ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Pilot VS Mafia (part 2)


__ADS_3

Ada senyum di wajah Jun saat melihat Santi yang perlahan membuka matanya.


"Syukurlah kalau kau sudah sadar."


Santi perlahan bangun. "Aku ada di mana?"


"Ada di apartemen ku."


"Aku mau pulang!"


"Eh, tunggu! Di luar ada polisi yang meminta agar kamu tetap di sini sampai keadaan menjadi tenang."


"Maksudnya?"


Jun menceritakan apa yang diceritakan oleh polisi itu tentang keadaan yang dialami oleh paman Adras. Sofia dan Jeff ada di rumah perlindungan polisi.


"Kasihan uncle Adras." Santi menangis.


"Tenang ya, sayang. Kita doakan semoga Tuhan memberikan jalan keluar yang terbaik bagi uncle Adras."


Santi menangis dalam pelukan Jun. Ia sangat menyayangi pamannya. Tentu saja keadaan ini membuat ia sangat cemas.


"Aku mau menelepon kakakku."


"Jangan sayang. Ponselmu saja aku tinggalkan di kantor ku agar mereka tak bisa melacak keberadaan mu. Kelompok mafia ini sangat terkenal dengan kemampuan mereka."


Santi terlihat sedih namun ia pun berusaha menahan dirinya. Jun menyentuh wajah gadis itu. "Tenangkan dirimu, ya? Jangan lupa berdoa."


Santi membaringkan kepalanya di bahu Jun. "Oppa Jun, aku rasanya mau mati saja jika sesuatu terjadi pada uncle Adras."


Jun senang saat Santi kembali memanggilnya dengan sebutan oppa. Ia mengusap lengan Santi. "Sayang, hidup dan mati kita ada dalam tangan Tuhan. Serahkan semuanya pada Tuhan. Aku percaya, semuanya akan baik-baik saja."


"Aku janji, jika uncle Adras baik-baik saja, aku akan menerima lamaran oppa Jun."


"Benarkah?"


"Iya."


Jun tersenyum bahagia. Ia mengecup puncak kepala Santi sambil terus berdoa untuk keselamatan Adras. Bagaimana pun, Jun sudah menyadari perasaannya pada Santi. Tak peduli dengan usia mereka yang terpaut agak jauh. Jun kali ini akan serius dengan keputusannya untuk meminang Santi.


**********


"Jika dalam waktu satu jam, ayah kami belum dibebaskan, maka orang pertama yang akan saya bunuh adalah gadis ini." kata lelaki yang kini menyandera Jelena.


"Karena turbulensi tadi, sistem komunikasi rusak." ujar Adras berusaha terlihat tenang.

__ADS_1


"Perbaiki!"


"Baiklah!" Adras segera mengajak Kapten Ben untuk ke kokpit. Mereka diikuti oleh salah satu anggota mafia. Ternyata pihak kepolisian salah mengidentifikasi jumlah mereka yang sebenarnya ada 6 orang namun yang tercatat adalah 5 orang.


"Kep, kita harus mengukur waktu." bisik Adras pada Ben. Kapten itu pun mengangguk sambil berusaha membuat dirinya tenang. Kepala kapten Ben sedikit terluka karena turbulensi tadi.


Keduanya berusaha memperbaiki sistem komunikasi yang ada. Membutuhkan waktu hampir 1 jam sampai akhirnya radio bisa dipergunakan lagi.


Para ******* kembali menyampaikan permintaan mereka.


Hujan turun dengan sangat deras. Adras kembali duduk di kursi pilot sambil memegang kendali penerbangan.


Pesawat kembali memasuki awan hitam. Dan saat mereka keluar dari awan itu, Adras merasakan kalau ada yang tidak beres.


"Kep, kayaknya mesin 1 mengalami masalah." lapor Gerald.


"Iya. Mesin satu mati." ujar Adras.


Tak lama kemudian, Gerald melapor lagi. "Kep, sepertinya mesin 3 juga mati."


Ben menatap Adras dengan cemas. Mereka dapat merasakan kalau pesawat turun dengan sangat cepat. Hidung pesawat menukik dan pesawat mulai kehilangan kontrol.


Adras menatap Ben. Seakan mengerti dengan isyarat mata Adras, Ben dengan cepat memukul tengkuk ******* yang berjaga dengan mereka sampai akhirnya pria itu pingsan. Ben langsung mengikatnya dan menyembunyikan dia di ruang istirahat para pilot dan pramugari.


Adras kembali dapat menstabilkan posisi pesawatnya. Ia menghubungi ETC Taiwan dan mengabarkan tentang keadaan mereka yang dua mesinnya mati sementara ada mafia di dalam pesawat.


Adras kembali berkomunikasi dengan pihak polisi yang ada di Singapura. Ia mengatakan bahwa 2 orang telah mereka lumpuhkan. Adras meminta polisi mengirimkan gambar atau rekaman palsu mengenai pembebasan kepala mafia itu untuk mengelabui anak buahnya.


Ben keluar untuk menunjukan bukti pembebasan ketua mafia itu. Namun para anak buahnya berubah pikiran. Mereka ingin pemimpin mereka itu naik ke pesawat ini dan membawa mereka kembali ke Korea Utara.


Ketegangan kembali terjadi ketika para polisi dan kru penerbangan memutuskan untuk melawan para mafia ini.


Terjadi perkelahian dan baku tembak di dalam kabin penumpang mengakibatkan beberapa kaca pecah dan pesawat pun kehilangan tekanan sehingga masker penumpang langsung diturunkan.


Kru kabin melaporkan bahwa kapten Ben kena tembakan di pundaknya.


Adras merasakan kalau mereka tak akan bisa bertahan. Ia berusaha menurunkan ketinggian pesawat agar para penumpang bisa bernapas dengan lega tanpa perlu masker oksigen.


Saat para mafia itu kembali di kuasai, jarak ke bandara Singapura pun tinggal 30 menit lagi. Adras memilih untuk membuang bahan bakar agar ketika pesawat mendarat dengan keras, tak terjadi ledakan.


Semua penumpang sudah menangis ketakutan. Mereka berteriak, berdoa dan memohon pertolongan dari sang Penguasa langit dan bumi.


"Kep, roda pendaratan bagian depan tak keluar." lapor Gerald.


Adras merasakan ketakutan yang luar biasa. Baru kali ini ia merasa sangat takut. Wajah Santi, Sofia, uncle Jeff dan Jelena terbayang di pelupuk mata Adras. Apakah memang takdir akan mengahiri segalanya?

__ADS_1


Adras melaporkan keadaan mereka pada ETC. "Aku tak tahu apakah pesawat ini bisa mendarat dengan selamat." lapor Adras.


Ujung landasan sudah terlihat. Pesawat masih terlalu cepat untuk mendarat. Adras menatap Gerald. Co pilotnya itu nampak sangat tegang. Ia pun menangis karena Gerald baru saja menikah 3 bulan yang lalu dan istrinya sekarang sedang hamil.


"Para penumpang yang terhormat. Maaf atas ketidaknyamanan ini. Marilah kita sama-sama berdoa. God, please help us." Teriak Adras lalu melepaskan michropone yang ada.


"Senang terbang bersamamu, Kep." ujar Gerald.


"Aku juga."


Hidung pesawat langsung menghantam run away. Terjadi hentakan yang sangat keras. Pesawat meluncur dengan cepat di run away dan menimbulkan bunyi yang sangat keras.


Terdengar bunyi sirine dan petugas kedaruratan bandara yang segera menyemprot air dan juga busa ke arah pesawat.


Di ujung run away, pesawat akhirnya berhenti. Untuk sesaat Adras tak bisa berkata apa-apa. Ia masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi.


Bahkan saat pintu pesawat di buka dan polisi serta petugas masuk untuk menyelematkan para penumpang, Adras masih duduk di kursinya.


Evakuasi dilaksanakan dengan cepat.


"Kep, ayo keluar! Semua penumpang sudah dievakuasi." ujar Gerald.


Adras teringat dengan Jelena. Ia segera melepaskan sabuk pengamannya dan berlari keluar pesawat.


"Mutia.....!"


Mutia langsung memeluk Adras sambil menangis. "Terima kasih, Kep."


"Apakah semua penumpang selamat?"


"2 orang mafia meninggal karena terkena peluru. Ada. berapa penumpang yang terluka. Kapten Ben sudah dilarikan ke rumah sakit."


"Istriku, mana istriku?" tanya Adras.


"Perempuan yang tadi disandera?"


"Iya."


Mutia nampak menyesal. "Kep, maaf. Dia adalah salah satu penumpang yang meninggal."


Adras langsung merasakan kalau tubuhnya menjadi seperti tak ada tulang. Adras pun pingsan.


*********


Kok tega sih mba Enny.....

__ADS_1


Nantikan besok sambungannya ya?


__ADS_2