ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Aku Pergi


__ADS_3

Jelena memilih untuk bersembunyi di balik pohon yang ada. Ia tak percaya, uncle Jeff bisa melakukan itu justru saat mereka ada di depan rumah.


Apakah memang semua lelaki seperti itu? Sedangkan yang dekat saja bisa berselingkuh apalagi Adras dan Anita yang jelas-jelas punya kisah manis? Mereka selalu ada di hotel yang sama. Mereka selalu ada di pesawat yang sama. Duh, kok aku nggak bisa membuang semua perasaan gundah ini ya?Kenapa ya?


"Nyonya......!" panggil bi Suni.


Jelena memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. "Ada apa bi?"


"Makan malam sudah siap. Tuan sudah menunggu di meja makan bersama yang lain."


"Baiklah." Jelena pun melangkah masuk. Ia melihat Jeff juga sudah duduk di depan meja makan dengan serentetan pertanyaan dari Marlisa.


"Sudahlah. Aku baik-baik saja. Makanya aku tak menelepon kalian karena kondisiku dinyatakan stabil. Aku juga sudah menelepon asistenku tadi untuk menjemput mobilku. Jadi sekarang kita makan saja ya. Jujur, aku lapar." ujar Jeff lalu mulai membuka piringnya yang tertutup lalu memberikannya pada Marlisa.


"Opa mengalami kecelakaan tapi kok wajahnya sumringah banget. Kayak ada apa gitu. .." ujar Santi.


"Memangnya kita harus selalu bersedih sekalipun ada orang yang memfitnah kita. Nggak kan?" ujar Marlisa sambil melirik Jelena. Adras menatap Marlisa tanda dia tak suka.


"Orang senang itu karena terjadi sesuatu yang membuatnya bahagia. Misalkan, berciuman dengan kekasihnya. Atau ketemu sesuatu yang baru sehingga melupakan yang lama. Ya, begitulah." Kata Jelena dingin namun sangat tajam membuat Jeff dan Marlisa juga terkejut.


Marlisa berpikir kalau Jelena tahu dengan apa yang terjadi antara dia dan Anto sedangkan Jeff berpikir kalau Jelena melihatnya tadi berciuman dengan dokter muda itu.


"Maksud kamu apa, Na?" Adras menjadi heran dengan sikap Jelena.


"Selingkuh itu memang sangat indah." ujar Jelena lalu segera menutup piringnya kembali. "Aku kenyang." katanya lalu segera meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya.


Wajah Marlisa menjadi pucat. Ia sendiri tak memperhatikan kalau wajah Jeff juga sedikit tegang. Namun karena kematangan pribadi Jeff membuat pria itu dengan cepat menguasai dirinya. Sedangkan Adras sedikit kesal karena Jelena masih menuduh dia yang selingkuh dengan Anita.


Santi dan Sofia hanya bisa saling berpandangan tanpa mengerti dengan apa yang terjadi.


"Makanlah." ujar Jeff lalu mulai menikmati makan malamnya.


*********


Tenangkan dirimu kau begitu jauh, sebenarnya aku tak seburuk itu. Semua perjuanganku di belakang dirimu, semata karena ku tak ingin hidup tanpamu


(masih lagu Mario, kalau dengar lagu ini sambil ketik cerita, fell nya pasti dapat)


Adras mendorong pintu kamar. Di lihatnya Jelena sedang duduk sambil menonton TV. Perlahan Adras melangkah mendekati Jelena dan duduk di sampingnya. Sofa di kamar ini memang hanya single sofa yang terdiri dari 3 buah.


"Na, boleh kita bicara?" tanya Adras pelan.


"Mau bicara apa lagi?" tanya Jelena tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV yang menampilkan acara komedi.

__ADS_1


"Tentang hubungan kita. Tentang semua yang terjadi. Apa yang kamu katakan di meja makan tadi tertuju untuk aku kan?"


"Memangnya kamu merasa selingkuh? Kalau nggak merasa seharusnya tak usah terpengaruh dengan kata-kata ku. Dasar, like uncle his nephew."


Adras dengan kesal meraih remote yang ada di pangkuan Jelena lalu menekan tombol merah sehingga TV pun mati.


"Jelena, jangan bersifat seperti anak kecil. Coba jelaskan apa maksud kamu? Dan belajar menghargai orang yang ada di sampingmu."


Jelena menatap Adras. "Mau kamu apa sih?"


"Apa maksudmu mengatakan like uncle like his nephew? Memangnya apa yang sudah aku lakukan yang sama dengan pamanku?"


Jelena berdiri dan bermaksud akan keluar dari kamar namun Adras menghadang langkahnya. "Selesaikan percakapannya sebelum kamu keluar." kata Adras seolah tahu kemana Jelena akan pergi.


"Apa lagi yang harus aku selesaikan? Bukankah tadi pengacara ku sudah menemui mu? Kita akan menyelesaikannya di pengadilan."


"Ok. Jika itu yang kau mau." ujar Adras karena sudah terpancing emosi dengan sikap Jelena yang menurutnya sudah keterlaluan.


"Baguslah." ujar Jelena berusaha menahan matanya agar tak berair. Persetujuan Adras justru membuat hatinya sakit.


"Namun sebelum aku setuju dengan keinginanmu itu, aku mau mengatakan padamu kalau perasaanku pada Anita semuanya sudah selesai. Aku memang pernah punya cerita masa lalu bersamanya yang tidak singkat. Bagi orang lain, termasuk juga dirimu, melepaskan kisah masa lalu yang telah terjalin selama 9 tahun itu bukankah hal yang mudah. Aku sendiri juga sempat berpikir demikian. Namun ternyata saat bersamamu, aku bisa melupakan Anita. Kamulah tujuan hidupku sekarang. Karena aku tahu, saat memilikimu, aku berada pada jalur yang benar. Kita diikat dengan pernikahan dan bukan sekedar napsu belaka untuk memuaskan raga."


"Tapi, kebersamaan mu dengan Anita membuat aku selalu tak percaya dengan ketulusan mu untuk bersamaku. Aku selalu tertekan setiap kali melihat postingan Anita tentang kebersamaan kalian sebagai satu kru penerbangan. Aku ingin membuka hatiku untukmu namun aku tak mau terluka."


"Bagaimana aku bisa percaya kepadamu kalau kamu sendiri tak percaya padaku? Aku sudah bekerja selama hampir satu bulan ini. Siang malam untuk menemukan keganjalan di perusahaan mu. Teruslah kau mengejar mimpimu sebagai seorang pilot dan perusahaan orang tuamu akan hancur."


"Na, ini menyangkut uncle Jeff. Bagaimana bisa aku menuduhnya mencuri dariku sementara selama 10 tahun ini dialah yang menjalankan semuanya? Tak mungkin, Na. Uncle Jeff itu menyayangi aku sebagai anaknya sendiri."


"Kalau begitu, lupakan saja semuanya. Kita memang tak ditakdirkan bersama karena tak ada rasa saling percaya." Jelena menepis tangan Adras yang ada di bahunya. "Ini malam terakhir aku ada di sini."


"Na....!" Adras kembali menghadang langkah Jelena.


"Lepaskan!"


"Na....!" Adras langsung memeluk Jelena dengan kuat. "Aku mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan kamu!"


"Biarkan aku bahagia, Adras. Karena berada di sampingmu, aku justru sering merasa tertekan dan selalu khawatir. Masa lalumu, terlalu berat untukku terima."


Pelukan Adras terlepas. Jelena pun segera meninggalkannya. Adras menatap punggung Jelena yang menghilang di belakang pintu dengan hati yang sakit.


*********


"Aunty, apa maksudnya ini?" tanya Sofia saat melihat Jelena yang sudah siap dengan 2 koper di tangannya.

__ADS_1


Jelena tersenyum. "Aku tak bisa bersama Adras. Aku tak bisa mencintainya seperti yang dia inginkan. Jadi sebaiknya aku pergi." ujar Jelena.


"Aunty, jangan pergi!" Santi dan Sofia langsung memeluk Jelena sambil menangis.


"Bukankah perjanjian kita hanya sampai kalian bisa membuktikan bahwa uncle kalian bukan gay? Sekarang ijinkan aku pergi. Demi perjanjian ini, aku sempat mengubur impianku. Sekarang, ijinkan aku mengejar mimpiku."


Sofia menatap Adras yang hanya berdiri tak jauh dari mereka dengan pandangan dingin.


"Uncle, tolong bujuk aunty Nana agar jangan pergi. Bukankah uncle mencintai aunty Nana? Please...." Mohon Santi sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Kita tak bisa menahan orang yang tak mencintai kita. Sudah cukup kita membuatnya tersiksa selama ini." Kata Adras pelan namun pandangan matanya sangat terluka.


Jelena membuka cincin pernikahan yang melingkar di jarinya. Ia juga mengambil kunci mobil yang ada di dalam tasnya.


"Aku tak mau menyimpan apapun yang berhubungan dengan kamu, Adras." lalu ia meletakan semuanya di atas meja ruang tamu. Termasuk juga dengan kotak yang berisi semua perhiasan yang pernah Adras berikan padanya.


"Aku pergi ya." pamit Jelena lalu segera meninggalkan ruang tamu. Santi dan Sofia hanya bisa saling berpelukan sambil menangis. Sementara di ujung tangga lantai dua, Marlisa tersenyum penuh kemenangan.


"Uncle jahat! Seharusnya uncle mempertahankan istri uncle! Jangan menyerah begitu saja." Santi segera berlari menaiki tangga. Ia terlihat sangat sedih. Sofia pun mengejarnya.


Adras menatap semua yang ditinggalkan Jelena di atas meja. Ia mengumpulkan semuanya dan membawanya ke kamarnya. Ia kemudian menelepon seseorang.


"Tolong ikuti istriku." kata Adras. Ia kemudian meraih kunci mobilnya dan segera menuju ke apartemen Anita.


"Adras?" Anita nampak senang saat melihat Adras menemuinya.


"Anita, jangan lakukan apapun untuk berusaha membuat aku kembali padamu. Karena apapun yang kau lakukan, tak akan pernah mengubah perasaanku lagi. Kau hanya masa lalu bagiku. Aku tak akan pernah kembali padamu lagi sekalipun Jelena meninggalkan aku. Dulu, aku memang tergila-gila padamu. Berulang kali aku meminta agar hubungan kita diresmikan namun kamu mengabaikan itu. Kesempatan itu tak ada lagi."


"Adras, aku mencintaimu!"


"Aku tidak mencintaimu. Dan aku tak mau memulainya lagi denganmu. Aku akan resign dari maskapai."


"Adras, menjadi pilot adalah mimpimu."


"Memang menjadi pilot adalah mimpiku. Namun apa artinya mimpi itu jika tak ada Jelena bersamaku." Lalu Adras segera meninggalkan apartemen Anita. Ia tak peduli walaupun Anita memanggilnya sambil berteriak histeris dan menangis.


********


Nah....lho....apa yang terjadi kemudian....


sebenarnya emak nggak rela Adras berhenti jadi pilot.


Emak jadi dilema 🤣🤣🤣

__ADS_1


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2