ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Sial Sendiri


__ADS_3

Hujan turun dengan deras di kota Sidney. Badai bahkan terjadi di beberapa tempat. Sejak Adras mendarat di bandara itu walaupun dengan sedikit hard landing namun akhirnya mereka semua bisa selamat.


Setelah ada satu pesawat yang sedikit tergelincir saat mendarat tadi akhirnya otoritas bandara mengumumkan bahwa bandara ditutup sampai besok pagi. Pada hal jadwal penerbangan dari Adras adalah jam 4 sore waktu Sidney.


Adras berdiri di depan jendela kamar hotel tempat maskapai mereka menginap. Ia menelepon Jelena namun panggilannya tidak dijawab. Apakah istriku itu begitu sibuk sehingga ia tak bisa menjawab panggilanku?


Adras kemudian menghubungi pamannya. Kata paman Jeff kalau Jelena sedang meninjau gudang. Di Jakarta juga sedang hujan jadi kemungkinan Jelena terjebak dengan banjir karena memang beberapa bagian di kota itu mulai banjir.


Adras memutuskan untuk beristirahat sejenak. Teman sekamarnya, kapten Vinsen, sejak ganti pakaian tadi entah keluyuran kemana. Adras memang mendengar kalau kapten itu sedikit play boy semenjak ia resmi menjadi duda setahun yang lalu. Istrinya meninggal. Anak mereka hanya satu. Seorang anak perempuan berusia 14 tahun. Adras tak mau mengusik kehidupan pribadi seniornya itu yang ada affair dengan salah satu pramugari.


Kurang lebih 2 jam Adras beristirahat sampai didengarnya kalau pintu kamarnya diketuk. Adras menduga kalau itu adalah seniornya yang sepertinya tak membawa kunci pintu kamarnya.


"Hallo kapten!"


Adras memasang senyum seadanya saat melihat Linda, salah satu pramugari pintar yang menguasai 4 bahasa. Ia juga cantik dengan lesung pipit.


"Ada apa, Linda?"


"Kap, semua sudah ngumpul di bawa untuk makan malam. Sekalian mau memberikan kejutan bagi kapten Vinsen yang ulang tahun."


Adras sebenarnya enggan untuk keluar kamar. Namun karena mengingat itu adalah seniornya, ia pun segera mengangguk. "5 menit lagi aku turun."


Setelah cuci muka dan ganti pakaian, Adras pun turun ke bawa. Mereka sudah ada di restoran dan kapten Vinsen yang belum kelihatan. Anita juga ada di sana. Ia terlihat cantik dengan celana jeans ketat dan kemeja putih. Adras bersikap sewajarnya dengan memberikan dia senyuman.


Tak lama kemudian, Vinsen muncul. Sepertinya ia keluar hotel tadi. Semua langsung berteriak dengan gembira dan memberikan Vinsen ucapkan selamat ulang tahun.


Mereka makan malam bersama dan setelah itu Vinsen mengajak mereka semua ke diskotik yang ada di hotel itu. Adras awalnya menolak.


"Hanya sampai jam 23. Setelah itu kita kembali ke kamar karena penerbangan kita besok jam 7 pagi." ujar Kapten Vinsen. Yang lain pun setuju. Sekarang baru jam 9 malam dan mereka punya dua jam untuk bergembira di diskotik.


Mereka pun berusaha larut dalam kegembiraan malam itu. Begitu juga dengan Adras. Walaupun ia tak ikut bergoyang bersama yang lain, namun ia berusaha menikmati acara malam itu.


"Adras, ayo minum!" Anita mendekatinya dan memberikan segelas minuman.


"Aku nggak mau mabuk." Tolak Adras.


"Non alkohol." Kata Anita.


"Terima kasih." Adras pun menerima minuman itu.


"Aku gabung dengan mereka ya." pamit Anita dan segera menuju ke lantai disko.


Namun dua orang pria yang kelihatannya sudah mabuk nampak mengganggu Anita. Teman-temannya yang sedang larut dengan alunan lagu disko tak memperhatikan. Namun Adras melihatnya.


Adras membantu Anita karena melihat perempuan itu sangat kewalahan saat mengusir dua lelaki yang menggodanya itu.


"Lepaskan dia....!" Adras berusaha melerai. Namun wajahnya justru kena bogem mentah dari salah satu pria itu. Perkelahian pun tak terhindar. Untung saja petugas keamanan segera datang dan membawa dua pria itu ke bagian keamanan.


Anita menangis sambil memeluk Adras.


"Adras, tolong antar aku ke kamar ya?" mohon Anita.


Adras melihat teman-teman yang lain masih asyik dengan goyangan mereka. Ia pun segera membawa Anita ke kamarnya.

__ADS_1


"Beristirahatlah." kata Adras saat keduanya sudah ada di depan kamar Anita.


"Terima kasih." Anita memeluk Adras sekali lagi lalu mencium bibir pria itu sekilas dan langsung masuk ke kamarnya.


Adras terkejut saat Anita menciumnya. Terjadi secara tiba-tiba dan tak dapat Adras hindari.


Dengan cepat Adras kembali ke kamarnya. Ia mencoba menghubungi Jelena namun ponsel istrinya itu sudah tak aktif.


**********


"Uncle Adras pulang hari ini. Aunty mau jemput kan?" tanya Santi saat mereka sarapan bersamanya.


"Pesawatnya tiba sekitar jam 7 malam. Aku mau menghadiri acara salah satu staf kantor. Nanti paman Sule saja yang menjemputnya." Kata Jelena. Ia takut sebenarnya berjumpa Adras. Takut kalau ia menjadi tak terkendali seperti waktu itu. Apalagi sejak kemarin ia sudah tak turun haid lagi.


"Kami juga mau nonton pemutaran perdana film kesukaan kami berdua." ujar Santi.


"Memangnya harus malam? Ada kan yang tayang sore?" tanya Marlisa. Sebenarnya ia bertanya ingin memastikan. Jeff pun ada pertemuan bisnis malam ini. Kalau semua pergi, berarti ia akan sendiri dengan Adras malam ini.


"Kan seru kalau di pemutaran perdana nontonnya malam. Sekalian cuci mata." ujar Santi. Sebenarnya ia sudah janjian dengan teman-temannya sedangkan Sofia sudah janjian dengan Agung.


"Biar saja mereka pergi. Nikmati masa muda kalian. Asalkan tahu jaga diri ya? Ingat pesan uncle Adras." kata Jeff membuat Santi dan Sofia senang.


"Thanks opa Jeff." ucap mereka kompak.


"Kakak, gimana nih, aunty nggak mau menjemput." bisik Santi.


"Tenang saja. Di rumah kan bisa."


"Kalian kok bisik-bisik. Ada apa?" tanya Marlisa.


"Kakak, botolnya hilang. Siapa yang mengambilnya?" tanya Santi panik.


"Salah taruh mungkin."


"Nggak. Aku menaruhnya di dalam laci."


"Oh my God. Kalau begitu siapa yang mengambilnya?"


Kedua gadis itu saling berpandangan dengan gelisah. Di mana botol obat itu berada?


********


Adras tiba di rumah saat jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Ia sudah tahu kalau orang rumah semuanya sedang pergi. Ia sedikit jengkel dengan Jelena yang selalu tak mengangkat ponselnya. Adras pikir ia harus berbicara dengan serius kepada Jelena untuk lebih memperhatikan ponselnya.


"Hallo Adras." Sapa Marlisa. Adras hanya tersenyum tipis membalas sapaan Marlisa. Perempuan itu tampil cantik malam ini dengan gaun mini berwarna hitam, sedikit transparan dengan belahan dada yang rendah.


"Mana uncle Jeff?"


"Ada pertemuan bisnis. Kamu sudah makan?"


"Belum. Namun aku ingin mandi dulu. Kemana yang lain?"


"Sofia dan Santi nonton bioskop, Jelena ada acara dengan karyawan di kantor. Hanya aku yang ada di rumah karena para pelayan sedang ijin ke pasar malam."

__ADS_1


Sebenarnya para pelayan nggak meminta ijin namun tadi sore Marlisa berbaik hati memberikan mereka semua uang kaget dan menyuruh mereka bersenang-senang ke pasar malam.


Adras memang sangat lapar karena tadi di pesawat ia hanya memakan sepotong roti dan segelas kopi.


Saat ia memasuki kamar, perasaan rindu pada Jelena membuat Adras mencium bantal di atas ranjang karena ia tahu ada bau Jelena di sana. Selesai itu ia segera ke kamar mandi untuk mandi.


Selesai mandi, Adras kemudian pergi ke ruang makan. Di atas meja sudah tersedia makan malam. Sebenarnya Adras rindu saat makan malam ditemani istrinya, namun ia yakin, Nana sengaja menghindar darinya dan pergi ke acara salah satu karyawan.


"Aku juga belum makan." ujar Marlisa.


"Aku pikir kamu nggak makan nasi saat malam."


"Ya. Aku memang hanya akan makan sayur."


Keduanya pun makan bersama. Walaupun Marlisa berusaha menciptakan percakapan yang mengalir, namun Adras terlihat hanya menanggapinya dengan anggukan atau gelengan kepala.


Selesai makan, Adras langsung ke kamarnya. Namun baru saja ia akan menyalakan TV, pintu kamar diketuk.


"Adras, ini teh herbal mu." kata Marlisa.


Adras memang selalu minum teh herbal setiap kali selesai makan untuk menjaga bentuk tubuhnya dan juga membuang racun dalam tubuhnya.


"Terima kasih."


Marlisa tersenyum. Ia akan menunggu satu jam. Obat yang dia curi dari lemari Santi sudah dibaca reaksinya akan bekerja 1 jam sejak dikonsumsi.


Makanya Marlisa ada di kamarnya untuk siap-siap. Ia sendiri sudah meminumnya walaupun hanya 1 tetes dan yang ia berikan di teh Adras adalah 1 tetes juga. Jelena pasti akan pulang tengah malam begitu juga dengan Jeff dan kedua gadis itu. Marlisa sudah tak sabar ingin mendekap tubuh kekar ponakan suaminya itu.


Adras kembali menelepon Jelena namun ponsel istrinya itu kembali tak aktif. Baru saja Adras akan meminum teh nya, pintu kamar terbuka.


"Nana....!" ia langsung meletakkan kembali gelas berisi teh herbal itu.


"Hai....!"


Adras sebenarnya ingin menumpahkan kekesalannya namun ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah Nana agak lesu. "Kamu kenapa?"


"Perutku nggak enak. Mungkin terlambat makan. Makanya aku nggak jadi pergi ke pesta salah satu karyawan."


"Oh, minum saja teh ini. Khasiatnya sangat bagus." Adras menyerahkan teh yang dibuatkan Marlisa untuknya.


Jelena meneguknya sampai setengah. "Aku nggak mau habiskan. Sekarang aku mau mandi dan tidur." ujar Jelena lalu segera ke kamar mandi.


Adras pun melihat teh yang masih tertinggal setengah di gelas itu. Ia menghabiskan teh tersebut lalu membawa gelas itu ke meja makan.


1 jam kemudian.....


Marlisa turun ke lantai bawa. Ia memastikan para pelayan belum pulang begitu juga yang lain. Marlisa tak memperhatikan kalau mobil Jelena sudah ada. Marlisa sudah merasakan reaksi obat itu sudah bekerja pada dirinya. Ia yakin Adras juga sudah merasakan hal yang sama karena ia tahu Adras tak pernah minum teh yang dingin.


Saat melewati ruang makan, Marlisa tersenyum senang melihat gelas berisi teh itu sudah kosong. Ia bergegas ke kamar Adras. Ia yakin pria itu sudah panas dingin di sana. Adras tak mungkin akan menolaknya.


***********


Nah....

__ADS_1


Apa yang akan Msrlisa lihat?


Bagaimana Adras dan Jelena merasakan reaksi obat itu? 🤣🤣🤣


__ADS_2