ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Rencana Santi dan Sofia


__ADS_3

"Nyonya, ini SIM nya sudah keluar." kata Paman Sule saat Jelena sedang sarapan bersama Santi dan Sofia hari ini.


"Wah, aku sudah punya SIM." Jelena nampak senang.


"Sebenarnya sejak kemarin siang, instruktur pelatihnya sudah datang mengantar SIM ini. Namun karena nyonya pulangnya sudah larut malam, saya sampai lupa."


"Nggak apa-apa, paman. Makasih ya?" Jelena menatap SIM nya itu dengan perasaan senang.


"Ini kuncinya nyonya."


"Kunci?" Jelena jadi bingung.


"Iya. Kunci mobil milik nyonya."


"Mobilku?" Jelena masih belum percaya.


Santi dan Sofia saling berpandangan sambil tersenyum. "Ayo aunty kita ke garasi."


Santi menarik tangan Jelena. Sedikit berlari, mereka akhirnya tiba di garasi. Sebuah mobil berwarna merah. Honda Civic terbaru yang ada sun roof nya.


"Ini punyaku?" tanya Jelena tak percaya.


Sule menyerahkan BPKB mobilnya. "Ini nyonya. BPKB nya atas nama nyonya sendiri."


"Tapi....!" Jelena masih belum percaya.


"Aunty, ayo kita coba jalan-jalan." kata Santi tak sabar.


"Tapi kan kita belum mandi. Masih juga menggunakan piyama." kata Jelena.


"Nggak masalah, kita semua kan cantik. Ayo aunty!" Sofia langsung membuka pintu mobil. Ia duduk di belakang karena Santi sudah lebih dulu masuk di depan. Jelena menarik nafas panjang sebelum akhirnya memasuki mobil barunya itu.


Ketiga gadis itu keliling kompleks sambil mencoba kecanggihan mobil baru itu.


"Di dalam mobil juga ada kamera. Jadi aktifitas kita bisa terekam di sini. Bisa dihubungkan dengan handphone aunty. Kan mobil ini ada WiFi nya." Ujar Santi.


"Wah, nggak bisa ciuman dalam mobil dong." Kata Sofia membuat Santi menatap kakaknya itu.


"Astaga, berarti sering ciuman sama kak Agung di dalam mobil nih?"


Wajah Sofia langsung merah. "Ciuman pipi doang...."

__ADS_1


"Nggak percaya. Kakak tuh kelihatannya bucin banget sama kak Agung."


"Bucin sih bucin..., tapi tetap jaga dirilah."


Jelena mengangguk setuju. Setelah puas jalan-jalan, mereka pun pulang ke rumah.


"Hari ini uncle pulang. Pesawatnya tiba jam 3 sore. Paman Sule mau mengantar aku ke luar kota untuk acara kampus. Nggak ada yang menjemput uncle. Bagaimana kalau aunty saja?" tanya Santi.


"Nggak, ah. Bandara kan jaraknya jauh dari sini. 1 jam lamanya meskipun sudah ikut tol. Lagi pula, aku belum berani bawa mobil di padatnya lalulintas Jakarta." Jelena menggeleng.


"Aku kuliah sampai malam hari ini. Ada ujian dan dosennya pindah jam kuliah." ujar Sofia.


"Suruh saja Adras naik taxi." Kata Jelena. "Aku juga mau ke kantor. Aku mandi dulu ya?"


Santi dan Sofia saling berpandangan. "Ini nggak boleh dibiarkan. Aunty Nana kayaknya memasang jarak dengan uncle. Aku yakin kalau mereka nggak berhubungan intim meskipun tidur di kamar yang sama." Kata Sofia.


"Kakak, bagaimana kalau kita turun tangan saja?"


"Maksudmu?"


"Aku sebenarnya punya obat. Reaksinya memang agak lambat sih. Obat ini nggak kayak obat perangsang pada umumnya. Obat ini justru akan membuat seseorang yang meminumnya mulai memikirkan hal-hal erotis yang pernah ia alami. Dan ia akan bersikap manis pada pasangannya sampai berakhir dengan hubungan intim. Efeknya sekitar 10 jam. Kalau misalnya orang yang meminum obat ini tak bisa menemukan pasangannya, ia akan memuaskan dirinya sendiri. Jadi efeknya nggak kayak obat peran*sang pada umumnya.Yang ini lebih aman. Memang sih, setelah itu, orang yang meminumnya akan lupa dengan apa yang baru saja dilaluinya karena itu rasanya seperti mimpi."


"Punya efek khususnya nggak sama orang yang bawa mobil?"


"Berapa jam biasanya akan bereaksi setelah diminum?"


"1-2 jam."


"Aku punya jam bebas dari jam 1 sampai jam 2.30. Aku saja yang ke kantor aunty dan membawakan dia makan siang."


"Ok."


"Tapi, apakah uncle akan marah?"


"Jangan pikirkan kemarahan uncle. Pikirkan saja bagaimana kita bisa membuat mereka menyatu lagi, kalau perlu sampai aunty hamil."


Kedua kakak adik itu pun saling berpelukan. Mereka siap untuk melakukan semua ini apapun resikonya.


*********


Jelena merasakan ada yang aneh dengan dirinya.

__ADS_1


1 jam yang lalu ia baru saja selesai makan siang dengan Sofia. Ia kaget saat Sofia muncul di kantornya dan membawakan makan siang, lengkap dengan jus melon yang sangat Jelena sukai.


"Aku kebetulan mau makan siang di dekat kantor, namun ku pikir, sebaiknya makan berdua saja dengan aunty sambil melihat tempat aunty bekerja." Itu yang Sofia katakan dan sebenarnya Jelena sangat senang dikunjungi oleh Sofia. Mereka berbincang banyak hal sampai tak sadar kalau Jelena menghabiskan semua makan siangnya termasuk jus melon yang dibawakan Sofia untuknya.


Apakah mungkin karena aku makannya terlalu banyak sampai aku merasa nggak enak begini ya?


Jelena bangun dari kursinya dan mencoba menggerakkan badannya. Ia berjalan ke luar ruangan untuk mendapatkan angin segar. Ia menuju ke ruangan para staf dan melihat mereka sedang seru menonton drama Korea.


"Eh, nyonya, mari ke sini. Adegannya sedang seru!" ajak salah satu karyawan. Jelena pun mendekat. Ia sudah lama tak menonton drama Korea. Saat ia melihat ke layar laptop, nampak ada adegan ciuman yang sangat mesra. Tiba-tiba Jelena merasakan darahnya berdesir. Ia ingat ciumannya dengan Adras.


"Silahkan dilanjutkan. Aku mau ke luar sebentar." Jelena pun meninggalkan para stafnya lalu segera menuju ke bawa dengan menggunakan lift. Di luar kantor, udara lebih sejuk karena halaman kantor ditumbuhi banyak pohon-pohon rindang.


Aku kok jadi ingat saat aku dan Adras bercinta ya? Apakah aku merindukan dia? Nggak mungkin. Bukankah semalam aku baik-baik saja?


Jelena kembali masuk ke dalam kantor dan menuju ke ruangannya. Ia mencoba konsentrasi dengan pekerjaannya namun ia tak bisa. Saat ini, Adras dengan senyumnya yang menggoda, dengan otot perutnya yang menggoda dan ciumannya yang memabukkan, itulah yang diingat oleh Jelena.


Gadis itu melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 2 siang. Apakah aku harus menjemput Adras? Bukankah tak ada yang menjemputnya? Bukankah sangat manis jika aku memberikan kejutan untuknya?


Jelena segera meraih tasnya. Ia bahkan menonaktifkan ponselnya. Lalu segera keluar kantor dan mengarahkan mobilnya menuju ke bandara.


Saat sudah memarkir mobilnya, Jelena segera menuju ke pintu keluar kru penerbangan yang Jelena tahu berbeda dengan pintu kedatangan para penumpang. Entah mengapa ia merasakan jantungnya berdetak sangat kencang saat ia sudah berdiri di depan pintu itu. Ia memejamkan matanya sesekali, sambil mengingat betapa hangatnya pelukan Adras. Sungguh, Jelena tak sabar menanti kedatangannya.


Saat akhirnya ia melihat Adras yang keluar bersama seorang pilot, gadis itu langsung berlari dan memeluk Adras. Jelena merasakan tubuhnya bergetar saat Adras membalas pelukannya. "Sayang, selamat datang." lalu ia mencium pipi Adras. Ingin rasanya ia segera mencium bibir suaminya, namun ia masih menahan dirinya karena ini di depan umum. Jelena tak peduli dengan wajah cemberut Anita. Ia menggandeng Adras dan segera mengajak suaminya itu pergi.


"Kamu saja yang membawa mobilnya." kata Jelena sambil menyerahkan kunci mobil.


Adras mengangguk. Ia mengambil kunci itu lalu membuka bagasinya untuk memasukan kopernya. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dengan perasaan bahagia karena kini Jelena menjemputnya dengan mobil baru yang Adras belikan untuknya. Saat ia akan memasang sabuk pengamannya, Jelena tiba-tiba mendekat dan langsung mencium Adras dengan sangat panas. Adras terkejut. Namun tentu saja ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menyambut ciuman Jelena dengan hangat dan bahkan sudah dipenuhi dengan bumbu gairah. Ciuman mereka sangat lama, sampai akhirnya keduanya harus sama-sama melepaskan pertautan bibir mereka karena mereka butuh pasokan oksigen.


"Kita cari hotel ya? Jauh kalau mau pulang ke rumah." kata Jelena sambil menatap Adras dengan mata yang sudah dipenuhi kabut gairah.


"Hotel? Untuk apa ke hotel?" tanya Adras walaupun ia sudah mulai mengerti kemana arah pembicaraan Jelena.


Jelena mencium Adras lagi. Kali ini dengan berani ia justru berpindah tempat dan duduk di pangkuan Adras. Untung saja mobil ini diparkir di tempat yang agak sepi dan kaca mobilnya gelap.


"Apakah kita tuntaskan saja di sini? Nanti part duanya kita lanjutkan di rumah?" tanya Jelena menggoda sambil berbisik di telinga Adras.


Oh em Ji? Ada apa dengan istriku ini? Tanya Adras dalam hati saat ia merasakan kalau Jelena mulai membuka kemejanya.


**********


Nah lho....penasaran lagi kan?

__ADS_1


See you next part. Kalau yang komen banyak dan panjang, emak up lagi malam hari 🤣🤣🤣


__ADS_2