
Saat Adras bangun pagi, ternyata Jelena sudah tak ada di rumah.
"Aunty Nana kemana?" tanya Adras sambil melirik jam dinding yang menunjukan pukul 7 lewat 20 menit.
"Aunty sudah ke cafe. Katanya ia harus membuka cafe karena kuncinya ada padanya." ujar Sofia.
"Haruskah dia pergi pagi-pagi sekali? Dia kan bisa meminta aku untuk mengantarnya. Dia sedang hamil." ujar Adras nampak khawatir.
"Paman Sule yang mengantar aunty tadi pagi." kata Santi yang sementara menikmati sarapannya. "Sarapan ini aunty yang buat."
"Oh ya?" Adras langsung membuka piring yang tertutup di hadapannya. Ia suka dengan masakan Jelena. Ada nasi goreng ikan asin dan telur dadar yang dibumbui rempah-rempah. Entah bagaimana Jelena membuatnya namun Adras tak pernah merasakan telur dadar yang enak seperti ini.
Adras makan dengan sangat enak. "Eh, kenapa sunyi? Kemana uncle Jeff dan Marlisa?"
"Opa sama Oma berangkat pagi-pagi juga. Mau liburan ke Thailand katanya."
"Oh, gitu ya? Bagus juga mereka liburan." ujar Adras lalu kembali menikmati sarapannya.
"Uncle, bolehkah kita selesai sarapan?" tanya Sofia.
"Boleh. Eh, kok Santi nggak sekolah?" Adras menatap Santi.
"Kami di beri libur 2 hari karena ada kegiatan guru-guru di sekolah. Yang hadir hanya anak-anak kelas 2. Tapi nggak semua. Hanya 20 orang siswa saja." jawab Santi.
Adras mengangguk. Mereka pun menikmati sarapan sampai selesai lalu Adras mengajak mereka berbicara di ruang kerjanya karena ia tahu apa yang akan mereka bicarakan.
Santi dan Sofia duduk di depan meja kerja Adras.
"Uncle, maaf jika kami terlalu ikut campur dalam urusan pribadi uncle. Kami bahkan dengan sengaja mencarikan seorang istri untuk uncle karena mengira uncle adalah seorang gay." Sofia membuka percakapan diantara mereka. "Dugaan kami salah. Uncle ternyata adalah seorang lelaki tulen dan tak memiliki hubungan dengan Adam maupun pria-pria lain yang selama ini digosipkan dengan uncle."
"Terima kasih karena kalian begitu peduli dan sayang pada uncle." kata Adras.
"Siapa Anita? Mengapa dia terlihat seperti orang yang memiliki hubungan khusus dengan uncle? Bukankah Anita itu adalah perempuan yang sudah memiliki suami?" tanya Santi.
Adras menarik napas panjang lalu mengusap wajahnya dengan perlahan. Apapun kini situasinya, ia harus menjelaskan semua yang terjadi.
"Anita dan uncle menjalin hubungan terlarang sudah 9 tahun lebih."
__ADS_1
"Apa?" Santi dan Sofia saling berpandangan. Mereka sungguh tak menduga kalau sudah selama itu paman mereka menjalin hubungan yang terlarang.
"Itulah kenyataannya." Lalu Adras menceritakan awal mula perkenalannya dengan Anita.
"Aku mengerti kalau uncle begitu terikat pada Anita walaupun uncle tahu kalau dia sudah menikah. Uncle nggak punya siapapun. Opa Jeff sibuk mengurus perusahaan. Tak ada orang yang membimbing uncle di saat itu. Tapi uncle, apakah selamanya uncle akan menjalin hubungan terlarang ini?" tanya Santi. Sofia cukup kaget juga melihat kedewasaan adiknya.
"Aku sudah meminta pada Anita untuk mengakhiri hubungan kami. Namun Anita tak mau menerimanya. Ia bahkan mencoba untuk bunuh diri dengan cara mengiris nadi di tangannya." Adras melipat kedua tangannya di atas meja. Ia menatap kedua ponakannya. "Uncle akan berusaha untuk lepas dari ikatan ini. Walaupun memang pada kenyataannya, sangat sulit melupakan Anita setelah 9 tahun lebih kami bersama."
"Uncle, apakah kehadiran aunty Nana tak berarti bagimu? Aunty Nana sedang hamil anak uncle. Dia juga wanita baik-baik." ujar Sofia.
"Aunty Nana sangat berarti bagi uncle. Makanya uncle tak akan menceraikan dia. Uncle akan berusaha untuk membangun hubungan yang baik dengannya. Uncle akan berusaha membuka hati uncle baginya."
Santi dan Sofia langsung berdiri dari kursi mereka dan berada di sisi kanan dan sisi kiri kursi tempat Adras duduk. "Aunty Nana adalah istri yang baik bagi uncle. Kami yakin ia bisa menolong uncle untuk benar-benar melupakan Anita." Kata Sofia.
Adras mengangguk.
"Tolong bantu uncle untuk memenangkan hati Jelena ya? Karena dia ingin pisah dengan uncle."
"Kalau soal itu serahkan pada kami. Ayo kita buat aunty Nana klepek-klepek dengan perhatian uncle." ujar Santi sambil mengeringkan sebelah matanya pada kakaknya.
Adras memeluk kedua ponakannya dengan perasaan lega. Jujur saja, Adras tak tahu bagaimana harus meluluhkan hati wanita karena ia tak pernah melakukan itu pada Anita. Hubungannya dengan Anita hanya sebatas di apartemen. Tak pernah keluar untuk berkencan.
*********
"Bunga? Untukku?" tanya Jelena tak percaya.
Tari memberikan rangakaian bunga mawar merah yang disembunyikan di punggungnya. Jelena menerimanya dengan bingung. Tak pernah ia menerima bunga seperti ini.
"Ada kartunnya. Ayo di buka!" Tari nampak penasaran. Jelena pun membukanya.
Selamat siang istriku
jangan terlalu lelah bekerja ya? Jangan lupa makan dan minum susu hamil mu. Adras.
"Dari siapa?" tanya Tari.
"Suamiku."
__ADS_1
"Kalian sudah baikan?"
Jelena hanya mengangguk dan tersenyum. Tari pun mengangkat jempolnya dan segera meninggalkan Jelena sendiri karena cafe memang sedang ramai.
Mata Jelena melirik bunga yang ada di sampingnya itu. Hatinya menjadi tak karuan.
Selesai jam kerjanya, Jelena keluar untuk menuju ke mini market yang dekat dengan cafe. Ia seperti biasanya ingin membeli rujak atau pun mangga muda yang selalu membuat air liurnya ingin keluar jika tak segera membelinya.
Saat ia keluar dari cafe, ia melihat mobil Adras ada di sana. Dan cowok itu pun turun lalu segera mendekati Jelena.
"Na....!"
"Ngapain ke sini?"
"Ingin menemui kamu. Memangnya nggak boleh?" tanya Adras.
Jelena tak menanggapi ucapan Adras. Ia terus melangkah dan Adras pun mengikutinya. Jelena masuk ke dalam supermarket dan tak peduli dengan Adras yang tetap ada di belakangnya. Saat Jelena akan membayar belanjaannya, Adras dengan cepat mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Biar aku saja ." Jelena menolak. Lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan uangnya.
"Aku yang bayar mba..." kata Adras pada si penjaga kasir.
"Aku mba..." ujar Jelena.
Si kasir nampak bingung.
Adras melingkarkan tangannya di bahu Jelena. "Aku suaminya. Nih!" Adras meletakan uangnya di atas meja. "Ambil saja kembaliannya." Lalu ia menarik Jelena. "Ayo sayang....!"
Jelena tak mau membantah lagi karena yang antri di belakang mereka cukup banyak.
"Kamu menyebalkan!" ujar Jelena saat keluar dari supermarket. Ia terus berjalan tanpa memperhatikan jalan.
"Na....!" Adras dengan cepat menarik tubuh Nana dan memeluknya erat sehingga motor itu tak jadi menabrak Jelena.
Pandangan Adras penuh Amarah ke arah motor yang hanya berlalu begitu saja.
*********
__ADS_1
Sengajakah motor itu atau tidak?
jangan lupa dukung terus cerita ini ya guys