ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Ku Kejar Cintamu (part 2)


__ADS_3

Jantung Jelena rasanya mau copot. Ia bahkan mencubit tangannya sendiri untuk memastikan kalau ia tak sedang bermimpi.


"Adras?" Jelena mengulangi lagi memanggil nama laki-laki itu.


Adras tersenyum. "Ya. Ini aku. Adras Permana. Lelaki yang sangat merindukanmu."


Seer.....


Ada seluruh kulit tubuh Jelena menjadi panas saat mendengar kalimat itu. Aku juga merindukan kamu, Adras. Sayangnya itu hanya terucap dalam hati Jelena.


"Ta...tahu dari mana aku di sini?" tanya Jelena.


"Aku harus tahu kamu ada di mana, sayang. Sehingga aku tenang sekalipun harus melepaskan kamu menjauh sementara dariku."


Busyet....


Makin pintar aja nih pilot berkata-kata. Pada hal dulunya hanya tahu pasang wajah jutek sama cewek demi Anita.


"Kamu menguntit aku ya?"


Adras terkekeh. "Kok nguntit sih? Kita kan masih suami dan istri. Wajarlah kalau aku tahu kamu di mana. Nggak mengijinkan aku masuk?"


Jelena mengambil kunci apartemennya dari dalam tas lalu membuka pintu. Tanpa dipersilahkan, Adras pun mengikutinya.


Apartemen tempat Jelena tinggal ini memang kecil. Kamarnya hanya dibatasi oleh sebuah sekat yang sepertinya dibeli oleh Jelena. Adras tahu, Jelena orangnya sangat rapi.


Ada sebuah sofa panjang di depan ranjang. Adras pun duduk di sana.


Jelena melepaskan sepatu dan tasnya lalu menggantikan dengan sandal rumah. Ia juga memberikan sepasang sandal rumah bagi Adras.


"Kok ada lagi sepasang? Memangnya ada yang biasa bertamu di sini?" tanya Adras sambil membuka sepatunya.


"Ada. Banyak."


"Cowok?"


"Ada beberapa."


Adras merasakan dadanya sakit. Apakah detektif yang disewanya tak mampu menyelidiki kehidupan pribadi Jelena?


Namun kecemburuan di wajah Adras langsung hilang saat dilihatnya kalau Jelena menahan tawa.


"Kamu mempermainkan aku ya?" tanya Adras sambil menahan gemas. Ingin rasanya ia langsung memeluk Jelena dan mencubit pipi istrinya itu. Adras pun menyadari kalau Jelena terlihat kurus.


"Ini minumnya." ujar Jelena sambil meletakan segelas teh hangat di atas meja, tepat di depan sofa yang Adras duduki.


"Terima kasih." ujar Adras. Ia langsung menyesap teh nya.


"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Adras setelah keduanya diam beberapa saat.


Jelena yang duduk di ujung sofa tersenyum. "Menyenangkan. Ada beberapa orang Indonesia di sana."


"Oh ya? Dan bahasa Korea mu?"


"Aku sudah cukup menguasainya."


"Waw.....!" puji Adras sambil mengangkat kedua jempolnya.


Jelena tersipu. "Kamu ke sini naik apa?"


Adras tertawa. "Jalan kaki."


"Maksudku, dari Jakarta."


"Ya naik pesawat dong sayang."


"Rute penerbangannya sudah diganti?"


"Ya."


"Kru penerbangannya?"

__ADS_1


"Sudah diganti karena aku sudah pindah maskapai."


"Sejak kapan?"


"Di hari kamu meninggalkanku."


Jelena semakin terkejut.


"Aku sengaja tak mengatakannya padamu. Aku membiarkan kamu pergi. Siapa tahu kamu merindukan aku dan ingin kembali."


"Pede amat."


Adras nyengir. "Kamu nggak merindukan aku ya?"


"Nggak."


"Pada hal aku berharap kamu merindukan aku. Soalnya badan kamu agak kurus."


"Aku hanya belum terbiasa saja dengan makanan Korea."


(Jelana masih saja sombong untuk mengakui perasaannya pada Adras. Gengsian..., kayak kebanyakan cewek. Author juga suka gitu. 😂😂😂).


"Kalau aku, berat badanku justru turun 3 kg. Habis, tiap hari yang aku pikirkan hanya kamu."


"Lebay...." Jelena semakin merona.


"Benar. Sekarang saja bicara sama kamu jantungku berdetak cepat, tanganku sampai dingin membeku."


"Ih....Adras, kamu kok kayak ABG saja sih?" Jelena tanpa sadar mengambil bantal kursi dan melemparkannya pada Adras.


Adras jadi semakin gemas. Ia menangkap batal kursi itu dan menggeser kan posisi duduknya agar semakin dekat dengan Jelena.


"Na, kita pacaran yuk!"


"Pacaran?"


"Iya. Nanti setiap aku mendarat di Seoul, aku pasti akan kunjungi kamu."


"Masih menikah. Aku nggak mau cerai sama kamu."


"Adras, kamu kan bilang akan melepaskan aku kalau aku tak bisa mencintai kamu."


Adras menggeleng. "Aku menarik kata-kataku itu. Aku mau sama kamu. Aku ingin memperjuangkan kamu karena hidupku tanpa mu tak akan pernah terisi sepenuhnya karena kau separuhku." Kata Adras sambil menatap Jelena penuh cinta. Ia semakin menggeser pantatnya sehingga sekarang ia sudah duduk di samping Jelena.


"Maafkan aku yang pernah meragukan mu. Kini aku tahu apa yang sudah Marlisa lakukan terhadap perusahaan. Ia menggunakan rekening uncle Jeff untuk mengelabui kita semua. Sekarang uncle dan Marlisa sudah bercerai."


"Sampai bercerai? Memangnya Marlisa mau?"


"Maulah. Dari pada dituntut masuk penjara karena penggelapan dana 7M. Lagi pula, Marlisa pernah ada affair sama Anto si satpam baru itu."


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Malas ah cerita masalah itu. Aku ke sini fokusnya hanya ingin ketemu kamu." Adras meraih tangan Jelena.


"Kamu mau makan?" Jelena berdiri dan melepaskan tangan Adras.


Sebenarnya Adras kesal karena Jelena masih sok jual mahal pada hal sangat jelas terlihat bahwa istrinya itu merindukan dia. Tatapan mata Jelena tak bisa berbohong.


"Kamu mau masak?" tanya Adras.


Jelena mengangguk. Adras pun tersenyum. Sudah lama ia tak menikmati masakan istrinya itu.


*********


Perlahan Sofia membuka matanya. Ia berada di sebuah kamar yang asing baginya.


"Di mana aku?" tanya Sofia pada dirinya sendiri. Ia berusaha bangun namun kepalanya masih terasa pening.


Pintu kamar terbuka. Masuk seorang pria berusia sekitar 50an berpakaian putih seperti dokter lalu di belakangnya ada pria tampan berwajah bule si Chris Evans.


"Kamu sudah sadar?" tanya si Chris Evans dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih walaupun aksyen bulenya masih terdengar.

__ADS_1


"Aku di mana? Kenapa aku di sini?" Sofia langsung duduk namun ia kembali bersandar dan memejamkan matanya.


"Saya dokter Denny. Boleh saya memeriksa anda?" tanya pria berusia 50an itu yang ternyata memang seorang dokter.


"Kalian mau apa?" Sofia masih takut. Ia takut dicelakai.


"Tenang, nona. Nama saya Arley Houston. Tadi anda pingsan. Jadi aku memanggil dokter keluarga ku untuk memeriksa anda. Jangan takut. Kami bukan orang jahat." ujar si bule dengan tatapan mata yang menyakinkan.


Karena merasa tak ada pilihan lain, ditambah dengan kepalanya yang memang terasa sakit dan pusing, Sofia mengijinkan ia diperiksa.


"Nona, tekanan darah anda sangat rendah. Sepertinya juga tubuh anda kekurangan nutrisi. Apakah anda belum makan?" tanya dokter Denny.


Sofia mengangguk. Sudah beberapa hari ini ia memang jarang tak tidur nyenyak. Sejak pagi pun ia hanya minum segelas susu. Pada hal semalam ia tak makan.


"Sebaiknya anda makan dan minum obat serta vitamin yang akan kuberikan padamu." kata dokter itu sambil meneruskan resep di kertas yang selalu ia bawa di tas kerjanya.


Arley mengambil resep itu dan segera memanggil asistennya untuk menebus obat. Ia juga meminta agar disiapkan makanan bagi Sofia.


"Aku mau pulang!"


"Eh....!" Arley menahan tangan Sofia. "Tunggulah sampai kondisimu benar-benar pulih. Nanti kalau terjadi sesuatu dengan kamu di jalan bagaimana?"


"Kita ada di mana?" tanya Sofia sambil menjauh dari Arley.


"Kita ada di hotel."


"Apa?"


"Tenang dulu nona. Hotel ini adalah milikku. Aku nggak tahu harus bawa kamu ke mana. Mau ke rumahku, letaknya juga agak jauh dari jembatan tadi."


"Tapi mobilku."


"Tenang saja. Mobilmu sudah di bawa oleh asistenku. Sudah ada di basment. Makanlah sedikit dan minumlah obatnya."


Sofia hanya bisa mengangguk. Mau pulang ke rumah dalam keadaan begini pun, ia pasti akan membuat orang rumah khawatir.


"Nona, kalau boleh tahu siapa namamu?"


"Sofia."


"Maaf ya. Aku tadi mengira kalau kamu akan bunuh diri. Tak tahunya kamu mau mengambil barang kamu yang jatuh ya? Tuh, asisten aku sudah mengambilnya kembali."


Sofia terbelalak saat melihat kantong plastik yang berisi barang-barang pemberian Agung ada di kamar itu.


"Astaga, kok kamu mengambilnya lagi sih? Aku ingin membuangnya."


"Kenapa?"


"Itu semua adalah pemberian mantan pacarku. Aku tak ingin lagi menyimpannya."


Gantian Arley yang terkejut. Ia dapat melihat sorot mata sedih sekaligus juga kesal dari gadis itu. Siapa sih lelaki bodoh yang telah membuat gadis secantik ini patah hati?


********


Makan malam kali ini terasa sangat enak bagi Adras karena akhirnya ia bisa menikmati masakan buatan Jelena walaupun sebenarnya hanya nasi goreng sosis.


Selesai makan, Jelena segera membereskan dapurnya.


"Aku mau bersih-bersih di kamar mandi. Kau pulanglah. Ini sudah malam." Ujar Jelena.


"Aku boleh menginap di sini nggak?" tanya Adras membuat jantung Jelena langsung merasa sesak napas.


**********


Nah....gimana, uncle Adras bisa nginap nggak ya?


Terus, apakah Arley calon pacar Sofia yang baru? Terus Agung bagaimana?


Kencan opa Jeff dan dokter Elina bagaimana?


Saksikan episode berikut ya

__ADS_1


__ADS_2