ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Usaha Adras


__ADS_3

Adras menatap istrinya yang sudah tertidur. Ia baru saja menikmati segelas kopi di dapur untuk meredam hasrat dirinya yang ingin bersentuhan dengan sang istri.


Entah mengapa Jelena menjadi lain padanya malam ini. Memang sebelum Adras berangkat 4 hari yang lalu, Jelena agak jutek padanya karena merasa dikerjai oleh Adras saat Adam di villa. Namun saat Adras minta didoakan, saat Adras menciumnya sebelum pergi, Jelena terlihat biasa saja.


Perlahan Adras pun naik lagi ke atas ranjang. Ia memeluk istrinya dari belakang. Tak ada reaksi dari Jelena. Itu artinya sang istri sudah tertidur. Adras pun mencoba memejamkan matanya walaupun ia sendiri tak mengantuk. Biarlah malam ini Jelena mengacuhkan dia. Yang pasti, Adras masih punya satu malam sebelum akhirnya ia harus berangkat lagi.


*********


Pagi harinya, Adras bangun dan tak menemukan Jelena ada di sampingnya. Ia.mencoba melihat jam dinding yang menunjukan jam 7 pagi. Adras bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci mukanya lalu ia turun ke bawah.


Di ruang makan, nampak Jelena sedang mengatur sarapan pagi. Adras mendekat, memeluk istrinya itu dari belakang membuat Jelena sempat terkejut.


"Good morning!" Sapa Adras lalu mencium tengkuk Jelena yang terbuka karena ia mengikat rambutnya.


"Adras ....!" Jelena mendorong perut Adras dengan siku tangannya.


"Kenapa sih?" tanya Adras sedikit kesal.


"Aku sedang menyiapkan meja makan."


"Aku hanya ingin mencium dan memeluk kamu, sayang."


Jelena berbalik dan menatap Adras. "Duduklah. Sarapannya sudah siap."


Tak lama kemudian, Santi dan Sofia pun turun dan langsung duduk di meja makan.


"Opa Jeff dan Oma Marlisa kemana?" tanya Santi.


"Mereka pagi-pagi sudah pergi ke Bandung." jawab Jelena lalu mulai menikmati sarapannya.


Mereka berempat pun sarapan dengan diam.


"Uncle sama aunty kenapa? lagi marahan ya?" tanya Sofia.


"Nggak." Jawab Jelena dan Adras kompak.


"Terus kenapa saling diam?" tanya Sofia lagi.


"Malas aja ngomong kalau lagi makan." ujar Jelena lalu kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Uncle kan nggak terbang hari ini. Kenapa kalian nggak pergi kencan saja?" tanya Santi.


"Aku banyak kerja di perusahaan." ujar Jelena.


"Boleh kok ijin. Aku kan bosnya." kata Adras merasa senang dengan usulan Santi.


"Aku sudah terlanjur berjanji dengan beberapa karyawan untuk makan siang bareng. Kalian teruskan saja sarapannya ya? Aku mau mandi." pamit Jelena lalu segera menuju ke kamarnya.


Santi dan Sofia saling berpandangan.


"Uncle, apakah sebelum berangkat uncle sudah bilang ke aunty Nana kalau ada si Anita di kru penerbangan?" tanya Santi.


"Belum."


"Jangan-jangan, aunty cemburu melihat postingan Anita." tebak Sofia.


"Postingan Anita?" tanya Adras bingung.


"Uncle sih, kenapa membiarkan Anita menggandeng tangan uncle saat berfoto?" Santi terlihat kesal.


"Foto yang mana sih?" Adras masih bingung.

__ADS_1


"Lihat saja di Instagram uncle. Anita menandai uncle dalam postingannya itu." Jawab Sofia.


Adras segera membuka ponselnya. Ia terkejut melihat foto itu. "Anita secara cepat menggandeng tangan aku saat difoto. Aku juga terkejut. Lalu kami foto lagi dan aku mengingatkannya untuk tidak menggandeng tangan aku. Aku tak menyangka kalau dia akan membagikan foto ini."


"Makanya uncle, jaga jarak dengan Anita. Aunty Nana pasti cemburu." kata Santi.


"Apa iya kalau dia cemburu?" tanya Adras sambil tersenyum. "Cemburu kan artinya sayang. Berarti Nana sudah sayang ke aku ya?"


"Ya sudah, sana bujuk aunty. Ajak kencan. Usahakan anty Nana mau ikut." Sofia memberikan dorongan pada Adras. Pria itu pun segera menghabiskan sarapannya dan segera menuju ke kamar. Saat ia membuka pintu, Jelena sepertinya masih di kamar mandi.


Sekitar 5 menit menunggu, Jelena akhirnya keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian rapi.


"Sayang, nggak usah ke kantor hari ini ya? Kita pergi jalan-jalan saja." ujar Adras lalu mendekati Jelena yang sedang duduk di depan meja rias. Ia mulai menggosok cream ke wajahnya.


"Aku kan sudah bilang kalau aku mau kerja. Kalau kamu selalu membuat aku bolos kerja, lebih baik aku berhenti saja dan kembali ke mini market tempatku bekerja."


"kok gitu sih? Kita kan nggak selalu bersama. Sekarang aku jadi jarang di rumah karena rute penerbangan yang Jauh. Makanya jika aku off, aku ingin lebih banyak waktu bersama mu."


Jelena tak menjawab. Ia terus saja berdandan membuat Adras berusaha menahan rasa kesal di hatinya. "Sayang, kamu cuekin aku seperti ini karena foto yang diunggah oleh Anita kan?"


Deg!


Jantung Jelena rasanya mau berhenti berdetak namun dia berusaha menguasai dirinya. "Foto apa?"


"Memangnya kamu nggak lihat? Anita kan menandai aku? Aku kaget saat dia tiba-tiba saja memeluk lenganku ketika berfoto."


Jelena memoles lipstick di bibirnya. Ia sudah selesai berdandan. Adras terpesona melihat istrinya yang terlihat semakin dewasa dan cantik.


"Sayang......!" Adras menahan tangan Jelena yang akan pergi.


"Ada apa? Aku hampir terlambat."


"Aku antar ya?"


"Walaupun belum mandi namun aku tetap ganteng kan?"


"Ih..., Adras. Kamu tuh lebay." Jelena sebenarnya ingin tertawa melihat Adras yang sok kegantengan walaupun pada kenyataannya, suaminya itu memang ganteng.


"Aku antar ya? Dari pada di antar paman Sule yang sudah tua."


"Terserah kamu aja!" Jelena segera menyambar tas nya dan berjalan keluar kamar. Adras langsung bersorak gembira. Ia mengikuti langkah istrinya dan segera meminta kunci dari paman Sule.


Keduanya pun berangkat ke kantor. Sepanjang jalan Adras berusaha menciptakan percakapan yang hangat namun Jelena hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala.


Sesampai di kantor, sebelum Jelena turun, Adras tiba-tiba menahan tangannya. "Sayang, sebentar, ada sesuatu di pipimu."


"Apa itu?"


"Ayo mendekat!"


Jelena mendekatkan wajahnya pada Adras. Dan....., cup! Adras dengan cepat mencium bibir Jelena membuat istrinya itu segera mencubit perut suaminya itu dengan kesal.


"Adras ....!"


"Selamat bekerja sayang...."


Jelena turun dari mobil dengan wajah kesal. Adras sungguh keterlaluan karena selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Akhirnya, Jelena pun menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Ia memang sudah janjian dengan beberapa karyawan untuk makan siang di kantin milik perusahaan dan Jelena akan mentraktir mereka. Namun saat ia membuka pintu ruangannya, ia kaget melihat para karyawan sudah memegang kotak makanan.


"Nyonya, nanti Senin saja ya kita makan di kantin. Kami semua dibawakan makan siang oleh bos Adras." kata Telly. Salah satu karyawan yang janji makan siang dengan Jelena.

__ADS_1


"Tuan Adras baik ya. Kita semua diberikan makan siang yang enak hari ini."


Jelena mendengar beberapa karyawan yang berbicara dan nampak senang dibelikan makan siang.


"Sayang....!"


Adras langsung melingkarkan tangannya di bahu Jelena membuat para karyawan langsung saling berpandangan sambil tersenyum melihat kemesraan bos mereka terhadap istrinya.


"Kita makan di luar yuk!" ajak Adras.


"Kamu memang sengaja melakukan ini kan?" Jelena melotot ke arah Adras. Namun bukannya takut, Adras justru mencium pipi istrinya dengan cepat.


"Adras! Malu nanti dilihat mereka."


"Ngapain harus malu? Kita kan suami istri."


Jelena akan melangkah pergi namun Adras justru menahan tangannya. "Ayo ikut!"


"Eh ...., kemana?"


"Ikut aja."


Keduanya pergi dengan mobil Adras menuju ke luar kota. Ternyata mereka mampir ke sebuah restoran yang ada di pinggiran danau. Suasana nyaman dengan nuansa pedesaan.


Adras memesan ikan bakar dan sayur kangkung sambil mengajak Jelena duduk di salah satu gasebo.


"Na, aku sengaja mengajak kamu ke sini untuk bicara." ujar Adras lalu merapatkan tubuhnya ke arah istrinya. Ia meraih tangan Jelena dan menggenggamnya erat.


"Bicara apa lagi sih?" Jelena berusaha menarik tangannya namun Adras menahannya.


"Aku nggak meminta agar Anita bisa menjadi kru dalam setiap penerbangan ku. Semua diatur oleh pihak maskapai. Mungkin karena Anita merupakan salah satu pramugari senior sehingga ia mendapatkan jadwal penerbangan ke luar negeri. Tapi aku nggak ada hati lagi padanya."


Jelena mencibir. "Memangnya hati manusia siapa yang tahu?"


"Kamu cemburu ya?"


"Enak saja bilang aku cemburu. Kenapa harus cemburu pada Anita? Walaupun semu orang mengatakan kalau ia cantik, namun aku tak menganggap dia sebagai saingan. Nggak level. Dia kan sudah tua. Masa sih harus cemburu sama tante-tante." ujar Jelena sambil memutar bola matanya.


"Pada hal aku berharap kalau kamu akan cemburu."


"Aku kan nggak cinta kamu. Kenapa harus cemburu?"


Adras merasakan hatinya sakit mendengarkan perkataan Jelena. Namun ia sudah berjanji tak akan mundur mendengarkan apapun yang istrinya itu katakan.


"Siapa tahu sudah ada cinta untukku walaupun sedikit." Adras mencium tangan Jelena yang ada dalam genggaman nya.


"Aku tak akan mudah jatuh cinta padamu,."


"Kenapa? Bukankah aku punya pesona sebagai lelaki tampan yang kaya?" Kata Adras sambil membusungkan dadanya.


"Kok kamu sombong banget sih?" Jelena sebenarnya ingin tertawa saat melihat bagaimana kelakuan Adras saat ini.


"Mungkin hanya dengan sedikit sombong, kamu akan tahu betapa besarnya cinta ku padamu." Adras menatap Jelena dengan lembut. Jelena memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup menahan tatapan mata Jelena.


"Sayang.....!" Adras memegang pipi Jelena. "Hei...lihat sini dong....!"


"Adras? Kamu juga ada di sini?"


Jelena dan Adras menoleh dengan kaget.


Adras terpana. Sial! Kenapa dia ada di sini?

__ADS_1


**********


Siapakah itu?


__ADS_2