
Sudah 4 hari Adras pergi untuk melaksanakan tugasnya sebagai pilot. Jelena pun bersikeras kembali ke perusahaan walaupun sebenarnya Adras tak mau istrinya itu kelelahan karena hamil 3 anak sekaligus. Namun Jelena yang merasa kesepian tak bisa dilarang. Adras pun setuju dengan catatan istrinya itu tak harus setiap hari datang ke sana.
Setiap hari mereka pasti Videocall. Adras selalu rindu dengan istrinya. Setiap ada kesempatan ia pasti akan menghubungi Jelena.
Santi dan Sofia pun selalu memberikan perhatian pada Jelena sebagaimana pesan Adras.
"Aunty, boleh diganggu?" tanya Santi sambil berdiri di depan pintu kamar bibinya itu yang memang tak dikunci.
Jelena yang sedang membereskan tempat tidur tersenyum. "Masuk saja, San."
Santi mendekat dan langsung duduk di sofa. "Uncle pulangnya kapan?"
"Siang ini. Makanya aunty nggak mau ke kantor. Di rumah saja sambil menunggu uncle pulang."
"Aunty, boleh nggak bicara dengan uncle."
Jelena yang sudah selesai membereskan tempat tidurnya segera mendekati Santi dan duduk di dekat gadis itu.
"Tentang apa, sayang?" tanya Jelena lembut.
"Aku....aku.....menjalin hubungan dengan oppa Jun." Kata Santi sambil tertunduk.
"Jun pemilik cafe tempat aku bekerja?"
Santi mengangguk. Jelena pun tersenyum. Ia memang tahu kalau sejak lama Santi menaruh hati untuk pria asal Korea itu. Makanya ia sendiri juga tak pernah menanggapi perhatian Jun padanya secara berlebih.
"Baguslah. Jun adalah pria yang baik. Uncle pasti tak akan melarang hubungan diantara kalian."
"Masalahnya, aku dan oppa Jun harus segera menikah."
Jelena menyentuh tangan Santi. "Sayang, kenapa harus secepat ini menikah? Kamu kan masih kuliah?" Jelena mulai takut dengan apa yang dipikirkannya.
"Aku harus menikah, karena....karena....." Santi bingung harus bicara apa.
"Ka...kamu sama Jun, bagaimana hubungannya?"
"Maksudnya?" Santi bingung dengan pertanyaan Jelena.
"Maksud aunty, kamu nggak diapa-apain sama Jun kan?"
"Sudah aunty!"
"Astaga Jun.....!" Jelena sedikit kesal. Ia tahun Jun lelaki dewasa. Usianya saja hampir sama dengan Adras. Jun setahun lebih muda dari Adras. Apakah lelaki itu tak bisa menahannya?
"Kamu....kamu hamil?" tanya Jelena pelan tanpa bermaksud menyinggung Santi.
"Ha...hamil?" Santi terbelalak.
"Kamu tadi bilang kalau Jun sudah apa-apain kamu."
Santi tertawa. "Aunty ini. Biasalah orang pacaran. Pelukan dan ciuman."
Jelena bernapas lega. "Syukurlah. Lalu apa sebabnya sampai kalian harus menikah cepat?"
Santi menceritakan segalanya. Mulai dari pertemuan tak sengaja di restoran sampai saat ia bernazar jika pamannya selamat.
__ADS_1
"Memangnya kamu sudah siap menikah dengan Jun?"
"Aku mencintainya, aunty. Aku juga melihat kalau oppa Jun serius dengan aku. Tuhan sudah menolong uncle Adras dan aunty sampai bisa selamat. Masa sih aku nggak membayar nazarku?"
Jelena tersenyum. Ia tahu kalau Santi lebih dewasa dan bijaksana dari Sofia. Namun ia juga tak yakin apakah Adras akan menyetujuinya atau tidak. "Semoga Adras bisa mengerti sayang." kata Jelena sambil mengusap punggung Santi.
***********
Adras tiba saat waktu menunjukan pukul setengah dua belas siang. Jelena menyambutnya di depan pintu dan memeluk suaminya itu dengan erat.
"Kangen, mas." kata Jelena sambil menghirup aroma tubuh suaminya.
"Mas juga sangat kangen. 7 hari ninggalin kamu rasanya seperti 7 tahun." Kata Adras sambil mengecup pipi, mata, hidung dan berakhir mencium bibir istrinya.
"Ayo masuk!' ajak Jelena sambil menggandeng tangan suaminya. Adras melingkarkan tangannya di bahu sang istri lalu melangkah menuju ke kamar mereka.
Adras dan Jelena kembali menempati kamar bawa. kamar itu sudah direnovasi sehingga memiliki ruangan walk in closet. Adras juga menyiapkan ruangan disebelahnya untuk menjadi kamar bayi.
Sesampai di kamar, Jelena membantu Adras melepaskan dasinya dan membuka kemeja seragam pilot suaminya.
"Mas mau mandi dulu baru makan atau mau makan dulu baru mandi?" tanya Jelena setelah kemeja suaminya selesai terlepas dari tubuhnya.
"Aku mau kamu sayang." Kata Adras sambil menarik istrinya ke dalam pelukannya. Adras mencium pundak Jelena yang sedikit terbuka lalu menggigitnya sedikit, memberikan sensasi geli sekaligus juga membuat kulit Jelena bagaikan kesetrum. Ia tahu ini godaan pertama dari suaminya untuk membawa ia ke ranjang."
"Mas......!" Jelena menjauh. "Aku sudah memasak lho. Nanti kalau mas ngajak aku ke ranjang saat ini juga, makanannya keburu dingin. Makan dulu ya. Setelah itu aku akan memberikan waktuku untuk melayani mas sebanyak yang mas mau."
"Benar nih?" Adras tersenyum menggoda.
"Apakah aku pernah mengecewakanmu soal urusan ranjang?" tanya Jelena dengan senyum menggoda.
"Baiklah. Aku mandi, makan dan setelah itu ranjang." ujar Adras lalu segera berlari ke kamar mandi. Jelena menarik napas lega. Ia akan berusahabjat suaminya senang hari ini sebelum akhirnya menyampaikan keinginan Santi.
***********
"Sayang, ini sudah jam berapa?" tanya Adras sambil menguap. Ia dan Jelena tadi bercinta sangat lama. Dari jam setengah dua sampai jam 5 sore. Adras memang memberikan jeda bagi istrinya istrirahat sebelum akhirnya ia meminta ronde kedua. Sebenarnya Adras sendiri masih belum puas. Namun, mengingat kondisi Jelena yang hamil, Adras pun menuntaskan ronde ketiga dengan tangan istrinya saja tanpa memasuki Jelena lagi.
"Jam 8 lewat, mas."
"Astaga..., pantas saja perutku sudah lapar. Kamu nggak tidur sayang?" tanya Adras lalu menarik istrinya agar duduk di sampingnya. Ia langsung mengendus leher Jelena. "Wangi."
"Aku sudah mandi selesai memasak tadi."
Adras menatap Jelena dengan lembut lalu mengecup bibir istrinya. "Kok kamu masak sih? Kan ada para art?"
"Aku hanya mengolah semua bahan yang sudah disiapkan oleh para pelayan. Jadi aku nggak capek. Aku mau memanjakan kamu dengan masakan aku, mas."
"Kamu memang istri terbaik." Adras kembali mengecup bibir Jelena.
"Tuh kan.....!" Jelena menunjuk sesuatu yang menyembul dari balik selimut. "Makanya jangan kebanyakan dicium."
Adras tertawa. "Tidurkan dia, dong...."
"Nanti, setelah makan malam. Ayolah, yang lain sudah menunggu di meja makan."
"Aku ke kamar mandi dulu, sayang." Adras pun turun membuat Jelena menahan tawa melihat tubuh polos suaminya yang melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Saat makan malam, Santi terlihat agak tenang. Jelena sudah mengatakan bahwa sesudah makan malam, ia dan Adras akan bicara.
Jelena membawakan kopi untuk suaminya yang duduk di teras belakang. Adras duduk di sebuah kursi malas sambil berselojor kaki dan membaca sebuah buku panduan tentang pesawat terbaru yang baru saja dibeli oleh maskapainya.
setelah meletakan kopi di meja kecil yang ada di samping kursi malas itu, Jelena pun duduk di samping suaminya. Kursi malas itu memang lebar dan bisa untuk dua orang.
"Mas....." Jelena memeluk Adras membuat Adras meletak buku itu di atas meja. Ia langsung menyambut pelukan Jelena sambil mengusap rambut istrinya yang sudah kembali menjadi panjang.
"Mas, aku tadi bicara dengan Santi."
"Lalu?" tanya Adras sambil memejamkan matanya. Ia sangat menikmati momen berdua dengan Jelena seperti ini. Sesekali tangan Adras mengusap perut Jelena.
"Santi beneran mau menikah, mas."
"Apa?" Adras mengangkat tubuhnya sambil menatap istrinya.
"Mas dengar dulu."
Jelena tak menceritakan masalah yang terjadi di restoran. Ia hanya menceritakan bahwa Santi sudah lama menyukai Jun dan saat kejadian di pesawat itu, ia memang bersama Jun. Santi juga mengucapkan nazar yang membuatnya harus menikah dengan Jun.
"Nggak. Pokonya aku nggak setuju. Santi itu baru 19 tahun. Bagaimana mungkin aku akan tenang membiarkan ia bersama Jun sementara aku tahu kalau lelaki itu justru pernah menaruh hati padamu?"
"Sayang, Jun itu mungkin pernah naksir aku. Namun saat aku mengatakan bahwa aku hanya mencintai kamu, Jun akhirnya mengerti."
"Lalu kenapa dia akhirnya mau sama Santi? Sebagai bentuk pelarian? Atau suatu alasan untuk dekat dengan kamu?"
"Mas, kok ngomongnya gitu sih?" Jelena jadi kesal. "Aku percaya Jun itu orang baik, mas. Dia tak pernah bersikap kurang ajar padaku selama ini. Mungkin saja Tuhan mengubah hatinya karena melihat kalau Santi serius mencintainya."
Adras menggeleng. "Nggak. Santi masih 19 tahun, Na. Aku nggak rela Santi menikah secepat itu."
"Mas, kita juga menikah saat usiaku baru 20 tahun. Masih muda juga."
Adras berdiri. "Jangan samakan pernikahan kita dengan siapapun, sayang. Pernikahan kita adalah awal terbaik dalam hidupku karena kehadiranmu mampu menarik aku pada jalan hidupku yang kelam. Kamu dewasa karena pahitnya jalan hidup yang telah kamu alami. Namun Santi, ia masih terlalu muda. Ia terbiasa manja. Aku tak mau pernikahan justru akan membuat ia kehilangan pegangan akan masa depannya." Adras turun dari kursi malas dan segera melangkah menjauh dari Jelena.
"Tapi mas......!" Jelena mengejarnya. Ia memeluk Adras dari belakang. "Mas cobalah mengerti dengan isi hati Santi. Dia sangat mencintai Jun. Dia juga berjanji kalau setelah menikah masih akan meneruskan cita-cita nya menjadi dokter."
Adras berbalik dan menatap istrinya. "Sayang, cobalah mengerti dengan semua ketakutan dan rasa khawatirku. Aku menyayangi kedua ponakanku. Hatiku akan hancur jika melihat pernikahan mereka gagal."
"Mas, aku kenal Jun. Dia itu orangnya baik dan bertanggungjawab."
Adras menggeleng. Ia memeluk Jelena dan mengecup dahi istrinya. Setelah itu ia menunduk dan mencium perut Jelena. "Ganti saja topik pembicaraannya" lalu ia duduk kembali di kursi malas dan menikmati kopi buatan istrinya.
Jelena segera masuk ke dalam dengan wajah kesal. Ia melihat Santi yang sudah menunggunya di dapur. "Bagaimana aunty?"
"Maaf Santi. Adras tak mengijinkannya."
Santi mengangguk walaupun wajahnya sedih. Ia segera mengirim pesan pada Jun.
Maaf oppa, kita tak bisa menikah. uncle Adras nggak setuju dan aku tak mau membuat uncle kesal dengan terus memaksakan kehendakku. Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita.
Santi mengirim pesan pada Jun
Saat dilihatnya ada centang biru, Santi tahu kalau Jun sudah membaca pesannya. Tak ada balasan. Namun setengah jam kemudian, Santi mendengar bunyi bel pintu dan bibi Suni menemuinya di kamar. "Non, ada tuan Jun di bawa!"
Santi merasakan seluruh tubuhnya seperti kehilangan kekuatan.
__ADS_1
**************
Bagaimana perjuangan Jun untuk mendapat restu Adras?