ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Surprise


__ADS_3

Sengaja Jelena memasuki kamar sudah agak larut. Ia berharap agar Adras sudah tidur sehingga mereka tak perlu lagi berkomunikasi di kamar. Ia belajar sampai jam setengah dua belas malam.


Namun, saat Jelena membuka pintu, ia terkejut melihat Adras yang masih duduk di ranjang sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pria itu nampak sedang menonton TV. Adras memang


jarang sekali memegang hp nya akhir-akhir ini.


Jelena segera melangkah ke kamar mandi. Ia mencuci wajahnya dan menggosok giginya, lalu masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


Selesai itu, ia pun segera naik ke atas ranjang.


"Na, besok jam berapa kamu kerja?" tanya Adras.


Jelena yang akan membaringkan tubuhnya terpaksa duduk lagi. "Besok aku off. Namun pagi-pagi aku ada jadwal konsultasi dengan dosen pembimbing ku."


"Jadwal konsultasi selesai jam berapa?"


"Mungkin jam 10. Soalnya aku janjian dengan dosen jam 8 pagi. Kenapa?"


"Boleh nggak menemani aku ke rumah sakit besok? Jadwal kontrol ku."


"Memangnya nggak ada yang menemani?" tanya Jelena. Jujur saja, ia enggan pergi berdua dengan Adras. Sikap Adras saat tadi sore di hadapan teman-temannya, justru membuat Jelena merasa geli. Adras yang cool berubah menjadi romantis.


"Sofia ada jadwal kuliah sampai sore. Aku konsultasinya jam 11 siang."


"Baiklah." Ujar Jelena lalu segera membaringkan tubuhnya.


"Na, aku meminta Bi Suni untuk menyiapkan susu hamil untukmu, apakah kau sudah meminumnya?" tanya Adras.


Jelena yang sedang tidur sambil membelakangi Adras hanya menganggukkan kepalanya.


"Selamat tidur."


Punggung Jelena menegang saat Adras mengusap kepalanya. Ia kemudian merasakan pergerakan saat Adras juga ikut membaringkan tubuhnya.


Aku nggak boleh baper dengan perhatiannya. Itu semua dia lakukan hanya karena ingin mengambil simpati ku. Aku nggak boleh jatuh hati.


Jelena melantukan doa dalam hatinya. Sungguh ia ingin Adras segera sembuh agar bisa kembali ke cafe.


*********


Selesai sarapan, Jelena dan Adras pergi diantar oleh paman Sule. Mereka lebih dulu pergi ke kampusnya Jelena baru setelah itu ke rumah sakit.


Dokter ahli dalam dan ahli tulang yang melakukan pemeriksaan kepada Adras. Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa tak ada tulang yang retak. Kaki Adras hanya terkilir namun Adras di minta untuk tak terlalu banyak menggerakkan kakinya karena masih dalam keadaan terluka.


"Kapten, istri anda sangat cantik." puji dokter Budi.

__ADS_1


"Istriku memang sangat cantik. Dia sekarang sedang hamil." kata Adras sambil menyentuh tangan Jelena yang duduk di sampingnya.


"Kalian pasangan yang sangat cocok walaupun istrinya terlihat masih sangat muda."


"Istriku memang baru 21 tahun. Namun aku sangat bangga memilikinya."


Jelena sebenarnya akan protes. Usianya memang belum 21 tahun. Namun ia memilih diam.


Setelah itu, keduanya pun pamit pergi. Adras mengajak Jelena untuk makan siang di sebuah restoran.


"Na, setelah ini kita ke butik ya? Cari gaun untuk acara malam nanti."


"Acara apa?"


"Acara penerimaan penghargaan. Aku dan kapten Robert."


"Memangnya aku harus pergi?" tanya Jelena.


"Ya. Kamu kan istriku."


Jelena tersenyum kecut saat mendengar kata istri yang Adras ucapkan.


"Bukankah sebentar lagi kita akan bercerai?"


"Na, please ...! Aku sudah meminta padamu untuk memberikan aku kesempatan. Bantu aku untuk bisa sembuh dari hubungan yang tidak sehat ini."


"Jelena, aku tak mungkin akan membiarkan kamu dan anakku terlantar."


"Sudah, ah. Aku malas berdebat. Ok, aku akan pergi denganmu." kata Jelena lalu ia berdiri. "Aku mau ke toilet. Aku rasa mual."


"Baiklah."


Selesai makan, Adras dan Jelena pergi ke sebuah butik untuk mencari sebuah gaun. Mereka menemukan gaun berwarna putih. Sangat cocok dengan Adras yang akan memakai seragam pilotnya. Dari butik mereka langsung ke salon dan SPA. Jelena ikut saja apa maunya Adras. Ia bahkan tertidur saat mereka melakukan perawatan kepadanya.


Acaranya akan dilaksanakan jam 4.30 sore. Adras sangat kagum saat melihat Jelena yang sudah selesai didandani. Memang benar kata orang. Aura ibu hamil kadang keluar dan membuatnya semakin cantik.


Saat mereka tiba di kantor pusat maskapai, sudah banyak tamu yang datang. Ada juga beberapa wartawan dan stasiun TV.


Sorot mata para netizen langsung tertuju pada Jelena dan Adras juga pada pilot Robert dan istrinya. Pilot Robert memang orang bule. Ia masih berusia 38 tahun. Ia dan Adras dianggap sebagai pilot-pilot handal yang dimiliki oleh maskapai ini.


Pilot Robert datang membawa juga putranya yang berusia 5 tahun. Istrinya memang Indonesia. Pramugari juga yang bekerja di maskapai ini. Pilot Robert terlihat masih agak lemah sehingga ia harus di dorong dengan kursi roda.


Jelena melihat ke arah kanan tempat ia dan Adras duduk. Ada tatapan mata yang tajam pada Jelena dan Adras. Namun perempuan itu tak peduli. Ia justru menampilkan kemesraannya dengan Adras.


Sampai akhirnya acara pun dimulai. Masing-masing diberikan kesempatan untuk berbicara. Pilot Robert mengatakan kalau yang mengambil keputusan untuk mendaratkan pesawat di atas persawahan adalah keputusan yang diambil oleh Adras. Hanya bagian itu yang terlihat oleh mereka sementara bandara justru tertutup dengan kabut yang tebal.

__ADS_1


Beberapa penumpang juga hadir dan memberikan kesaksian mereka. Sampai akhirnya giliran Adras yang berdiri. Dengan tertatih-tatih ia pun naik ke atas podium.


Ia juga menceritakan kronologi kejadiannya. Sampai akhirnya ia meminta Jelena untuk naik ke atas podium Jelena sebenarnya agak kaget namun ia pun naik juga.


"Aku selamat karena doa istriku." kata Adras sambil meraih tangan Jelena dan menggenggamnya erat. "Setiap kali aku akan berangkat kerja, ia selalu meraih tanganku dan mendoakan aku. Bahkan jika dia harus kuliah pagi dan aku nanti berangkat siang, ia sudah mendoakan aku sebelum ia berangkat kuliah. Aku tahu kalau doa seorang istri menjadi berkat bagi suaminya."


Semua bertepuk tangan saat mendengar perkataan Adras. Ruben Sues pun tersenyum bangga pada Adras.


"Karena itu, selain bersyukur pada Tuhan yang telah menolong aku, selain berterima kasih pada kapten Robert atas kerja sama kita yang luar biasa, aku juga mau berterima kasih kepada istriku." Adras mencium tangan Jelena yang digenggamnya.


Jelena terkejut karena tak menyangka kalau Adras akan menyanjungnya seperti ini. Lampu di ruangan itu tiba-tiba meredup. Pintu masuk yang tadinya tertutup, kini dibuka dari luar.


"Happy birthday to you.....!" terdengar lagu selamat ulang tahun. Sofia, Santi, Agung dan dibantu oleh beberapa orang karyawan masuk sambil mendorong sebuah kue ulang tahun berwarna putih.


Air mata Jelena langsung jatuh. Ia lupa kalau ini adalah ulang tahunnya. Pantas saja tadi Adras mengatakan kalau ia berusia 21 tahun.


Semua pun serempak langsung berdiri sambil menyayikan lagu itu.


Sungguh kejutan yang sangat luar biasa. Adras meminta Jelena mengucapkan doa sebelum meniup lilin dengan angka 21 itu. Lalu setelah Jelena meniupnya, ia membuka sebuah kotak berwarna merah dan mengeluarkan kalung dengan liontin berbentuk hati. Ada taburan berlian di atasnya. Ia langsung memakaikan kalung itu di leher Jelena.


Semua ikut bertepuk tangan. Ruben Sues bahkan ikut maju dan memberikan sebuah hadiah.


"Bapak tahu kalau saya ulang tahun?" tanya Jelena.


"Adras meminta ijin padaku untuk memberikan kejutan untukmu."


Jelena menatap Adras. Lelaki itu hanya tersenyum sambil melingkarkan tangannya di bahu sang istri.


Acara pemberian penghargaan itu pun selesai. Adras dan keluarganya langsung pulang. Sofia dan Santi pun memberikan hadiah untuk Jelena saat mereka tiba di rumah.


Bi Suni pun sudah menyiapkan makanan untuk mereka semua. Hanya Marlisa yang nampak tak bahagia dalam dirinya.


Saat semua perayaan itu berakhir, Jelena segera ke kamar. Ia merasa capek dan ingin beristirahat. Namun saat ia tiba di kamar, ia bingung dengan gaunnya.


"Mau aku bantu?" tanya Adras saat memasuki kamar dan melihat istrinya yang nampak kesulitan membuka gaunnya.


"Eh, aku panggil Santi saja."


"Santi, Sofia dan Agung baru saja minta ijin untuk pergi nonton bioskop. Bi Suni sedang membersihkan dapur. Memangnya kenapa kalau aku yang buka?" tanya Adras lalu segera memposisikan dirinya di belakang Jelena. Perempuan itu pun diam tak membiarkan Adras membuka resleting gaunnya.


Saat tangan Adras bersentuhan dengan kulit punggung Jelena, perempuan itu merasakan ada senyar aneh yang ada di sana. Jelena memejamkan matanya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat cepat saat ia merasakan kalau Adras mencium pundaknya secara bergantian kiri dan kanan. Jelena menelan salivanya. Apa yang akan terjadi?


************


Hallo semua

__ADS_1


selamat memasuki hari ke-4 di tahun 2023 ini.


Jangan lupa dukung emak terus ya


__ADS_2