
Sudah 2 hari Adras pergi. Semalam ia menelepon Jelena namun Jelena sudah tertidur. Dan pagi ini Jelena sudah kembali berada di kantor. Sudah banyak hal yang ia pelajari di perusahaan ini. Termasuk juga dengan sistem keuangan yang menurut Jelena ada sedikit penyimpangan.
Semua karyawan bersikap manis pada Jelena karena mereka tahu siapa dia. Namun Jelena justru bersikap biasa saja. Ia sama sekali tak pernah menunjukan power nya sebagai istri sang pemilik perusahaan.
"Selamat siang nyonya."
Jelena mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Giska. Salah satu staff di bidang keuangan.
"Ada apa?"
"Eh...begini, jika nyonya berkenan, selesai jam kerja, kami mau buat kejutan ulang tahun pada salah pak Tio. Beliau adalah kepala gudang. Beliau baru saja kehilangan anaknya 5 bulan yang lalu dan istrinya ingin memberikan dia keceriaan lagi melalui pesta kejutan ini. Namun beliau orangnya nggak suka diajak keluar jadi, kalau boleh kami mau minta bantuan nyonya untuk mengajak pak Tio pergi. Mungkin kalau nyonya yang mengajak, pak Tio pasti sungkan untuk menolak."
"Baiklah." Jelena sebenarnya lagi malas juga untuk keluar. Namun ia ingin merasa dekat dengan semua karyawan yang ada.
Saat menjelang jam pulang kantor, Jelena memanggil pak Tio.
Pria berusia sekitar 40 tahun itu datang ke ruangan Jelena. "Pak Tio, saya ingin melihat gudang yang ada di salah satu wilayah dekat pelabuhan. Bolehkah pak Tio menemani saya ke sana? Mas Adras meminta saya untuk mengecek sesuatu di sana."
"Baiklah nyonya."
Jelena pun pergi dengan Tio diantarkan oleh paman Sule.
Gudang itu sebenarnya dekat dengan restoran tempat pesta kejutan itu dilaksanakan. Setelah pura-pura memeriksa semua yang ada, Jelena pun mengajak Tio mampir ke sebuah restoran.
Awalnya Tio menolak dengan alasan bahwa ia harus cepat pulang namun karena Jelena terus memaksa, mereka pun masuk juga ke dalam restoran. Namun langkah terkejutnya Tio saat melihat istri dan kedua anak lelakinya ada di sana. Juga semua karyawan di bagian gudang dan beberapa staff yang ada.
Jelena ikut terharu melihat bagaimana suami istri itu saling berpelukan sambil menangis. Mungkin karena anak mereka yang tertua sudah meninggal makanya kejutan ulang tahun ini membawa penghiburan bagi dirinya.
Acara pun berlangsung meriah meskipun nampak sederhana. WA grup perusahaan lebih dengan pujian karena baru kali ini, salah satu petinggi perusahaan mau ikut gabung dengan karyawan biasa seperti mereka. Jelena bahkan dan segan untuk ikut menari bersama.
"Nyonya, kapten Adras sedang berada di Australia ya?" tanya Giska.
"Iya. Rute penerbangannya sekarang sudah jauh. Tahu dari mana?" tanya Jelena heran.
"Aku kan salah satu followers kapten Adras. Nih, si pramugari cantik Anita, memposting foto dan menandai nya pada kapten." Giska menunjukan postingan Anita.
Jelena melihat foto kru penerbangan itu. Adras juga sedang ada di sana. Ia berfoto dan berdiri di samping Anita. Nampak tangan Anita melingkar di lengan Adras. Postingan itu bertuliskan kata-kata seperti ini : Rute baru bersama kru terbaik dan kapten tertampan di maskapai ini.
"Mereka semua nampaknya sangat bahagia dengan penerbangan ini ya?"
Jelena mengangguk. "Team yang baik."
"Tapi aku salut sama nyonya. Kapten Adras, selalu dikelilingi wanita cantik namun nyonya orang nya kelihatan tenang. Apalagi pramugari Anita itu kan katanya pramugari tercantik di maskapai. Dia terlihat sangat akrab juga dengan kapten."
"Semua tergantung kepercayaan." Ujar Jelena berusaha menenangkan hatinya yang perih saat melihat bagaimana cantiknya Anita yang menggandeng Adras.
Sepulang dari acara, Jelena justru tak bisa tidur. Pikirannya bimbang. Apakah keputusan aku untuk kembali bersama Adras adalah sesuatu yang keliru? Bagaimana mungkin Adras dapat dengan mudah melupakan Anita sementara mereka adalah pasangan kekasih selama 9 tahun lebih. Bukankah hal yang gampang untuk melepaskan sebuah kenangan yang telah dijalani selama 9 tahun lebih.
Jelena menatap ponselnya. Belum ada kabar dari Adras.
__ADS_1
Kok aku jadi gelisah seperti ini sih? Aku belum mencintai Adras kan? Aku sudah berjanji, harus Adras yang mencintai aku dulu barulah aku akan membuka hatiku untuknya.
Saat Jelena akan tidur, ponselnya berdering. Ada panggilan dari Adras.
Entah mengapa Jelena enggan untuk mengangkatnya. Ia pun segera menonaktifkan suara ponselnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
Sayang, sudah tidur ya? Aku baru tiba di Beijing. Kami akan istirahat selama 10 jam di sini sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Nggak sabar untuk segera ketemu kamu. Miss you so much baby.
Demikianlah pesan yang Adras kirimkan. Namun Jelena justru sudah tertidur.
********
Marlisa menatap Jelena yang sedang membaca di tablet yang dipegangnya. Hari ini ia sudah cukup sakit telinga mendengar pujian para karyawan untuk Jelena yang hadir di pesta kejutan untuk si kepala gudang.
"Jelena, aku mau bicara!"
Jelena menatap Marlisa. "Silakan aunty!"
"Jangan terlalu dekat dengan karyawan biasa. Kamu kan istri pemilik perusahaan ini. Harus tunjukan sikap yang tegas pada mereka."
"Lho, memangnya ikut memberikan kejutan ulang tahu adalah sesuatu yang salah? Sekalipun mereka karyawan rendahan namun mereka juga kan membuat perusahaan ini menjadi maju."
"Kamu tuh masih baru di sini jadi ikuti saja apa aturannya."
Jelena mendengus kesal. "Aku adalah aku. Jangan rubah sikap dan perilaku diriku."
"Dasar kamu itu ya...! Sikapmu ini bisa mempermalukan keluarga Permana."
"Nanti netizen yang akan membuktikan apakah aku memalukan suamiku atau tidak. Sekarang, aku ingin melanjutkan membaca, bolehkah?"
Marlisa meninggalkan ruangan Jelena dengan kesal. Jelena hanya tersenyum. Ia heran mengapa paman Jeff mau bertahan dengan Marlisa yang kelihatan sekali matrenya.
*********
Tak sabar rasanya Adras ingin bertemu dengan Jelena. 4 hari ia harus meninggalkan istrinya itu karena rute penerbangan jauh yang kini dipegangnya.
Selesai dengan segala urusan di bandara, Adras dijemput oleh paman Sule.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Adras sengaja tak makan di bandara karena ia ingin makan di rumah.
Saat mereka tiba di rumah, rumah nampak sepi. Hanya ada Jeff dan Marlisa yang nampak sedang bercengkerama di ruang keluarga.
"Yang lain ke mana?" tanya Adras pada bi Suni yang menjemputnya.
"Nona Sofia dan Santi sedang ke rumah den Agung. Ibunya den Agung ulang tahun dan mengundang mereka."
"Istriku?"
"Nyonya belum pulang dari kantor, tuan."
__ADS_1
Adras mengerutkan dahinya. Jam segini kok belum pulang?
Adras mendekati pamannya.
"Uncle, ada apa di perusahaan sampai Jelena belum pulang?"
"Nggak ada apa-apa sih. Tadi selesai rapat jam setengah tujuh malam, Jelena bilang masih ada yang dia ingin kerjakan. Jadi uncle sama Marlisa langsung pulang."
Adras hanya mengangguk. Ia melangkah menuju ke kamar sambil menelepon Jelena namun ponsel istrinya itu tidak aktif. Adras pun mandi secara cepat dan ia kembali menghubungi Jelena tapi ponselnya masih tak aktif. Adras jadi gelisah. Baru saja ia akan keluar kamar dan menyusul Jelena di perusahaan, pintu kamarnya terbuka dan Jelena masuk.
"Sayang ....!" Adras langsung mendekati Jelena dan memeluknya dengan perasaan yang lega. "Kenapa baru pulang?"
"Ya ingin aja lama-lama di kantor." Jelena melepaskan pelukan Adras lalu segera melangkah dan duduk di atas sofa. Ia
"Tapi kan aku sudah bilang kalau aku tiba di rumah sekitar jam 8 dan ingin makan malam bersama."
"Makan saja kok diributkan sih?" Jelena sesudah selesai membuka sepatunya yang bertali. Ia kemudian berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Adras menatap kepergian Jelena dengan bingung. Kenapa sikapnya jadi dingin ya?
Tak lama kemudian Jelena keluar menggunakan jubah mandi. Di kamar ini memang hanya ada lemari pakaian dan tak ada ruangan walk in closet. Jelena mengambil pakaiannya dan kembali ke kamar mandi. Ia keluar lagi setelah menggunakan gaun tidurnya.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Adras.
"Sudah. Tadi makan bakso di depan kantor bersama 2 orang satpam. Baksonya lumayan enak."
"Aku lapar."
"Ya pergi makanlah!"
"Temani aku, boleh kan?"
Jelena pun melangkah keluar kamar diikuti oleh Adras. Sesampai di meja makan, Jelena langsung memanggil bi Suni agar meja disiapkan. Namun ia memang tak ikut makan.
Selesai makan, Jelena langsung ke kamar. Adras menyusulnya 15 menit kemudian karena Adras harus menghabiskan teh herbal nya dulu.
Jelena sudah berbaring di atas ranjang saat Adras masuk. Ia kemudian ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Setelah itu ia naik ke atas ranjang dan memeluk Jelena dari belakang. Harum rambut Jelena, lembutnya kulit sang istri, membuat hasrta Adras sebagai lelaki timbul.
"Na, aku ingin....!" bisik Adras lembut lalu mulai mencium pipi istrinya. Jelena tak menjawab. Ia memejamkan matanya. Entah mengapa ia tak ingin Adras menyentuhnya saat ini walaupun sebagai perempuan normal, hasrat dalam dirinya mulai bangkit karena sentuha. Adras di kulit tubuhnya.
"Hei...., ada apa?" tanya Adras heran saat dilihatnya Jelena tak merespon sentuhan darinya.
"Aku lelah." ujar Jelena tanpa membuka matanya.
Adras menghela napas panjang sambil berusaha meredam gairah dalam dirinya. Ia bingung dengan sikap dingin Jelena.
************
Duh Nana kok gitu sih?
Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Dan perjuangan Adras pun dimulai