
Adras membuka matanya. Rasa pusing yang tadi dirasakannya sudah hilang. Seraut wajah cantik dengan seragam pramugari sebuah maskapai berdiri di hadapannya.
"Hallo, kamu baik-baik saja?" tanya si cantik itu.
Adras sempat berpikir kalau ia sudah mati dan sedang berdiri di hadapan seorang malaikat.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya si cantik lagi sambil menggoyangkan kedua tangannya di hadapan wajah Adras.
"Ya." Adras akhirnya bisa membuka mulutnya. Jujur, ia tak pernah merasa terpesona ini pada seorang perempuan.
Pramugari cantik itu kembali tersenyum, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Kamu bisa bangun?"
Adras mengangguk. Ia pun duduk sambil memperhatikan sekelilingnya. "Aku ada di mana?"
"Di apartemenku. Aku nggak tahu harus membawa kamu ke mana. Kamu tiba-tiba pingsan di depan mobilku pada hal aku tak menabrak mu. Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku hendak ke apartemen temanku. Namun aku merasa pusing." Adras menurunkan kakinya dari atas sofa.
"Sebentar, aku buatkan teh untukmu agar kau merasa segar." Gadis cantik itu segera ke dapur dan ia kembali dengan segelas teh manis. "Minumlah. Nggak terlalu panas."
Adras meminum teh itu. "Terima kasih."
"Aku Anita." Gadis bernama Anita itu mengulurkan tangannya.
"Aku Adras." ujar Adras sambil membalas ukuran tangan Anita. Saat kulit tangan mereka bersentuhan, Adras merasakan jantungnya berdesir.
"Di lihat dari seragam mu, kamu sekolah pilot ya?" tanya Anita sambil duduk di samping Adras.
"Iya."
"Tapi kenapa kamu terlihat sedih?"
"Kedua orang tuaku, bersama kakakku dan suaminya baru saja meninggal karena kecelakaan mobil."
"Oh...maaf. Aku turut berdukacita ya?"
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan mu."
"Aku tak merasa direpotkan. Oh ya, kamu sudah makan?"
"Sebenarnya aku sudah kehilangan selera makanku semenjak mereka pergi."
Anita menepuk bahu Adras. "Ayo, semangat dong! Kamu harus kuat untuk masa depanmu. Aku yakin kalau orang tuamu tak akan senang melihat kamu patah semangat kayak gini."
__ADS_1
Adras mengangguk. Entah mengapa ia merasa senang dengan perhatian Anita. Apakah mungkin ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama?
"Aku sudah pesan makanan. Ayo, kita makan!" Anita menarik tangan Adras menuju ke ruang makan. Adras pun mengikutinya karena gadis itu nampaknya tak putus asa.
10 hari semenjak kematian orang tuanya, Adras bisa makan dengan kenyang di hari itu.
Mereka pun tukaran nomor telepon. Adras dan Anita sering mengirim kabar satu dengan yang lainnya. Adras pun mengungkapkan perasaannya dan Anita menyambut pernyataan cinta Adras dengan senang hati. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Adras mencium bibir seorang gadis. Adras bahkan tak perduli saat tahu kalau usia Anita 6 tahun lebih tua darinya. Adras menikmati percintaan mereka dengan gairah masa muda yang membara.
Anita adalah sosok perempuan yang manis, manja, menggoda sehingga Adras pun jatuh dalam hubungan intim sebelum menikah. Adras tak mampu menolak pesona Anita yang memiliki tubuh indah bak seorang model. Adras bahkan tak mempersalahkan dengan keadaan Anita yang sudah tak perawan lagi. Baginya, Anita adalah sosok perempuan yang bukan hanya cantik, bukan hanya pintar bermain di atas ranjang namun Anita adalah sosok perempuan yang telah mengobati luka hatinya semenjak ia ditinggal oleh kedua orang tuanya. Adras telah dibutakan oleh cintanya pada Anita. Termasuk merahasiakan hubungan mereka dari yang lain. Mereka tak pernah kencan di luar seperti pasangan pada umumya. Mereka selalu menghabiskan waktu di apartemen Anita.
Ketenaran Anita sebagai pramugari memang tak terbantahkan. Pantas saja 2 tahun berturut-turut Anita mendapatkan penghargaan sebagai pramugari tercantik dan paling pintar. Anita bahkan mengajar di sekolah pramugari yang didirikan oleh yayasan milik keluarganya.
Sampai akhirnya, di hari kelulusannya, Adras terlihat kecewa karena Anita tak datang. Di hubungi pun ponsel Anita tak aktif. Pada hal Adras sangat berharap pacarnya itu datang
Saat Adras keluar dari asrama keesokan harinya, ia kaget mendapatkan telepon yang mana Anita menunggunya di apartemennya. Adras bergegas ke sana karena Anita terdengar menangis.
Saat Adras tiba, ia kaget melihat lengan dan kaki Anita lebam seperti abis dipukul. Anita langsung berlari dan memeluk Adras saat melihat lelaki itu.
"Ada apa, An?" tanya Adras sambil memeluk erat gadis yang dicintainya itu.
"Jangan tinggalkan aku."
"Iya. Aku tak akan meninggalkan kamu. Tapi ada apa? Mengapa tubuhmu penuh lebam seperti ini?"
Adras terkejut. "Su....ami? Kamu sudah menikah? Tapi sejak kapan?"
"Sejak 5 tahun yang lalu."
"Apa? Jadi saat kita berhubungan kamu sudah menikah?" Adras melepaskan tangannya yang memeluk Anita.
"Dengarkan aku, dulu sayang. Semua tak seperti yang kau duga." Anita menahan tangan Adras yang akan pergi ia bahkan berlutut dan memeluk kaki Adras.
"Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku dengan suamiku. Dia dan aku tak saling mencintai. Aku bahkan membencinya. Aku tersiksa dengan pernikahan ini karena suamiku seorang yang memiliki penyimpangan. Ia bisa berhubungan dengan perempuan dan juga dengan laki-laki. Namun akhir-akhir ini, ia cenderung berhubungan dengan laki-laki. Makanya aku lebih suka ada di apartemen ini karena suamiku sering mengumpulkan beberapa orang lelaki untuk bermain bersama. Ia pernah mengajak aku untuk bermain dengan 3 orang laki-laki. Aku menolaknya. Sebenarnya aku sudah meminta cerai, tapi ayahku melarangnya karena ayah Mike adalah penyokong terbesar di maskapai kami saat maskapai kami mengalami kesulitan keuangan beberapa tahun yang lalu. Mike meminta pada ayahku agar kami jangan diceraikan. Mike hanya ingin agar aku hamil dan memberikan dia keturunan setelah itu aku bisa pergi meninggalkan dia. Sayangnya aku belum juga hamil. Bahkan dokter makanan ada sedikit masalah di indung telurku. Mike memukul aku kemarin karena aku meminta cerai darinya. Aku ingin bersamamu Adras. Aku mencintaimu. Kalau kamu pergi dariku, lebih baik aku bunuh diri saja. Aku lebih baik mati." Anita berteriak histeris sambil menangis.
Adras mengangkat Anita dan memintanya berdiri. Ia lalu memeluk Anita dengan erat. "Aku mencintaimu, sayang."
Anita malam itu tertidur dalam pelukan Adras. Dan Adras pun berjanji kalau ia tak akan meninggalkan Anita. Ia akan berjuang agar Anita dapat lepas dari suaminya dan menikah wanita itu.
*********
Perlahan Adras membuka matanya. Orang pertama yang dilihatnya adalah Agung.
"Di mana istri dan kedua ponakanku?"
__ADS_1
Agung mendekat. "Kapten, aunty Nana tadi mengeluh kalau ia lapar. Sofia dan Santi sedang menemani dia makan."
"Sudah berapa lama mereka pergi?"
"Mungkin sekitar 40 menit. Pasti sedikit lagi balik."
"Telepon Sofia dan katakan kalau aku sudah sadar dan ingin berbicara dengan istriku."
Agung mengangguk. Ia langsung menghubungi Sofia. "Beb, sudah selesai makan? Uncle Adras sudah sadar dan menanyakan kalian. Dia ingin berbicara dengan aunty Nana."
"Iya. Sebentar lagi kami tiba, kok."
"Ok deh." Agung menutup panggilannya. Ia menatap Adras. "Katanya mereka sebentar lagi tiba."
Adras mengangguk. Ia takut Jelena akan pergi dan meninggalkannya.
Tak lama kemudian, Jelena masuk bersama kedua ponakan Adras.
"Uncle, bagaimana keadaannya? Tadi uncle pingsan karena kata dokter tekanan darah uncle sangat rendah dan uncle juga masih demam." ujar Sofia.
Adras yang sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang menatap kedua ponakan nya. "Kalian tunggulah di luar. Uncle ingin bicara dengan aunty Nana."
"Aku rasa tak ada yang perlu dibicarakan. Aku mau pulang. Ini sudah sore." Ujar Jelena.
Adras akan bicara lagi namun pintu kamarnya di ketuk orang. Kemudian pintu terbuka dan Anita masuk sambil dipapah oleh Adam.
"Adras, kamu kenapa sampai sakit?" tanya Anita khawatir.
Wajah Jelena langsung kecut melihat Anita dan Adam. Anita datang menggunakan celana jeans, kaos ketat dan jaket jeans yang menutupi tangannya yang terluka.
Agung memandang Anita dengan perasaan aneh. Bukankah Anita dan Adras tak pernah terlihat akrab di maskapai? Dan bukankah Anita adalah istri salah satu bos di maskapai itu?
"Aku baik-baik saja." jawab Adras dingin. Ia sedikit tegang melihat kedatangan Anita dan Adam.
"Santi, Sofia, Agung, silahkan keluar." ujar Adras.
Sofia pun patuh dan menarik tangan adiknya. Agung juga mengikuti mereka.
"Sebaiknya aku juga pergi!" Jelena meraih tas selempangnya.
"Sayang, kamu jangan pergi!" ujar Adras membuat Anita menjadi kesal.
*********
__ADS_1
Bagaimana kisah ini berlanjut? Apalagi masa lalu Adras yang belum terbuka?