ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Uncle Jeff


__ADS_3

Jeff merasa moodnya kurang baik. Setelah penyampaian Jelena yang sepertinya menyudutkan dia, Jeff memilih untuk keluar sebentar.


Marlisa sedang keluar dan Jeff malas untuk ikut dengannya.


Mungkin karena pikirannya sedang suntuk, Jeff tak memperhatikan tanda-tanda jalan yang ada. Ia tak berbelok ke kanan pada hal jalan sesudah perempatan adalah jalan satu arah. Jeff menjadi kaget saat mendengar bunyi klakson yang bersahut-sahutan. Akhirnya, ia membanting stir ke kiri dan menabrak pembatas jalan. Untuk sesaat Jeff seperti kehilangan kesadaran.


Di sebuah rumah sakit, dokter Elina sedang bertugas menjadi dokter jaga. Ia baru saja akan beristirahat untuk makan saat panggilan untuknya terdengar. Ia bergegas ke ruang IGD.


"Ada apa?" tanyanya pada salah satu perawat.


"Kecelakaan tunggal, dok. Sepertinya ia tak memakai seatbelt."


Elina langsung mendekati pasien yang terbaring di atas brangkar itu. "Oh....dia...!" pekik Hati Elina saat melihat bule tampan yang kemarin sudah membuat hatinya bergetar.


Dengan sigap Elina langsung memeriksanya. Ia juga memerintahkan agar segera melakukan pemeriksaan lebih mendalam sehingga bisa diketahui apakah ada luka dalam di kepalanya atau tidak.


"Ada luka lecet di pelipis dan tangannya. Selebihnya tak ada, dok." lapor salah satu dokter muda.


"Syukurlah." Elina bernapas lega. Ia kemudian membersihkan luka di pelipis Jeff. Perlahan Jeff terbangun saat merasakan kalau ada sesuatu yang perih di wajahnya.


Saat mata Jeff terbuka, ia langsung berhadapan dengan wajah cantik dokter Elina.


"Apakah aku ada di sorga?" tanya Jeff pelan sambil berusaha memegang kepalanya namun Elina menahan tangannya karena ada selang infus yang terpasang di sana.


"Tuan ada di rumah sakit. Kenapa sampai berpikir kalau ada di sorga?"


"Soalnya ada bidadari secantik kamu di hadapanku."


Elina merasakan wajahnya menjadi merah. Pujian Jeff membuat hatinya berdesir oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan.


"Tuan mengalami kecelakaan."


Jeff mengerutkan dahinya. Ia ingat sesuatu. "Oh ya..., aku ingat."


"Siapa yang harus aku hubungi? Istri tuan atau Santi?"


"Jangan. Aku tak mau membuat mereka repot." Jeff berusaha bangun namun Elina mendorong lagi dadanya. Harum tubuh Elina membuat Jeff memejamkan matanya sejenak.


"Tidurlah sebentar. Aku harus mengobservasi kondisi tuan untuk memastikan kalau tuan baik-baik saja. Tuan akan dipindahkan ke ruangan perawatan."


"Baiklah. Tapi kamu mau menjaga aku kan?" tanya Jeff sambil memegang tangan Elina.


"Kenapa?"


"Aku sedikit takut dengan rumah sakit."


"Baiklah tuan!" Tentu saja Elina senang. Ia segera meminta salah satu suster untuk menyiapkan kamar Jeff. Hati dokter cantik itu berbunga-bunga. Ia bahkan lupa kalau Jeff itu sudah beristri.


********


Penolakan Jelena sungguh tak bertahan lama karena selanjutnya, ia justru membalas ciuman Adras dengan panas.


Keduanya terlibat dalam ciuman panjang yang memabukkan.


Tangan Adras tak tinggal diam. Ia mulai membelai bagian tubuh istrinya yang merupakan titik lemah Jelena.


"A....Adras le.....pas....ini di kantor!" Jelena akhirnya bisa mendorong Adras. Ia menatap kancing kemejanya yang sudah terbuka setengah. Napas keduanya saling bersahutan. Tatapan mereka bertemu.


"Ayo kita lanjutkan di ruanganku jika memang kau belum yakin dengan perasaanmu padaku." ujar Adras lalu menarik tangan Jelena.


"Lepaskan! Kamu sudah gila!" kata Jelena sambil menarik tangannya.

__ADS_1


"Karena kamu gadis yang egois dan angkuh. Kamu sama sekali tak mau mengakui perasaanmu. Kamu berusaha menutupi perasaanmu karena kamu tak percaya padaku. Apalagi yang harus aku lakukan untuk bisa membuktikan bahwa perasaanku tulus padamu? Aku memang pernah menjadi Adras yang jahat di masa lalu. Namun, apakah aku tak berhak untuk menjadi lebih baik?"


Jelena terdiam mendengar perkataan Adras. Dadanya terasa sesak mendengar perkataan Adras. Namun entah kenapa, tekadnya untuk lepas dari Adras semakin kuat.


"Aku mau pulang!" ujar Jelena lalu melangkah mendekati meja kerjanya dan mengambil tasnya.


"Pulang dengan aku!"


"Bagaimana dengan mobilnya?" tanya Jelena.


"Aku akan pulang satu mobil denganmu. Nanti mobilku di jemput oleh paman sule." Kata Adras dengan tegas seperti tak ingin dibantah.


Jelena nampak kesal. Dala. situasi seperti ini pun, ia ternyata tak bisa membantah keinginan Adras. Ia pun menyerahkan kunci mobilnya pada Adras dan mengikuti pria itu pulang. Jelena tak ingin ribut di kantor dan ia ingin menyelesaikan semuanya di rumah secara baik-baik.


**********


Jeff tertawa lepas saat ia berbincang dengan Elena. Rasanya sudah lama ia tak tertawa lepas seperti ini.


"Aku yakin, semua pasien akan betah jika dokternya seperti dirimu." kata Jeff yang duduk bersandar di kepala ranjang. Sedangkan Elina duduk di tepi ranjang.


"Oh ya?"


"Ya. Selain kamu cantik, kamu juga pandai membuat alur percakapan menjadi lancar. Aku bahkan tak ingin pulang ke rumah."


"Tuan jangan membuat aku merasa tersanjung."


"Jangan panggil aku tuan. Panggil saja seperti Santi memanggilku. Opa Jeff."


"Aku nggak mau. Tuan masih terlihat muda dan gagah. Kalau dilihat justru masih seperti usia 30an."


Jeff tertawa. "Jangan bercanda."


"Aku nggak bercanda. Dari dulu aku sangat suka dengan cowok bule. Entahlah, kata orang, cowok bule itu romantis. Sayangnya, nggak ada satu pun cowok bule yang mampu membuat hatiku bergetar."


Namun saat pandangan mereka bertemu, entah mengapa keisengan Jeff muncul lagi saat bersama dokter cantik ini.


"Kalau om bule di depan kamu ini, bisa nggak membuat hatimu bergetar."


Elina mengangguk. Ia tak mau munafik.


"Kamu cantik dan baik. Nggak bule suka sama om-om kayak aku." ujar Jeff namun entah mengapa tangannya terulur dan menyentuh pipi mulus gadis itu. Elina memejamkan matanya. Sentuhan Jeff membuat desiran aneh di sekujur kulit tubuhnya.


"Tuan ....!"


"Jangan panggil aku tuan...." Wajah keduanya semakin dekat.


"Lalu aku harus panggil apa? Aku nggak mau panggil opa."


"Panggil apa saja yang penting bukan tuan." ujar Jeff. Pandangannya kini turun ke bibir tipis dokter cantik itu. Bibir yang diolesi oleh lipstik berwarna pink. Sungguh menggoda. Damn! Jeff memaki dalam hati karena ia justru terpesona.


"Boleh aku panggil uncle Jeff ganteng?" tanya Elina sambil mengigit bibir bawahnya. Ia tak pernah merasakan seperti ini pada seorang lelaki. Pikiran Elina saat ini seperti sudah buntuh. Ia hanya diliputi oleh rasa kekaguman pada wajah tampan bermata biru itu. Apalagi tangan Jeff yang tadinya ada di pipi Elina kini turun ke leher gadis itu.


"Aku suka dengan panggilan uncle Jeff ganteng. Ah, Elina, maafkan aku .." kata Jeff lalu segera menarik tengkuk gadis itu dan mencium bibir yang sudah sejak tadi menggodanya. Tanpa di duga, Elina justru menyambut ciuman pertama untuk dirinya itu. Walaupun agak kaku dan amatiran, Elina justru menggerakan bibirnya.


"Maafkan aku ...!" bisik Jeff diujung bibir Elina.


"Aku memaafkan kamu, uncle."


"Boleh aku cium lagi?" tanya Jeff. Ia sungguh merasakan kalau dirinya sudah tak waras.


"Boleh."

__ADS_1


Ciuman itu pun kembali terjadi. Sungguh lembut, menghanyutkan dan mulai membawa pada suasana yang panas.


"Tidak .....!" Jeff melepaskan pertautan bibir mereka. "Cukup. Aku tak mau mengambil keuntungan darimu." Jeff mengusap bibir Elina dengan ibu jarinya.


"Uncle Jeff. Terima kasih. Aku merasakan ciuman pertama denganmu."


"Apa? Sudah sebesar ini dan kau belum pernah berciuman?"


"Ya. Karena kata teman-teman ku, aku terlalu pemilih."


Jeff langsung memeluk Elina sambil tersenyum. Kalau mau mengikuti gairahnya sebagai lelaki, ia bisa saja langsung bisa meniduri Elina saat ini. Namun otaknya masih waras untuk berpikir. Ia tak mungkin mengambil keuntungan dari gadis yang menjadi sahabat cucunya itu.


"Aku mau pulang. Sudah boleh kan?" tanya Jeff sambil melepaskan pelukannya.


Elina mengangguk. "Aku antar ya?"


"Bukankah kamu masih bekerja?"


"Sebenarnya jam kerja aku sudah selesai sejak 3 jam yang lalu."


"Lalu kenapa kamu belum pulang?"


"Aku suka menemani uncle."


Jeff pun turun dari tempat tidur. Elina membantunya untuk membuka infus yang ada di tangannya.


"Aku tunggu di lobby rumah sakit ya? Administrasi rumah sakit nya sudah lunas."


"Kok bisa?" Jeff kaget.


"Ya bisa dong." Gadis itu langsung keluar kamar. Wajahnya gembira. Entahlah, ini pikiran yang gila. Haruskah aku jadi pelakor?


*********


Marlisa menelan salivanya saat melihat Anto yang sedang duduk di taman belakang sambil berbincang dengan para pekerja lainnya. Lelaki itu tak menggunakan atasan sehingga membuat tubuh kekarnya terlihat.


Gila, kenapa aku harus melihat dia?


Marlisa menepuk kepalanya sendiri karena bayangan percintaan mereka malam itu terus membayanginya.


Tekanan di kantor justru membuat dia ingin lari dalam pelukan Anto. Dia ingat bagaimana Anto sangat memujanya malam itu.


Sebagai lelaki dari kampung, Anto termasuk tampan. Sekalipun lugu namun saat bercinta, Anto sangat memuaskan Marlisa.


Sial! Aku nggak mau terus memandangnya.


Marlisa meninggalkan balkon. Ia masuk ke ruang tamu. Sudah malam dan Jeff belum juga pulang. Ponselnya pun tak aktif.


Sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Permana.


"Terima kasih sudah mengantar aku ya?" ujar Jeff.


"Sama-sama uncle."


Keduanya kembali bertatapan dan entah siapa yang memulai, keduanya kembali berciuman dengan sangat panas.


Jelena yang sedang duduk di taman, terkejut melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumah. Lebih terkejut lagi saat ia melihat uncle Jeff sedang berciuman dengan seseorang.


********


Duh....

__ADS_1


emak kehabisan ide mau membuat Jelena mengerti dan percaya dengan uncle Adras. Makanya sisipkan cerita uncle Jeff dulu ya?


__ADS_2