
Beberapa bulan sebelum ketemu Jelena.....
Minggu ini jadwal penerbangan cukup padat bagi Adras. Makanya ia selalu memanfaatkan waktu istirahatnya dengan benar. Kedua ponakannya pun tak pernah menganggu Adras. Keduanya selalu memahami kesibukan paman mereka.
Memang, semenjak aksi pendaratan yang Adras lakukan di jalan raya Singapura viral, kemana pun ia pergi, orang selalu mengajaknya berfoto. Bahkan setiap kali jadwal penerbangan, kru kabinnya selalu meminta ia untuk foto bersama. Adras menjaga jarak, berusaha melayani walaupun dengan sikap yang terkesan dingin karena ia tak mau membuat Anita cemburu.
Memikirkan Anita, Adras yang baru saja bangun tidur segera menelepon kekasihnya itu. Ia menekan nama Mike di sana. Karena Anita sendiri yang mengatakan untuk tidak menaruh namanya di daftar telepon Adras.
"Hallo sayang...." Sapa Anita dari seberang.
"Hi baby. Lagi ngapain?"
"Lagi mikirin kamu. Aku mau telepon tadi namun takut menganggu karena aku tahu kalau kamu baru aja mendarat jam 5 subuh tadi."
"Iya. Aku memang capek banget. Penerbangan dari Hongkong mengalami delay sampai 3 jam karena hujan deras. Kamu ada jadwal penerbangan hari ini?"
"Aku sudah cuti, sayang."
"Kenapa? Kamu sakit?"
Anita diam.
"Sayang, kamu ada apa?"
Terdengar isakan tangis Anita.
"Sayang..., An..., kamu kenapa? Kita ketemu di apartemenku satu jam lagi ya? Aku akan mandi, sarapan dan segera ke sana."
"Baik."
Adras bergegas turun dari ranjang dan segera ke kamar mandi. Ia tak tahan jika mendengar Anita menangis. Rasa cintanya yang begitu besar pada perempuan itu membuatnya ingin segera sampai di sana dan menemui Anita.
Adras sarapan dengan cepat karena ia tak mau terlambat.
Begitu ia tiba di sana, Anita ternyata sudah sampai. Ia dapat melihat kalau mata Anita bengkak. Itu berarti Anita sudah menangis agak lama.
"Kamu kenapa sayang? Ada apa?" tanya Adras lembut sambil memeluk kekasihnya.
Anita menangis cukup lama dalam pelukan Adras, setelah itu, ia melepaskan pelukannya dan menatap Adras yang sedang menatapnya dengan penuh kasih. Inilah yang membuat Anita selalu merasa tenang saat bersama Adras. Lelaki itu sangat lembut, begitu baik dan penuh cinta padanya.
__ADS_1
"Besok, aku akan pergi ke Amerika." kata Anita sambil meraih kedua tangan Adras dan menggenggamnya. "Papa memaksaku untuk ikut program kehamilan di sana. Jika program itu tak berhasil, maka akan dilanjutkan dengan bayi tabung. Aku akan tinggal selama 3-6 di sana."
Adras melepaskan tangannya yang dipegang oleh Anita. Ia berdiri dan menatap Anita dengan tatapan cemburu. "Jadi kamu akan kembali berhubungan dengan Mike?"
"Ya. Untuk program yang pertama."
"Ceraikan Mike, An. Aku nggak bisa membayangkan dia menyentuh kamu lagi. Kamu adalah milikku. Hanya milikku."
Anita berdiri dan berhadapan dengan Adras. "Sayang, aku nggak bisa menolak. Papa mengancam akan mencabut hak warisanku. Itu adalah milik mamaku. Aku tak mau jatuh ke tangan kedua adik tiriku. Apalagi akan dimiliki oleh Mike."
"Anita, begitu pentingkah warisan itu bagimu? Aku juga punya kekayaan yang banyak. Aku bisa memberikan apa saja yang kamu mau. Hidupmu nggak susah walaupun aku berhenti dari maskapai ini. Ayolah sayang! Kita menikah dan mengahiri semua hubungan gelap ini. Aku sudah cukup menahannya selama 9 tahun ini." Adras memegang kedua lengan Anita. Pria itu terlihat sangat frustasi.
"Aku mohon pengertianmu, sayang. Aku berharap kalau program kehamilan ini tak akan berhasil. Setelah itu aku akan kembali padamu. Kita akan menikah dan kita akan keliling dunia untuk bisa berobat dan memiliki anak denganmu."
Adras memegang pipi Anita. "Aku tak peduli jika kamu tak bisa memberikan anak untukku. Aku akan baik-baik saja, sayang. Kita bisa mengadopsi anak. Yang aku inginkan adalah menghabiskan hidupku bersamamu. Kita sudah melakukan dosa yang besar dengan hidup berzinah selama bertahun-tahun. Jujur, aku tersiksa."
"Karena itu biarkan aku mengikuti keinginan papa dan Mike."
Adras mundur beberapa langkah. Ia menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa."
"Adras, please....., jangan buat bebanku bertambah berat. Apapun yang akan terjadi di Amerika, aku akan tetap kembali padamu."
"Adras ....! Sayang.....!" Anita mengejarnya namun Adras dengan cepat menghilang di balik pintu. Anita menangis sejadi-jadinya. Ia ingat dengan mamanya. Perempuan tanggung yang harus pergi meninggalkannya saat Anita berusia 15 tahun. Dan hanya 8 bulan sejak kematian mamanya, papanya menikah lagi dengan salah satu pramugari di maskapai mereka. Walaupun ibu sambungnya itu selalu bersikap baik padanya, tetap saja Anita tak suka. Anita menyayangi kedua adik lelakinya namun ia tak rela kalau kerja keras mamanya akan dimiliki oleh kedua adiknya itu.
*********
kembali ke masa sekarang ...
Jun meletakan piring yang berisi kue di atas meja beserta dua gelas coklat panas yang menggiurkan.
Cafe sudah tutup, para karyawan sudah pulang namun Jelena masih duduk di sana selesai mengepel lantai.
"Kak Jun? Aku pikir kakak sudah pulang."
"Ada sesuatu yang aku kerjakan. Makanya aku lembur. Ayo kita minum coklat panas dan menikmati kue ini. Ini adalah resep terbaru di cafe ini. Dan aku yang membuatnya."
Jelena terkejut. "Kakak bisa membuat kue?"
"Ya. Karena selain belajar tentang management dan akutansi, aku juga belajar membuat kue selama satu tahun saat berada di Seoul."
__ADS_1
Jelena mengambil sepotong kue dan memakannya. Matanya langsung terbelalak. "Ini enak. Masih hangat. Baru dibuat ya?"
Jun mengangguk. "Kamu adalah orang pertama yang merasakannya. Bagaimana?"
"Aku pikir ini akan menjadi salah satu kue favorit di cafe ini." Ujar Jelena lalu menghabiskan kue yang ada di tangannya.
"Waw, coklatnya juga enak." puji Jelena saat ia menyesap coklat itu secara perlahan.
"Coklat baik untuk ibu hamil."
"Iya. Terima kasih ya sudah memperhatikan kesehatan anakku."
"Kau pantas mendapatkannya."
"Jika perutku sudah semakin besar, apakah boleh aku tetap kerja di sini?"
Jun mengangguk. "Tentu saja. Jangan malu dengan kehamilanmu. Bukankah kamu memang menulis di biodata mu kalau kamu sudah menikah?"
"Namun mereka tak pernah melihat suamiku." Wajah Jelena menjadi sedih.
"Jangan pedulikan itu. Nikmati saja masa kehamilanmu dengan selalu membuat hatimu bahagia. Karena ibu yang bahagia, akan membuat anaknya di dalam perut menjadi bahagia.
Jelena tersenyum. Ia mengusap perutnya yang masih rata itu. "Terima kasih kak Jun, selalu memberikan motivasi untuk aku."
"Makan lagi kuenya. Aku memang membuatkan itu khusus untuk mu."
"Oh ya?" Jelena menjadi senang. Ia menghabiskan 3 potong kue yang dibuatkan oleh Jun. Mereka berbincang tentang bisnis cafe ini. Jun ternyata akan membuka sebuah cabang yang baru. Jelena pun memberikan ide-idenya.
Jun akhirnya pamit pulang karena tak ingin membuat Jelena bergadang. Saat Jun sudah pergi, Jelena pun membereskan meja yang ada. Ia mencuci piring dan gelas yang mereka pakai. Sebelum ia naik ke lantai dua untuk beristirahat, Jelena ingat belum mematikan lampu di dalam cafe. Ia pun segera menuju ke ruangan cafe untuk mematikan lampu yang ada. Namun, saat Jelena menoleh ke arah pintu cafe, ia terkejut melihat Adras ada di sana. Lelaki itu sedang mengetuk pintu sambil bersandar di dinding. Ia terlihat sangat lemah. Tangannya juga berdarah.
"Adras...., apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jelena kaget sambil membukakan pintu.
Adras menatap Jelena dengan matanya yang sayu. "Dengar aku dulu, Na. Jangan biarkan aku tersesat seumur hidupku. Aku butuh kamu." ujar Adras lemah lalu tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai.
**********
Hallo semua....
Adras kabur dari rumah sakit guys....
__ADS_1
apakah kali ini Jelena akan mendengarkan Adras?