
Di dalam kamar, Anita duduk di atas ranjang sambil memeluk lututnya. Ia ingat tadi bagaimana Mike memaksakan kehendaknya pada dirinya. Mike bahkan melakukannya dengan kasar. Mencium Anita pun sampai melukai bibirnya.
Ya Tuhan, sampai kapan aku harus seperti ini? Apakah sudah terlambat bagiku untuk memperjuangkan hubunganku dengan Adras? Apakah aku tak menarik lagi di mata Adras? Tidak! Aku lebih cantik dan menarik dari Jelena. Dia hanyalah gadis kampung dan menjebak Adras. Aku tidak bisa kehilangan Adras. Apakah aku harus melaporkan semuanya pada papa? Apakah papa akan percaya padaku?
Tanpa sadar air mata Anita kembali meleleh. Ia kemudian mengambil ponselnya. Lalu ia menelepon Surya.
"Ada apa?" tanya Surya. Terdengar kalau ia baru bangun tidur.
"Maaf kalau aku mengganggumu. Aku nggak tahu harus curhat kepada siapa."
"Kenapa nggak curhat kepada Adras? Bukankah dia selalu ada untukmu? Bukankah dia akan selalu memeluk dan menenangkan mu?"
"Aku ada di rumah Adras sekarang ini."
"Apa? Bagaimana kau bisa ada di sana?"
"Mike ternyata berhubungan dengan Putri. Aku memergoki mereka tadi. Aku marah karena Putri menusuk aku dari belakang. Lalu setelah aku mengusir Putri, Mike justru memperkosa aku. Ia bahkan memukul aku. Seluruh tubuhku sampai sakit. Aku lari saat Mike sedang mandi."
"Mike memang ke sini. Tadi dia mencari kamu ke sini."
"Aku pikir, Mike pasti tak akan tahu jika aku di sini. Tapi ada Jelena di sini. Dan Adras memegang tangannya seakan tak ingin melepaskannya. Aku cemburu. Aku sakit hati." tangis Anita.
"Anita, lepaskan dirimu dari Mike dan Adras. Mike penuh dengan racun dan Adras mungkin sudah terikat dengan istrinya selamanya. Lagi pula Jelena sedang hamil. Bagaimana mungkin Adras akan meninggalkan istrinya yang sedang hamil?"
"Tidak. Adras hanya mencintai aku. Aku harus membuktikan bahwa aku siap berpisah dengan Mike. Namun aku harus memusnahkan dulu video yang dimiliki Mike tentang aku dan Adras."
"Anita, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri."
"Surya, tolong cari orang yang bisa masuk ke rumah Mike atau kantor miliknya. Aku harus menemukan memori yang menyimpan video itu."
"Akan ku usahakan."
"Terima kasih Surya. Kau selalu ada untukku."
"Istirahatlah, An. Aku juga mau tidur."
Anita pun mengahiri percakapan diantara mereka. Ia membaringkan tubuhnya walaupun sesungguhnya ia tak merasa mengantuk. Ingin rasanya ia pergi ke kamar Adras dan memeluk lelaki itu. Apa yang sedang mereka lakukan? Apakah Adras menyentuhnya?
***********
"Eh, Adras, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku?" Jelena berusaha memberontak saat Adras membawanya menuju ke kamar Adras.
Adras tak menghiraukan perkataan Jelena. Saat mereka memasuki kamar, ia menurunkan Jelena, dan sebelum perempuan itu menyadari apa yang Adras inginkan, Adras sudah menekan berbagai tombol di pintu itu dan mengaktifkan kode penguncian.
Mata Jelena membulat sempurna. "Kamu mau mengurung aku?" tanya Jelena.
Adras tersenyum. "Kamu bukan tahanan."
__ADS_1
"Kalau begitu buka pintunya. Aku ingin pergi ke kamar Sofia atau Santi. Biarkan aku tidur di sana." Jelena memasang tampang garang.
"Jangan menganggu Sofia dan Santi. Di sini saja temani aku."
"Nggak mau!"
"Mau dong!"
"Buka pintunya Adras!"
"Nggak!"
"Adras.....!" Jelena sudah setengah berteriak.
Adras akhirnya menekan tombol digital yang ada di pintu itu. "Kode untuk membukanya adalah tanggal pernikahan kita."
Secara otomatis pintu itu terbuka sedikit. Namun saat Jelena akan melangkah, Adras tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Please, Na. Malam ini saja, temani aku di sini." kata Adras dengan suara penuh permohonan.
"Ih Adras, lama-lama kamu tuh menyebalkan!" Jelena dengan kesal melepaskan dirinya dari dekapan Adras dan segera melangkah ke arah sofa. Ia duduk di sana sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
Adras semakin gemas melihat Jelena yang cemberut. Di mata Adras, Jelena justru terlihat semakin cantik. Ia pun berlutut di depan Jelena. Tangannya memegang perut Jelena membuat istrinya itu terkejut.
"Aku hanya ingin menyapa anak kita, Na." ujar Adras sambil terus membelai perut Jelena. "Kamu tahu, saat mendengar detak jantungnya ketika USG, jantungku juga ikut berdebar kencang. Ada kehidupan di perutmu yang aku tahu juga sebagian diriku ada di sini. Aku tak pernah merasakan yang seperti ini." ujar Adras sambil terus membelai perut Jelena. Pria itu kemudian menunduk dan mencium perut Jelena sangat lama. Seolah ia enggan beranjak dari sana.
Keduanya kembali bergumul di atas ranjang. Menikmati malam lewat membagikan kehangatan. Kehangatan yang membawa kepuasan raga.
Begitu panasnya suasana di atas ranjang itu, sampai Jelena dan Adras lupa kalau pintu kamar terbuka sedikit. Anita berdiri di depan pintu. Ia mendorong pintu kamar itu perlahan, dan masuk menyusuri lorong kecil yang terdapat kamar mandi serta walk in closet di sana. Kaki Anita terasa sangat lemas mendengar suara-suara itu. Anita sebenarnya tahu sedang apa Adras dengan Jelena, namun entah kenapa ia sendiri ingin melihatnya dengan matanya sendiri. Dan benar saja, ketika ia selesai melewati lorong itu, ia melihat pemandangan yang sangat menyayat hatinya.
Air mata Anita mengalir. Kehadirannya bahkan tak membuat kedua insan yang ada di atas ranjang itu terusik. Segera ia membalikan badannya dan keluar dari kamar itu sambil membanting pintunya.
"Pintu....!" Jelena menahan dada Adras yang berada di atasnya.
"Kamu salah dengar." ujar Adras lalu segera menyatukan dirinya dengan diri Jelena.
********
Jelena bangun keesokan paginya dengan tubuh yang sedikit pegal. Ia masih dipeluk oleh Adras. Matanya menatap jarum jam yang sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi. Ia tahu kalau ia akan terlambat jika tak segera bangun.
Perlahan Jelena mengangkat tangan Adras yang ada di perutnya. Ia pun turun dari ranjang lalu meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia segera ke kamar mandi untuk mandi dan segera ke cafe.
Saat ia menuruni tangga, nampak Santi dan Sofia ada di ruang tamu. Melihat rambut Jelena yang basah, keduanya saling berpandangan sambil mengangkat alis mereka. Apa yang mereka pikirkan semakin di yakinkan dengan melihat ada tanda merah yang berusaha di tutupi Jelena dengan bedak.
"Uncle di mana?" tanya Santi.
"Masih tidur."
__ADS_1
"Aunty mau pergi? Nggak sarapan dulu?" tanya Jelena.
"Nggak. Aku harus ke kampus pagi ini. Sebelumnya mau singgah di cafe dulu untuk mengambil laptopku."
"Kenapa nggak bangunkan uncle saja?" tanya Santi.
"Jangan. Biarkan saja uncle kalian tidur. Soalnya semalam Adras tidurnya sudah jam 3 subuh."
"Ha? Ngapain aja?"
Wajah Jelena menjadi merah. Ia terkejut karena mulutnya tak bisa menjaga rahasia.
"Aku pergi dulu ya ..." Jelena langsung pergi sebelum Sofia dan Santi akan terus bertanya.
Pak Sule, tanpa diminta langsung mengantar Jelena. Walaupun gadis itu menolaknya namun pak Sule tak mau kena marah sang pilot makanya ia pun tetap memaksa Jelena untuk ikut bersamanya.
**********
Adras tersenyum saat merasakan ada tangan yang memeluk tubuhnya.
"Kamu belum bangun juga?" tanya Adras. Perlahan ia membalikan tubuhnya.
"Astaga .., Anita?" Adras terkejut saat melihat kalau yang berbaring di belakangnya adalah Anita. Tubuh Adras masih belum menggunakan pakaian selesai ia dan Jelena bercinta semalam. Adras langsung meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Adras....., jangan perlakukan aku seperti ini. Aku mohon!" ujar Anita sambil memegang tangan Adras.
Pada saat yang sama, di tempat lain.....
Jelena merasakan ada sesuatu yang menusuk dadanya.
"Ada apa, Na?" tanya Tari yang menemaninya sampai ke halte bis.
"Nggak." Jelena menggeleng dengan cepat.
Kenapa perasaanku nggak enak ya? Ada apa ini?
Sebuah bis akhirnya berhenti.
Ia pun langsung naik ke dalam bis yang akan mengantarnya ke kampus. Gadis itu masih sempat melarikan tangannya pada Tari . Bis pun langsung melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jelena merasa kalau sopir bis agak ugal-ugalan.
Ia pun berdiri untuk segera meminta sopir bis menurunkan dia di halte berikutnya. Namun dari arah samping kanan, Jelena melihat kalau ada sebuah truk yang memuat kontainer barang, sedang melaju kencang ke arah mereka. Tabrakan tak bisa dihindari. Bis itu pun terlempar jauh, berguling beberapa kali, menabrak beberapa kendaraan lain, sebelum akhirnya meledak dan terbakar.
"Keluar dari kamarku, Anita!" Adras turun dari ranjang dan segera memakai pakaiannya secara cepat. Saat ia melangkah ke kamar mandi, ia merasakan kalau hatinya tiba-tiba sakit. "Nana....!" tanpa sadar Adras menyebut nama istrinya itu.
***********
Hallo semua? Apakah yang terjadi dengan Jelena?
__ADS_1
Dukung terus novel ini ya....