
Jelena terkejut saat Adras datang dan memakaikan jaketnya di tubuh Jelena. Keduanya kini ada di dekat pantai sambil menikmati sunset.
"Udaranya dingin." ujar Adras saat Jelena menatapnya seolah minta penjelasan.
"Tapi aku nggak minta jaket kan?"
"Kalau begitu jaketnya saja yang dibuka dan aku peluk kamu?" tanya Adras dengan tatapan menggoda.
"Ih...nggak mau aku!"
Adras jadi tertawa melihat sikap Jelena.
Perempuan itu duduk di bangku beton yang ada di pantai sambil memandang ke arah laut. Kesempatan itu digunakan oleh Adras untuk memotret Jelena. Foto itu terlihat sangat cantik dengan latar belakang sunset di pantai.
"Adras, kita pulang ya?" ajak Jelena saat ia sudah merasa bosan di lantai itu.
"Kita singgah untuk makan malam ya?"
"Tapi kita tadi makan sudah sore. Sudah jam 3. Ini juga baru jam 7 malam."
"Nggak masalah. Pokoknya kita pergi makan saja. Kamu harus makan yang banyak untuk kesehatan dirimu sendiri dan anak kita."
"Baiklah." Jelena akhirnya ikut juga kemana Adras akan membawanya. Kali ini ke sebuah rumah makan yang ada di pinggiran jalan. Jelena tak mengira kalau Adras bisa juga makan di tempat sederhana seperti ini.
"Sofia dan Santi sangat suka makan di sini. Ini adalah tempat makan favorit seluruh keluargaku. Apalagi almarhumah kakakku."
Jelena sedikit terharu karena Adras membawanya ke tempat makan yang menjadi favoritnya.
"Tuan pilot. Apa kabarnya? Lama tak terlihat." Sapa sang pemilik warung makan yang bernama bang Darmo. Logat Sunda sangat kental terdengar.
"Biasalah bang. Sibuk."
"Wah, neng geulis ini istrinya, ya? Anak saya baca di internet katanya tuan pilot sudah menikah."
"Iya. Saya sudah menikah. Ini istri saya. Sekarang sedang hamil." Adras mengenalkan Jelena dengan bangga.
"Alhamdulillah. Semoga tetap sehat sampai waktu lahiran ya, tuan."
"Amin."
Adras memasang menu andalan di warung makan ini. Lengkap dengan sambal terasi yang terkenal di sini. Ada ikan ayam dan ikan mujair yang diberi bumbu yang enak.
Kali ini Jelena makan dengan bebas karena ia bisa menggunakan tangan. Namun Adras, terlihat elegan dengan tetap menggunakan sendok dan garpu.
"Aku makan banyak hari ini." ujar Jelena. Ia bahkan tak merasa mual dan muntah. Apakah mungkin karena ada Adras di sampingnya?
"Bagus, Na. Agar badanmu semakin berisi." ujar Adras dengan wajah gembira.
Selesai makan dan berbincang sebentar dengan sang pemilik warung makan, Adras juga memesan 2 paket untuk Sofia dan Santi.
Sepanjang perjalanan pulang, Jelena hanya diam. Ia merasa kenyang dan sedikit mengantuk karena dinginnya AC dalam mobil. Jelena pun langsung tertidur.
Mereka tiba di depan cafe saat jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Adras tak tega untuk membangunkan Jelena. Makanya ia membiarkan saja Jelena tertidur dengan begitu lelapnya.
__ADS_1
Pukul 11.30, Jelena terbangun.
"Adras, kenapa nggak membangunkan aku saat sudah ada di sini?"
"Mana tega aku membangunkan kamu, sayang. Kamu tuh tidurnya sangat nyenyak."
"Tapi aku nggak bisa masuk ke dalam cafe. Tadi aku keluar hanya untuk membeli asinan. Dompet, handphone bahkan kunci cafenya ada di kamar aku." Jelena jadi bingung saat tak bisa masuk ke cafe.
"Ya sudah, kita ke rumah saja. Tidur di rumah."
"Aku nggak mau!"
"Ya sudah malam ini kita tidur di dalam mobil saja."
"Adras ...!" Jelena nampak kesal. Mana mungkin ia bisa tidur di dalam mobil dengan nyenyak. Walaupun mobil Adras ini adalah salah satu mobil mewah dengan jok yang sangat empuk, namun Jelena tetap saja tak senyaman tidur di atas ranjang.
"Ya sudah, aku pergi ke rumah mu."
Adras tersenyum penuh kemenangan. Ia pun segera menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya. Tak sampai 20 menit, mobil sudah memasuki halaman rumahnya. Santi dan Sofia masih menunggu karena tadi uncle mereka memberitahukan kalau ia membawa ayam kesukaan mereka.
Kedua gadis itu tambah senang saat melihat Jelena ada bersama Adras.
"Aunty.....!" keduanya pun nampak tersenyum bahagia.
Mereka duduk di ruang makan. Santi dan Sofia menikmati ayam pedas kesukaan mereka. Sedangkan Jelena duduk di depan mereka.
"Nggak takut gemuk makan jam segini?" tanya Jelena.
"Nggak. Besok pagi kami akan olahraga mengeluarkan lemak yang dimakan saat ini." ujar Santi sambil melirik kakaknya yang juga sedang lahap menikmati makannya.
"Terima kasih." ujar Jelena.
Pak Sudin, si satpam penjaga gerbang, masuk ke dapur melalui pintu belakang.
"Selamat malam, tuan. Maaf menganggu. Di luar ada tamu yang mencari tuan."
"Tamu? Jam segini?" Adras menjadi bingung.
"Iya. Seorang perempuan. Ia nampaknya terluka. Dia sangat memohon untuk ketemu dengan tuan."
"Terluka? Siapa?"
"Ia tak menyebutkan namanya. Namun dia cantik." ujar pak Sudin sambil melirik ke arah Jelena. Ia merasa kalau perempuan itu ada hubungannya dengan Adras.
"Persilahkan saja dia masuk." Kata Adras walaupun perasaannya mulai tak enak. Ia tahu kalau itu adalah Anita namun ia juga harus menerima Anita di depan Jelena agar mereka tahu yang sebenarnya.
"Na, ayo temani aku ke depan." ajak Adras sambil meraih tangan Jelena.
"Itu kan tamu yang mencari kamu bukan aku."
"Sama saja. Tamu aku adalah tamu kamu juga." Adras tak mau melepaskan tangan Jelena walaupun perempuan itu berusaha menarik tangannya. Jelena terpaksa berdiri dan mengikuti Adras karena ia tak mau berdebat di depan Santi dan Sofia.
Begitu mereka tiba di ruang tamu, pintu utama baru saja di buka oleh pak Sudin. Adras menarik napas panjang saat melihat Anita yang masuk.
__ADS_1
Sudut bibirnya terluka. Pipi sebelah kanannya ada memar, tangannya juga terlihat merah dan ia berjalan agak tertatih. Air mata perempuan itu langsung jatuh saat melihat Adras.
Melihat keadaan Anita seperti itu, hati Adras ikut terluka. Ini bukan yang pertama ia melihat Anita seperti ini.
"Adras ....!" Anita langsung berlari dan memeluk Adras. Tangisnya pecah ketika ia berhasil memeluk lelaki yang dicintainya.
Adras masih diam. Tangannya saja masih menggenggam tangan Jelena.
Santi dan Sofia yang ternyata ikut mengintip dari ruang keluarga menjadi kesal saat melihat Anita yang memeluk paman mereka.
"Duduklah Anita." ujar Adras sambil melirik ke arah Jelena yang terlihat biasa saja.
Anita melepaskan pelukannya pada tubuh Adras. Ia sebenarnya sangat kecewa karena Adras tak membalas memeluknya. Ia bahkan dapat melihat kalau Adras tak melepaskan tangannya yang memegang tangan Jelena.
Anita duduk di sofa berwarna putih itu. Adras menarik tangan Jelena agar ikut duduk di sampingnya, berhadapan dengan Anita.
"Kenapa kau tak lapor polisi? Bukankah ini sudah kasus KDRT? Biarkan polisi menangkap Mike dan menghukumnya." ujar Adras.
Anita kembali menangis. "Adras, aku tak bisa melaporkannya. Mike mengancam akan mengedarkan video saat kita berhubungan di apartemenku. Ternyata Mike meletakan kamera di kamar itu."
"Brengsek kau, Mike!" Adras mengepalkan tangannya. Jelena yang duduk di sampingnya memperhatikan luka yang ada di tubuh Anita. "Kenapa tak langsung ke rumah sakit? Lukamu itu harus di obati." Tanya Jelena. Perempuan itu terlihat perhatian walaupun sebenarnya sedang menahan rasa sakit di hatinya. Adras ada di sampingnya namun pandangan pria itu menunjukan betapa ia sangat peduli dan mengasihi Anita.
Anita tak menanggapi apa yang Jelena ungkapkan. Ia tahu kalau Adras masih mencintainya. Ia mengerti arti tatapan Adras.
"Tolong aku, Adras. Ijinkan aku di sini malam ini. Aku tak mau kembali ke rumah. Aku takut Mike akan menyakiti ku lagi. Aku juga tak bisa pulang ke rumah orang tuaku. Jika ke hotel, orang-orang pasti akan mengenal aku. Ke apartemen mu pun tak bisa karena Mike tahu tempat itu. Hanya rumahmu ini yang aku pikirkan aman tanpa Mike bisa menemukan aku."
"Jangan paman !" ujar Santi pelan. Sofia mengangguk. Adras nampak bingung.
"Sofia, tolong katakan pada bi Suni untuk menyiapkan kamar tamu." Jelena tiba-tiba bicara. Adras kaget. Begitu juga dengan kedua ponakannya.
Jelena kemudian berdiri dan menuju ke belakang. Ia kembali dengan kotak obat.
"Ayo, aku bantu kamu untuk membersihkan lukamu." kata Jelena lalu ia mengeluarkan alkohol dan kapas lalu mulai membersihkan luka Anita.
Adras terkejut melihat hal itu. Anita sendiri juga kaget saat Jelena dengan lembut membersihkan luka Anita.
"Hati aunty Nana terbuat dari apa kok bisa mengobati luka di Anita rubah pengganggu itu sih?" umpat Sofia diikuti anggukan kepala si Santi.
"Tuan, kamarnya sudah selesai." kata bi Suni. Ia kemudian kembali ke kamarnya yang ada di belakang rumah utama ini.
Jelena berdiri. Ia memegang tangan Anita. "Ayo, ke kamar !"
Kedua perempuan itu menaiki tangga, menuju ke kamar tamu yang biasanya dipakai oleh Jelena.
"Jangan membuat Adras nampak buruk di mata semua penghuni rumah ini. Aku tak mau Santi dan Sofia menganggap paman mereka ingkar janji saat melihat kehadiranmu di sini. Cukup sudah 9 tahun lebih kalian hidup dalam dosa. Jangan biarkan Adras berbuat dosa lagi. Selesaikan masalahmu dengan Mike. Dan jika memang Adras masih mencintaimu, aku dengan suka rela akan melepaskan Adras. Hanya saja, selama aku masih istrinya, aku akan tak akan membiarkan kamu menganggu Adras." Jelena berkata pelan namun sangat tegas. Ia segera keluar dari kamar dan membanting pintu dengan kesal.
Adras yang sedang menunggu Jelena di depan pintu segera memeluk istrinya itu. Entah apa yang Adras pikirkan, ia justru mengangkat tubuh Jelena dan berjalan menuju ke kamar mereka.
*********
Mau apa coba si Adras ini....
Jelena kok baik banget ya....
__ADS_1
Bagaimana kisah ini berlanjut?
Dukung emak terus ya guys