Anto mengejarnya.
"Saya antar nyonya? Ini sudah malam."
"Baiklah."
Keduanya pun melangkah bersama menuju ke villa tempat Marlisa menginap yang tempatnya memang agak masuk ke dalam di pegunungan ini. Marlisa tak membawa mobil jadi dia jalan kaki saja.
"Nyonya, ayo saya gendong. Sepatunya hak tinggi." Anto langsung berjongkok di depan Marlisa. Perempuan itu pun naik ke atas punggung Anto yang kekar. Ia merasa nyaman karena Anto melindunginya dan menjaganya.
Sesampai di depan vila, Marlisa membuka pintu villa.
"Anto, ayo masuk!" Marlisa langsung menarik tangan Anto. Dan saat keduanya sudah berada di dalam, Marlisa pun langsung mencium Anto dengan begitu manis. Ah, Anto mana bisa menolaknya?
***********
Elina menarik napas panjang. Orang dari MUA sudah pergis telah selesai membantu Elina membersihkan wajahnya dan membuka gaun pengantinnya. Elina bahkan sudah mandi dan menggunakan gaun malam yang indah dan seksi. Jeff sementara mandi juga.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Jeff keluar hanya menggunakan boxer saja. Elina menelan salivanya melihat perut Jeff yang seperti roti sobek dan dadanya yang terlihat kekar dengan bulu-bulu halus.
"Sudah siap sayang?" tanya Jeff sambil melepaskan handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya.
"Iya." jawab Elina sambil tersipu malu.
"Aku sudah lama memimpikan malam ini. Ayo sayang....." ujar Jeff tanpa ragu langsung membuka boxer nya. Elina menelan salivanya. Oh em Ji it's so big!
**********
Hallo semua......
__ADS_1
Dukung terus cerita ini ya...
bentar lagi tamat