
Tangan Santi bergetar saat bi Suni memberikan undangan pernikahan itu.
"Agung akan menikah? Secepat itukah? Kasihan kak Sofia." Santi memutuskan tak akan memberikan undangan itu. Biarlah kakaknya tak perlu tahu.
"Undangan apa?" tanya Sofia yang baru menuruni tangga.
"Eh....." Santi terlihat gugup. Ia ingin menyembunyikan undangan itu namun tangan Sofia dengan cepat langsung menyambarnya.
"Agung akhirnya menikah." Sofia tersenyum kecut sambil menutup undangan yang sempat dibuatnya tadi. Air matanya mengalir.
"Kak....!" Santi memeluk kakaknya. Ia tahu kalau Sofia terluka. Santi juga sudah pernah merasakan patah hati. Namun pasti tak sesakit yang kakaknya alami karena memang dari awal Santi sudah tahu kalau Jun tak suka padanya. Sementara Sofia, ia pacaran dengan Agung selama satu tahun lebih. Hubungan mereka begitu manis, begitu mesra dan Agung selalu menjadi pria yang membuat Sofia merasa aman dan nyaman.
"Kita ke butik, yuk!" ajak Sofia sambil menghapus air matanya.
"Buat apa?"
"Cari gaun paling cantik untuk kita gunakan di pernikahan Agung hari sabtu ini."
"Kakak sungguh ingin pergi?"
"Mengapa tidak?"
Santi menarik napas panjang. Ia senang karena tahu bahwa Sofia pasti akan cepat move on. Katanya obat terbaik untuk bisa lepas dari mantan adalah sering melihat dia bersama dengan kekasihnya agar semakin sering kita tersakiti, maka luka hati itu akan cepat sembuh. (Ada yang mau komen tentang hal ini?).
Anto mengetuk pintu dan bi Suni membukanya. "Ada apa, Anto?" tanya bi Suni.
"Mau mengantar paket untuk nona Sofia."
Suni dan menerimanya dan segera membawa kotak berwarna putih itu ke dalam.
"Nona, ada paket untuk nona."
Sofia terkejut. Ia menerima kotak berwarna putih itu dan membukanya. Mulutnya langsung tergangga melihat sebuah gaun berwarna hijau lumut yang sangat indah. Ia membuka kartu yang ada di sana.
Hallo Sofia, aku harap keadaanmu sudah lebih baik. Bolehkah aku mengajak kamu untuk makan malam Sabtu ini? Jika kamu mau, tolong hubungi nomor hp aku. Arley
"Kakak, siapa laki-laki ini?" tanya Santi.
Sofia menatap adiknya. "Bukankah sabtu ini kamu ada janjian dengan teman-temanmu ke ulang tahun?"
"Iya sih. Namun mana bisa aku membiarkan kakak sendiri ke pesta pernikahan kak Agung?"
"Tenang saja. Aku akan pergi dengan Chris Evans."
"Maksudnya?"
"Nanti akan ku kirimkan fotonya padamu. Aku ke kamar dulu ya?" Sofia langsung mengambil gaun itu dan membawanya ke kamar membuat Santi tak mengerti dengan sikap kakaknya itu. Apakah ada pria lain?
__ADS_1
*********
Jun sebenarnya malas untuk ke acara makan malam ini. Namun mau bagaimana lagi? Dia tak punya pacar dan dia tak punya alasan untuk menolak keinginan orang tuanya yang akan menjodohkan dengan dengan anak dari sahabat mamanya yang masih juga keturunan Korea.
Jun pun memarkir mobilnya. Ia melihat kalau mobil ayahnya sudah ada di sana. Restoran ini memang restoran favorit keluarga mereka.
Begitu Jun memasuki restoran itu, salah satu pelayan langsung membawanya ke meja yang sudah di siapkan.
"Akhirnya kamu datang, sayang." Anggi langsung menyambut putranya dengan wajah yang bahagia. Sementara ayahnya hanya memandang Jun sambil menahan tawa. Ia tahu kalau Jun pasti tersiksa.
"Mami, aku punya pacar."
"Mana pacarmu? Mami nggak pernah melihatmu menggandeng wanita lain setelah kamu putus dengan Mey Ling 5 tahun yang lalu. Usiamu sudah mau masuk 30 Jun. Apakah kamu mau mami mati tanpa merasakan memiliki cucu?" tanya Anggi dengan tegas.
"Mami, aku ......!" Kalimat Jun terhenti saat melihat rombongan calon tunangannya itu datang. Seorang gadis cantik berwajah oriental dengan kulit putih pucat. Sangat sempurna memang. Namun hati Jun tak bergetar.
"Jeini." Demikianlah nama gadis itu.
Jun sungguh merasa nasipnya sudah di ujung tanduk. Namun, matanya menangkap sosok cantik, dengan rambut yang tergerai indah, menggunakan gaun putih selutut. Ia sepertinya sedang mencari seseorang di restoran itu. Jun merasa kalau kehadiran gadis itu menyelamatkan dia.
"Sayang ....!" Jun langsung berdiri dan mendekati Santi. Gadis itu terkejut saat Jun langsung melingkarkan tangannya di pinggang Santi.
"Please, help me!" bisik Jun sambil menarik Santi untuk mendekati meja keluarganya.
Anggi menatap putranya dengan sedikit kesal.
Santi menoleh ke arah Jun ingin protes namun Jun meremas pinggang gadis itu.
"Pacarmu?" tanya Anggi tak percaya.
"Iya mami. Sayang....?" Jun menatap Santi yang juga sedang menatapnya. Terpaksa Santi pun memganggukan kepalanya.
"Memangnya berapa usia gadis ini? Ia terlihat masih sangat muda. Hei, nak berapa usiamu?" tanya Anggi.
Jun akan menjawab namun Santi lebih dulu menjawabnya. "19 tahun."
"Astaga Jun, kalau kamu pacaran dengan ABG berusia 19 tahun, jadi betapa tahun lagi mami harus menunggu untuk memiliki cucu?" Anggi langsung histeris dibuat oleh anaknya.
"Mami, Santi sudah setuju kok untuk menikah dengan aku tahun ini." ujar Jun.
"Tapi...." Santi akan protes namun Jun langsung mencium pipi Santi. "Sayang, yang lalu kan kita sudah bicarakan ini."
Jeini terlihat kesal. Ia langsung memanggil orang tuanya dan meninggalkan tempat itu. Anggi jadi bingung. Ia berusaha menenangkan sahabatnya itu namun mereka sudah terlihat kecewa.
"Jun.....!" Anggi kembali mendekati anaknya. "Tolong jelaskan pada papi dan mami."
"Apalagi sih? Aku mencintai Santi, mi. Walaupun usianya masih muda, namun dia dewasa. Hanya dia yang bisa membuat aku percaya akan cinta lagi. Kalau mami nggak mengijinkan aku dengan Santi makanya selamanya aku nggak mau menikah !" ancam Jun sambil memeluk Santi dengan posesif.
__ADS_1
"Mi, biar saja Jun dengan pilihannya. Santi memang masih muda tapi dia kelihatannya baik." ujar ayah Jun.
Anggi menatap Santi. "Sayang, kamu tahu kalau usiamu dengan Jun berbeda 10 tahun kan? Apakah kamu nggak akan meninggalkan Jun? Benar kalau kamu siap menikah tahun ini? Jangan kecewakan mami ya. Mami ini sudah tua. Jun anak tunggal. Adiknya sudah meninggal. Jadi harapan mami hanya pada Jun." Anggi tiba memegang tangan Santi. Memberikan harapannya sebagai seorang ibu yang hampir putus asa karena anaknya belum juga menikah.
"Eh, aku ...!" Santi bingung. Ia sebenarnya tak mau berbohong pada orang tua.
"Ma, jangan tekan Santi seperti itu. Kita kan baru saja bertemu."
Anggi tersenyum. "Baiklah sayang. Ayo duduk. Kita makan saja. Makanan sudah dipesan." ujar Anggi. Ia memegang tangan Santi dan mengajak gadis itu duduk.
Santi sebenarnya datang ke tempat itu karena janjian dengan dokter Elina. Dosennya itu ingin tahu lebih banyak tentang opa Jeff. Namun kini ia justru terjebak dengan kebohongan Jun.
Sementara makan, dokter Elina meminta maaf karena tak bisa datang karena ada pasien yang gawat.
"Nak, kapan kami bisa ketemu dengan orang tuamu?" tanya Anggi saat mereka sementara menikmati makanan.
"Eh...orang tua saya sudah meninggal, tan."
"Oh, kasihan....." Anggi merasa iba dengan Santi.
"Nak, kapan kami bisa ke rumahmu? Kamu tinggal dengan siapa?" tanya Anggi.
Santi menatap Jun.
"Mami, jangan langsung bicara itu dong. Nantilah. Ini baru pertemuan perdana. Nanti Santi jadi takut dengan mami. Sekarang kami mau pergi dulu ya?" Jun langsung berdiri dan menarik tangan Santi. Sebelum Anggi protes, keduanya langsung menghilang.
Saat mereka tiba di luar restoran, Santi langsung menarik tangannya dari genggaman Jun.
"Kakak sungguh keterlaluan! Kenapa harus membohongi orang tua karena ingin menghindar dari perjodohan?"
Jun menatap Santi. "Bagaimana jika itu bukan kebohongan?"
"Maksudnya?"
"Bagaimana kalau aku memang ingin menjadikanmu sebagai istriku?"
"Ha?" Santi langsung pingsan.
**********
Jelena tersenyum saat membaca wa dari Adras yang mengatakan kalau ia akan menjemput Jelena di tempat kerjanya. Jelena sudah memutuskan sesuatu dalam hatinya dan ia yakin kalau Adars akan terkejut.
Apakah itu?
***********
Maaf ya emak terlambat up....
__ADS_1
lagi sibuk nonton sidang Eliezer