
"Hi baby ...!" Adras mencium pipi Jelena dengan gemas saat ia melihat kalau istrinya itu tertidur di depan cottage mereka. Mungkin karena angin pantai yang sejuk, ditambah lagi dengan tempat duduk lipat ini yang berada di bawa pohon membuat Jelena akhirnya tertidur.
"Mas, aku masih mengantuk." ujar Jelena sambil mendorong wajah suaminya karena ia merasa kalau kumis sang suami yang mulai tumbuh menghadirkan sensasi geli di pipinya.
"Kamu sudah 2 jam bobo di sini, sayang. Ini sudah hampir sore. Sudah setengah enam. Apa mau ada genderuwo genit menggoda kamu karena tidur dengan baju seksi seperti ini?"
Jelena dengan malas membuka matanya. "Mana ada genderuwo di sini, mas? Yang ada justru kapten Adras yang genit." ujar Jelena lalu mengecup bibir suaminya. Perlahan ia bangun dan menatap laut di depannya.
Adras duduk di samping istrinya dan memeluk pinggang istrinya dengan lembut. "Kau suka kita ada di sini?" bisik Adras.
"Iya. Rasanya kayak honey moon saja."
Keduanya saling bertatapan. Ada pancaran cinta lewat tatapan mata masing-masing.
"Mas, kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Jelena sedikit tersipu.
"Aku masih belum percaya kalau akhirnya kamu mencintai aku, sayang. Bahkan kita sedang menanti kelahiran anak-anak kita."
Jelena memegang wajah suaminya. "Seperti mimpi kan? Aku juga kadang berpikir demikian, mas. Kisah kita begitu aneh tapi nyata. Hanya karena ingin terus kuliah dan ada yang membiayai kuliahku, aku setuju saja dengan tawaran 2 ponakan mas."
"Aku justru harus berterima kasih kepada Sofia dan Santi karena mau mencarikan aku istri seperti dirimu. Kalau tak bertemu kamu, mungkin selamanya aku akan terjebak dalam lubang hitam dosa karena hubunganku dengan Anita."
Jelena memajukan wajahnya ke wajah suaminya. Ia menyentuh hidung Adras dengan hidungnya. "Tuhan sudah menjodohkan kita, mas. Dan aku sungguh mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, sayang."
Lalu keduanya kembali berciuman dengan sangat mesra.
"Sayang, kita ke kamar saja ya?" bisik Adras saat dirasakannya kalau ada sesuatu yang sudah sesak di dalam celananya.
"Mas, ingat kata dokter. Dua hari sekali."
"Ayolah sayang, aku janji akan pelan-pelan saja."
Keduanya tertawa bersama. Adras menggendong Jelena ala bridal style dan segera melangkah ke dalam cottage mereka.
*********
Jeff langsung bernapas lega, setelah 3 jam pembicaraannya dengan papa Elina dan akhirnya lamarannya langsung diterima.
Ibu sambung Elina juga sangat cantik dan seksi. Elina dan dia seperti kakak dan adik. Sangat akrab.
Niko, akhirnya setuju putrinya menikah dengan Jeff setelah ia yakin bahwa pria yang usianya hanya terpaut beberapa tahun darinya itu memang serius dengan anaknya. Ia percaya kalau Jeff tak akan berani menyakiti putrinya itu setelah tahu kalau Niko punya jaringan dengan beberapa Mafia di Asia ini.
"Sayang, kita akhirnya akan menikah." ujar Jeff setelah mereka akhirnya bisa berdua di gasebo yang ada di taman belakang.
"Iya. Papi ku akhirnya setuju. Kalau mami sih sudah tahu dan dia setuju saat aku perlihatkan fotomu. Katanya terlihat macho dan pasti hebat di ranjang."
"Kok gitu sih?" Jeff jadi tertawa.
"Lho, memangnya sayangku ini nggak kuat lagi di ranjang?"
"Mau bukti?" tantang Jeff.
Elina yang duduk sambil bersandar pada kekasihnya itu segera menjauh. "Sekarang?"
__ADS_1
"Jangan menantang aku, Elina. Kamu sendiri tahu bagaimana aku sudah menahan diri untuk tak menyentuhmu selama ini."
"Aow takut.....!" Elina langsung memeluk Jeff dan menggelitik pria bule itu. Keduanya pun tertawa bersama.
"Aku sebenarnya juga sudah tak tahan ingin merasakan manisnya hubungan intim itu, sayang. Kadang aku suka memikirkan bagaimana indahnya saat aku menyerahkan diriku pada pria yang kucintai. Namun, aku ingin melakukan saat aku sudah sah menjadi istrimu agar rasanya semakin nikmat tanpa dosa."
Jeff mengangguk. Ia mencium pipi Elina dengan sangat lembut. "Elina, kamu mau kan punya anak dariku?" tanya Jeff.
"Tentu saja aku mau, sayang. Siapa sih yang nggak mau punya anak dari suami tampan ini. Pasti anak-anak kita akan cantik dan ganteng karena perpaduan darah bule dan Indonesia."
Jeff merasa senangm Dengan istri keduanya dulu, ia juga ingin punya anak. Namun istrinya dua kali keguguran karena kandungannya lemah. Sedangkan bersama Marlisa, Perempuan itu selalu menolak setiap kali Jeff membicarakan anak karena ia takut badannya menjadi rusak.
"Sayang, terima kasih ya? Aku merasa menjadi lelaki sempurna saat bersamamu."
Elina menatap Jeff. "Jangan pernah lagi melirik cewek lain ya? Cukup sudah petualangmu, mas bule. Sekarang hanya ada aku. Elina. Calon istrimu."
Jeff mengangguk. Ia membelai wajah Elina dengan penuh sayang. "Aku merasa menjadi anak muda lagi nih."
"Dan aku merasa bagaikan terbang ke awan yang tinggi karena akhirnya akan menikah dengan pria bule yang sejak pertemuan pertama telah membuat aku jatuh cinta."
Keduanya pun berciuman dengan mesra. Cinta memang tak memandang usia. Elina tak pernah menduga kalau hatinya justru akan terbuka pada pria bule tampan ini yang sudah tua ini.
"Sayang, aku pulang ya, ini sudah jam 11 malam." Pamit Jeff setelah keduanya sudah selesai bermesraan dengan tangan Jeff yang sedikit nakal menyentuh gunung kembar Elina.
"Baiklah. Mimpikan aku ya?"
Jeff mengangguk. Ia mencium dahi Elina dengan lembut. "Ingat, besok kita ada janji dengan perancang untuk gaun pengantinnya."
"Ok. Jemput aku di rumah sakit jam 1 siang ya?"
Jeff mengangguk. "Papi dan mami mana? Aku mau pamit."
"Wah....wah...., aku harus minta resep dari papi mu kalau begitu."
Keduanya tertawa bersama. Elina pun mengantarkan Jeff sampai di dekat mobilnya.
"Hati-hati menyetir ya, sayang?" ujar Elina ketika keduanya selesai berciuman selamat malam.
"Baik. See you tomorrow, baby." pamit Jeff sebelum pergi dengan Mercedes Benz merahnya.
Elina menatap kepergian Jeff dengan hati yang berbunga. Elina sebenarnya tak diijinkan papinya untuk menikah dengan pria bule apalagi ini adalah pernikahan ke-4 Jeff. Namun Elina mengancam akan pergi ke luar negeri dan tak akan pernah kembali. Akhirnya papinya setuju dan meminta Jeff untuk datang. Elina tahu kalau hatinya telah diikat oleh si bule tua itu dan Elina tak peduli apa nanti kata teman-teman nya saat tahu kalau usia mereka terpaut sangat jauh. Cinta itu memang buta ya?
Ayo siapa di sini pembaca yang usianya terpaut jauh dengan pasangannya?
**********
Santi terkejut saat melihat kalau Jun datang ke kampusnya.
"Ceile ada oppa Kim Soo Hyun di sini!" cekutuk teman-teman Santi membuat gadis itu sedikit merasa risih.
Santi langsung berjalan cepat dan menarik tangan Jun agar menjauh dari teman-temannya.
"Kamu ngapain ke sini oppa?" tanya Santi.
"Menemui kamu, San. Aku tuh kangen. Kamu nggak balas pesan aku, nggak mengangkat telepon aku. Ada apa sih?" tanya Jun.
__ADS_1
Santi menelan salivanya mendengar perkataan Jun. Tentu saja ia senang mendengar pengakuan rindu dari pria yang sudah lama mengisi hatinya itu namun Santi tentu saja tak mau langsung percaya. Ia tahu kalau dulu Jun sangat menyukai Jelena.
"Sekarang kan sudah lihat aku, ya sudah pulang sana. Aku juga mau pulang." Santi langsung melangkah menuju ke mobilnya namun Jun justru ikut di belakangnya dan segera masuk ke dalam mobil begitu Santi membuka pintu mobilnya.
"Oppa Jun, awas, aku mau duduk."
"Kamu duduk di sebelah kiri saja. Aku yang akan membawa mobilnya."
"Terus mobil oppa gimana?"
"Aku tadi diantar sopirku."
Santi akhirnya memutar dan duduk di sisi yang kiri. Ia memasang sabuk pengaman dengan wajah cemberut.
Jun membawa mobil Santi meninggalkan pelataran parkir kampus. Namun Santi mulai menyadari bahwa ini bukankah jalan menuju ke rumahnya.
"Kita mau kemana, oppa?"
"Kita mau ngomong berdua. Aku tahu kalau kamu sangat ragu dengan perasaanku padamu." kata Jun seolah bisa menebak isi hati Santi.
Jun menghentikan mobilnya di tepi pantai yang sepi.
"Santi, sejak dulu aku tak pernah tertarik dengan gadis yang jauh lebih muda dari aku. Makanya saat tahu kalau kamu menyukai aku, aku tuh hanya bisa tertawa. Aku memang awalnya menyukai Jelena. Namun semenjak ia memutuskan untuk kembali pada Adras, aku pun membunuh semua perasaanku padanya. Aku sadar kalau cinta itu tak bisa dipaksakan. Perasaan ku padamu mulai berubah semenjak kamu menyatakan perasaanmu padaku. Berulang kali aku menyangkalnya karena aku tahu kamu baru berusia 18 tahun. Kamu terlalu kecil bagiku. Namun sayangnya, perasaan ku padamu justru menjadi semakin dalam saat kamu justru semakin menjauh dariku. Aku tahu ini bukan diriku. Tapi sungguh, aku tak bisa bohong kalau aku mencintaimu."
Santi menatap Jun. Berusaha menemukan kebenaran di mata cipit cowok itu. Wajah yang biasanya hanya ia impikan dengan menonton film yang dibintangi oleh Kim Soo Hyun, kini ada di depannya.
Santi membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Jun menyusulnya. "San...!" Jun mendekat dan memegang kedua tangan Santi. "Aku tahu kalau kamu masih menyukai aku."
"Aku memang menyukai kamu, oppa. Aku bahkan mencintaimu lebih dari pada yang pernah kamu pikirkan. Tapi, aku takut kamu melakukan itu karena desakan orang tuamu."
Jun mendekat. Ia melepaskan kedua tangan Santi dan kini tangannya menangkap wajah cantik Santi. "Tatap matamu, Santi. Aku serius dengan kamu. Aku bahkan sekarang sangat takut jika kamu berpaling pada pria lain."
Santi menatap Jun. "Oppa, kau tak akan menyakiti aku kan?"
"Bagaimana mungkin aku akan menyakiti gadis yang sebentar lagi menjadi istriku?"
Wajah Santi menjadi merah. Melihat Santi yang tersipu, Jun langsung memeluk gadis itu dengan perasaan bahagia. "Kamu mau kan menikah dengan aku?"
"Aku mau sih. Hanya saja, aku tak tahu apakah uncle akan mengijinkan aku atau tidak."
Jun melepaskan pelukannya namun belum menjauhkan tubuh nya. Jarak mereka masih begitu dekat. "Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari uncle Adras. Aku tak akan menyerah."
"Oppa saranghae." ucap Santi pelan.
"Neomu salanghaeyo." ujar Jun sambil membelai pipi Santi.
"Artinya apa?"
"Aku juga sangat mencintai kamu, Santi." ujar Jun lalu perlahan menunduk dan mencium bibir Santi.
Santi terkejut menerima ciuman itu. Namun ia tak menolaknya. Ia memejamkan matanya menerima ciuman pertamanya itu.
************
Duh, manisnya cinta itu. Jadi ingat waktu emak author pacaran dulu.
__ADS_1
Hampir tamat ya guys....
Ada ide cerita untuk novel berikut?