ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Pertengkaran


__ADS_3

"Bagaimana pendapatmu?"


Pria yang duduk di depan Jelena tersenyum. "Semua terserah padamu, Na. Kau yang memutuskan. Aku akan terus mendukung apapun yang kau putuskan."


"Aku tak bisa selamanya tinggal dalam situasi seperti ini."


"Kau mencintai Adras?"


Jelena diam.


"Kau mencintainya?"


"Nggak?"


"Sungguh?"


Jelena diam lagi.


"Kalau kamu memang mencintainya, akan sangat sulit bagimu untuk pergi. Namun jika kamu tak mencintainya, maka akan lebih mudah bagimu untuk meninggalkan dia."


Jelena menarik napas panjang. "Aku tak bisa hidup diantara bayang-bayang masa lalu Adras. Akan selalu menghantui pikiranku saat tahu kalau Anita akan selalu berada di samping Adras."


"Kalau begitu minta Adras menjauh dari Anita."


"Itu berarti Adras harus berhenti menjadi pilot. Aku tak mau sampai itu terjadi. Menjadi pilot adalah impian Adras. Aku tak boleh egois meminta Adras untuk meninggalkan mimpinya."


"Cinta memang terkadang egois, Na."


"Makanya aku tak mau mencintainya."


"Kadang kita tak menyadari kalau kita mencintai seseorang."


"Aku cukup sadar dengan perasaanku."


Pria itu sekali lagi hanya tersenyum. "Aku akan mengurus visamu jika kau sudah memutuskan untuk pergi."


"Terima kasih. Akan ku kabari nanti." Jelena berdiri. Ia akan kembali ke kantor.


"Na!" Jun menahan tangan Jelena.


"Ada apa?" tanya Jelena.


"Pikirkan baik-baik."


"Kau sudah tahu siapa aku, Jun." katanya lalu melepaskan tangan Jun yang memegang tangannya. Ia meninggalkan cafe itu dan segera masuk ke dalam mobilnya untuk kembali bekerja.


Seseorang yang ada di dalam cafe tersenyum puas saat melihat hasil fotonya. Ia pun segera mencari nomor kapten Adras dan mengirimkan foto itu.


***********


Saat pesawat berhenti dengan baik di tempatnya, Adras pun menarik nafas lega. Ia menatap Agung yang duduk di sampingnya. "Kita akhirnya tiba dengan selamat."


"Iya, kap. Pada hal tadi ada beberapa turbulensi tapi syukurlah semuanya baik-baik saja." Agung segera menjalankan tugasnya sebagai co-pilot sebelum akhirnya akan meninggalkan ruang kabin.


Adras pun mengambil ponselnya dari dalam tas kecil yang selalu di bawahnya. Ia segera menghidupkan ponselnya untuk segera menghubungi orang rumah. Ia menelepon Jelena namun ponsel Jelena tak aktif. Adras pun menelepon Sofia.

__ADS_1


"Hallo uncle."


"Sofia, kamu di mana?"


"Ada di rumah uncle."


"Aunty Nana?"


"Belum pulang. Tadi sebenarnya sudah pulang namun keluar lagi. Katanya ada urusan sebentar. Aku sudah meminta paman Sule untuk menjemput uncle di bandara."


"Baiklah. Nggak mau menyapa kekasihmu? Dia terbang bersama uncle." Kata Adras sambil melirik ke arah Agung yang masih mencatat sesuatu di laporan penerbangan mereka.


"Nggak. Aku lagi marahan dengan Agung."


Adras terkekeh. Ia kemudian mengahiri percakapannya. Pandangannya beralih pada Adras. "Kalian sedang marahan ya?"


"Iya, kap. Aku yang salah karena sebenarnya hari ini sudah berjanji akan menemani Sofia ke pernikahan temannya. Namun karena ada perubahan jadwal penerbangan maka aku membatalkannya."


"Harap maklumlah. Sofia kan sangat manja. Malahan aku berpikir kalau Santi yang dewasa dari kakaknya itu."


Agung hanya tersenyum sambil mengangguk. Sebenarnya pria itu sedang memiliki suatu beban dalam hatinya. Namun ia takut untuk mengungkapkan itu pada Adras.


Adras melihat ada pesan dari nomor yang tak dikenal. Saat ia membukanya, ia menemukan foto Jelena yang sedang berpegangan tangan dengan Jun.


Darah Adras langsung terasa panas. Ia kembali menghubungi istrinya itu namun nomor Jelena memang tak aktif. Ia hanya bisa memejamkan matanya sebentar untuk menghalau hatinya yang galau.


"Kap, belum mau keluar?" tanya Agung.


"Oh ya..., ayo kita keluar."


Para kru kabin sudah selesai membersihkan ruang penumpang.


"Nggak. Aku mau langsung pulang. Sopirku sudah menunggu di luar." ujar Adras lalu segera berjalan mendahului yang lain.


Sesampai di rumah Adras memanggil Sofia.


"Aunty Nana nggak bilang akan kemana?"


"Nggak."


Adras semakin kesan. Untuk menenangkan dirinya, Adras mandi dan mencoba makan siang walaupun pada kenyataannya, ia tak berselera untuk makan.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Adras semakin tak sabar menunggu kepulangan Jelena.


Akhirnya, istrinya itu sampai juga ke rumah saat waktu sudah menunjukan pukul 10.30.


"Dari mana saja kamu?" tanya Adras tanpa menyembunyikan kemarahannya. Suaranya cukup keras dan membuat Jelena terkejut.


"Kerja."


"Kerja sampai jam begini?"


Jelena yang sebenarnya sangat capek, berusaha untuk tak emosi. Ia hanya melangkah melewati Adras dan menuju ke kamar.


Adras mengikuti langkah istrinya. "Jelena, aku bertanya padamu!" ujar Adras sambil menahan tangan Jelena saat keduanya sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Aku kan sudah Jawab."


"Nggak mungkin kantor masih buka di jam begini. Memangnya kamu kerja apa? Apakah nggak bisa ditunda sampai besok?"


"Nggak. Aku harus kerja lembur siang dan makan supaya kamu tak semakin dirugikan." Jelena menarik tangannya dengan kasar lalu ia melangkah ke arah sofa. Duduk di sana sambil melepaskan sepatu talinya.


"Apa maksudmu? Kamu pergi bekerja atau ketemu dengan Jun?"


Jelena yang baru selesai mbuka sepatunya menatap Adras. "Kenapa memangnya jika aku ketemu dengan Jun? Kami hanya berteman. Memangnya aku seperti dirimu yang nggak bisa move on dari Anita? Ngakunya saja mau memperbaiki hubungan dengan aku. Namun kenyataanya apa?" Kali ini Jelena juga tak mau menahan dirinya.


"Apa maksudmu? Ada orang yang mengirimi aku foto dirimu dengan Jun yang ketemu hari ini. Jun memang tanganmu. Apakah itu hanya sebagai teman?"


Jelena tersenyum sinis. "Hanya pegang tangan saja kamu sudah sewot. Pegang tangan itu sudah biasa. Jun bahkan pernah memeluk aku."


"Jelena!" Adras semakin terbakar cemburu mendengar perkataan Istrinya itu.


"Adras, aku dan Jun hanya teman. Nggak lebih. Namun kamu dan Anita, punya kisah 9 tahun lebih. Kamu tidur dengannya lebih banyak dari kamu tidur dengan aku. Kamu mencintai dia tanpa peduli kalau dia istri orang. Jadi, sebenarnya siapa yang harus dicurigai, aku atau kamu?"


"Aku mencintai kamu, Na."


"Oh ya? Lalu bagaimana aku harus percaya dengan ungkapan cintamu kalau pada kenyataannya waktu mu bersama Anita lebih banyak dari pada waktumu bersamaku. Bagaimana kamu bilang move on dari Anita pada hal kamu pergi ke diskotik dengannya. Kamu berkelahi karena ada pria yang menggodanya. Kamu membiarkan dia memeluk dan mencium mu di depan kamar hotel. Aku bahkan berpikir kalau kamu masuk ke kamarnya."


"Na, Jun itu menyukaimu."


"Benar. Tapi aku menolaknya dan Jun mengerti. Kami nggak punya sesuatu yang akan membuat aku mengkhianati pernikahan ini. Tapi kamu....! Kamu....!" Jelena menarik nafas panjang. "Aku punya seribu satu alasan untuk percaya semua foto yang dikirimkan padamu karena kamu pernah memiliki kisah manis dengan Anita selama 9 tahun lebih."


"Foto? Foto apa?"


Jelena mengambil ponselnya dan menunjukan foto yang dikirimkan padanya. "Jangan katakan kalau foto ini editan."


"Ya. Foto ini memang asli namun Anita menciumiku secara tiba-tiba."


Jelena tertawa. "Sudahlah Adras. Kamu dan Anita tak akan mudah melupakan kisah diantara kalian karena kalian bersama selama 9 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar."


"Kau tak percaya padaku?"


"Bagaimana aku bisa percaya sedangkan Anita ada di sekelilingmu? Bagaimana aku bisa percaya sedangkan kamu sendiri tak percaya padaku? Kita seharusnya tak bersama Adras."


"Maksudmu?"


"Seperti yang kau katakan, jika kamu tak bisa membuat aku jatuh cinta padamu, maka kamu akan melepaskan aku."


"Memangnya kamu tak mencintai aku setelah kita bercinta seperti tak ingin berhenti? Aku pikir kamu sudah mulai merindukan aku sehingga kamu datang menjemput aku di bandara. Aku pikir kamu sudah mencintai aku sehingga kamu begitu mendambakan aku untuk menyentuhmu."


"Cinta tak sama dengan napsu. Saat napsu terpuaskan, kesadaran membawa aku pada kenyataan bahwa aku tak mencintaimu."


Adras memegang bahu Jelena. "Jangan bohong Jelena."


"Cobalah mengerti. Kita tak bisa selamanya bersama. Teruskan hubunganmu dengan Anita. Bukankah dia sudah menjadi wanita bebas?"


"Bagaimana aku bisa meyakinkan kamu kalau aku mencintai kamu, Na."


"Lepaskan aku, Adras." kata Jelena pelan namun sangat menusuk ke lubuk hati Adras.


**********

__ADS_1


Ini puncak konflik guys


Akankah Adras melepaskan Jelena pergi?


__ADS_2