ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Semua Untuk Kebaikan


__ADS_3

Marlisa menangis sambil menarik kopernya keluar dari rumah besar itu. Tak ada lagi harapannya untuk kembali bersama Jeff. Nampaknya suaminya itu telah menutup hati untuknya.


Sebenarnya, Marlisa juga tak mencintai Jeff. Ia mengenal pria itu dan langsung memikatnya karena ia tahu Jeff adalah lelaki tampan yang kaya. Tak peduli dengan usia mereka yang terpaut jauh, Marlisa langsung menyerahkan dirinya pada pria bule itu di hari pertama mereka bertemu. Sekalipun saat itu Jeff masih ada istri, Marlisa tidak peduli. Ia menawan Jeff dengan tubuh seksinya dan permainan ranjangnya yang panas.


Walaupun sedih harus meninggalkan kehidupan mewahnya bersama Jeff, namun Marlisa bersyukur karena lelaki itu tak memasukannya ke penjara karena penipuan yang ia lakukan bersama adiknya.


"Nyonya, mau kemana?" tanya Anto.


"Masukan saja koper saya ke mobil." kata Marlisa ketus.


Anto memasukan 3 koper itu di bagasi mobil mewah Marlisa.


"Nyonya, akan pergi?" tanya Anto. Ia nampak sedih. Apakah tuan mendepak nyonya karena kejujuran ku?


Marlisa segera naik ke dalam mobilnya setelah Anto selesai memasukan kopernya. Ia menatap Anto. Lelaki yang pernah memuaskan dirinya. Anto yang tampan dengan wajah lugunya.


"Permisi!" ujar Marlisa lalu segera meninggalkan halaman rumah megah itu.


Dari balik kaca di lantai dua, Jeff melihat kepergian Marlisa. Perempuan yang sudah 3 tahun ini mengisi kehidupannya. Marlisa memang cantik, seksi dan sangat memuaskan Jeff saat mereka bercinta namun Jeff tak mau Marlisa mengambil keuntungan dari Adras yang sangat disayangi. Marlisa mendapatkan uangan bulanan yang sangat banyak dari Jeff. Ia juga mendapatkan penghasilan yang tak sedikit dari profesinya sebagai seorang model. Jeff tak habis pikir kenapa Marlisa harus menipu uang perusahaan. Mungkin ini hukuman Tuhan padanya karena dulu Jeff meninggalkan istrinya hanya karena terpikat pada model cantik seperti Marlisa.


Selamat tinggal Marlisa......


**********


Adras kini tahu apa yang membuat Jelena seperti perempuan nakal saat istrinya itu menjemput dia di bandara. Dan bagaimana keduanya juga begitu panas bercinta setelah meminum teh yang dibuatkan Marlisa untuknya. Adras yakin Marlisa malam itu mau menjebaknya. Syukurlah malam itu Marlisa pulang.


"Jangan pernah lagi menggunakan obat semacam itu. Obat itu bisa berbahaya apalagi kelian berdua belum menikah. Hubungan antara laki-laki dan perempuan tak akan menjadi lebih baik setelah mengkonsumsi obat itu. Lihatlah, Nana meninggalkan uncle juga."


Sofia dan Santi memeluk lengan Adras, kiri dan kanan sambil menyandarkan kepala mereka di sana.


."Uncle, kami hanya ingin uncle bahagia karena kami yakin kalau uncle sudah mencintai aunt Nana. Siapa tahu aunt Nana hamil dan anak itu yang akan menyatukan kalian berdua selamanya. Aunt Nana orang baik. Ia sebenarnya istrinya yang ideal untuk uncle." ujar Sofia.


"Mungkin uncle bukan pria ideal untuknya." Kata Adras sambil tersenyum kecut.


Santi mengusap lengan pamannya. "Uncle, kita pergi nonton bioskop yuk!"


"Boleh. Asal jangan pulang larut malam ya? Ini kan bukan akhir pekan."


Santi dan Sofia senang.


"Boleh opa ikut?" tanya Jeff yang sudah berdiri di depan pintu kamar Adras.

__ADS_1


"Boleh." jawab kedua gadis itu kompak. Bagaimana pun mereka butuh refreshing malam ini. Keluarga adalah tempat terindah untuk melepaskan segala lelah dan kepenatan hidup.


**********


Hari ini Adras memasuki bandara dengan seragam pilot namun berlogokan maskapai lain. Memang sesuatu yang menusuk hatinya saat ia memasuki pintu khusus kru dan berpapasan dengan beberapa pilot dan pramugari dari maskapai tempatnya pertama bekerja.


"Kapten Adras?" tanya Adam saat melihat Adras.


"Hallo Adam!"


"Kap beneran sudah pindah? Bukankah pihak maskapai belum menyetujuinnya?"


"Ini yang terbaik. Aku ingin lepas dari masa lalu yang menjeratku."


"Bukankah nona Anita sudah bebas sekarang?"


Adras kembali tersenyum. "Aku mencintai istriku. Anita adalah masa laluku maka sebaiknya aku menjauh darinya untuk menjaga perasaan istriku."


"Aku bangga karena kapten akhirnya bisa lepas dari masa lalu yang menyakitkan itu." Adam terlihat sedih.


"Adam, jangan takut untuk lepas dari sesuatu yang tak kau sukai. Aku tahu kalau hati nurani mu tersiksa dengan semua yang terjadi." Adras menepuk pundak Adam lalu segera meninggalkan Adam yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Ada rasa lega di hati Adras saat bisa mengatakan itu pada Adam. Adras berharap kalau Adam bisa lepas dari jeratan Mike.


**********


"Aku ingin kita putus."


Sofia tak terkejut saat perkataan itu keluar dari mulut Agung. Sudah seminggu ini kekasihnya itu sangat susah dihubungi. Apalagi paman Adras tak bekerja di sana sehingga Sofia tak bisa memantau kekasihnya itu.


"Why?" tanya Sofia. Ia merasa tak memiliki salah apapun.


"Kemarin aku sudah bertunangan dengan gadis pilihan orang tuaku. Aku tak bisa menolaknya. Ibu ku sakit parah dan ia ingin aku menikah dan segera memiliki anak. Bulan depan kami akan menikah." kata Agung sambil mengangkat tangan kirinya, menunjukan sebuah cincin emas yang melingkar di jari manisnya.


Sofia mengangguk. Susah payah ia berusaha tegar dan tak ada air mata yang mengalir di sana. "Selamat kalau begitu."


Agung meraih tangan Sofia dan menggenggamnya. "Maaf kan aku, sayang. Aku sungguh mencintaimu. Namun aku juga tak bisa mengabaikan keinginan orang tuaku. Sementara kamu sendiri belum siap untuk menikah. Aku tahu kalau aku sudah jahat padamu. Aku sungguh berada dalam suatu keputusan yang sangat sulit."


Sofia menarik tangannya dari genggaman Agung. "Jika uncle Adras bertanya padamu, katakan saja kalau aku yang memutuskan kamu ya? Bilang padanya kalau aku yang mengkhianati kamu karena tertarik dengan teman kuliahku. Karena uncle pasti akan memukulmu jika ia tahu kalau kamu yang memutuskan aku."


"Sofia, maafkan aku!" mata Agung bahkan sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Sofia memberikan senyum terbaiknya. Ia membuka kalung berliontin buah hati yang dihadiahkan Agung padanya saat ia ulang tahun. "Aku tidak cocok untuk menyimpannya lagi." ujar Sofia lalu segera berdiri. "Selamat tinggal kak Agung. Terima kasih telah menjadi pria pertama yang mengisi hatiku." lalu ia segera meninggalkan Agung yang masih menatapnya di tempat duduknya. Sofia langsung menangis sedih saat ia sudah ada di dalam mobilnya. Hatinya sakit. Ia patah hati. Namun ia juga tahu kalau Agung mengambil sebuah keputusan yang sulit.


*********


Dokter Elina terkejut melihat Jeff yang berdiri di depan pintu apartemennya.


"Uncle Jeff? Kok bisa tahu kalau aku tinggal di sini?" tanya Elina.


"Entah mengapa aku ingin ketemu kamu saja."


"Kangen?" tanya Elina sambil tersenyum.


"Mungkin. Aku nggak dipersilahkan masuk?"


Elina nampak ragu namun akhirnya ia melebarkan juga daun pintu.


"Uncle mau minum apa?" tanya Elina.


"Ingin cium kamu saja."


"Eh ....!" Elina mundur beberapa langkah. Jeff jadi bingung.


"Ada apa?" tanya Jeff.


"Status uncle gimana?"


"Marlisa sudah menandatangani surat perceraian kami."


Elina tersenyum. "Kalau begitu kejar aku!"


"Maksudnya?"


"Buat aku yakin kalau uncle memang mencintai aku dan bukan hanya menginginkan tubuhku."


Jeff langsung menekan salivanya.


********


Nah ...gimana episode ini?


Tunggu episode selanjutnya?

__ADS_1


episode saat uncle menemui Jelena di Seoul.


__ADS_2