
Adras pov
Aku tak tahu bagaimana Anita bisa berubah seperti ini. Dia sering merokok, sering minum alkohol dan semakin cemburuan.
Setiap kali aku bertemu dengannya, ia selalu memeriksa tubuhku, mencium tubuhku hanya ingin tahu apakah ada tanda atau minyak wangi dari perempuan lagi. Akhirnya kami jarang sekali berhubungan intim karena setiap kali bertemu justru kami lebih banyak bertengkar. Anita selalu meminta aku untuk menceraikan Jelena sementara aku tak tahu bagaimana harus menceraikan Jelena tanpa menyakiti hati kedua ponakanku.
Aku sudah bersikap dingin, kasar bahkan selalu menjauh dari Jelena. Namun anehnya, gadis itu selalu baik padaku. Masakannya enak. Apalagi kopi buatannya sangat enak. Satu yang paling menyentuh hatiku adalah setiap kali aku akan berangkat untuk terbang, Jelena selalu mendoakan aku. Perasaanku justru merasa tenang saat dia mendoakan aku.
Satu hal lagi yang membuat aku selalu berusaha menahan diriku, yaitu saat Jelena menggunakan pakaian tidurnya. Selama ini, aku tak akan memalingkan wajah setiap kali ada wanita berpenampilan seksi lewat di depannya. Namun tidak dengan Jelena. Pesonanya, tatapan matanya, terlihat sangat menggoda. Apakah Jelena adalah perempuan yang berpengalaman? Apakah Jelena memang punya keahlian khusus untuk menggoda wanita? Hal itu yang selalu melintas di kepalaku.
Sampai suatu malam, disaat aku baru pulang dan bertengkar hebat dengan Anita, aku pun pasrah dan tak kuat menahan diri untuk menolak rayuan Jelena. Dan saat penyatuan itu terjadi, sekalipun aku belum pernah berhubungan dengan gadis yang perawan, aku tahu kalau Jelena masih perawan. Jeritan kesakitannya saat aku berhasil menembus dinding kesuciannya membuat hatiku bergetar. Sekaligus juga menimbulkan kemarahan karena aku sadar di malam itu aku tak pernah menyentuh Jelena.
Kemarahan ku karena ternyata aku sudah ditipu oleh mereka semua dan menyebabkan aku harus menodai Jelena pada akhirnya.
Namun semenjak malam itu, aku justru selalu terbayang dengan penyatuan kami. Aku bahkan tak ingin lagi bersentuhan dengan Anita. Semakin Anita mencoba mendekatiku, semakin bayangan wajah Jelena justru mengganggu aku.
Aku pun mencoba mendekati Jelena lagi. Memang cara yang ku gunakan sangatlah kasar. Aku sengaja melakukan itu dengan harapan kalau Jelena akan marah dan jengkel padaku. Namun tiap kali berhubungan, aku tak mau membuang benihku di dalam. Aku takut Jelena hamil.
Ternyata Jelena memang hamil. Awalnya aku sempat ragu kalau itu adalah anakku. Ternyata, penyatuan pertama kami, aku tak membuang benihku di luar. Kehamilan Jelena setidaknya membuat aku bahagia. Entahlah, aku senang karena ingin menjadi ayah, sehingga aku memintanya kembali ke rumah.
Kecelakaan yang terjadi sehingga aku harus mendaratkan pesawatku di sawah sungguh membawa ketakutan dalam diriku. Aku merasa kecelakaan itu terjadi karena Jelena tak lagi mendoakan aku. Hal itu membuat keinginanku semakin kuat untuk meninggalkan Anita. Mungkin inilah saatnya aku harus belajar melepaskan cinta terbesar dalam hidupku. Aku tak tahu apakah aku bisa atau tidak. Namun aku yakin aku akan mampu jika ada Jelena di sampingku.
*********
"Na, apakah selama ini kamu tak punya perasaan untukku?"
Jelena tertegun mendengar pertanyaan Adras. Apakah mungkin setelah ia menyerahkan tubuhnya pada lelaki itu maka tak ada perasaan khusus pada lelaki itu?
__ADS_1
"Aku....." Jelena memberanikan diri menatap Adras. "Aku ingin lelaki yang sederhana. Yang selalu ada untukku saat suka dan duka kehidupanku. Aku tak butuh lelaki tampan yang kaya. Asalkan dia bukan lelaki pemalas, aku yakin kami pasti tak akan berkekurangan karena aku juga seorang pekerja keras. Itu semua tak masuk kriteria tentang dirimu, Adras. Maaf. Aku tak memiliki perasaan apapun padamu."
"Sekalipun kamu sedang mengandung anakku?"
"Aku mencintai anak ini. Namun tidak dengan ayahnya." Jelena melepaskan tangan Adras yang memegang tangannya. "Jangan memaksa hatimu untuk terus bersamaku sementara hatimu masih untuk orang lain. Kalau kamu menghargai sedikit saja pernikahan ini, kamu tak akan pergi di malam pertama pernikahan kita untuk tidur dengan kekasihmu."
Adras menatap Jelena yang pergi meninggalkannya. Hatinya sakit mendengarkan perkataan Jelena. Namun ia juga menyadari kalau apa yang Jelena katakan itu benar. Adras telah mengkhianati Jelena di malam pertama pernikahan mereka.
Namun Adras tak akan menyerah. Ia ingin agar Jelena ikut bersamanya. Karena itu ia menelepon Sofia. Meminta ponakannya itu untuk membujuk Nana agar pulang ke rumah mereka.
Sore harinya, Sofia dan Santi datang. Adras sedang tertidur di kamar dan kedua gadis itu membujuk Jelena untuk pulang ke rumah.
"Maaf aunty tak bisa."
"Aunty hanya setiap Jumat sampai Minggu saja. Selebihnya aunty dapat tinggal di sini. Kami rindu bersama Aunty. Kami juga ingin melihat perkembangan adik kami. Please aunty. Di rumah sangat menyebalkan. Oma Marlisa sering bertingkah semaunya dia." Santi sampai berlutut di hadapan Jelena untuk membujuk gadis itu.
"Baiklah. Tapi aku ingin kamar yang berbeda dengan paman kalian."
Saat Adras bangun, mereka berempat pun pulang. Marlisa sempat kaget melihat Jelena yang datang kembali. Namun perempuan itu tak memperdulikan wajah kesal Marlisa.
Jelena pun diberikan kamar tamu yang ada di ujung lorong. Awalnya Adras protes namun Santi dan Sofia memberikan penjelasan bahwa hanya itu syaratnya agar Jelena mau ikut dengan mereka.
Saat makan malam, Adras memilih makan di dalam kamar. Jelena pun menemani Adras makan karena Sofia sedang keluar bersama Agung dan Santi sedang belajar.
"Na, aku mau gosok gigi dan mencuci wajahku. Tolong bantu aku ke kamar mandi ya? Aku merasa agak pusing." pinta Adras setelah makan.
Jelena pun mengangguk dengan terpaksa. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Adras dan membantu pria itu berjalan ke kamar mandi. Ia juga membantu Adras mengambil sikat gigi dan odol. Selesai Adras menggosok gigi dan mencuci wajahnya, Ia kembali memeluk pundak Jelena untuk kembali berjalan ke dalam kamar.
__ADS_1
"Na, boleh ambilkan baju untukku? Aku ingin ganti baju karena ini bajuku sejak kemarin.
Jelena pun menuruti keinginan Adras. Ia mengambil celana training dan kaos oblong. Ia juga harus membantu Adras mengganti pakaiannya walaupun ia harus menahan nafasnya saat melihat tubuh atletis lelaki yang masih menjadi suaminya itu. Dia tahu kalau Adras rajin berolahraga sehingga tubuhnya bagus.
Saat wajah mereka begitu dekat karena Jelena harus membantu Adras memakai kaosnya, pandangan mata mereka pun bertemu. Adras ingin sekali mencium bibir Jelena yang begitu menggoda. Namun Jelena terlihat biasa saja.
"Aku ke kamar ku dulu ya?" pamit Jelena.
"Na...."
Langkah Jelena terhenti. "Ada apa lagi?"
"Bolehkah aku memegang perutmu? Aku ingin merasa akrab dengan anak kita sejak ia dalam perut."
Jelena pun mendekat dan berdiri di hadapan Adras yang masih duduk di tepi ranjang.
"Hallo sayang, sehat selalu dalam perut mama ya? Papa akan selalu ada untukmu." ujar Adras sambil membelai perut Jelena setelah itu ia mencium perut Jelena dengan lembut dan cukup lama.
Jelena merasakan aliran darahnya menjadi panas. Sentuhan Adras di sana, tangan Adras yang melingkar di pinggangnya membuat tubuhnya bergetar.
Jelena perlahan mundur. Ia tahu kalau kehamilannya justru membuat tubuhnya akan mudah bereaksi dengan sentuhan Adras. Itulah yang ia baca di sebuah artikel. Tubuh ibu hamil muda sering kali memiliki gairah yang lebih besar dibandingkan dengan wanita yang tak hamil.
"Aku ke kamarku dulu. Selamat malam." Jelena melangkah cepat meninggalkan kamar sebelum Adras melihat wajahnya yang menjadi merah.
Perempuan itu langsung membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Namun saat ia memejamkan matanya, memori tentang percintaan nya dengan Adras yang terakhir, justru terbayang lagi di kepalanya dan membuat tubuhnya kembali bergetar. Ini sudah gila! Ujar Jelena dalam hatinya. Ia pun bangun dan meneguk air putih. Namun saat ia membaringkan tubuhnya lagi, bayangan percintaan itu kembali membuat rasa kantuknya pergi.
********..
__ADS_1
Hai, dukung terus cerita ini ya....
Up lagi kan?